
"Gue minta maaf, gue sayang sama lo. Lo ngambeknya jangan lama-lama gue sedih Arkan!" Kamila bersandar di dada Arkan dia tau dia salah maka dari itu Kamil menghargai kemarahan Arkan.
Cup....
Kamila mencium pipi Arkan, "Cepet reda ya emosinya gue pengen di peluk sama lo tanpa emosi!"
Kamila mengusap kepala Arkan," Gantengnya Mila jangan marah-marah terus!"
Kamila keluar dari kamar Arkan ternyata sudah ada orang tua Arkan dan teman temannya Arkan. Alisha memeluk Kamila dengan hangat. la tau jika saat ini Kamila pasti merasa sangat sedih.
"Bunda!" lirih Kamila.
"Sabar yah Sayang, Arkan emosinya masih belum stabil, Bunda yakin nanti Arkan pasti baik lagi. Sekarang Mila istirahat aja dulu jangan terlalu banyak pikiran Mila juga gak boleh larut dalam kesedihan, nanti Bunda sama Ayah yang bicara sama Arkan," kata Alisha dengan lembut.
"lyah Bunda!"
Atensi Alisha berpindah pada teman temannya Arkan, "Sana kalian masuk kalo mau ketemu sama Arkan. Siapa tau anak itu mau dengerin kalian," kata Alisha.
Teman-temannya Arkan pun masuk ke dalam, mereka menahan tawanya saat melihat Arkan dikat begitu. Mereka melihat itu merasa lucu karena Arkan yang biasanya tidak bisa diam tiba-tiba di ikat tidak bisa bergerak.
"Ketawa aja gak usah ditahan, nanti kentut berabe, bau nya sampe neptunus" kata Arkan kesal.
"Hahaha si anjir kalo ngomong. Udah begini masih aja ngeledek," kata Bastian tertawa puas.
"'Seneng ye Lo pada gue diiket kek gini," kata Arkan.
"Ya abis Lo udah kayak orang kesetanan, gila aja Lo. Untung si Daren gerak cepet sama bokap lo lapor polisi. Kalo ga, udah mampus tu bokap si Kamila," kata Kean.
"Lo gila," ujar Kean mengacungkan jempolnya.
Arkan hanya menghela napas panjang lalu mengembuskannya perlahan.
"Gue belum puas sebenernya, gue belum liat si Reynald mati," sungut Arkan.
"Udah lah Ar, yang penting Reynald sama Laras udah mendekam di penjara. Mereka bakalan bayar kesalahan mereka. Syukur kalo tobat," kata Daren.
"Dan yang Lo mesti kasian adalah nasib si Kamila. Gue kemarin dengar nyokap bokap lo mau hubungi kakek Kamila dari nyokapnya. Kakek Kamila itu ada di luar kota dan ga tau kalo selama ini cucunya menderita," kata Daren.
"Biarin aja, gue gak peduli," jawab Arkan.
"Jangan kayak gitu, selama ini Lo belain ini itu karena Lo sayang sama dia, kan? Lo lupa?" Kata Daren dengan bijak.
Arkan hanya diam, "Gue ga suka dibohongin."
"Kamila ga ada maksud buat bohong sama lo."
"Gue mau kasih dia pelajaran,biarin aja gue gak akan berlebihan juga!" kata Arkan masih kekuh dengan keputusannya.
Merasa tidak ada gunanya, teman temannya Arkan pun keluar. Mereka ingin memberikan waktu untuk Arkan sendiri dan merenung saja.
Malam harinya, Alisha masuk sambil membawa makanan.
"Bunda, lepasin dong. Aku udah gak emosi lagi. Sakit banget ini. Lagian aku udah kebelet nih dari tadi pengen pipis. Emang Bunda mau kalo aku ngompol?"
Alisha hanya tertawa kecil, sebenarnya kasian juga melihat putra sulungnya itu terikat begini. Tapi, memang ini cara satu-satunya karena sikap Arkan kemarin yang sangat keterlaluan.
"Ya lagian kamu! Bunda gak suka yah kamu begitu lagi!"
Walaupun sambil mengomel perlahan Alisha membuka ikatan di tangan Arkan. Dan benar saja, begitu ikatan terbuka, pemuda itu langsung ngacir ke kamar mandi.
"'Sementara waktu, Kamila akan tinggal bersama kita. Kakek dan Neneknya sudah dihubungi dan mereka merasa sangat kaget. Selama ini mereka pikir jika Reynald mencintai Putri mereka dan juga mengurus cucu mereka dengan baik. Itulah sebabnya, kakek Kamila mempercayakan semua bisnis ke tangan Reynald. Dan sepertinya nanti Bunda dan Ayah yang akan menjadi wali Kamila karena, mereka juga sudah tua."
