
Tetapi, saat Laras membuka pintu
tidak ada siapa-siapa.
"Haduh, siapa sih kurang kerjaan banget. Nggak tau orang lagi ribet!" maki nya kesal, diahendak menutup pintu lagi.
Prang...
Tiba-tiba saja terdengar suara benda jatuh dari dalam rumah. Laras pun bergegas masuk ke dalam. Tak lupa dia menutup pintu dan nencari suara benda jatuh itu.
"Kayaknya dari gudang. Siapa ya? Apa si bibi mecahin barang di gudang? Enggak bisa dibiarin nih!"
Saat ia tiba di gudang, matanya langsung melotot tajam karena ada guci yang pecah di sana.
"Apa lagi ini! Apes banget hari ini SUTINAHHHH, BIBI!" teriak Laras lebih kencang membuat suaranya menggema.
"Di mana sih! Kayaknya emang harus dipec-"
BUGH...
Belum sempat ia melanjutkan omelannya, tiba-tiba saja kepalanya dipukul oleh sesuatu hingga ia pun pingsan.
Sementara itu orang yang memukul Laras langsung mengikat Laras di kursi yang ada di dalam gudang itu.
Orang itu membuka topengnya, dan ternyata dia adalah Arkan yang menatap Laras dengan senyum yang begitu menakutkan.
Setelah mengikat Laras dengan kuat, ia pun menutup mata Laras dengan menggunakan kain berwarna hitam yang sudah ia persiapkan sebelumnya.
Setelah itu, Arkan mengambil air dari dalam sakunya dan menyiram muka Laras dengan air. Sehingga wanita jahat itu tersadar dari
pingsannya. Namun, ia terkejut karena tangannya sudah dalam keadaan terikat.
"Eh, apa-apaan ini? Lepasin! Siapa kalian? Kamu mau apa?"
"Hei lepasin! Toloooong! Sutinaaaah!"
PLAK!
Laras diam seketika saat wajahnya ditampar dengan begitu keras.
"Berisik! Gak usah teriak-teriak, dasar cewe ular!"
"Siapa kamu! Kalo berani ayo lepas ikatan saya, dasar banci!"
PLAK! PLAK! PLAK!
Kali ini Laras merasakan pipinya begitu perih karena mendapatkan tiga kali tamparan yang sangat kencang. Emosi Arkan memuncak saat Laras mengatakan dirinya banci.
"Sakit! Tunjukin kamu siapa!"
"Lo gak perlu tau siapa gue, gue terlalu sempurna buat diliatin sama perempuan ular berbisa kayak lo!" ujar Arkan.
la sengaja mengubah suaranya menjadi lebih berat supaya Laras tidak mengenali.
Perlahan, Arkan mengeluarkan sebuah pisau lipat dari sakunya dan menempelkan pisau itu di pipi Laras.
"Apa itu pisau?" tanya Laras saat merasakan benda runcing itu terasa sedikit sakit di pipinya.
"Pinter! Gue tau semua yang lo lakuin sama anak tiri lo. Sekarang gimana kalo pisau ini gue goresin ke pipi lo sebagai pengganti rasa sakit Kamila." kata Arkan sambil mengusap pipi Laras dengan pisau sambil sedikit menekan ujungnya ke pipi Laras.
"Sakit! Jangan! Saya mohon jangan!"
"Teriak! Ayo teriak, gue suka denger lo yang kayak gitu!" Arkan semakin menempelkan pisau itu ke wajah Laras.
"TOLONG!"
Laras pun langsung berteriak Ketakutan tapi Arkan malah tertawa dengan lepasnya. Di sedikit menjauh dari Laras.
"Hahahah ayo teriak sampa suara lo abis!"
"Kamu jangan macam-macam, saya bisa laporkan kamu ke polisi," ancam Laras.
Arkan bersidekap dada.
"Oh, ya?Gimana kalo lo duluan yang gue laporin ke polisi kalo lo udah nyiksa anak tiri lo. Dan gue punya buktinya."
"Brengsek!" seru Laras kencang kepada Arkan.
"TURUNIN SUARA LO CEWE ULAR! Gue gak suka ada yang teriak-teriak ke gue!" bentak Arkan kencang membuat Laras bergetar
takut.
Sret...
"Aarghh... Sakit..."
