
"Lo gak bisa bilang sama gue dulu sebelum pergi? Kalo semalem gue gak ada di sana gimana? Udah berulang kali gue bilang jangan bohong Kamila! Ditanya di mana
bilangnya di rumah! Lo nganggep gue apa sih Mil! Lo ngambek gara-gara gue curiga sama Livia terus lo gak mau ngabarin gue? Bocah tau gak!" kata Arkan meluapkan emosinya.
Arkan menarik nafasnya lalu menghembuskan nafasnya kasar.
"Makan dulu, nanti di marahin Bunda!"
Arkan kembali membalikan tubuhnya melangkah keluar.
"Arkan," panggil Kamila.
Arkan tidak menggubris panggilannya,
emosinya benar-benar sudah tidak
bisa dibendung lagi. Kamila turun dari kasur dengan tertatih-tatih dia mengejar Arkan.
"Arkan!"
Kamila memeluk Arkan dari belakang saat pemuda itu hendak keluar dari kamar.
"Maaf!"
Kamila menempelkan kepalanya di punggung pemuda itu. Terdengar nafas Arkan yang tidak beraturan.
"Gue tau gue salah!" lirih Kamila.
Arkan merasakan punggungnya basah,
Kamila menangis, tapi Arkan tetap tidak mau membalikan tubuhnya.
"Kemarin lo bilang sama gue lo gak butuh gue buat jagain lo kan? Sekarang gue bebasin! Terserah lo mau kayak gimana," kata Arkan datar.
Kamila menggelengkan kepalanya.
"Enggak! Arkan jangan gitu, gue minta maaf! Gue salah, gue egois!" ujar Kamila semakin erat memeluk Arkan.
"Lo ke ganggu kan dengan gue yang selalu jagain lo, yaudah sekarang kita udahin aja semuanya!"
Bagai disambar petir saat Arkan mengatakan itu Kamila langsung memepererat pelukannya pada Arkan.
"Enggak! Gue salah Arkan, maaf!" lirih Kamila.
Punggung Arkan sudah terasa basah sekali, Arkan tidak benar-benar mau mengakhiri hubungannya, dia hanya memberi Kamila pelajaran agar tidak berbohong lagi.
"Arkan, hiks... Maaf! "Iyah gue salah, gue gak akan gini lagi!"
Arkan tidak tega mendengar tangis Kamila, dia membalikan tubuhnya memeluk Kamila erat.
"Arkan!" panggil Kamila.
"Iyah!"
"Maaf," lirih Kamila sambil sesenggukan.
Arkan menghela nafasnya, dia menciumi kepala Kamila sambil memejamkan matanya.
Setelah itu dia melepas pelukannya, dia melihat wajah Kamila yang banjir air mata.
"Arkan Maaf!" kata Kamila lagi.
Arkan menganggukan kepalanya, lalu kembali memeluk Kamila. Arkan tidak tega terus menerus marah kepada kekasih nya itu.
"Jangan diulangi lagi!"
Kamila menganggukan kepalanya pelan.
"Janji! Lo jangan marah lagi ya"
Arkan terkekeh dia mengusap kepala Kamila.
"Gue marah karena lo salah Kamila, gue gak mau kalo sampe lo kenapa-kenapa!"
"Iyah maaf!"
"Mulai sekarang gue gak akan diem aja Mil!"
***
Laras yang sudah selesai mengerjakan pekerjaan di rumah sedang berbaring sambil bermain ponsel di kamarnya.
Tiba-tiba saja ada, panggilan masuk dari nomor tidak di kenal.
"Nomor siapa sih ini? Iseng banget. Ganggu aja," gerutu Laras.
Awalnya ia mengabaikan panggilan itu. Tetapi, karena nomor itu menghubunginya tanpa henti akhirnya ia pun langsung
mengangkatnya.
"Hallo! Siapa ini?"
"Semoga Lo gak lupa sama suara
gue!"
Laras terkejut, ia membelakkan matanya saat mendengar suara itu. Itu suara pria yang kemaren mengikatnya. Siapa lagi jika bukan Arkan.
Laras hendak mematikan telponnya.
juga!" kata Arkan membuat Laras
mengurungkan niatnya.
"Kamu mau apalagi, saya sudah tidak mengganggu Kamila, saya tidak menyiksanya. Kamu mau apa?" tanya
Laras sedikit gemetar.
"Lo pikir gue gak tau apa yang anak kesayangan lo itu lakuin ke Kamila, mau sampe kapan jahatin cewe baik kayak Kamila?!" kata Arkan
"Jangan sok tau!"
Arkan tertawa dengan kerasnya.
