Badboy Yang Menyebalkan

Badboy Yang Menyebalkan
170. Arkan Demam


Alisha yang sudah dari tadi memperhatikan kedua anak-anak itu hanya menggelengkan kepalanya. la sangat maklum dengan kekesalan Kamila karena Arkan yang semalam sudah pergi tanpa pamit Dan tiada kabar.


"Makanya, Bang. Lain kali jangan bandel, dihukum cuma suruh bikin kue aja gosong," celetuk Alisha.


"Ih Bunda, bukannya bantuin anaknya malah ngetawain," kata Arkan.


"Ya habis Bunda harus gimana dong? Tapi bener sih kata Kamila, kan tadi kamu udah berhasil tuh bikin adonan kue yang bagus. Coba, sekarang bikin lagi adonannya terus ovennya itu jangan terlalu panas bunda juga mau dong sekali-sekali nyobain kue bikinan anak ganteng Bunda ini," kata Alisha merayu Arkan.


"Nah bener itu, gue setuju lo mendingan bikin adonannya lagi kayak tadi terus udah gitu apinya jangan terlalu panas. Suhunya 150 aja biar nggak gosong kayak tadi," kata Kamila setuju dengan ucapan Alisha.


"Bunda mah gitu giliran ada maunya aja, aku dipanggil ganteng!"


Mau tidak mau Arkan pun mengulangi kembali membuat adonan kue bolu. Kali ini ia memanaskan ovennya terlebih dahulu dan juga mengatur suhunya supaya tidak terlalu panas.


Setelah itu la membuat adonan kue lagi dengan cara persis sama seperti yang tadi kekasihnya ajarkan.


Setelah selesai Arkan memasukannya ke dalam open, Arkan sangat takut dia takut gagal dan mengecewakan lagi.


"Kalo yang ini gosong lagi gimana?" tanya Arkan.


"Buat lagi!" jawab Kamila.


"Mil, lo mau nyiksa gue? Gue cape!" kata Arkan di kembali duduk di lantai.


tapi kali ini dia meletakan kepalanya di paha Kamila.


Alisha yang melihat kelakuan putranya hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Arkan sangat manja pada Kamila.


"Gak papa kalo yang ini gosong lagi, lo udah berusaha semaksimal mungkin. Lain kali jangan suka pergi gitu aja apalagi gak ada kabar, gue khawatir. Ayah Bunda juga sama khawatirnya!"


Arkan menganggukan kepalanya," Maaf!" ujar Arkan lirih.


Kamila tersenyum dia menarik telinga Arkan pelan. Pemuda itu memegang tangan Kamila. Bunyi open membuat Arkan


bangkit dia membuka opennya. Ternyata kali ini Arkan beruntung," Asik berhasil!" Arkan langsung melonjak gembira kali ini. la merasa senang sekali karena kue buatannya tidak gosong lagi.


"Terus udah gini gimana?" tanya Arkan.


"Olesin bagian sebelah sini pakai selai strawberry terus udah gitu digulung bolunya," kata Kamila.


Arkan berusaha menggulung dengan rapih, dan pada akhirnya bolu gulung buatan Arkan pun siap dinikmati.


"Wah ternyata anak Bunda bisa juga bikin kue bolu," kekeh Alisha geli.


"Bunda jangan gitu, aku malu!" ucap Arkan.


Alisha merasa sangat lucu karena melihat Arkan berkutat di dapur dan membuat bolu gulung untuk Kamila.


"Ini mau Bunda kasih Ayah, kue buatan jagoannya Ayah!" kata Alisha.


Alisha pun membawa bolu yang gosong dan juga bolu yang selesai dengan baik itu ke meja makan kemudian nmenghidangkan nya kepada Marvin.


Melihat penampakan kedua bolu itu tentu saja Marvin langsung mengerutkan dahinya.


"Ini apaan? Kok yang satu item gosong begini? Ini Siapa yang bikin?" tanya Marvin.


"Ini dua-duanya anakmu yang bikin. Pasti kamu kaget kan si Arkan bisa bikin bolu?" Kata Alisha.


Marvin menggelengkan kepalanya tidak percaya, "Kalo yang gosong ini bikinnan si Arkan ya mungkin. Tapi, kalo yang mulus begini pasti bukan dia yang bikin," kata Marvin.


"Ayah mah gitu!" rajuk Arkan.


