
Hari ini, anggep aja liburan," kata Alisha sambil tersenyum.
Kamila menundukan kepalanya dia bimbang, "Em... Kayaknya aku gak bisa ikut deh Bund, lagian kan Arkan juga beberapa hari lagi pulang, aku nunggu Arkan di rumah aja! Aku gak usah ikut!" kata Kamila dengan lesu.
"No! Semua harus ikut Sayang, Kean sama Sean juga pergi, Ayah sama Bunda gak bisa ninggalin kamu sendirian di rumah sama Mbok. Lagian kan tiketnya udah Bunda beli, sayang dong kalo gak dipake, jadi Mila harus tetep ikut ke Bali!"
"Tapi Bunda..."
"Udah nggak ada tapi-tapian. Sekarang kita sarapan dulu habis sarapan kamu siap-siap prepare perlengkapan kamu yang buat dibawa. "
***
Arkan pun kembali menarik tangan
Daren keluar dari gedung. Dia membawa Daren ke samping gedung. Daren menurut saja dia tahu Arkan sudah tidak sabar untuk mengetahui siapa yang menjadi penyebab Kamila menuduhnya.
"Sekarang kasih tau gue siapa yang ngelakuin itu Ren, demi apa pun gue gak
ikhlas!" seru Arkan menggebu-gebu penuh emosi.
"Beneran Lo mau tau dia siapa?"
"Gak usah berbelit-belit sialan!" seru Arkan tidak sabaran.
"Oke kalem Ar, dia itu-"
"Em... Hai Arkan" ujar Daren terpotong saat ada seseorang menyapa Arkan.
"Lo.. "
"Gue Lia," jawab seseorang itu.
"Oh iyah sorry gue lupa! Ada apa? Kalo gak ada yang penting bisa tinggalin gue sama Daren? Gue ada urusan sama dia" kata Arkan.
"Anu Arkan, lo tadi mainnya keren banget, ini minum buat lo!" kata Lia dengan wajah polosnya.
Daren berdecih, Arkan yang memang sedang buru-buru lantas menerima minumannya.
"Eh Daren!" Lia terkejut saat Daren tiba-tiba merebut ponselnya.
"Lo mau tau kan siapa dalang dari semuanya... Dia, dia yang udah ngadu domba lo sama Kamila!" kata Daren sambil menunjuk ke arah Lia.
Daren menunjukan ponsel Lia ternyata gadis itu sedang membuka kamera dia hendak mengambil foto Arkan.
"Ini lo liat sendiri dia mau ngambil foto lo Arkan nanti dia bakalan ngirim ke Kamila seakan-akan dia emang deket sama lo!" lanjut Daren penuh emosi.
Arkan terkejut Daren membeberkan bukti yang ada di ponselnya saat dia menyadap Hp Kamila. Dia juga merampas ponsel Lia dan menunjukan pesannya pada Arkan.
"Lo liat sendiri kan kelakuan nih cewe cupu, gue udah jiji liat muka sok lugu sama muka polosnya!" kata Daren dengan gemas.
Bagaimana tidak gemas jika melihat perempuan nekad seperti Lia. Padahal sebelumnya sudah diingatkan.
"Ak-aku bisa jelasin Ar-"
"Diem bangsat?!" bentak Arkan membuat Lia terjengkit kaget.
Wajah Arkan memerah, "Ternyata jaman sekarang emang gak bisa cuman liat orang dari penampilannya, kalo liat penampilan lo, gak akan ada yang ngira kalo lo bisa ngelakuin hal rendahan kayak gitu!" seru Arkan dengan nada tinggi.
Arkan benar-benar sangat emosi, dia mengepalkan tangannya. la menatap Lia dengan sangat tajam. Tampak jelas jika ia sedang marah besar.
"Anu Arkan, aku cuman mau deket sama kamu, ak-aku gak ada maksa kalain!" jawab Lia dengan gemetar.
Arkan mencekal tangan Lia dengan keras dia benar-benar sangat emosi.
"Lo mau deket sama gue kan? Mau sedeket apa hah?"
"Auww sakit Arkan!" ringis Lia.
Daren terkejut Arkan memegang pergelangan tangan Lia dengan kencang
"Lo deket sama gue mau sedeket apa Anjin*" bentak Arkan.
"Arkan lepas sakit!" rintih Kamila.
"Lo mau deket sama gue kan? Lo pikir lo siapa hah?! Gue liat muka lo aja jji babi!" kata Arkan sakrastik.
"Arkan! Sakit!" seru Lia.
Arkan mencekik leher Lia dengan kencang membuat gadis itu memekik kesakitan dan sesak nafas.
"Gue mau lo mati *****!"
Daren terkejut melihat perlakuan Arkan, Daren langsung melepaskan Lia dari amukan Arkan.
"'Ar lepas Ar, ini masih di tempat lomba, lo bisa dapet masalah, sekolah juga bakalan keseret!" kata Daren memperingati Arkan.
