
"Maafin gue, jangan pergi lagi," kata Arkan.
"'Siapa yang pergi sih Ganteng, gue pulang ke hotel. Kakek sama Nenek punya hotel di sini."
Meski Kamila bukan anak kandungnya, tetapi Alisha sangat mencintai Kamila.
"Mila bukan pembunuh kan, Bunda ?" tanya Kamila tiba-tiba.
"Stt ... Bilang apa sih kamu. Mila Sayang, di mana-mana seorang ibu itu pasti akan menyelamatkan anaknya. lbu kamu meninggal karena kecelakaan. Mungkin jika saat itu kamu yang meninggal, Ibu kamu gak akan bisa hidup lagi. Jadi, jangan berpikir kalo kamu pembunuh. Livia bilang gitu itu karena dia iri sama kamu. Jangan dibdengerin ya," kata Alisha dengan lembut.
Selama beberapa saat, hanya terdengar Isak tangis Kamila di ruangan itu. Setelah melihat Kamila tenang, barulah Alisha mengurai pelukannya.
"Bunda, Arkan tadi kena pisau, karena nyelematin Mila," kata Kamila.
"Kamu diam di sini biar Bunda yang periksa keadaannya tadi katanya di kekurangan darah tapi Ayah udahbdonorin darahnya, Arkan itu duplikat Ayahnya banget. Anak bandel itu udah biasa kok kayak gini. Gak usah dipikirin. Nanti juga sembuh sendiri," kata Alisha.
Alisha berusaha untuk membuat Kamila tidak khawatir. Sudah terlalu banyak yang dialami oleh gadis itu. Alisha tidak mau Kamila menjadi stres. Alisha juga memiliki rencana supaya Rara nanti datang ke rumah dan bicara dengan Kamila sebagai seorang psikolog.
Karena Alisha sangat yakin saat ini Kamila pasti memiliki trauma yang tidak ringan. la merasa sangat cemas kepada gadis itu.
"Gimana Arkan Bund?" tanya Kamila.
"Dia tidur Mil!"
"Yaudah biarin aja Bund, biar istirahat!" jawab Kamila sambil tersenyum.
Sorenya Kamila sudah berganti pakaian, Kamila sudah di perbolehkan pulang karena memang Kamila itu bukan fisiknya yang terluka saat ini.
Arkan membuka matanya diabmelihat Kamila sedang berkemas, Kamila tersenyum pada Arkan tapi Arkan membuang mukanya.
"Arkan!"
"Diem, gue gak mau ngomong sama lo?!" jawab Arkan dengan ketus.
Kamila tersenyum miris bahkan Arkan pun sekarang membenci dirinya. Kamila mendekati Arkan dia memegang tangan pemuda itu, Arkan tidak menolak tetapi masih diam seperti patung.
"Arkan, gue pulang yah. Gue pulang ikut Nenek sama Kakek gue dulu. Jadi anak baik yah gantengnya Mila. Jangan minum terus, kurangin ngerokoknya, jangan keluyuran terus kasian Bunda,". kata Kamila dia mengusap pipi Arkan.
Arkan hanya diam tidakbmenanggapi.
"Dah Arkan!" Kamila pun pamit dia pergi keluar ruangan. Arkan menutup matanya ego masih menyelimuti dirinya.
Ceklek....
Setelah beberapa saat Kamila pergi Marvin masuk.
"Kamu serius gak mau anter Kamila, Bang? Dia mau keluar kota, loh. Kakek sama Neneknya mau bawa dia. Mungkin dia mau pindah sekolah."
Arkan menoleh ke arah Marvin, " Ayah pasti bohong," kata Arkan.
"Ish sejak kapan Ayah bohong. Ini beneran, sana kamu susul kalo ga percaya," kata Marvin.
"Jangan nyesel kalo Kamila udah gak balik lagi, nanti dia di jodohin sam-" Arkan menarik paksa infusnya dia turun dari brankar lalu keluar kamar. Di luar ada banyak orang, termasuk teman-teman Arkan.
"Kamila mana?" tanya Arkan.
"Loh tadi Kamila baru aja pergi sama Kakek Neneknya, bukannya tadi dia pamit sama kamu?" kata Alisha bingung.
"KAMILA?!" Masih dengan baju pasien, Arkan mengejar Kamila.
"Arkan!" Teriak Alisha.
Arkan tidak peduli dengan teriakan itu, ia terus mencari Kamila. Kamila tidak ada di lobi, Arkan keluar dari rumah sakit, Alisha Marvin dan teman-temannya Arkan menyusul Arkan.