"Terserah Bunda aja," jawab Arkan.
Alisha menghela napas, "Udahlah ngambeknya Bang. Kasian Kamila itu, dia ketakutan tadi sampe Tante kamu harus ngehubungin psikiater seniornya buat kasih obat penenang. Dia itu syoknya banyak. Keluarga dia kayak begitu, kamu juga kemarin kayak singa ngamuk," katanya.
"Psikiater senior? Separah itu Bund?" tanya Arkan khawatir.
Alisha menganggukan kepalanya,'" lyah, Bunda juga khawatir banget!"
"Maafin Arkan kalo kemarin Arkan bikin Bunda takut," kata Arkan kepada Alisha sambil menundukan kepalanya.
"Bunda maafin, jangan ulangi. Sekarang kamu makan dulu, besok gak usah sekolah dulu. lstirahat aja," kata Alisha.
"lyah Bund!"
Sudah 5 hari sejak kejadian itu dan Arkan masih tidak mau menyapa Kamila. Jika mereka berada di meja makan Arkan seolah tidak melihat adanya Kamila. la hanya menyapa Kean dan Sean juga bercanda dengan Kayla.
Tetapi, kepada Kamila ia sama sekali tidak mau menyapa. Hal itu tentu saja membuat Kamila sangat sedih, selama ini Arkan selalu ada untuknya. Tetapi kali ini, akibat kesalahannya sendiri, Arkan marah kepadanya. Kamila sangat menyesali
tindakannya, seharusnya sejak awal ia
jujur kepada Arkan. Padahal sudah berkali-kali Arkan mengatakan kepada Kamila untuk tidak pernah berbohong
kepadanya.
Tetapi, Kamila tidak mau mendengarkan.
Pagi itu, Arkan Sean dan Kean berangkat bersama mereka naik motor masing masing, sementara Kamila diantarkan oleh Marvin.
Kamila sebenarnya sudah menolak, tetapi Alisa memaksa. la tidak mau Kamila ada apa-apa di jalan. Wanita itu sudah menganggap Kamila seperti putrinya sendiri, terlebih keluarga Kamila sudah mempercayakan Kamila kepadanya dan Marvin.
"Harusnya gak apa-apa, Bunda. Aku masih bisa berangkat sendiri gak usah ngerepotin Ayah, kalo Ayah harus anter aku dulu berarti nanti jalannya muter, loh," kata Kamila.
"Enggak masalah, ini masih pagi. Lagian si Arkan udah tahu kamu tinggal di sini, bukannya pergi bareng malah dia pergi sama teman-temannya. Ya udah, biar Ayah yang antar kamu ya. Nanti pulangnya kamu bisa naik taksi, kamu masih punya uang nggak, Sayang?" kata Alisha.
Kamila menganggukkan kepalanya, "Aku masih punya tabungan kok, Bunda."
Alisha mengeluarkan dompet lalu mengambil uang senilai 2 juta rupiah kemudian memberikan kepada Kamila.
"Gak usah pake uang tabungan. Ini uang jajan kamu. Pengacara keluarga sedang mengurus semuanya. Harta peninggalan Mamah kamu akan dibekukan untuk sementara. Nantinya, harta itu bisa kamu gunakan ketika kamu sudah berusia 21 tahun dan untuk sementara perusahaan akan dipegang oleh orang yang kompeten dan bisa dipercaya. Kelak perusahaan itu akan menjadi milik kamu, Kamila," kata Alisha kepada Kamila.
Kamila merasa sangat bersyukur atas segala kebaikan yang diberikan oleh Marvin dan Alisha. la sama sekali tidak menyangka jika kedua orang tua Arkan akan memikirkan hal ini.
"Sebenarnya aku udah nggak peduli Bund sama harta itu. Karena harta itu bikin Papah tega buat nyakitin anaknya sendiri," kata sedih.
"Yang udah, ya udah ... yang penting sekarang kita jalani aja dengan baik. Ayah kamu sudah mendapatkan hukuman sesuai sama perbuatannya, percaya sama Bunda, hukum akan berlaku adil," kata Alisha sambil mengusap rambut gadis itu.
"lyah Kamila jangan terlalu dipikirin, ayo berangkat!" ajak Marvin.
"Iyah Ayah!"
"Bunda, Mila berangkat yah!"
Kamila menyalami tangan Alisha. Marvin pun mengantarkan Kamila ke sekolah karena hari ini Kamila juga bertugas OSIS.
Anehnya Kamila justru datang lebih dahulu, padahal Arkan dan teman-temannya pergi duluan tetapi mereka datang sesaat setelah Kamila datang ke sekolah.