
"Dia ganteng, baik, gak mungkin gak punya pacar kan! Tapi kan mereka ldr kira-kira kalo aku yang gantin cewenya bisa gak yah?"
"Lo gak usah ngarepin banyak dari cowo modelan Arkan, dia gak sebaik yang lo liat kalo udah berkaitan sam cewenya, gue cuman ngingetin aja!" Gadis itu terjengkit kaget saat ada seorang pemuda berdiri di sampingnya dengan wajah datar menatap ke depan di mana Arkan tengah sibuk dengan ponselnya.
"Dia bisa ngelakuin apa aja demi cewenya, lo gak usah ikut campur tentang hubungan Arkan kalo lo masih sayang sama hidup lo! Kecuali kalo lo udah buat kuburan duluan!"
Pemuda itu berjalan mendekati Arkan yang tengah bersama Kamila. Gadis berkaca mata itu membeku mencerna perkataan pemuda itu, dia memperhatikan cara berinterkasi pemuda itu.
"Ar dipanggil Pak Anto udah mau mulai!"
"Loh Daren, halo!" sapa Kamila.
Daren tersenyum kecil dia melambaikan tangannya, "Gue pinjem Arkan yah, udah mau mulai Mil!"
Kamila menganggukan kepalanya, "Semangat Sayangnya Mila!" ujar Kamila
kepada Arkan.
"Okay, Dah Sayang!"
Panggilan terputus, "Lo lama bener gue bilang mager nyusul lo!" Sungut Daren kesal.
"Gue kangen Mila Ren sumpah gak bisa ditahan!" jawab Arkan.
"Nanti telpon lagi, ayo. Sekarang ke dalem babak 2 mau mulai!"
Arkan dan Daren akhirnya berjalan beriringan ke dalam, wajah Arkan dan Daren sama datarnya. Arkan melewati gadis berkaca mata itu begitu saja seakan dia tidak mengenalnya. Daren tersenyum dengan smirknya dia menghentikan langkahnya saat berada di samping gadis itu.
"See bahkan Arkan aja gak ngeliat lo sedikit pun!"
Daren memasukan tangannya ke dalam saku celananya, "Mending lo sayangin diri lo sendiri sebelum mimpi buat gantiin posisi jadi cewenya Arkan!"
"'Arkan gak akan segan-segan buat ngubur lo hidup-hidup kalo sampe lo ganggu hubungan mereka!"
...****************...
Hari itu akhirnya pertandingan pun selesai. Tentu saja dengan kemenangan di tangan Arkan dan teman-temannya.
"Kalian ga mengecewakan. Sekarang yang penting jaga stamina kalian ya. Pertandingan berikutnya besok. Jadi, sekarang kalian boleh jalan-jalan dulu. Kalian boleh ke pantai boleh cari cewek, boleh cari bule atau mau shopping terserah. Yang penting jam delapan malam kalian sudah harus ada di hotel dan makan malam bersama saya," kata Pak Anto dengan tegas.
"Duit Pak kan kita mau shoping nih" pinta Bastian.
"Ya duit kalian lah masa duit Bapak, kan kalian yang mau shoping," jawab Pak Anto.
"Ya kirain kalau misalkan shopping dikasih duit shopping sama Bapak," celetuk Bastian.
"Nanti kalo kalian jadi juara Kan saya udah bilang bakalan saya traktir bakso."
"Sama mamang gerobaknya kan, Pak?" saut Sean.
"Aman!" Kekeh Pak Anto.
Arkan dan teman-temannya pun bersorak gembira. Mereka sangat senang karena diberi jam bebas seperti ini. Apalagi hari masih menunjukkan pukul 03.00 sore waktu setempat.
Artinya mereka masih memiliki waktu sekitar 4 jam sebelum nanti harus kembali ke hotel.
Karena mereka belum pernah ke pantai Bali, akhirnya mereka memutuskan untuk ke pantai saja. Arkan akan berfoto dan mengirimnya kepada Kamila.
"Eh, fotoin gue dong, dari sini pemandangannya bagus banget bini gue pasti suka," kata Arkan kepada Bastian.
"Eh, gue ikut dong di foto masa lo doang gue juga mau!" seru Kean kepada Arkan dia berdiri di samping Arkan.