Marvin tertawa saja, begitu juga Alisha, "Ini dua-duanya buata Arkan Yah, dia dihukum sama Kamila gara-gara semalem pergi gak ada kabar, pulang larut malem! Anak Ayah ini kalo gak dihukum gam kapok-kapok! Untung aja nggak bisa dimasukin lagi ke dalem perut. Kalo bisa dimasukin lagi ke dalem perut, pasti langsung Bunda masukin lagi ke dalem perut," kata Alisha


panjang lebar.


Marvin hanya tertawa terbahak-bahak mendengar omelan Alisha yang panjang lebar itu.


"Jadi ini bener bolu bikinan kamu, Bang? Sini deh, Ayah cobain," kata Marvin.


"Yang gosong kok ga dimakan Yah?" tanya Arkan.


"Yang gosong buat kamu aja," jawab Marvin dengan santai.


Arkan mendengus kesal dia melepas apronnya lalu meletakannya di atas meja dia mendorong kursi roda Kamila.


"Silahkan dinikmati yang mulia kue gosong dengan cinta, aku mau berduaan sama Kamila! Ayah sama Bunda gak boleh ganggu!"


...----------------...


Kamila mencari Arkan di sekeliling rumah tidak ada, Kamila bingung ke mana perginya pemuda itu.


"Sean, liat Arkan?" tanya Kamila kepada Sean yang kebetulan saja lewat dari dapur.


Sean mengerutkan keningnya lalu menggelengkan kepalanya. Sejak tadi, ia memang tidak melihat Arkan.


"Dari tadi gue belum liat Bang Arkan. Emang ada apa? Kalo lo mau minta tolong biar gue aja, nanti lama kalo nunggu Bang Arkan!" ujar Sean


"Ke mana ya? Ya udah gua minta tolong bantu ke atas ke kamar Arkan. Mungkin dia tidur," kata Kamila.


Sean pun membantu calon kakak iparnya itu. Dia memapah Kamila Sean membantu Kamila naik ke atas, setelah sampai di atas, Sean membantu Kamila duduk di sofa, sedangkan Sean mengambil kursi roda Kamila di bawah.


"Sorry kalo gue ngerepotin lo, gue takut tuh anak pergi kayak kemaren gak bilang-bilang," kata Kamila.


"'Santai, cuman segini mah gampang gue gak kalah kuat dari Bang Arkan," katanya sambil terkekeh.


Kamila tersenyum saja, dia senang di rumah banyak yang membantunya.


"Sekarang lo butuh apalagi?" Sean.


"Nggak, makasih ya."


Sean pun menganggukkan kepala kemudian berlalu dari hadapan Kamila menuju ke kamarnya. Kamila menggerakan kursi rodanya menuju kamar Arkan, saat Kamila membuka pintu terlihat seorang


pemuda tengah memejamkan matanya


dengan bergelung selimut.


"Gue cariin dari tadi ke mana-mana gak taunya malah di sini. Kebiasaan bikin khawatir terus, " kata Kamila.


Tetapi tidak ada jawaban dari Arkan. Namun Kamila mendengar suara Arkan lirih seperti orang sedang menggigil.


Kamila pun segera menghampiri Arkan. Kamila memegang tangan Arkan terasa panas dia lalu memegang dahi kekasihnya itu, Arkan demam.


"Ya ampun lo demam? Kenapa nggak bilang sama gue kalau demam begini?"


Arkan membuka matanya dia melihat Kamila.


"Mil, ada apa? Tumben? Butuh sesuatu?" tanya Arkan.


Kamila menggelengkan kepalanya, "Enggak! Gue cuman khawatir lo pergi gak bilang-bilang gue nyariin lo taunya di kamar, lo sakit Ar gue telpon Bunda yah biar bawain obat!" kata Kamila sambil menggenggam tangan Arkan yang terasa panas.


"Nggak usah Gue nggak apa-apa, kok," kata Arkan sambil memejamkan matanya.


"Apanya yang nggak apa-apa orang demam begini kok. Udah pokoknya gue panggilin Bunda," kata Kamila ngotot.


Kamila pun segera menelpon Alisha dan memberitahu jika Arkan demam. Kemudian Gadis itu mengambil handuk kecil yang kebetulan ada di kamar Arkan kemudian membasahinya dengan air dari kamar mandi. Arkan terkejut saat merasakan


dahinya dingin.


"Mil, jangan gini gue takut lo jatuh!" kata Arkan.


"Enggak Arkan!" kata Kamila dia lalu mengambil handuk kecil untuk dia basahi lagi di kamar mandi.


Karena merasa lelah harus bolak-balik Maka Kamila pun mengambil mangkuk.


PRANG!