
"Arkan nggak disayang, Bun?" Celetuk Arkan yang sedari tadi hanya mendengarkan percakapan antara Kamila dan bundanya itu.
"Siapa kamu? Anak mana?" kata Alisha.
"Lo jahat Mil ngambil Bunda gue!" kata Arkan membuat Kamila tertawa kecil.
"Makanya kamu itu jangan rese, biar Bunda anggep anak!" jawab Alisha dengan kesal.
Arkan hanya tertawa mendengar perkataan sang Bunda. Setelah makan malam, mereka semua tidur, termasuk juga Sean dan Kean.
Setelah mengantarkan Kayla tidur, Alisha juga memastikan Kamila sudah siap tidur.
Alisha benar-benar mengurusi Kamila. Itu semua ia lakukan Karena rasa bersalah yang masih mendera. Alisha merasa sangat bersalah karena pada waktu itu ia memaksa Kamila juga untuk pergi.
Dan waktu kamilah hendak menolong Lia, Alisa tidak sempat mencegah gadis itu. Itu sebabnya Alyssa ingin merawat Kamila dengan tangannya sendiri.
"Pintunya nggak usah dikunci ya Mil, Jadi kalo ada apa-apa Bunda bisa langsung masuk. Kamu kalo butuh sesuatu telepon Bunda atau Arkan," kata Alisha.
"Iya Bunda, ini aku mau langsung tidur kok," jawab Kamila.
"lya, kamu emang harus banyak istirahat. Besok kamu harus ke dokter, Ayah udah bikin janji sama dokter spesialis. Besok kamu diantar Arkan ke rumah sakit, pokoknya kamu jangan khawatir. Ayah sama Bunda pasti mengusahakan yang terbaik untuk kesembuhan kamu," kata Alisha.
Alisha pun memeluk dan mengecup kening Kamila. Kemudian menyelimuti gadis itu barulah ia melangkah keluar menuju ke kamarnya sendiri.
Kamila memejamkan matanya saat lampu dimatukan, Alisha menutup pintu kamar.
Tengah Malamnya, Arkan benar-benar pindah ke kamar Kamila. Kamila yang sedang tidur tentu saja terkejut karena ada yang memeluk pinggangnya dan menduselkan kepalanya di leher Kamila.
Saat Kamila membuka mata dia tersenyum. Arkan sangat manja kepada. Kamila dan itu membuat Kamila senang.
"Bandel ya, Kalo Bunda tau gimana?" kata Kamila berbisik.
"Ya paling kalau Ayah sama Bunda tahu kita langsung dikawinin, Mil. Udah nggak usah mikir yang aneh-aneh, kita tidur lagi besok lu mau ke rumah sakit buat cek kondisi kaki lo," kata Arkan kepada Kamila.
"Pintunya udah di kunci? Tadi Bunda bilang gak usah di kunci!"
"Udah Sayang, tenang aja! Gue kangen, udah lama gak tidur begini!" katanya.
Kamila mengusap kepala Arkan, Arkan menikmati sentuhan Kamila di kepalanya.
Kamila mencium dahi Arkan gemas, wajah Kamila sudah memerah. Arkan membuka matanya. Arkan menaiki tubuh Kamila dia
terkekeh melihat wajah Kamila yang memerah.
"Kenapa malu, kan lo sendiri yang nyium!" ujar Arkan membuat wajah Kamila semakin memerah.
"Tadi gak sengaja!"
Arkan terkekeh dia mengusap pipi Kamila lembut, Kamila memegang tangan Arkan yang berada di pipinya. Kamila dapat sangat jelas melihat Arkan yang berada di atasnya, Kamila melingkarkan tangannya di leher Arkan.
"Lo gak bisa gerak sekarang Mil, lo gak takut kalo di posisi kayak gini gue bakalan ngelakuin sesuatu?"
Kamila tersenyum dia menggelengkan kepalanya, "Enggak! Karena gue tau Arkan gak sebodoh itu. Kalo lo sayang sama gue, lo gak akan ngerusak gue!" jawab Kamila.
Arkan tersenyum dia juga tidak mau merusak Kamila sebelum ada ikatan yang sah, karena akan ada banyak dampak negatifnya.
"Mwah!"
Arkan mengecup bibir Kamila singkat membuat Kamila tersenyum, Kamila mengusap leher Arkan pelan.
"Enghhh Mila!" kata Arkan berusaha menahan suaranya.
