
"KAMILA?! ANJIN* LO LIVIA! LO NGAPAIN CEWE GUE SIALAN?!" teriak Arkan kepada Livia. Arkan mendorong Kamila, sehingga saat Livia mengayunkan pisau dahi Arkan yang menjadi korban.
"ARKAN?!" teriak Kamila syok.
Kamila mendekati Arkan dia memegang dahi Arkan yang bercucuran darah.
"Hahaha sangat mengesankan romeo dan juliet satu ini, gimana kalo gue bunuh dua-duanya aja!"
Livia sudah terlihat seperti orang yang terkena gangguan jiwa.
"Sebelum lo bunuh gue sama Kamila, lo yang bakal duluan mati di tangan gue Livia!"
Prang..
Arkan menendang pisau itu dari tangan Livia, Arkan menyeringai dia mengambil pisau itu lalu mengarahkannya kepada Livia.
"Arkan udah?!" ujar Kamila ketakutan.
Arkan yang melihat Kamila ketakutan lantas mendekati gadis itu,
"Gue di sini Mil!" ujar Arkan.
Kamila memegang wajah Arkan yang berlumuran darah tangan Kamila bergetar hebat dia melihat tangannya penuh dengan darah Arkan.
"Lo gak apa-apa?" tanya Kamila panik.
Arkan mengusap pipi Kamila sambil tersenyum. Sikap Arkan menjadi hangat lagi kepada Kamila. Pemuda itu mencium puncak kepala Kamila
Cup....
"Gue baik-baik aja gak usah khawatir!" ujar Arkan menenangkan gadis itu.
"Tapi darahnya Ar-"
"Sssttt... Gue gak papa kok!" Arkan mengusap keringat di kening Kamila.
"Gue harus nyelesain nenek lampir satu itu, gue gak akan tenang kalo dia masih berkeliaran di dunia!"
"Hahah Arkan bodoh! Lo mau sama pembunuh kayak dia!" seru Livia sambil
tertawa.
"Kamila... Lo itu pembunuh, kalo bukan karena lo nyokap kandung lo pasti masih hidup, tapi emang dasarnya lo itu anak pembawa sial. Dari bayi lo udah bunuh nyokap lo sendiri Kamila! Dasar pembunuh?!" kata Livia.
"Gue gak bunuh siapa pun?!" jawab Kamila.
"Lo pembunuh Kamila?! Lo juga perusak kebahagiaan orang lain!"
Kamila menggelengkan kepalanya, gadis itu mulai panik.
"Gue bukan pembunuh!"
"Kalo bukan pembunuh terus apa? Ibu kandung Lo itu tadinya mau nyelametin Lo dari sungai. Karena Lo, ibu Lo mati. Pembunuh!" teriak Livia.
"Ga! Gue bukan pembunuh! Bukan pembunuh!"
"Bukan pembunuh tapi lo bikin semua orang terluka Kamila, liat pacar lo di rela mau bunuh bokap lo bahkan sekarang kepala dia darahan gara-gara nyelamatin lo! Pembawa sial! Pembawa masalah!"
Kamila melihat kepada Arkan yang tengah menatapnya darah terus mengalir. Mata Kamila berkaca-kaca.
"GUE BUKAN PEMBUNUH?!"
"Lo itu pembunuh Kamila harusnya lo sadar!" Livia terus memanasi Kamila.
"ENGGAK! GUE BUKAN PEMBUNUH
Mental Kamila yang masih terguncang seakan tidak sadar dia terus berteriak dia bukan pembunuh. Kamila memegangi kepalanya sambil menangis.
Prang..
Kamila tanpa sadar menjatuhkan vas bunga. Kamila menutup mulutnya sambil bergetar Arkan memeluk Kamila Arkan tidak peduli dengan darah di
"'Sayang, jangan dengerin Livia dia gila! Tenang Kamila, mental lo belum baik jangan dipaksa!" seru Arkan berusaha menenangkan Kamila.
"Ar gue pembunuh!"
Arkan menggelengkan kepalanya dia mendekap Kamila erat, "Enggak Sayang, lo bukan pembunuh, jangan dengerin dia, Livia itu gila!"
Arkan memegang kepalanya yang terasa pusing karena darah sedari tadi terus mengalir. Arkan tidak peduli dia hanya memikirkan Kamila saat ini.
"Gue gila? Cewe lo lebih gila Arkan! Dia itu cewe gak berguna?!"
"Lo itu gangguan jiwa Kamila, lo gila hahaha lo juga gila Kamila!" seru Livia sambil tertawa.