Arkan menggores sedikit pipi Laras membuat darah mengalir di sana.
membuatnya semakin terasa perih.
Tes...
Darah menetes di lantai membuat senyum mengerikan Arkan semakin lebar bak psycopath.
"Itu gak sebanding dengan rasa sakit yang Kamila terima selama ini!"
"Jadi, kalo lo sekali lagi berani nyiksa Kamila, gue bakal dateng pas waktu lo sendiri, dan lo bakalan tau apa resikonya, hati gue bukan hati malaikat kayak Kamila!" ancam Arkan.
"Oh ternyata anak sialan itu yang nyuruh kamu! Dasar anak kurang ajar, liat aja dia bakal-"
"Bakal apa? Berani lo sentuh dia sedikit aja, muka lo taruhannya, oh atau mau jantung lo aja?" kata Arkan sambil kembali menempelkan pisau di pipi Laras.
"Jauhin pisau itu, saya janji gak akan nyiksa Kamila lagi!" kata Laras memohon.
Arkan menjauhkan pisaunya dan itu membuat Laras sedikit lega, Arkan melihat wajah Laras.
"Mmmm.. kayaknya masih kurang bagus deh, gimana kalo satu lagi!"
Laras menggelengkan kepalanya kuat-kuat.
"Enggak! Jangan! Saya mohon!"
Sret...
"Aaarghhhh!"
"Ups... Hahaha, sorry. Dia jalan sendiri!"
tawa Arkan kali ini benar-benar sangat menyeramkan.
Arkan mencengkram pipi Laras membuat Darah semakin mengalir. Laras meringis kesakitan.
"Gue selalu ngawasin lo di mana pun, berani sekali lagi lo lukain Kamila, bukan cuman dua sayat, tapi semua yang ada di diri lo bakal gue abisin!" ancam Arkan.
Laras mengangguk-anggukan kepalanya takut.
"I-Iya ... saya janji nggak akan ganggu Kamila lagi," kata Laras gugup.
"Inget, gue selalu ngawasin lo!"
BUGH...
Tanpa menunggu jawaban Laras, Arkan kembali memukul kepala Laras sehingga ia pun kembali pingsan. Dan dengan tega Arkan menyeret tubuh wanita itu menuju ke sofa. Kemudian mengaturnya hingga
sekilas tampak seperti orang tidur.
Setelah itu, Arkan yang melihat ada foto Kamila di meja ruang tamu menatap foto itu sambil tersenyum.
"Gue udah bales sedikit rasa sakit lo Mil! Cantiknya gue gak akan luka lagi!"
Masih dengan menggunakan sarung tangan, Arkan pun keluar dari rumah Kamila. la tidak mau meninggalkan jejak sama sekali.
Kemudian, Arkan kembali ke base camp. Dia melepas semua baju dan alat yang dia pakai tadi. Kebetulan basecamp sepi karena sebagian anggotanya sedang sekolah, jadi Arkan hanya sendirian.
Pisau yang tadi Arkan gunakan Arkan masukan ke dalam tempatnya, lalu Arkan masukan ke dalam saku jaketnya.
Arkan keluar dari base camp dia melihat jam sudah pukul dua siang, satu jam lagi Kamila akan pulang. Arkan memutuskan untuk berhenti kira-kira 10 meter dari
gerbang sekolah supaya tidak kelihatan oleh guru.
Dan setelah menunggu sekitar lima belas menit, tampak Kamila berjalan keluar dari gerbang bersama dengan beberapa temannya.
Kean, Sean, Bastian dan Daren jadi seperti penjaga Kamila yang mengikuti dengan motor di belakang Kamila.
Arkan pun langsung mendekati mereka. Senyum Arkan mengembang.
"Neng, Abang anter pulang yuk," goda Arkan kepada Kamila.
"Akhirnya lo datang juga, ni Bu Bos kita balikin ke lo. Seharian udah kita jagain, kagak ada yang lecet," kata Kean.
"Aman, Kan?" tanya Daren.
"Aman, beres," jawab Arkan.
Kamila langsung menatap mereka dengan tatapan penuh rasa ingin tahu.
"Apa yang aman?" tanya Kamila.
"Lo yang aman sama mereka," kata Arkan.
"Gak jelas lo!" sungut Kamila.