Badboy Yang Menyebalkan

Badboy Yang Menyebalkan
82. Niat Arkan


"Jangan dihirup Arkan, gila lo! Kalo itu obat terlarang bisa kecanduan mabok lo!" cegah Daren saat melihat Arkan hendak menghirup serbuk itu.


"Tapi ini kayak obat-obatan terlarang, serbuk begini modelannya!" ujar Arkan lagi.


Daren melihat serbuk itu," Kayaknya bukan deh, ini kayak serbuk obat gitu tapi lebih amannya bawa aja ke rumah sakir buat di cek laboratorium. Ngeri juga kalo sampe itu obat terlarang, cewe lo bisa terciduk sama


polisi," kata Daren.


Arkan mengangguk lalu memasukan serbuk itu ke dalam saku, dia memutuskan untuk pergi saja, tujuan Arkan saat ini adalah rumah sakit dia akan menanyakan tentang serbuk ini.


"Gue ke basecamp ya," kata Daren.


"Oke, nanti gue nyusul."


Arkan pun segera melanjutkan perjalanan menuju ke rumah sakit. Sampai di rumah sakit, dia bertemu dengan dokter keluarganya dan langsung meminta dokter Ari untuk mengeceknya.


"Saya nemu dua serbuk ini Dok, ini apa?" tanya Arkan.


"Kamu dapat dari mana ini? Ini racun dengan dua jenis yang berbeda. Biasanya itu racun untuk hewan jadi tidak akan cepat sedikit demi sedikit akan menggerogoti saraf dan bisa mati."


"Maksudnya?"


"Ya kalo dikasi ke manusia dalam jumlah sedikit tapi sering pelan-pelan bisa mati. Tapi, gak akan langsung mati saat itu juga. Tapi, syarafnya satu persatu bakalan kena, jadi seakan-akan kayak kena stroke atau serangan jantung," kata dokter Ari.


Arkan terkejut dia berpikir apa Kamila berusaha untuk bunuh diri secara perlahan.


Pikiran Arkan sudah berkelana ke mana mana dia yakin tekanan batin Kamila semakin menjadi-jadi. Untung saja ia sudah memasang CCTV di kamar Kamila sehingga ia bisa memantau gerak gerik Kamila.


"Kamu gak ada niat bunuh diri kan?" tanya Dokter Ari.


"Enggak Dok, ini saya nemu makanya penasaran," kata Arkan.


"Mending dimusnahin aja deh itu bahaya kalo sampe ke hirup!" Arkan menganggukan kepalanya.


Malamnya setelah dari rumah sakit, Arkan mengurung diri di dalam kamar setelah selesai makan malam. la fokus memerhatikan apa saja yang dilakukan


oleh Kamila.


la melihat Kamila sedang belajar, dan dia terkejut karena Reynald membanting pintu sambil mencengkram Kamila.


"Udah kamu lakuin apa yang Papah suruh?" tanya Reynald pada Kamila.


"Gak mau, Pah. Sampai kapan juga Mila gak mau meracuni keluarga Arkan. Mereka baik banget!"


PLAK!


"Anak sialan gak tau diuntung!" Reynald memaki Kamila dan dia menampar Kamila dengan kencang hingga gadis itu tersungkur.


"'Saya yang membesarkan kamu, saya yang mengurus kamu. Ini balasan kamu kepada saya? Dasar anak kurang ajar!"


Plak...


Terlihat sudut bibir Kamila berdarah, gadis itu menangis tersedu-sedu, rasanya sakit sekali.


Reynald menarik tangan Kamila,"Saya minta hancurkan keluarga Arkan, atau nyawa kamu penggantinya!" "Arghh..."


Dugh...


Reynald mendorong Kamila membuat gadis itu terbentur meja belajarnya.


Arkan yang melihat semua itu langsung mengepalkan tangannya emosi. Kekasihnya yang selalu dia jaga di siksa oleh Ayah kandungannya sendiri.


"Brengsek! Reynald Anji** lo bikin gue bener-bener pengen bunuh lo!"


Dengan cepat, Arkan pun segera mengambil ponselnya dia menelepon Daren. Di nada dering ketiga, Daren pun


langsung mengangkat telepon Arkan.


"Kenapa Bro?" tanya Daren.


"Gue mau lo hapus semua data punya bokap gue yang ada di perusahaan Reynald. Gue mau si brengsek itu bangkrut?!" kata Arkan dengan nada datar berusaha menahan emosinya.