"Jangan di usap leher belakangnya " kata Arkan.
"Kenapa?" tanya gadis itu polos lalu menghentikan kegiatannya.
"Bangun?"
Arkan menganggukan kepalanya," lyah Sayang, kalo udah bangun nanti susah tidurnya!"
"Siapa yang bangun?" tanya Kamila.
Arkan terkekeh, "Yang di bawah!"
bisik Arkan lagi, kali ini membuat Kamila
membelakan matanya.
"Ihhhh mesum!"
***
Paginya Arkan yang mengantar Kamila ke rumah sakit. Tadinya Alisha juga hendak ikut, tetapi tidak ada yang mengantar Kayla
ke sekolah. Sehingga akhirnya Kamila hanya ditemani Arkan ke rumah sakit.
"Kamila bisa berjalan kembali asalkan mau mengikuti terapi. Kemungkinannya memang kecil, tetapi pasti bisa karena tidak ada saraf-saraf yang kena. Kalau memang setelah 2 bulan terapi tidak ada kemajuan baru kita rujuk ke rumah sakit yang jauh lebih besar. Atau nanti saya bisa
merekomendasikan dokter yang terbaik di Singapura atau di Penang," kata dokter Nabila- dokter yang menangani Kamila.
"Jadi, apakah Kamila bisa memulai terapi hari ini, Dok?" tanya Arkar
"Tentu saja bisa. Tapi saya ingin memeriksa Kamila secara keseluruhan. Jadi lebih baik kita CT scan dulu. Saya mau lihat benar-benar tulang belakangnya syaraf-syarafnya dan lain sebagainya. Jika mendengar riwayat kecelakaannya, seharusnya tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Tetapi, saya mau Kamila menjalani CT scan dulu," kata dokter Nabila.
Dan ternyata setelah menjalani CT scan, dokter Nabila melihat tidak ada yang perlu dikhawatirkan, Tidak ada tulang yang retak atau saraf yang terkena. Dan dokter Nabila sendiri memastikan jika Kamila bisa berjalan kembali asalkan la rajin mengikuti
terapi.
Kamila merasa takut, apa dia akan benar-benar sembuh, Arkan yang tau kegelisahan gadisnya itu lantas Arkan memegang tangan Kamila sambil tersenyum.
"Semua bakalan berjalan lancar, gue selalu ada di samping lo!"
Kamila menghela nafas panjang lalu mengembuskannya perlahan. Alisha baru saja keluar dari kamarnya dan Kamila sudah selesai mengenakan seragam sekolahnya. Tetapi, Gadis itu masih termenung di depan cermin.
Ada sesuatu yang sangat mengganggu pikiran Kamila. Jujur saja ia merasa sangat tidak percaya diri untuk pergi ke sekolah pada hari ini.
Tiba-tiba saja pintu kamar Kamila terbuka dan Arkan pun muncul dari balik pintu sambil tersenyum.
"Pagi Sayang, udah siap kan? 2 Minggu ke depan kita ujian loh. Jadi, mulai hari ini kita nggak bisa bolos. Nanti pulang sekolah gue anter lo terapi," kata Arkan.
Kamila terdiam dia menundukan kepalanya, Arkan yang melihat itu lantas bingung.
Alih-alih mendorong kursi roda Kamila, Arkan membalikkan tubuh Kamila sehingga mereka saling berhadapan dan Arkan berjongkok di depan kekasihnya itu.
"Kenapa hm?" tanya Arkan sambil menaikan dagu Kamila agar gadis itu
menatapanya.
Kamila menggelengkan kepalanya, Arkan merapikan rambut Kamila yang menutupi wajahnya.
"Ada masalah? Bentar lagi ujian loh Sayang, jangan bolos jangan banyak pikiran gitu ah!" kata Arkan.
"lya gue tau, tapi... Ah, udahlah gak papa. Yuk kita turun ke bawah terus sarapan, gue laper," ajak Kamila sambil tersenyum.
Arkan menatap Kamila datar dia bersidekap dada, dia tau senyum itu palsu.
"Sama orang lain mungkin lo bisa bohong. Tapi sama gue nggak bisa, pasti ada yang lagi lo pikirin, Kenapa Sayang?" kata Arkan dengan tegas.
Kamila tetap menggelengkan kepalanya, "Enggak ada kok. Gue cuman gugup aja, karena Sebentar lagi kita ujian akhir terus kelulusan."