Badboy Yang Menyebalkan

Badboy Yang Menyebalkan
191. Kamila Yang Protektif


Pagi itu seperti biasa Arkan kembali ke kamarnya pada waktu subuh.


Sementara Arkan kembali tidur, Kamila


langsung keluar dan menuju ke dapur.


Ternyata di sana sudah ada Alisha yang menatap Kamila bingung saat gadis itu datang.


"Kok kamu udah bangun? Semalem kan kalian tidur larut malem pagi-pagi udah bangun. Jangan bilang kamu mau masak," kata Alisha.


"Gak tau Bunda, tadi Mila kebangun gak bisa tidur lagi. Mila mau bantuin Bunda masak boleh gak? Aku mau bawa bekel aja," kata Kamila.


Alisha mengerutkan dahinya, selama ini Kamila tidak pernah membawa bekal makanan ke sekolah. Tetapi, pagi ini dia meminta bekal?


"Bukannya kalian biasa ke kantin? Bunda sih nggak masalah kalo kalian bawa bekel sendiri. Biar Bunda yang buatin aja bekelnya, kamu mau Bunda bikinin apa?" tanya Alisha


"Lagi pengen bawa bekel aja Bund, biar adil Mila bikin bekel Bunda yang bikin sarapan!" jawab gadis itu.


"Si Mbok lagi bikin bumbu nasi goreng. Ayah kamu pengen nasi goreng seafood. Sekalian sama roti bakar enak deh!" ujar Alisha.


"Kalo gitu aku bikin salad buah aja sama bikin pizza yah Bund."


 "Emang keburu bikin pizza?" tanya Alisha sedikit tidak yakin.


"Bikin pizza roti Bunda. Bukan pizza yang harus pakai roti pizza gitu. Bahannya pakai roti tawar aja," kata Kamila.


Alisha tersenyum sangat manis," Boleh Kamu tuh segala bisa ya, apa aja bisa jadi makanan enak. Ya udah kamu bikin bekelnya Bunda mau bikin sarapan. Nanti kalo gak keburu Bunda yang lanjutin."


"Siap Bunda!"


Kamila mulai membuatnya dia mengambil roti tawar dan dibuang pinggirannya.


Kamila juga menyusunnya lalu di beri saos dan sosis, juga taburan mozarela. Kamila tersenyum melihat hasil karyanya. Kamila memangganya menggunakan teflon.


"Bikin gini aja udah enak, Bunda," kata Kamila.


"Wah kayaknya emang enak nih!" kata Alisha dengan senang.


Setelah sarapan dan bekal selesai Kamila pun bergegas ke kamarnya untuk mandi dan bersiap sekolah. Kemudian setelah selesai Mereka pun sarapan pagi bersama baru Kamila dan Arkan berangkat ke sekolah.


"Tumben-tumbenan lo bawa bekel gini Mil?" kata Arkan.


"Ini isinya pizza bikinan gue sendiri ada salad buah juga. Nanti pas istirahat kita makan bareng-bareng," kata Kamila kepada Arkan.


Sebenarnya Kamila sengaja membawa bekal ke sekolah supaya Arkan tidak keluar dari kelas.


Dia tidak mau kecolongan, Siapa tahu saja orang yang berniat mencelakakan Arkan akan mencelakai Arkan di sekolah ketika tidak dilihat oleh guru.


Jadi, Kamila memang memutuskan untuk selalu mengawasi Arkan.


Di sekolah Kamila melihat Erik tengah memperhatikan Arkan dengan tatapan sinisnya, Erik yang menyadari Kamila tengah menatapnya lantas pergi begitu saja.


Kamila memeluk lengan Arkan, sungguh saat ini rasanya Kamila takut Arkan kenapa-kenapa.


"Lo kenapa Mil?" tanya Arkan heran saat Kamila memeluk lengannya.


Kamila menggelengkan kepalanya, "Gak papa cuman pengen gini aja!"


Arkan terkekeh dia mengusap kepala Kamila dengan sayang. Dan pada saat jam istirahat, Arkan pun ke kelas Kamila bersama Daren, Bastian, Kean dan Sean.


Mereka sudah berjanji untuk makan bersama di kelas karena Kamila sudah membuat.


"Astaga makanan sebanyak ini lo kira ini mau piknik apa?" kata Naya saat melihat makanan yang dibawa oleh Kamila memang banyak.


"Ini gue masak sendiri ada pizza, salad sama kroket kentang keju. Lagian bikin sendiri itu lebih sehat. Nggak harus antri dulu di kantin," kata Kamila dengan senyum mengembang.


"Sehat sih sehat tapi nggak ada minumannya nih. Kalau seret gimana,"


protes Bastian.