"Ribut mulu anjir! Udah lah foto bareng bareng aja!" kata Daren menengahim
"Kaga-kaga, gue mau foto sendiri dulu, mau gue kirim ke bini gue, gue nunjukin gue ini ganteng paripurna !" ujar Arkan.
Darren pun hanya bisa menggelengkan kepalanya tetapi ia pun langsung mengikuti permintaan Arkan untuk memotonya.
Rencananya setelah sunset mereka baru pulang ke hotel. Saat mereka tengah bermain bola di pantai, ternyata gadis berkaca mata itu sedang memperhatikan Arkan.
"Arkan, dia ganteng banget yah. Keliatannya juga dia orang baik kok, kayaknya temennya itu bohong deh!" ucap gadis itu bergumam.
"Dia juga keliatan penyayang. Dia pasti sayang banget sama pacarnya. Kalo aku jadi pacarnya pasti seneng banget. Tapi sayang dia ngelirik aku aja gak pernah," gumam gadis itu sedih.
Saat dia tengah memperhatikan Arkan dia tidak sadar ada bola mengarah kepada dia.
Bugh..
"Auwww!"
Bola mengenai kepalanya, teman temannya Arkan terkejut mereka mendekati gadis itu.
"Aduh sorry-sorry gue ngelemparnya ke kencengan! Kepala lo gak papa kan?" tanya Arkan kepada gadis itu.
Gadis itu terkejut saat mendengar suara Arkan.
"|-iya aku gak papa kok, cuman kena bola aja!" katanya.
"Sorru yah, tapi eh.... Lo yang waktu itu gak sengaja gue tabrak kan ya ?" kata Arkan.
Gadis itu menganggukan kepalanya, "Aduh sorry nih gue kok bikin masalah terus sorry yah!"
"Eh.. Gak papa kok, kita ketemu terus yah, atau kita jodoh?" Kata gadis itu sambil tersenyum.
Dia sengaja berkata seperti itu untuk menarik perhatian Arkan.
"Kalau jodoh sih nggak mungkin soalnya Arkan udah ada yang punya mungkin jodoh lo salah satu dari kita," sahut Kean menimpali perkataan gadis itu membuat semuanya tertawa.
"Eh... Oiya nama aku Lia, aku salah satu panitia turnamen basket yang lagi diadain tahun ini," kata gadis itu sambil mengulurkan tangan kepada Arkan.
Tetapi yang menyambut uluran tangannya adalah Kean, Sean, dan Bastian.
"Gue Bastian!"
Sementara Daren dan Arkan sama sekali tidak menyambut uluran tangan gadis itu.
Drtt... Drt...
Arkan hanya berdehem dia melihat ponselnya yang berdering ada nama Kamila.
"Gue angkat telpon dulu!"
Arkan pergi begitu saja meninggalkan gadis itu, gadis itu menatap tangannya yang kosong tidak ada balasan dari Arkan.
Melihat sikap cuek Arkan, Daren hanya tersenyum dengan smirknya. Dia memang sangat mengenali Bagaimana sifat Arkan.
Arkan tidak pernah tertarik dengan gadis yang sengaja mencari perhatiannya.
"Dia Arkan, ketua tim! Dia kalo ada telpon dari cewenya pasti langsung sibuk!" saut Kean seakan mengerti karena gadis itu memperhatikan Arkan.
"Sekali lagi sorry yah, kita gak sengaja!" ujar Sean.
Gadis itu menganggukan kepalanya, "lyah gak papa!" "Yaudah, ini udah kelar kan. Kondisi lo juga baik-baik aja, gue sama yang lain mau main lagi, lo mending agak jauhan lagi deh takut kepala lo putus kena bola!" kata Daren kepada Lia dengan nada yang datar.
"Lo bisa bangun sendiri kan? Mm.. Bisa lah yah, kaki lo belum dipatahin sama si Arkan, lo masih aman. Gak tau kali nanti!" lanjut Daren, dia lalu pergi meninggalkan gadis itu.
Sementara itu di Jakarta, Kamila sedang duduk di ruang tamu sambil termenung.
Alisha yang melihat hal itu langsung menghampiri Kamila dan duduk di samping gadis cantik itu.
"Mila kamu kenapa? Kok Bunda perhatiin kayaknya sedih banget. Kalo kamu bete gimana kalau kita pergi belanja aja? Kita bisa shopping beli keperluan sehari-hari atau mungkin kamu mau beli baju baru?" tanya Alisha kepada Kamila.