
"Bunda punya kabar baik loh!" kata Alisha membuat Kamila menoleh.
"Apa Bunda?"
"Tadi malem Ayah sama Bunda udah pesen tiket pesawat buat ke Bali nanti siang kita berangkat. Jadi abis sarapan Mila langsung packing biar jam sepuluh kita udah berangkat ke bandara!"
Kamila membelakan matanya dia sangat terkejut. Dia sudah tau jika Alisha memang akan menyusul Arkan ke Bali. Tetapi, Kamila tidak menyangka jika secepat ini mereka akan pergi.
"'Siang ini Bunda?"
"lya kamu kan kangen sama Arkan. Bunda sama Ayah juga kangen sama anak bandel itu. Sekalian mau bawa Kay jalan-jalan ke pantai jadi kita pergi aja hari ini, anggep aja liburan," kata Alisha sambil tersenyum.
Kamila menundukan kepalanya dia bimbang, "Em... Kayaknya aku gak bisa ikut deh Bund, lagian kan Arkan juga beberapa hari lagi pulang, aku nunggu Arkan di rumah aja! Aku gak usah ikut!" kata Kamila dengan lesu.
"No! Semua harus ikut Sayang, Kean sama Sean juga pergi, Ayah sama Bunda gak bisa ninggalin kamu sendirian di rumah sama Mbok. Lagian kan tiketnya udah Bunda beli, sayang dong kalo gak dipake, jadi Mila harus tetep ikut ke Bali!"
"Tapi Bunda..."
"Udah nggak ada tapi-tapian. Sekarang kita sarapan dulu habis sarapan kamu siap-siap prepare perlengkapan kamu yang buat dibawa. Bunda nggak mau nanti Arkan marah sama Bunda gara-gara kita ke Bali nggak bawa kamu," kata Alisha lagi.
Kamila pun akhirnya hanya menganggukkan kepalanya. Dia juga merasa tidak enak Jika ia harus membuat Marvin dan Alisha membatalkan tiket pesawatnya.
Setelah selesai sarapan Kamila pun segera kamarnya. la mengambil koper kecil dari atas lemari kemudian mengisinya dengan beberapa pakaiannya tidak banyak, karena
Kamila juga tahu jika Arkan empat hari lagi pulang. Maka ia hanya membawa pakaian yang cukup untuk 4 hari dipakai.
Tok... Tok...
Saat ia sedang membereskan pakaian, Alisha mengetuk pintu. Kemudian ia muncul dari balik pintu sambil tersenyum.
"Udah siap semua sayang? Nggak usah bawa banyak-banyak baju. Kalo kurang kan kita bisa beli aja, Bunda udah lama gak ke Bali, Ayah sibuk terus! Nanti kita keliling Bali sama Arkan biar liburannya gak sia-sia!" Alisha panjang lebar kepada Kamila.
"Terima kasih Bunda!"
Kamila tersenyum lalu memeluk Alisha. la merasa sangat terharu dengan perhatian yang diberikan Alisha. Selama berapa bulan ini hanya keluarga Arkan yang dia miliki.
Kamila juga tidak tau harus pergi ke mana jika tidak ada Marvin dan Alisha. Tetapi foto-foto kemarin yang dikirimkan itu membuat Kamila merasa resah. Dia sangat takut kehilangan Arkan.
Sementara Marvin dan Alisha, bukannya tidak menangkap keresahan Kamila. Mereka hanya tidak mau membahasnya sekarang.
Mereka ingin nanti sekalian menyidang Arkan saja. Marvin tidak mau Arkan menyakiti Kamila dan sampai melepaskan gadis itu.
Kakek dan Nenek Kamila sudah menitipkan Kamila kepada Marvin dan Alisa. Dan bagi Marvin amanah itu sangat berat. la tidak mau berdosa jika melanggar amanah.
Selama ini Kamila sudah cukup susah hidup dengan ibu tirinya. Jadi, Marvin tidak mau membuat kehidupan Kamila lebih menderita lagi karena putranya.
"Kita beneran mau liburan ke Bali, ya Ayah?" tanya Kayla dengan girang saat mereka berangkat ke bandara.
"lya dong Sayang kalo bohong masa iya sekarang kita ke bandara. Kayla mau main di pantai kan?" tanya Marvin kepada Kayla.