"lya. Lo tuh emang nyebelin banget, Bas," sahut Naya.


Bastian langsung melongo saat mendengar Naya memarahinya.


"Kok lo jadi sewot ke gue sih Nay?" kata Bastian.


"Ya kesel aja abis lo nyebelin sih banyak protes tapi nggak mau gerak juga."


"Udah jangan ribut. Nih kali ini gue yang traktir kalian minum, tapi jangan gue yang disuruh beli ke kantin, mager!" kata Daren sambil mengeluarkan dua lembar uang berwarna merah.


"Udah biar gue sama Abang gue aj yang beli deh lo semua ribut mulu," kata Sean sambil menyambar uang yang diberikan oleh Daren.


"Ayo Bang!" ajak Sean.


"Ribet banget!" gerutu Kean.


la dan Kean pun segera ke kantin untuk membeli minuman. Semuanya tertawa mereka tidak pernah ribut sungguhan mereka hanya saling bercanda satu sama lain.


Tak lama kemudian mereka kembali dengan dua kresek minuman di tangan. Ada jus dan juga minuman. Mereka makan dengan riang sampai sesekali bercanda.


Hingga akhirnya bel tanda istirahat pun berbunyi dan mereka kembali ke kelas masing-masing.


***


Sepulang sekolah, setelah mengantar Kamila pulang Arkan hendak keluar lagi dengan menggunakan motornya. Tetapi Kamila yang melihat, langsung mencekal tangan pemuda itu.


"Lo mau ke mana Ar?"


"Gue ada tugas harus ke perpustakaan kota buat cari bukunya. Gue sama Daren kok, Kean sama Sean udah duluan," jawabnya.


"Lo nyari buku apa?" tanya Kamila lagi.


"Buku analisis Kimia sih!"


"Kayaknya gue punya buku referensi yang lo cari. Nggak usah ke perpustakaan kota deh, gue bantu aja ngerjainnya," kata Kamila.


Arkan mengerutkan dahinya dia turun dari motor kemudian ia memegang pundak Kamila dengan kedua tangannya lalu menatap Gadis itu tajam.


"Kayaknya ada yang aneh deh sama lo akhir-akhir ini. Kemaren waktu gue mau ke basecamp alesan lo bikin kue. Oke gue ngerti kalau misalnya gue ke basecamp lo takut gue ngelakuin yang aneh-aneh. Tapi ini gue mau ke perpustakaan lo juga larang bahkan lo mau ngerjain tugas gue. Sebenarnya ada apa sih?"


"Eng-enggak ada apa-apa kok gue cuman mau dekat sama lo aja," jawab Kamila dengan ragu.


Arkan menggelengkan kepalanya. la tahu jika saat ini Kamila sedang berbohong. Pasti ada yang sedang disembunyikan oleh gadis itu.


"Lo tau kan gue gak suka di bohongin! Bilang sama gue ada apa sebelum gue sendiri yang nyari tau!" ancam Arkan dengan tegas.


Kamila menarik nafas panjang, pada akhirnya ia pun menceritakan apa yang sudah ia dengar beberapa hari yang lalu kepada Arkan.


"Gue yakin banget pelakunya Erik. Gue yakin dia masih ngerasa kesel karena lo udah ngelukain dia juga. Gue nggak mau lo celaka," kata Kamila dengan lirih.


Arkan langsung membawa Kamila ke dalam pelukannya kemudian ia mengusap kepala Gadis itu dengan lembut.


"Kenapa gak bilang dari awal Mil, gue bakalan baik-baik aja. Lagian kan ada Kean Sean sama yang lainnya, gak mungkin gue celaka banyak yang bantu gue!"


"Yang namanya kecelakaan itu bisa di mana aja, kapan aja. Jadi gue milih buat protektif sama Lo. Gue gak mau kehilangan lo Arkan, gue gak mau!"


Tangis Kamila pecah dia memeluk Arkan erat, Arkan memejamkan matanya dia berusaha meredam emosinya.


"Semua bakalan baik-baik aja Sayang, percaya sama gue!"


"Kenapa Mil?" tanya Naya saat melihat temannya itu menghela nafas terus nmeneruS.


"Gue khawatir sama Arkan, gue pernah dengen Erik mau nyelakain Arkan gue gelisah banget!" jawab Kamila.


Naya ikut bersandar di kursinya," Kayaknya hubungan lo sama Arkan ini ada aja masalahnya. Padahal orang tuanya Arkan udah setuju sama kalian!"


Kamila menatap langit-langit kelasnya, "Gue kadang mikir kayaknya gue sama Arkan ini bukan jodoh, gue suka nyusahin Arkan. Gue dari bayi udah bawa sial, nyokap meninggal gara-gara nyelamatin gue!"