
Kayla menganggukkan kepalanya dan dengan manja ia menatap Kamila.
"Kakak nginep di sini lagi?" Tanyanya.
"Enggak, Sayang. Nanti deh kapan-kapan kakak nginep sini ya," kata Kamila.
"Kalau ada apa-apa, telpon Arkan atau Bunda, Sayang. Kalo ibu sama sodara tiri kamu jahatin kamu lagi, bilang, ya," kata Alisha.
Kamila menganggukkan kepalanya.
"Makasih, Bunda," jawabnya.
Mereka pun makan dengan lahap. Kamila merasa sangat senang sekali karena setiap kali ia ke rumah Arkan, bundanya selalu menyambut dengan baik.
Setelah selesai makan, Arkan pun langsung memberikan obat maag kepada Kamila.
"Ni minum dulu, biar enakan. Abis ini gue anterin pulang," kata Arkan.
Kamila menganggukkan kepalanya dan meminum obatnya. Setelah itu, mereka pun pamit kepada Alisha.
"Inget pesen Bunda, kalo ada apa-apa bilang sama Arkan. Biar dia jemput kamu ke sini. Papah kanmu gak akan marah kalo ke sini. Bunda jamin" kata Alisha.
"Iya, Bunda. Terima kasih," kata Kamila.
Keduanya pun berlalu. Arkan langsung mengantarkan Kamila pulang.
"Langsung istirahat ke kamar. Kalo nenek sihir itu ngoceh gak usah peduli," kata Arkan saat Kamila turun dari boncengannya.
Arkan juga ikut turun dari motor.
"Iyah Arkan, gue mau tidur aja!"
"Kalo ada apa-apa telpon," kata Arkan lagi.
"Iyaaa! Kok jadi bawel sih!" ujar Kamila.
"Ya abisnya lo bohong terus! Awas lo bohong lagi gak akan gue perhatiin!"
Kamila terkekeh dia menangkup wajah Arkan.
"Kan gue udah minta maaf."
Senyum Arkan mengembang ini pertama kalinya Kamila begini.
"Iyah, jangan bohong lagi awas lo"
"Iyah, janji! Udah sana pulang gue mau tidur," kata Kamila.
"Gak mau kiss dulu?" tanya Arkan.
"Apasih udah sana!" ujar Kamila sambil mendorong Arkan ke motornya.
Arkan tertawa dia naik ke atas motor, Kamila tersenyum melihat Arkan yang sudah naik ke atas motor.
"Gue balik yah!"
Kamila menganggukan kepalanya. Arkan mengambil helmnya dia hendak memakai helmnya.
Kamila mencium pipi Arkan saat Arkan hendak memakai helm, Kamila langsung berlari masuk ke dalam pagar rumahnya. Senyum Arkan tidak bisa ditahan.
Dia melambaikan tangannya sambil tertawa, lalu kembali berlari masuk ke dalam rumahnya. Arkan tertawa kecil melihat Kamila yang langsung masuk ke
rumahnya.
"Dia yang nyium dia juga yang salting!" ujar Arkan sambil terkekeh.
***
Keesokan harinya seperti biasa Arkan akan mengantarkan Kamila pulang. Tetapi, ia nmerasa heran karena Reynald yang membukakan pintu.
"Siang Om, tumben ada di rumah?" Sapa Arkan dengan sopan.
"Iya, kerja terus cape, Nak Arkan. Sesekali mau istirahat di rumah," jawab Reynald.
"Harus balance ya, Om. Antara kerja dan keluarga," ujar Arkan.
"Iya dong. Ayo masuk, kita makan siang sama-sama. Tante sudah masak buat makan siang, loh," kata Reynald.
"Udah ayo masuk jangan sungkan, orang sama calon mertua kok!" kata Reynald sambil tertawa.
Arkan hendak menolak, tetapi ia merasa tidak enak kepada Reynald. Sehingga ia pun akhirnya masuk ke dalam.
"Mila ganti baju dulu ya, Pah," kata Kamila kepada Reynald.
"Iya, Mil."
Setelah selesai berganti pakaian, Kamila pun kembali ke ruang tamu dan bergabung dengan Arkan juga Reynald.
Mereka berbincang di sofa dengan Kamila yang sesekali ikut menimpali obrolan kedua lelaki berbeda generasi itu.
