
Kamila menunggu pesanannya dia duduk di kursi, setelah itu Kamila membayarnya. Baru saja Kamila berjalan beberapa langkah tiba-tiba ada yang membiusnya.
"Arkan!"
"Tolommmmpph..."
Kamila berusaha mrmberontak tapi gagal, Kamila pingsan. Kamila pun dibawa oleh seseorang ke dalam mobil. Seseorang membawanya masuk ke dalam mobil. Saat Kamila sadar dia terkejut melihat Erik di depannya.
Tangan Kamila diikat, ternyata Kamila
disekap oleh Erik.
"Bajingan lo, lepasin gue sialan!"
"Tenang Kamila. Gue gak akan nyakitin lo. Asal lo tau aja gue selama ini suka sama lo, tapi lo lebih milih suka sama si Arkan, apa karena dia anak orang kaya?" kata Erik dengan arogannya.
Kamila memicingkan matanya, "L-lo suka sama gue?" tanyanya.
"lyah, gue udah lama suka sama lo," kata Erik.
Tiba-tiba saja Kamila mendapatkan ide untuk bisa bebas dari Erik.
"Kenapa lo gak pernah bilang? Selama ini sebenernya gue itu terpaksa, soalnya keluarga Arkan udah banyak nolong gue. Dia itu emosian orangnya, gue pusing ngadepin dia. Gue sebenernya seneng dia koma kayak sekarang. Gue jadi bebas, tapi gue kan harus tetep akting di depan keluarganya," kata Kamila dengan nada manisnya.
Mata Erik berbinar seketika mendengar perkataan Kamila.
"Lo serius?"
Kamila menganggukan kepalanya, " lyah, buka dulu dong iketannya, katanya lo suka sama gue. Kalo suka lo gak akan nyakitin gue, tangan gue sakit nih. Harusnya lo ngomong sama gue kalo lo suka sama gue," kata Kamila dengan manjanya.
"Nanti lo kabur," jawab Erik.
Kamila tersenyum dengan sangat manis, "Gue gak akan kabur, gue seneng kalo suka sama gue," kata Kamila dengan senyum penuh arti.
Erik yang termakan rayuan Kamila akhirnya mau membuka ikatan Kamila. Erik pun langsung memeluk Kamila,
"Lo cantik banget Mil, gue sayang banget sama lo. Gue gak nyangka kalo malem ini gue bisa dapetin lo!"
Kamila memang cantik, tapi siapa sangka kecantikan Kamila malam ini diliputi oleh dendam. Kamila melihat Erik dia tersenyum semanis mungkin. Erik melepas pelukannya dia melihat wajah Kamila.
"Lo bener-bener cantik Mil," puji Erik sambil membawa Kamila ke dalam pelukannya lagi
Kamila yang sebenarnya merasa jijik tetap berusaha tersenyum kepada Erik.
"Lo sebenernya lebih ganteng dari Arkan gue ngeliat lo juga jadi suka sama lo. Lo keliatan lebih lembut. Arkan itu kasar dia over protektif. Gue sering kesel sama dia. Tapi.." Kamila mengusap dada Erik membuat Erik menutup matanya.
"Tapi sekarang dia lagi koma dan gak sadar, kita bisa berduaan lo mau kan sama gue? Gue bakalan ngasih apa aja yang gue punya buat lo!" bisik Kamila di akhir kalimatnya dia sudah terlihat seperti ****** yang sedang menggoda laki-laki hidung belang.
Erik memegang tangan Kamila yang bermain-main di dadanya, "LO serius, Mil?"
Kamila menganggukan kepalanya tanpa ragu, "Gue bakalan buat lo puas malem ini! Lo bakalan jadi orang pertama yang milikin gue seutuhnya!" kata Kamila dengan senyum mengembangnya.
Erik tersenyum sangat senang dia senang sekali dia merasa menang dari Arkan kali ini.
Brukh....
Erik memojokan Kamila di dinding, Kamila tersenyum kepada Erik. Kamila memeluk Erik.
"Gue bakalan puasin lo malem ini!"
"ARGH..." Tiba-tiba saja Kamila menusukan pisau ke perut Erik membuat Erik berteriak terkejut.
"Lo gil-ARGHHHH..."
Lagi-lagi Erik berteriak kesakitan karena Kamila menarik pisaunya. Kamila melepas Erik dia mendorong Erik menjauh.
"Gue bakalan puasin lo pake ini!" kata Kamila, tatapannya penuh amarah.
"Gue bakalan bales semua rasa sakit Arkan!" Kamila menodongkan pisau kepada Erik.
"Sialan! Ternyata lo emang pinter akting."
Sedangkan di ruangan Arkan, pemuda itu menggerakan tangannya lalu membuka matanya.
"Mil.." Kean yang berada di sana terkejut saat Arkan memanggil Kamila, Kean langsung memanggil dokter.