"GUE GAK GILA, GUE GAK GILAAA... ARGHHH!" teriak Kamila histeris dia terus memukuli kepalnya.
Livia yang melihat itu semakin senang. Livia masih terus memojokan Kamila membuat Kamila semakin histeris.
"Lo pembunuh! Lo pembawa sial, lo ngehancurin semuanya. Buktinya keluarga ini aja udah hancur gara-gara Lo. Seharusnya Lo yang mati! Pembunuh!" seru Livia.
"Lo harus mati Kamila?!
"Lo harus mati!"
Kata-kata itu seakan terngiang di kepala Kamila dia mengambil pecahan vas itu.
"Mil enggak!" Arkan berusaha menarik Kamila.
Kamila tersenyum melihat pecahan vas itu ia lalu meremasnya, "Mah Mila mau ikut Mamah aja!"
Livia tertawa terbahak-bahak, "lyah Mil lo emang harus mati! Lo ikut sama nyokap lo yang udah mati itu!" seru Livia memojokan Kamila.
"Mila jangan gila?!" Arkan membuang pecahan itu, banyak serpihan di tangan Kamila, darah mengalir dari tangannya.
"Gue bukan pembunuh!"
Arkan mulai panik, dia memeluk Kamila terus dia membersihkan serpihan dari tangan Kamila.
"Arkan! Kamila?!" Tiba-tiba saja temannya Arkan datang.
"Lo baik-baik aja Ar?" tanya Bastian panik.
"Suruh cewe gila itu diem Bas! Anak Anjin* itu bikin mental Kamila makin down!" perintah Arkan.
Arkan melihat tangan Kamila yang bergetar, darah semakin bercucuran.
"Gue bukan pembunuh Ar, gue bukan pembunuh!"
"Gue gak bunuh Mamah Ar, gu-gue gak bunuh siapa pun?!"
Kamila terus meracau dia berkata dia bukan pembunuh dia tidak membunuh dan ibunya, Kamila terus menangis.
"Gue bawa Kamila ke rumah sakit, Sean bantu gue cari taxi, lo semua urus aja cewe sinting itu!"
Arkan langsung menggendong Kamila lalu membawanya keluar dari rumah itu, Arkan menyetop taxi dibantu oleh Sean. Sedangkan Daren bastian dan Kean sedang mengurus Livia yang mengamuk.
"Pak rumah sakit yah!"
Arkan membawa Kamila ke rumah sakit, dia benar-benar khawatir. Kamila terus saja meracau mentalnya benar-benar hancur.
Saat sampai di rumah sakit Kamila. langsung diperiksa oleh dokter Ari.
"Saya mau masuk!"
"Enggak bisa Mas biar kami periksa pasien ini terlebih dahulu, Masnya bisa diobati juga oleh dokter lain," kata Suster itu.
"Biarkan saja Sus!" ujar Dokter Ari.
Arkan masuk ke dalam dia melihat Kamila yang kacau, Dokter Ari mulai memperiksa Kamila. Terlihat dokter itu membalut tangan Kamila dengan perban.
"Syukurlah, dia baik-baik saja Arkan! Dia harus istirahat sekarang, saya sudah membersihkan lukanya!"
Arkan bernafas lega mendengarnya dia menyanggah tangannya memegang brankar.
"Kamu juga terluka Arkan, sayabobati dulu yah!" kata Dokter Ari.
Arkan memegang kepalanya benar saja darah masih mengalir pelan, "Saya baik-baik aja Dok karena dia juga baik-baik saja!"
"Kamu terlihat sangat mencintainya," kata Dokter Ari.
"Sangat Dok--."
Brukh...
Tiba-tiba saja, Arkan merasa pusing dan pemuda itu kehilangan keseimbangan lalu jatuh pingsan.
***
Kamila membuka matanya dia merasakan matanya pedih dia melihat tangannya diperban, Kamila menelisik sekeliling di sana ada Arkan yang terbaring dengan mata yang tertutup, kepala Arkan diperban.
Kamila berusaha turun dari brankar hendak mendekati Arkan tapi tiba-tiba saja pintu terbuka menampilkan Alisha.
"Eh, eh ... Mau ke mana Sayang? Jangan turun dulu, Kamu ini bikin Bunda panik aja. Kamu gak apa-apa kan? Kenapa harus ke rumah itu sendiri? Kan bisa minta Kean atau Sean temenin kalo Arkan gak mau. Bunda takut kamu kenapa-napa," kata Alisha khawatir.