Badboy Yang Menyebalkan

Badboy Yang Menyebalkan
160. Permintaan Maaf Lia


Setelah selesai pertandingan Arkan duduk di pinggir lapangan. Arkan duduk di depan Kamila yang duduk di kursi roda sedangkan Arkan duduk di bawahnya bersandar pada kaki Kamila.


Arkan dan Kamila memperhatikan tim lain yang sedang bermain. Arkan dan Kamila terlihat sangat serasi, Arkan memegang tangan kiri Kamila, dan tangan kanan Kamila memainkan rambut Arkan.


Arkan tanpa malu sedikit pun menebar kemesraan dengan Kamila. Sedangkan Lia dia dengan kaki dan tongkatnya merasa kesusahan bertugas sedari tadi dia hanya berdiri sambil mencatat.


"Kasian ya Lia, dia pasti kesusahan banget. Dia harus pake tongkat gitu nyatetnya. Itu lo apain? Gue curiga kalo itu ulah lo!" kata Kamila penuh selidik.


Arkan terkekeh, "Gue gak ngapa-ngapain dia kok Mil. Lagian cewe model dia, mah gak usah dikasianin. Nanti ngelunjak, di kasih hati mintanya jantung," kata Arkan.


"lya, gue ngerti kalo lo marah sama dia. Tapi Arkan gak selamanya setiap kejahatan itu harus dibales lagi sama kejahatan. Dendam dibalas dendam nggak bakal ada abisnya. Tapi kalo kejahatan dibales sama kebaikan, jahat bakalan nyesel. Siapa tau aja langsung tobat?" kata Kamila.


Arkan hanya menghela nafas sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Kamila memang sangat baik. Bahkan ia terlalu baik, itu yang menyebabkan Arkan kadang-kadang merasa khawatir jika harus jauh dengan Kamila.


lya takut jika Kamila akan dimanfaatkan oleh orang lain yang berniat jahat kepadanya. Maka dari itu Arkan harus selalu berada di samping Kamila.


"Jadi orang baik itu nggak papa Mil, gak salah juga. Tapi jangan terlalu baik juga jadi orang. Lagian nggak semua orang jahat Kalo dibaikin bakalan sadar Mila. Kita harus waspada sama semua orang belajar dari kesalahan Mil! Gak semuanya harus dibaikin. Belajar deh buat ilangin sikap gak enakan lo!"


"Gue sayang lo Mil, gue gak mau nanti nya celaka lagi. Udah cukup kayak gini, gue gak mau lo sakit lagi Mil!"


Kamila tertawa kecil, "lya Arkan iya. Nih minum dulu biar adem. Lo ngomel mulu dah kayak emak-emak yang suka gosip pagi-pagi," kata Kamila.


Gadis itu pun memberikan botol minuman kepada Arkan. Arkan pun langsung minum air yang diberikan oleh Kamila dia membuang botolnya asal dan...


Brukh!


Lia terjatuh saat menginjak sebuah botol. Banyak yang mentertawakannya dan rata-rata panitia juga. Arkan menyeringai, tidak ada yang berniat membantunya, dia menatap Lia tajam. Lia membeku dia berusaha bangkit. Semenjak malam itu Lia sangat takut pada Arkan.


"Lo liat deh, dia jatuh aja nggak ada yang mau bantuin. Kalo dia orang baik udah pasti orang pada bantuin bukan malah ketawain dia kayak gitu. Dari tadi juga gue lihat nggak ada orang yang peduli sama nasibnya. Artinya Lia itu orang yang nggak baik Kamila. Lo nggak usah terlalu kasihan atau baik hati sama orang kayak gitu."


Tak...


Kamila yang tau jika Lia jatuh karena ulah Arkan langsung menyentil telinga belakang Arkan.


"lya gue tahu. Tapi yang bikin dia jatuh itu lo. Bisa nggak sih nggak sembarangan buang botol minuman tempat sampah kan deket. Lo udah kelewatan tau nggak sih," omel Kamila kepada Arkan.


Sementara yang diomeli hanya cengengesan saja. Tidak lama kemudian, panitia memberikan pengumuman.


Pengumuman pertandingan babak final ditentukan besok penentuan juara 3, tim Arkan masuk ke dalam 3 besar itu.


"Yeaay gue sama anak-anak masuk tiga besar!" Seru Kean.


Seluruh anggota tim pun saling berpelukan mereka merasa sangat senang sekali. Kerja keras mereka selama beberapa hari ini ternyata tidak sia-sia.


Arkan yang merasa bahagia langsung memeluk Kamila yang berada di kursi roda.


"Selamat ya. Ternyata lo emang jagoan Nggak cuma jago berantem tapi jago main basket juga," kata Kamila.


"Gue jago di kasur juga loh Mil, mau coba?"


Plakk.


