Badboy Yang Menyebalkan

Badboy Yang Menyebalkan
167. Peringatan Untuk Raka


Kamila sedang berada di kelas saat istirahat, Arkan sedang ke toilet. Tiba-tiba saja Kamila melihat seseorang masuk, Raka datang mendekati Kamila.


"Kamila! Kalian bukannya udah nikah ya? Maksud gue lo sama si Arkan? Semalem kan Arkan bilang kalian udah nikah. Terus kok kalian masih sekolah? Emang pihak sekolah udah tahu kalo kalian udah nikah? Atau sebenarnya kalian belum nikah cuman ngaku-ngaku aja?" Cecar Raka kepada Kamila.


Mendengar pertanyaan Raka yang bertubi-tubi Kamila pun kebingungan menjawab apa. Untung saja tidak lama kemudian Kean masuk ke dalam kelas.


"Heh, upil sapi lo ngapain di sini? Ini kan bukan kelas lo? Nggak usah deketin Kamila udah ada pawangnya," kata Kean dengan sinis.


"'Suka-suka gue dong mau pergi ke mana aja. Ini jam istirahat gue bebas mau ke kelas manapun yang gue mau," jawab Raka.


"Lo emang bebas mau ke kelas manapun yang lo mau. Lo juga bebas mau ngapain, tapi kalau urusannya udah sama Kamila lo nggak bisa bebas. Saran gue nggak usah cari perkara sama Arkan deh mendingan lo Jangan cari masalah. Apa lagi lo di sini anak baru cari aman. Gue yakin lo juga nggak mau cari musuh," kata Kean.


"Hahah, emangnya siapa Arkan? Dia sama kayak gue cuman anak sekolah, dan lo juga sama jadi apa yang perlu gue takutin!" kata Raka sambil tertawa dengan tengilnya.


"Kamila cantik jad-"


"Diem lo sialan!" potong Kean emosi.


Raka terkekeh, "Emang kenapa? Kamila ini cantik, bisa dong Arkan berbagi sama gue."


Emosi Kean naik seketika, Kean hampir saja meninju wajah Raka tetapi, Raka mencekal tangannya. Arkan terkejut saat dia masuk ke dalam kelas karena Raka tengah mencekal tangan Kean.


Arkan menyentak tangan Raka dari tangan Kean.


"Lo ngapain sodara gue?" tanya Arkan sakrastik.


"Gue gak ngapa-ngapain kok, dia aja yang sensian!" jawab Raka enteng.


"Lo juga ngapain di sini? Bukannya kelas lo bukan di sini? Mendingan lo jauh-jauh deh, berani lo ngapa-ngapain Kean sama Kamila gue hajar lo!" kata Arkan.


"Santai Arkan, gue sama Kean tadi cuma bercanda doang. Masalah gue ke sini soalnya gue tau ini kelasnya Kamila. Dan gue cuman mau negosiasi aja sama lo. Kalo punya cewek cantik kayak gini jangan dikekepin sendiri. Bisa kali kita berbagi?" kata Raka sambil mengedipkam matanya kepada Kamila.


"Woi mulut lo ya!" seru Kean marah.


Pemuda itu tidak terima jika Kamila diperlakukan seperti itu.


"Kean!" seru Arkan pelan.


Arkan mengedipkan sebelah matanya kepada Kean, Kean terdiam dia tau itu kode dari Arkan agar Kean diam. Pandangan Arkan pun beralih kepada Kamila. Tampak jelas juga gadis itu saat ini sedang tegang. Kamila sangat takut jika Arkan lepas kendali seperti yang sudah-sudah karena Raka itu mulutnya sangat tidak sopan.


"Lo nggak apa-apa, Mil?" tanya Arkan.


"Gue nggak apa-apa kok."


"Nggak apa-apa lah kan belum gue apa apain," kata Raka dengan kurang ajarnya.


"Sebenarnya niat lo ke sini mau ngapain? Lo pikir lo siapa?" tanya Arkan masih sambil menahan emosi.


"Niat gue yang mau negosiasi sama lo, Kamila kan cantik, dan gue rasa kalian belum nikah seperti yang semalem lo bilang. Tapi kalian udah tinggal serumah gak mungkin dong kalo kalian enggak em.... Gimana kalo kita berbagi kehangatan dan kenikmatan aja? Perempuan itu kan cuman diciptain buat muasin nafsu laki-laki. Termasuk juga Kami-"


"Bangsat!"


BUGH... BUGH.


Tanpa basa-basi lagi Arkan pun langsung menonjok muka Raka dengan kerasnya sehingga pemuda itu langsung terhuyung ke belakang dan terjatuh.