Gadis kecil itu langsung menganggukkan kepalanya dengan wajah yang berbinar-binar.
"Nanti aku mau main di pantai sama Kak Mila. Kalau main sama Abang nggak asik. Abang lebih suka sama temen-temen cowoknya," kata Kayla sambil mengerucutkan bibirnya kesal.
Usia Kayla dan Arkan yang cukup jauh memang membuat jarak diantara. keduanya. Apalagi Arkan juga tidak pernah mau mengasuh Kayla.
arena gadis cilik itu selalu memaksanya bermain masak-masakan atau boneka Barbie. Itulah sebabnya ketika Kamila tinggal di rumah mereka Kayla merasa mendapatkan kakak perempuan yang sangat ia impi-impikan.
"Kan sekarang udah ada Kak Mila. Jadi Kay kan punya temen perempuan gak harus sama Abang," kata Alisha kepada Kayla.
Kayla pun langsung memeluk Kamila dengan penuh kasih sayang lalu mencium pipi gadis itu.
"lya Kay sayang. Kak Mila juga sayang kok sama Kayla," jawab Kamila dengan penuh rasa haru.
Tiba di bandara, anak buah Marvin menghampiri mereka dan memberikan tiket.
"Saya sudah bantu Check in, Pak. Apa ada bagasi?"
"Cuma koper kecil aja kayaknya bisa dibawa ke kabin, kok,"jawab Marvin.
"Kalau begitu, ini tiketnya. Selamat berlibur, Pak, Bu."
"Iya, terima kasih ya Dino. Kamu bisa kembali ke kantor," kata Marvin.
"Baik Pak!"
Anak buah Marvin yang bernama Dino itu pun mengangguk dan berlalu meninggalkan keluarganya.
Sementara Marvin dan keluarganya termasuk Kamila langsung menuju ruang boarding pass karena pesawat memang akan segera take off.
Kamila dan Keluarganya Arkan saat ini berada di pesawat Kamila berusaha memantapkan hati jika nantinya dia harus berpisah dari Arkan.
Ting...
Saat dirinya tengah melamun ponselnya kembali berbunyi dia melihat orang itu mengirim foto Arkan tengah bermain basket, orang itu tidak. menunjukan wajahnya dia menunjukan sebuah botol minum.
"Ini minum buat Arkan! Kasian deh lo gak bisa ngasih dia minum!'
Kamila hanya bisa menarik napas dengan berat saat membaca pesan itu. Dan semua itu tidak luput dari perhatian Alisha.
Sedangkan di tempat Arkan bertanding, pemuda itu tengah bersiap untuk maju.
"Ar!" panggil Daren membuat Arkan menoleh.
"Apaan?"
"Gue udah tau siapa pelakunya, dan tebakan gue gak meleset!" kata Daren membuat Arkan terdiam.
"'Siapa?"
"Abis tanding aja, kita tanding dulu " jawab Daren.
"Sialan! Gue bakal buat perhitungan sama orang itu!"
Arkan yang memang sedang emosi membuat dirinya bermain basket dengan sangat mendominasi. Dia bermain basket penuh rasa emosi bahkan banyak yang
menyingkir saat bola berada di tangan
Arkan. Arkan kasar dalam bermain.
Bahkan kemarahan Arkan membawa kemenangan tapi saat mereka menang pun Arkan tidak bersorak seperti yang lainnya. Arkan langsung keluar lapangan dia menarik Daren.
"Ikut gue!" ajak Arkan.
Saat Arkan mengajak Daren keluar, Pak Anto menghadang mereka dengan wajah dan tatapan yang begitu tajam.
"Arkan, saya tau kamu itu sangat berbakat. Tetapi, kalian ini satu tim. Jangan bermain egois dong. Memang kita menang, tapi jadinya kasian anggota tim kamu yang lain. Apa pun masalahnya kamu jangan pernah bawa dalam tim. Pada saat bermain, lupakan dulu semua masalah kamu!" tegur pak Anto dengan sangat tegas.
"Baik, Pak. Saya minta maaf, saya hanya terlalu bersemangat."
"Saya ijin keluar sebentar sama Daren Pak!" lanjutnya.