"Syukur kepada Tuhan, pasien sudah siuman dan sadar dari komanya," kata dokter.
"Syukurlah!" ujar Alisha.
Dia memeluk putranya dengan air mata yang mengalir, "Bunda seneng kamu sadar Bang. Kamila harus tau ini!"
"Kamila dalam bahaya Bunda!" kata Arkan.
"Bahaya?"
"lyah Kean, gue mau nyusul Kamila... Argh..." Arkan hendak turun dari brankar tapi tubuhnya sangat lemas.
"Lo baru sadar, Ar. Diem di sini dulu" Kean berusaha mencegah Arkan.
"Ga bisa, Kamila dalam bahaya."
"Kamu tenang yah, Ayah telpon rumah siapa tau Mila di rumah!"
"Gimana, apa Kamila di rumah Yah?" tanya Alisha khawatir.
"Gak ada, Bunda. Kamila gak ada di rumah!"
"Kamila tadi di sini Bund. Aku denger Kamila mau balas dendam. Aku tau dia mau makan aku yakin Kamila di culik Bund. Aku mau nyelamatin Kamila!" kata Arkan dengan memaksa.
Marvin hanya bisa menghela napas panjang. Tetapi, pada akhirnya ia pun segera menganggukkan kepalanya. Marvin pun segera melacak gps Kamila.
Karena Kamila dan Arkan sering sekali dalam bahaya, Marvin memutuskan untuk memasang GPS di ponsel semua anak-anaknya. Termasuk Kean, Sean dan juga Kayla.
***
Di tempat Kamila, Kamila masih menodongkan pisaunya kepada Erik.
"Akting gue hebat, kan? Gue gak akan pernah ninggalin Arkan demi cowo gila kayak lo!"
Dugh...
Kamila menendang Erik dengan kencang membuat pemuda itu terhuyung dan jatuh.
"Apa gue hebat?"
"Sialan! Lo?!"
Plak
Erik terjatuh Kamila menamparnya dengan sangat kencang.
"Itu buat semua rasa sakit yang lo kasih ke Arkan! Lo pikir gue mau sama lo? Jangan mimpi?! Gue gak akan ninggalin pangeran demi budak dan babu kayak lo?!"
Kamila menyeringai dia bergerak mendekati Erik, saat ini kamila terlihat seperti psycopath.
"Sekarang lo harus mati di tangan gue Erik bangsat!"
"ARGHHHH!"
Kamila kembali menusukan pisaunya kepada Erik. Darah berceceran di baju dan tangan Kamila.
"Arghhh! Gila lo Kamila!" pekik Erik saat Kamila kembali menarik pisaunya.
"Hahahha! Gue emang gila?!"
Kamila tertawa dia puas dengan
perbuatannya.
"Sekarang lo harus mati Erik bajingan!" Kamila mengangkat tinggi-tingi pisau di tangannya.
BRAKH....
Saat Kamila akan menusukannpisaunya lagi. Tiba-tiba saja pintu langsung didobrak terbuka.
"Ayah, Bunda?!" Kamila terkejut saat melihat Alisha dan Marvin.
Namun, Kamila lebih terkejut lagi saat melihat siapa yang berada di sana duduk di kursi roda, Kamila menitikan air matanya.
"Arkan?!"
Arkan tersenyum dia merentangkan tangannya Kamila berlari memeluk Arkan.
"Lo udah sadar, gue kangen sama lo Arkan, gue takut....Erik tadi nyulik gue Arkan!" Kamila mengadu pada kekasihnya dia memeluk Arkan erat dengan air mata yang mengalir deras.
"'Ssst.... Jangan nangis, gue ada di sini buat lo!" kata Arkan dia mengusap-usap punggung Kamila menenangkan gadisnya.
Kamila melepas pelukannya, "Lo bener Arkan kan?"
Arkan terkekeh lalu menganggukan kepalanya, Kamila ikut tersenyum.
Kamila memeluk Arkan lagi, "Gue kangen lo Arkan, gue sayang sama lo Arkan!"
"Gue juga sayang sama lo Mil!" jawab Arkan.
"Gue udah bales semua rasa sakit lo Arkan."
Alisha Marvin dan yang lainnya masih terkejut dengan Kamila yang berlumuran darah.
Namun, pada saat Kamila memeluk Arkan, Erik bangkit sambil memegangi perutnya yang terasa sakit dia mengarahkan pistolnya kepada Kamila.
"Lo yang harus mati Kamila!" teriak Erik kencang.
DOR....
"ARGHHH...."
Arkan yang melihat itu dengan cepat menembak Erik dengan pistol yang ada di saku Kamila dan itu membuat Arkan menyeringai.
"'Selama gue masih hidup gak akan ada yang bisa nyakitin Kamila!"
Setelah Arkan menembak Erik dia memeluk Kamila erat.