Daren di seberang sana mengerutkan dahinya.


"Kenapa?"


"Bungkusan yang tadi siang gue temuin itu racun. Dan si brengsek itu nyuruh Kamila racunin keluarga gue."


****....


Daren yang mendengar hal itu ikut mengumpat. la ikut emosi mendengar


perkataan Arkan.


"Gue berusaha jaga Kamila sebaik mungkin tapi si Anji** itu bikin Kamila sengsara!"


"Lo sekarang mau apa? Jangan bikin yang aneh-aneh dulu," kata Daren.


la tidak mau sahabatnya itu melakukan


sesuatu tanpa berpikir panjang.


"Gue belum puas kalo gue belum liat darah keluar dari tubuhnya hasil karya tangan gue!"


"Gak usah nekat Ar, Kamila bisa sewot sama lo!" saut Daren.


Selain Kanmila dan Alisha, biasanya Daren lah yang paling bisa mendamaikan hati Arkan. Itulah sebabnya pemuda itu memberi peringatan kepada Arkan.


"Tenang aja. Lo di mana sekarang?"


"Gue di rumah. Kalo lo perlu temen gue temenin," kata Daren.


"Gak usah, kerjain aja tugas lo, gue mau besok pagi semuanya selesai!"


Arkan pun memutuskan sambungan telepon, lalu ia keluar rumah dan mengemudikan motornya dengan kecepatan tinggi tujuannya adalah rumah Kamila.


Saat ini waktu menunjukan pukul dua belas malam. Sebelum ke rumah Kamila, Arkan


menyempatkan diri ke basecamp untuk


minum satu gelas agar ada bau alkohol.


Di base camp kebetulan hanya ada


beberapa anak Gravendal yang sedang nongkrong sambil minum.


Setelah menyapa mereka sebentar, Arkan pun segera meneruskan niatnya menuju ke rumah Kamila. Arkan masuk lewat balkon seperti biasa. Saat Arkan membuka pintu


Kamila terkejut bukan main. Tapi ia menarik napas lega saat melihat yang


datang ternyata Arkan. la takut Reynald


yang datang kemudian kembali memaksanya.


"Udah malam kenapa belum tidur?" tanya Arkan dia berjalan ke arah pintu lalu menguncinya.


"Tadi abis ngerjain pr sama belajar. Terus gak bisa tidur jadi nonton Drakor," jawab Kamila sambil tersenyum.


Arkan memegang pipi Kamila, ia melihat dengan jelas sudut bibir Kamila yang terluka.


"Terus ini kenapa? Kok berdarah? Laras mukulin lo lagi?" Pancing Arkan.


Kamila langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat.


"Enggak, tadi kepentok meja jadi lecet!"


Arkan menatap Kamila datar, "Gue gak suka dibohongi yah Kamila, kalo lo lupa!" kata Arkan.


"Gue gak bohong, Arkan. Serius deh," jawab Kamila berusaha meyakinkan Arkan.


Arkan hanya mengiyakan berpura-pura percaya. Kemudian, dia merebahkan dirinya di samping Kamila. Kamila terkekeh melihat Arkan yang mendusel kepadanya. Kamila mengusap-usap pipi Arkan membuat pemuda itu merasa nyaman.


"Kiss!" pinta Arkan membuat Kamila tersenyum.


Perlahan, Kamila mencium pipi Arkan, ada bau Alkohol. Gadis itu pun langsung cemberut kesal.


"Ish Lo minum lagi! Kan gue udah bilang jangan minum terus. Bandel banget sih lo jadi orang," kata Kamila.


"Dikit doang Mil," javwab Arkan.


"Walaupun dikit itu kan bahaya. Gue gak mau Lo sakit gara-gara sering minum," kata Kamila mulai menasehati.


"Itu dikit Mil, gue jarang minum sekarang nanti ketauan Bunda kena juga deh gue!" katanya.


"Mending gak usah sama sekali Arkan gak baik!"


"Iyah Sayang iyah, pengen tidur nih cape banget," kata Arkan kepada Kamila.


Kamila membiarkan Arkan tidur di kasurnya Kamila percaya Arkan tidak akan berbuat aneh-aneh kepada dirinya.


Arkan akan menjaganya dia tidak akan merusak dirinya. Arikan memeluk Kamila, dia memejamkan matanya, biar saja urusan cctv nanti Arkan bisa menghapus bagian itu, kalo pun gak bisa ya biar saja urusan ibunya marah atau tidak itu urusan


nanti.