Badboy Yang Menyebalkan

Badboy Yang Menyebalkan
113. Wasiat Kakek


Kamila sedang berkemas dia akan kembali ke Jakarta hari ini, semua urusan di sini sudah selesai.


Kamila tidak bisa tinggal di Jogja karena pekerjaan Marvin dan sekolah mereka ada di Jakarta. Lagi pun Alisha tidak akan mengijinkan Kamila tinggal sendirian bisa-bisa putranya itu sensi setiap hari gara-gara LDR.


Kamila turun dari lantai atas, di bawah sudah ada Arkan dan yang lainnya. Di sana juga ada Riswan, pengacara kakeknya yang Kamila kenal.


Arkan yang melihat kamila langsung tersenyum dia bangkit dari duduknya lalu naik ke atas membantu Kamila membawakan kopernya.


"Jadi, Pak Marvin dan keluarga hari ini juga akan kembali ke Jakarta?" kata Pak Riswan, pengacara keluarga Kamila.


"Betul Pak Riswan, kami sudah mau berangkat karena anak-anak juga harus sekolah. Apa lagi Kamila dan Arkan kan sekarang sudah kelas tiga. Nanti, mereka ketinggalan pelajaran, dan saya juga tidak bisa meninggalkan perusahaan saya terlalu lama," kata Marvin.


"Baiklah, saya di sini tidak akan lama. Saya hanya akan menyampaikan apa yang disampaikan oleh kakeknya Kamila kepada saya. Kamila, dalam surat wasiat yang diberikan oleh kakekmu."


"Semua aset yang ada termasuk perkebunan dan juga sawah juga perusahaan itu semua adalah milikmu. Dan karena usiamu belum dua puluh satu tahun ... maka di sini pak Marvin sebagai wali yang akan mengelola semua aset milik Kamila. Dan nanti akan bekerja sama juga dengan saya dan ada juga orang kepercayaan kakek Kamila di kantor."


"Tentu saja nanti akan ada perwakilan dari orang kepercayaan Pak Marvin yang nantinya akan ditempatkan di Jogja. Jadi, semuanya akan secara transparan dilaporkan. Kamu bisa membaca surat ini dulu. Ini adalah surat kuasa, yang menyatakan jika Kamila mengizinkan Pak Marvin untuk mengelola semua aset milik Kamila sementara. Sampai Kamila berusia dua puluh satu tahun," kata Pak Riswan kepada Kamila.


Kamila menghela nafas panjang. Sejujurnya, jika ia boleh memilih ia tidak mau harta sebanyak ini. la hanya mau kakek dan neneknya, juga mamanya kembali. Tetapi itu semua tidak mungkin bukan?


"Kamu baca dulu aja, Mil. Nanti kalo ada poin yang gak kamu ngerti, kamu bisa tanya sama Pak Riswan. Surat-surat ini kuat secara hukum," kata Alisha kepada Kamila.


"lyah Bunda!" jawabnya.


Kamila pun meraih surat-surat yang ada di atas meja. Kenmudian membacanya perlahan, tanpa banyak bertanya lagi, ia meraih pulpen yang ada di situ dan langsung menandatangani surat itu.


"Kamu nggak mau mengubah apapun yang ada dalam surat itu?" kata Marvin.


Kamila menoleh ke arah Marvin lalu tersenyum, "Enggak Ayah, biar aja. Kamila percaya kok sama Ayah. Nah, sekarang tinggal Ayah yang tanda tangan," katanya sambil menyerahkan kertas-kertas itu.


Marvin tersenyum, "Terima kasih atas kepercayaan Kamila. Ayah berjanji akan mengurus semua aset-aset milik kamu dan tidak akan mengambil tanpa seizin Kamila," kata Marvin.


"lyah Ayah, Mila percaya sama Ayah!"


Mereka Deal, Marvin menandatangni surat perjanjian, tapi siapa sangka setelah menandatanganinya, Pak Riswan tiba-tiba mengeluarkan selembar surat.


"Ini untuk Pak Marvin!"


"Ini surat apa Pak Riswan?" tanya Marvin bingung.


Kamila tersenyum, "Ayah, sebenarnya Kamila sudah tahu isi surat perjanjian itu. Sebelumnya ada satu surat yang Ayah tidak tahu tetapi Pak Riswan memberitahukan itu kepada Kamila. Jadi almarhum kakek sudah berkata jika sebagai wali Kamila Ayah mengelola aset milik Kamila. Maka Ayah berhak 40% saham di perusahaan. Jadi keuntungannya 40% akan menjadi milik Ayah dan keluarga Ayah. Sementara 60% nya untuk Kamila. Maaf Kamila baru mengatakan hal ini setelah Ayah menandatangani surat itu. Karena Kamila yakin jika Ayah sudah mengetahuinya sejak awal, maka Ayah tidak akan pernah mau untuk mengelola


aset milik Kamila, Ayah pasti akan menolak sebagian saham itu," kata Kamila menjelaskan.