"Itu baru permulaan ya! Kalo lo berani ganggu cewe gue lagi, urusannya bukan cuman sama tangan gue," kata Arkan.


Tanpa menunggu jawaban Raka Arkan pun langsung mendorong kursi roda Kamila dan keluar dari kelas itu bersama Kean.


Arkan langsung membawa Kamila ke kantin. Kebetulan di sana sudah ada teman-temannya yang lain menunggu mereka.


"Kenapa lo? Muka lu kok asem banget gitu? Kayak habis gebukin orang ," kata Darren.


"Dia emang habis gebukin orang. Si Raka abis kena tonjok sama dia," kata Kean.


Kean pun menceritakan apa yang sudah terjadi kepada Darren dan Bastian.


"Emang kelewatan itu manusia. Gue bingung kenapa sekolah ini mau nerima murid baru di akhir semester sih? Sebentar lagi kan ujian akhir. Biasanya sekolah nggak pernah nerima murid baru lagi," kata Bastian.


"Gue juga bingung, tapi dari semalem gaya tuh anak emang nyebelin, nggak tau sopan santun sih. Padahal bokapnya sopan ramah juga. Kenapa anaknya brengsek kayak begitu," kata Kean.


"Dia belum pernah ngeliat si Arkan ngamuk," saut Daren.


"Terus Bang tuh orang abis lo tonjok ngelawan kaga?" tanya Sean.


Arkan menggelengkan kepalanya perlahan. Arkan memang sengaja langsung meninggalkan Raka di kelas Kamila. la takut jika ia terus berada di sana ia akan kehilangan kendali lalu memukuli Raka sampai babak belur atau bahkan meregang nyawa.


"Gue berusaha buat gak ngabisin dia pake emosi gue, tadi gue tinju karena dia udah kelewatam banget. Dia pikir Kamila sama kayak cewe-cewe di luar sana. Gue ngejaga Kamila mati-matian biar dia gak lecet, gue juga gak mau ngerusak Kamila. Tapi dia


dengan entengnya bilang Kamila sama kayak cewe-cewe liar itu!" kata Arkan dengan emosi yang menggebu-gebu.


"Anjir gue ikut kesel, gak pernah di didik kayaknya tuh anak. Coba ketemunya sama gue, udah gue ajak by one!" kata Bastian.


"Udah stop nggak usah ngomongin dia lagi. Kita ke sini mau makan, gue udah laper terus kalian malah ngebahas manusia yang nggak penting itu terus," kata Kamila kesal.


Arkan menepuk dahinya, hampir saja la lupa jika Kamila belum makan. Dengan cepat la pun langsung memesankan semangkuk bakso untuk Kamila dan juga jus alpukat kesukaan kekasihnya itu.


Setelah semua siap Arkan sendiri yang membawanya ke depan Kamila.


"Yah si anjir cuman buat Kamila doang buat kita-kita mana?" Protes Bastian.


"Kalian pesen sendiri punya kaki juga! Ini khusus buat lbu negara,'," jawab Arkan.


Kamila hanya terkikik geli mendengar perkataan Arkan kepada teman-temannya.


"'Sorry ya gue makan duluan, kalian pesen aja sendiri," kata Kamila.


"Ditraktir ga?" tanya Bastian.


Kamil melihat ke arah Arkan. Arkan terkekeh, tanpa banyak bicara Arkan mengeluarkan uang dari saku celananya


kemudian memberikannya kepada Bastian.


"Ni, sekalian bayarin yang ada di meja. Kayak gitu aja repot," kata Arkan kepada Bastian.


Bastian ikut terkikik geli kemudian la pun bergegas untuk memesan makanan bagi mereka semua.


Sementara Daren berusaha untuk mengalihkan perhatian Arkan dari masalah yang baru saja terjadi. Daren tidak mau Arkan terbawa emosi kemudian lepas kontrol seperti yang sudah-sudah.


"Pulang sekolah kayaknya kita mau ke rumah lo, gue sama Bastian. Bentar lagi kan ujian akhir kayaknya kita harus mulai belajar deh, gue nggak mau nilai ujian gue turun," kata Daren.


"Tumben amat lo mikirin belajar? Lo gak belajar juga udah pinter" kata Kamila.


"Gak usah merendah gitu Mil, lo juga pinter, mending lo ajarin dah tuh si Arkan biar kaga males belajar!" Kata Daren.


"Arkan kalo belajar sama gue gak fokus dia ngegodain gue terus kesel!" kata Kamila sebal.


"Itu Buuciiinnn Kamila! Arkan gila gara-gara dia bucinn!"