"Om setuju deh kalo kalian mau nikah muda, abis lulus sekolah langsung. Kalo sama kamu mah masa depan anak Om terjamin," ujar Reynald kepada Arkan.
"Hahah Om bisa saja, tapi Kamila juga kan harus kuliah Om, biar makin pinter," jawab Arkan.
"Oiya Om maaf, toilet di mana yah? Saya permisi ke belakang sebentar!"
"Oh itu di dekat dapur dari sini ada Mamahnya Mila kok di belakang lagi masak," kata Reynald.
Arkan berdecih dalam hati, siapa yang Reynald sebut Mamahnya Kamila, omg mamahnya kekasihnya itu sudah tiada.
Saat Arkan berjalan menuju ke dapur dia menghentikan langkahnya melihat sebuah foto, wanita itu persis yang ada di dalam mimpinya, ibu kandung Kamila.
Arkan tersenyum dia kembali berjalan menuju kamar mandi. Saat melewati dapur Arkan menghentikan langkahnya dia
tersenyum licik melihat Laras yang sedang memasak.
"Permisi Tante, toilet di mana yah?" tanya Arkan berusaha sopan padahal dalam hatinya memaki wanita ular itu.
"Eh Arkan, itu di sana!" tunjuk Laras.
"Terima kasih Tante," kata Arkan.
Dia masuk ke dalam kamar mandi dia membuka ponselnya lalu mengirimi Laras pesan.
Tring...
Satu pesan masuk dari Arkan untuk Laras, Setelah itu Arkan keluar dari toilet dan itu membuat Laras mematikan ponselnya.
"Terima kasih Tante!" ujar Arkan.
"Oh iyah!"
Arkan berjalan kembali ke depan, Laras lalu kembali membuka ponselnya dan membaca pesan itu.
Unknown (Are you Ready?)
Laras mencebikan bibirnya setelah membaca pesan itu.
"Halah, emang orang gak ada kerjaan. Dia
cuman ngasih ancaman doang, sosoan bilang jam sebelas mana sampe sekarang gak ada dasar lebay. Besok-besok males banget percaya sama orang iseng begitu, mau gimana pun anak itu harus sengsara sampai mati!" ujar Laras bersungut-sungut.
Tanpa Laras sadari Arkan masih ada di balik tembok, Arkan yang mendengar itu tersenyum dengan smirknya, dia pun kembali ke depan agar tidak ada yang curiga.
"Udah?" tanya Kamila.
Arkan tersenyum lalu menganggukan kepalanya.
"Udah lah Mil kalo belum ngapain gue ke depan," kata Arkan sambil tertawa.
Sedangkan Kamila mengerucutkan bibirnya kesal. Mereka kembali berbincang-bincang, terlihat Laras menghampiri sambil tersenyum.
"Papah, Kamila makanan udah siap, kita makan sama-sama dulu, yuk. Ayo, Nak Arkan Tante udah masak. Semoga suka dengan masakan sederhana kami, ya," kata Laras dengan manis.
Dalam hati, Arkan merasa jijik melihat sandiwara Laras. Ia tahu betul bahwa Laras hanya bersikap baik jika ada Reynald.
"Ayo, kita makan dulu," ajak Reynald.
Makan siang dimulai, Arkan dan Kamila duduk bersebelahan sesekali Arkan menoel
tangan Kamila.
"Mil," ujar Arkan sambil mencolek tangannya.
"Ih Apa sih!"
Kamila yang kesal memukul tangan Arkan.
Melihat hal itu Reynald hanya tertawa kecil, sementara Laras dan Livia tentu saja mencibir sebal. Tentu saja itu semua karena mereka merasa iri dengan kemesraan Arkan dan Kamila.
Terlebih lagi Livia. la merasa sangat kesal dan cemburu hingga ia meremas tangannya di bawah meja dengan gemas.
'Sial! Kenapa mereka mesra banget sih! Ini gak bisa dibiarin. Mama juga malah tenang aja, nyebelin. Harusnya gue yang duduk
di sebelah Arkan bukan cewelk udik itu!' maki Livia dalam hati.
Kamila bukannya tidak tau jika saat ini Livia sedang merasa kesal, ia pun dengan sengaja mengambilkan lauk untuk Arkan.