Marvin benar-benar terkejut mendengarnya, "Mila! Kamu seharusnya nggak melakukan hal ini. Ayah sama Bunda ikhlas kok untuk membantu. Lagi pula ini semua sudah tanggung jawab kami, Kamila juga anak Ayah sama Bunda," kata Marvin kepada Kamila.


"Enggak Ayah, Mila gak masalah. Mila tau 40% itu gak ada apa-apanya dibanding semua kekayaan Ayah sama Bunda, bahkan 40% itu gak ada seujung kuku pun dari kekuasaan dan kekayaan Ayah, tapi Mila mau Ayah menerimanya. Mila anak Ayah, Mila mau Ayah menerima apa yang Mila kasih," ucap Kamila.


"Tapi Mil-"


"Pak Marvin, sebaiknya Anda pasrah saja menerima. Ini adalah amanat dari almarhum kakeknya Kamila. Dan Kamila pun sudah setuju apa lagi Anda juga sudah


menandatangani perjanjian itu," potong Pak Riswan.


"Baiklah kalau begitu. Ayah menerimanya tetapi dengan catatan Pak Riswan yang akan mengurus semua pembayaran. Jika ada keuntungan Pak Riswan sendiri yang akan mentransferkan kepada Ayah. Bukan


Ayah yang mengelola keuangan. Bagaimana?" kata Marvin.


Kamila pun menganggukkan kepalanya. "lya Ayah, begitu juga gak apa-apa."


Alisha langsung memeluk Kamila yang duduk di sampingnya dengan penuh keharuan.


"Terima kasih ya, Kamila. Kamu sudah mau percaya kepada Ayah sama Bunda. Arkan pasti seneng punya pacar sebaik kamu!" kata Alisa.


"Enggak Bunda, yang seharusnya berterima kasih itu Kamila. Kalo gak ada Arkan, Ayah sama Bunda. Aku mau jadi apa? Pasti Kamila hidup sebatang kara dan gak punya siapa-siapa. Cuman punya harta, tapi gak punya keluarga yang sayang sama Mila," jawab Kamila lemah lembut.


Air mata Alisha pun langsung menetes. la merasa terharu ia mempererat pelukannya kepada Kamila. Dalam hati Alisha berjanji untuk selalu menyayangi Kamila seperti anaknya sendiri.


Setelah suasana sedih itu mereka berangkat ke bandara. Arkan dan Kamila duduk bersebelahan, dengan Kamila yang bersandar di pundaknya.


Sesampainya di bandara Arkan dan keluarganya dijemput oleh Daren dan


teman-temannya.


Arkan memang sudah mengabarkan kepada Darren soal kepulangannya dan Daren mengajukan diri untuk menjemput Arkan serta kedua orang tuanya.


"Gimana di rumah aman, Ren?" tanya Marvin kepada Daren.


"Aman kok, Om. Semuanya aman terkendali selama Om dan Tante pergi, saya dan Bastian menginap di rumah juga menemani Kean sama Sean. Karena si Mbok juga katanya takut kalau cuman sendiri," kata Daren.


"Lo nggak ngabisin stok makanan gue, kan?" tanya Arkan.


"Arkan! Kok ngomongnya gitu sih? Ya nggak apa-apa kalau pun sok makanan dimakan sama temen-temen kamu. Mereka udah baik hati mau jaga rumah. Lagian makanan kan bisa dibeli lagi," tegur Alisha.


"lya nih, Tante. Arkan pelit," sahut Bastian yang juga ikut menjemput mereka,.


Marvin dan Alisha hanya bisa menggelengkan kepala melihat ulah anak anak muda itu.


Saat sampai di rumah mereka langsung istirahat, Kanmila melanjutkan tidurnya bagitu juga Arkan.


***


Keesokan harinya mereka kembali ke sekolah Kamila senang bertemu dengan Naya. la langsung memeluk Naya dengan erat.


"Gue kangen sama lo Mil! Ya ampun, perginya lama banget sih? Betah ya Lo di Jogja?" kata Naya.


"Lo pikir gue jalan-jalan ke sana emang? Oya, maaf ya selama gue di sana gue nggak bisa bales chat dari lo. Karena hp gue dipegang sama Bunda," kata Kamila menjelaskan.


Naya tersenyum, "Gue tau kok. Bastian sama Darren udah cerita. LO yang sabar ya Mil. Sekarang ini mungkin lo berpikir kalau lo nggak punya siapa-siapa. Tapi, lo kan punya gue sahabat lo yang manis ini. Terus punya Arkan yang bucinnya tingkat akut sama lo. Udah gitu ada juga tuh bodyguard bodyguard lo, si Daren, Bastian, Kean sama Sean mereka itu kan bodyguard yang paling setia. Jadi, lo nggak perlu takut karena ada kita-kita yang sayang sama lo," kata Naya.


"Iya, gue tau. Makanya itu gue ngerasa bersyukur banget punya kalian, makasih ya," kata Kamila memeluk Naya.


"Ya udah kita masuk kelas yuk, Mil... kelas sepi loh nggak ada lo," kata Naya.


"Eh, ngomong-ngomong si Rena nggak kepo kan gue sama Arka mana?" tanya Kamila.