"Hahaha, siapa yang so tau, udah gue ingetin berulang kali, lo buat perkara sama Kamila, gue yang bakalan bales perlakuan kalian bukan Kamila! Cewe kayak Kamila gak akan pernah kepikiran buat ngancurin iblis kayak kalian!"
"Saya gak percaya! Berani kok di telpon!" jawab Laras tegas.
"Gue gak pernah bohong sama apa yang gue bilang! Gue bisa ngelakuin apa aja termasuk hancuin bisnis Reynald," ujar Arkan penuh ancamnan.
"Lo pikir gue takut? Gue gak takut! Lo itu cuma bohong kan?"
"Untuk apa bohong kalo bukti nyata bisa buat mental lo hancur! Tunggu besok jam sebelas siang. Lo bakalan liat sendiri buktinya," kata Arkan dengan smirk liciknya.
Tut..
Laras langsung mematikan panggilannya. Dia memblokir nomor itu dengan ketakutan. Wanita jahat itu sebenarnya takut, hanya saja ia memberanikan diri di telepon itu.
Sedangkan Arkan di sana tersenyum puas dia melepas kartunya lalu dipatahkan dan dibuang karena dia tau Laras pasti sudah memblokirnya.
"Kamila.. Kamila! Lo itu polos, kalo lo gak bisa bales mereka biar gue yang bales semuanya!" kata Arkan dengan gemas.
Arkan saat ini berada di base camp, setelah tadi mengantar Kamila ke sekolah, Arkan beralasan mau di parkiran dulu menunggu teman-temannya.
Tetapi, ia tidak sekolah dan malah bolos kemudian menunggu di base camp. Arkan duduk sendirian di basecamp setelah tadi menelpon Laras, Arkan menghapus nom
Laras dia tidak mau gegabah jangan
sampai Kamila tau.
Pemuda itu merebahkan kepalanya di sofa yang ada di base camp, dia tidak mau ke sekolah lagi, nanti saja saat pulang sekolah dia baru menjemput Kamila.
Baru saja Arkan memejamkan matanya dia terkejut karena berada di sebuah tempat yang Arkan sendiri tidak tahu.
"Arkan!"
Arkan kembali dibuat terkejut karena ada yang memanggil namanya, Arkan melihat seorang wanita yang sangat cantik dengan gaun putih bersinar. Wajahnya seperti tidak
asing.
Wanita itu mendekati Arkan dan tersenyum manis.
"Arkan," panggil wanita itu.
"Siapa?" tanya Arkan.
"Arkan saya mau berterima kasih, terima kasih sudah mau menjaga Kamila, saya ibunya Kamila!"
Arkan terkejut pantas saja wajahnya sangat tidak asing.
"Oh maaf Tante, saya gak tau. Saya Arkan!" kata Arkan sambil tersenyum.
"Tidak apa-apa, saya tau kamu sangat mencintai Kamila restu saya untuk kalian akan selalu mengalir. Tapi ada satu hal yang harus kamu tau Nak. tidak semua orang yang kamu anggap baik itu memang baik, kalian berdua harus berhati-hati, kita
tidak tau isi hati manusia!" kata wanita itu.
"Maksud Tante orang jahat? Siapa Tante?" tanya Arkan penasaran.
"Saya tidak bisa memberitahunya, kamu anak yang pintar dan juga cerdas, keberanian kamu yang akan menyelamatkan kamu dan putri saya. Saya titip Kamila yah, putri saya terlalu lugu untuk berbaur dengan manusia di dunia!"
"Hati-hati Arkan, jangan sakiti putri saya!"
Tiba- tiba saja bayangan wanita itu menghilang.
"Arghh!" Arkan terlonjak kaget, dia bangun dari tidurnya tadi ternyata hanya mimpi Arkan melihat ke sekeliling.
"Gue mimpi apa sih, kenapa jadi horor!" gumam Arkan. Arkan pun menyambar jaketnya lalu keluar dari base camp.
Dia takut juga jika suasana horor seperti itu saat sendirian. Arkan mengemudikan motornya. Tujuannya saat ini adalah sekolah.
Arkan menitipkan motornya di warung belakang sekolah, lalu dia memanjat melalui pagar secara sembunyi-sembunyi. Ternyata sudah jam istirabat.
Arkan melewati kelas kamila, terlihat gadis itu sedang sendirian menelungkupkan kepalanya di meja, Arkan masuk ke dalam kelas Kamila.
"Mila," Panggil Arkan.
"Arkan!"
Kamila yang melihat Arkan langsung menggeser duduknya agar Arkan bisa duduk di sampingnya.
"Lo kenapa?" tanya Arkan sambil
mengusap kepala Kamila.
"Mual, pusing juga. Lo dari mana ?" tanya Kamila.