"Gue gak peduli Ren gue mau liat cewe ini abis di tangan gue!" kata Arkan emosi.
Daren melihat Lia sudah tersenggal-senggal.
"Ar! Sadar Ar, lo bisa buat perhitungan nanti, sebentar lagi tanding. Inget Kamila sama Bunda lo mereka pasti sedih liat lo begini!"
"Sialan!" Arkan menyentak tangannya dari tangan Lia dan melepas
Terlihat Lia langsung meraup nafas banyak-banyak seakan dia sudah tidak bisa menghirup oksigen.
"Jangan ipikir sekarang gue ngelepasin lo, lo udah bebas! Beruntung sekarang masih ada pertandingan, liat nanti apa bakalan gue lakuin sama perempuan kampungan cupu kayak lo!"
Arkan pergi meninggalkan Daren dan Lia, dengan emosi. Arkan mendengarkan kata-kata Daren dia tidak mau semua orang terkena masalah hanya karena emosinya. Arkan takut dia kelepasan dan memilih untuk meredakan sejenak emosinya.
Daren memperhatikan Arkan yang menjauh dia lalu menatap Lia nyalang, terlihat tangan gadis itu memerah. "Lo udah gue ingetin buat jangan main-main sama Arkan, Arkan bukan sebaik yang lo liat! Tapi ternyata apa yang gue bilang cuman lo jadiin angin lalu. Lo ngelakuin hal yang menjijikan yang bikin celaka diri lo sendiri!"
"Aku suka sama Arkan, lagian si Kamila itu juga sebatang kara dia gak punya masa depan. Dan dia juga pasti jadi benalu dihidupnya Arkan, dia beban! Gak berguna!"
"JAGA UCAPAN LO SIALAN?!" bentak Daren.
"Mulut lo gak pernah di sekolahin yah, lo gak tau apa-apa, Kamila itu di atas lo, lo gak ada apa-apanya dari Kamila. Kamila itu cantik, modis, pinter, baik hati! Udah jelas keluarganya Arkan pasti lebih milih dia! Soal harta? Walaupun Kamila numpang tinggal sama Arkan dia punya harta yang
banyak, perusahaannya di pegang sama
Ayahnya Arkan!" Daren tidak terima mendengar Kamila yang di rendahkan.
"Gue nganggep Kamila itu kayak adek gue sendiri berani lo jelek-jelekin dia, urusan lo bukan cuman sama Arkan tapi sama semua temen-temen gue! Dan ya... Gue kasih tau sekarang, Arkan pernah hampir bunuh orang cuman gara-gara dia ngunciin Kamila di toilet! Dan lo.. Gue gak yakin Arkan bakalan ngelepasin lo gitu aja, lo gak pernah tau senjata apa yang Arkan bawa di saku celana atau pun jaketnya!"
Lia terbelak mendengar perkataan Daren. la tidak menyangka jika Kamila itu ternyata memiliki harta yang cukup lumayan.
Kean memang tidak bercerita banyak. Lia pikir Kamila hanya sekedar numpang hidup di rumah keluarga Arkan.
"Kamu pasti bohong soal Arkan pernah mau bunuh orang," cicit Lia.
Darren menatap Lia dengan tajam," Apa perlu lo gue kasih nomor tuh cewe biar lo mastiin sendiri seberapa gilanya Arkan kalo udah marah, bahkan ibunya si cewe aja sekarang ada di rumah sakit jiwa, Arkan nembakin tiga peluru ke pundak dia gara-gara dia ngegores pipi Kamila sedikit, Arkan emang baik tapi enggak kalo kaitannya sama Kamila, lo cuman orang baru yang gak tau apa-apa "
Lia menelan ludahnya susah payah, la tidak menyangka Jika ternyata Arkan mengerikan itu.
Tadinya ia pikir jika Arkan adalah laki-laki biasa. Anak SMA yang memang tajir dan baik hati lalu disukai banyak perempuan karena menarik dan tampan. Tapi ternyata Arkan memiliki sisi yang tidak pernah dia duga sebelumnya. Dan ia benar-benar kaget.
"Daren aku minta tolong bantu aku, bilangin maaf sama Arkan atau Kamila, aku mohon!" pinta Lia, dia takut pada Arkan, tubuhnya sudah gemetar.
Daren memasukan tangannya ke saku celanannya, "Gue gak bisa bantu lo! Kamila itu udah kayak adek gue sendiri, gue juga gak terima lo jelek-jelekin dia, lagi pun Arkan udah terlanjur emosi!"
Daren pergi begitu saja meninggalkan Lia yang terdiam kaku. Daren menghentikan langkahnya lalu membalikan tubuhnya.
"Gue gak tau apa yang bakalan Arkan lakuin sama lo! Tapi yang pasti lo emang harus siapin diri, mau lo kabur ke ujung dunia juga percuma, pasti bakalan Arkan kejar, dia gak akan ngelepasin musuhnya gitu aja!"
"Lo salah kalo main-main sama Arkan!"