Kamila memukul lengan Arka, " Mesum!"


Arkan tertawa dia mengacak rambut Kamila.


Setelah selesai mereka memutuskan untuk keluar dari tempat tanding.


"Gimana kalo sekarang saya traktir kalian makan di restoran? Anggep aja ini sebagai ucapan syukur karena tim kalian udah bisa menang masuk tiga besar," kata Marvin.


"Semuanya ini Pak?" tanya pak Anto yang kebetulan ada di dekat mereka.


Dan mereka semua pun menuju ke restoran yang tidak terlalu jauh dari hotel tempat mereka menginap. Marvin seperti investor dalam pertandingan ini.


"Kamila, nanti pulang dari Bali kita mulai bawa kamu terapi yah, kemaren Ayah dan Bunda udah konsultasi sama dokter yang nanti ngerawat kamu. Peralatan medis di Jakarta juga udah cukup lengkap nanti kamu bakalan diperiksa sama dokter yang direkomendasiin sama rumah sakit. Kalo seandainya di Jakarta gak bisa Ayah sama Bunda bakalan bawa kamu ke Singapura buat berobat," kata Marvin kepada Kamila.


"Apa itu semua gak bikin ayah repot?" Tanya Kamila.


"Nggak dong. Kamu jangan khawatir."


"Kalau biayanya mahal, Ayah pake aja keuntungan dari perusahaan kakek sama Nenek di Jogja. Kamila nggak mau terlalu membebani Ayah sama Bunda."


"Kamu itu ngomong apa sih? Uang Ayah masih cukup banyak kok untuk biayain pengobatan kamu," kata Marvin sambil tersenyum.


Mereka semua selesai makan mereka memutuskan untuk kembali ke hotel. Sementara Arkan meminta izin kepada Marvin dan Alisha untuk membawa Kamila ke pantai.


"Jangan terlalu sore lo pulangnya Bang. Kamila harus istirahat, kamu juga harus istirahat supaya besok kamu bisa bertanding dengan kondisi yang fit," kata Alisa.


"lya Bunda beres, kita pulang abis matahari terbenam. Kan niatnya mau lihat sunset dulu," jawab Arkan.


Arkan pun membawa Kamila ke pantai dengan menggunakan mobil sewaan yang menmang sudah disewa oleh Marvin untuk beberapa hari ke depan.


Arkan dan Kamila bermain dengan gembira di pantai. Setelah itu Arkan membeli puding buah dan menyuapi Kamila.


Tiba-tiba saja entah dari mana Lia datang dan langsung bersimpuh memeluk kaki Kamila.


"Kamila aku minta maaf untuk semua kesalahan aku. Aku sadar kalo aku salah bahkan aku udah ngelakuin hal yang nggak baik sama kamu, aku minta maaf udah neror kamu dan bikin kamu berantem sama Arkan. Aku sadar kalo tindakan aku itu salah Dan juga bikin aku sial beberapa hari ini. Apalagi gara-gara keteledoran aku, kamu sampe duduk di kursi roda kayak gini. Tolong maafin aku," kata Lia sambil menangis.


Kamila terkejut dia memegang tangan Lia, "Eh.. Jangan begini. Gue bukan malaikat atau Tuhan yang harus lo sembah. Gue udah maafin lo kok, yang penting lo sadar dan berubah mulai sekarang," kata Kamila.


Lia semakin kagum dengan Kamila gadis itu sangat baik, Lia jadi malu. Pantas saja Arkan membela Kamila mati-matian. Kamila itu bukan manusia dia ibu peri berwujud manusia, rasa sabarnya, anggunnya, wajah teduhnya itu jadi kelebihan Kamila.


"Makasih Kamila," kata Lia.


"lyah, udah ayo bangun jangan begini!" kata Kamila.


"Tuh kan, lo udah dimaafin sama cewek gue. Sekarang mendingan lo pergi deh, gue sepet lihat muka lo di depan gue!" bentak Arkan kepada Lia.


Kamila pun langsung mencubit pinggang Arkan sehingga pemuda itu mengaduh kesakitan.


"Sakit Yang!"


"Kalo gitu aku permisi yah!" pamit Lia.


"lyah sana, gak usah balik lagi!" seru Arkan.


Keduanya melihat Lia yang menjauh, Kamila kembali mencubit lengan Arkan.


"Lo mulutnya gak di saring dulu!" kata Kamila.


"lyah maap!"


"Tuh kan kejahatan gak harus dibales sama kejahatan buktinya dia minta maaf sendiri kan!" ujar Kamila bangga.


'Perasaan tuh si cupu, gue yang bikin ancur dulu baru mau minta maaf!" batin Arkan.


"lyah kan Arkan?" kata Kamila.


Arkan menganggukan kepalanya, " lyah Sayang, apa pun yang buat lo bahagia!"