"Auwww.!"
Pada saat di parkiran Arkan yang tidak menggunakan sendal merasa kepanasan karena cahaya matahari sangat terik. Dari kejauhan, dia melihat Kamila bersama Kakek dan Neneknya.
"Kamilaa! Tunggu!" teriak Arkan.
Arkan berteriak memanggil Kamila dia mengejarnya. Kamila yang mendengar namanya dipanggil pun menoleh.
Arkan berlalu lalu memeluk Kamila erat, "Jangan pergi Mil, gue minta maaf. Gue cuma kesel karena Lo bohong. Tapi, gue gak mau Lo pergi. Jangan pergi Mila, masa Lo gak tau kalo gue cuma ngambek. Gue salah, maafin gue, lo mah jahat masa ikut ngambeknya pergi jauh sih," kata Arkan.
Air mata Arkan mengalir deras dia terduduk di tanah memeluk pinggang Kamila. Arkan terus menangis dia tau dia juga salah tetapi dia tidak mau Kamila meninggalkan dirinya.
"Heh lo nangis! Arkan jangan nangis, gue gak marah sama lo! Ayo bangun!" Arkan menggelengkan kepalanya dia semakin memeluk pinggang Kamila erat.
"Jangan kayak gini. Lo masih sakit, ayo balik ke kamar, di sini panas, " kata Kamila.
Tetapi Arkan lagi-lagi menggelengkan kepalanya, dia terus memeluk Kamila erat.
"Enggak! Lo gak boleh pergi hikss... Mil! Gue gak mau lo pergi dari hidup gue?!" Tangis Arkan semakin sesenggukan.
Kamila mengangkat wajah pemuda itu dia melihat wajah Arkan yang banjir air mata, ini pertama kalinya dia melihat Arkan menangis. Arkan benar-benar takut Kamila pergi.
"Ish kok nangis sih, lo gak malu ya, badan gede hobby berantem masa nangis sesenggukan gini. Liat deh, idung Lo merah udah kayak badut," kata Kamila berusaha nmembuat Arkan tertawa.
Bukannya tertawa Arkan semakin menangis dia mengeratkan pelukannya pada Kamila.
"Mil jangan pergi!" lirih Arkan di sela-sela tangisnya.
"Gue gak pergi Arkan!" jawab Kamila sambil mengusap air mata Arkan.
"Gue takut lo pergi Mil! Hiks... Jangan pergi?!"
"Enggak Arkan!" kata Kamila lagi.
"Janji?"
Kamila menganggukan kepalanya, wajah Arkan terlihat sangat merah gara-gara menangis.
Brukh!
Tiba-tiba saja Arkan pingsan lagi karena dia memang belum kuat.
"Arkan!" Kamila ikut terduduk di tanah menyanggah Arkan.
"Tolongin ini gimana, Ayah?!" Kamila panik dia memanggil semuanya Marvin juga terkejut dia langsung berlari ke arah putranya.
Mereka pun membawa Arkan kembali ke kamarnya, "Nyusahin aja sih nih anak," kata Marvin menggerutu.
Tetapi, ia tidak melanjutkan omelannya karena Alisha sudah melotot ke arahnya.
Dokter Ari pun segera memeriksa Arkan. Dokter berwajah masih muda itu hanya tersenyum.
"Dia anak yang kuat. Nggak apa-apa kok, sebentar lagi juga sadar," kata dokter Ari.
"Terima kasih, Dok," jawab Alisha.
"Iya, sama-sama, Mbak."
Dokter Ari memang biasa memanggil Mbak kepada Alisha dan Mas kepada Marvin karena mereka sudah lama saling mengenal.
Setelah itu mereka semua keluar karena tadi dokter Ari bilang Arkan harus istirahat.
Saat Arkan membuka matanya tidak ada siapa pun.
"Kosong, Kamila beneran pergi yah?" Arkan berkata di dalam hatinya.
Arkan ingin menangis lagi dia menundukan kepalanya. Tetapi, saat arkan tengah berpikir yang tidak-tidak pintu terbuka dan
menampilkan seseorang yang sangat Arkan cintai.
"Mil!"
Mata pemuda itu berbinar, Arkan hendak turun dari brankar tapi Kamila langsung mencegahnya.
"Eh, mau ngapain? Udah deh diem aja di situ. Biar gue yang ke situ," kata Kamila.
Saat Kamila sudah menyimpan nampan di atas meja, Arkan pun memeluk gadis itu. Tangisnya embali pecah.