
"Emang si Arkan bisa kayak begitu?"
"Eh lo nggak tau aja, itu kemarin ada orang yang gangguin si Kamila orang itu sekarang dipenjara. Kenapa bisa dipenjara karena takut dibunuh sama si Arkan. Makanya dia nyerahin diri. Nah, lo lagi mau cari gara-gara ama Arkan. Mendingan lu pergi deh jauh-jauh. Kita semua udah tahu lagi lo siapa dan kebusukan lo. Kalau misalkan lo masih mau sekolah dan nggak di-bully sama anak-anak mendingan Lo pergi sekarang," kata Daren.
"Ish! Awas yah lo?!" sungut Rdna Mendengar ucapan Daren, Rena pun langsung menghentakkan kaki.
Untuk saat ini dia harus mengalah karena memang Arkan tidak ada di rumah.
Bahaya jika sampai teman-temannya Arkan mengadu kepada Arkan. la sudah melihat
kekejaman Arkan tempo hari, sampai
tangannya sakit. Dan kali ini dia harus bermain cantik supaya Arkan juga tidak
bisa menyakitinya.
"Akhirnya pergi juga tuh hama!" kata Daren saat melihat Rena pergi.
"Gak akan ada yang bisa misahin Arkan Kamila Ren, lo gila kalo main-main sama Arkan!"
***
Jika Rena sibuk mencari Arkan dan Kamila, Sementara itu di Yogyakarta, kondisi Kamila semakin membaik. Rara dan Regan pun menyusul ke Jogja khusus untuk menghibur Kamila. Kamila masih trauma dengan kejadian kemarin, ditambah dengan kepergian Kakek dan Neneknya pasti Kamila lebih terguncang lagi.
Siang itu Kamila baru saja bangun ketika Arkan membawakan segelas jus ke kamarnya.
"Dari mana?" tanya Kamila saat melihat Arkan masuk.
"Dari dapur nih buat ini, tadi lo tidurnya lelap banget jadi gue pikir sekalian aja lah gue bikinin minuman biar seger," jawab Arkan sambil duduk di pinggir kasur Kamila.
"Minum dulu!"
Senyum Kamila mengembang dia meminum jus yang diberikan Arkan, sedangkan Arkan mengusap surai panjang Kamila.
"Makasih ganteng," kata Kamila membuat Arkan terkekeh.
"Terima kasih kembali Tuan puteri!" Arkan dan Kamila tertawa bersamaan.
Kamila melihat ke kanan kiri lalu menyingkap selimutnya.
"Cari apa hm?" tanya Arkan.
"Hp gue ke mana ya?" tanya Kamila.
"Oh itu, ada sama Bunda. Soalnya kata Tante Rara lebih baik lo gak usah main sosmed dulu, lo harus banyak rileks Mil. Jadi Bunda mutusin buat nyimpen hp lo, kemaren juga Naya nelpon lo tapi Bunda yang ngangkat, emang kenapa? Butuh sesuatu? Nih punya gue aja!" kata Arkan.
Kamila menggelengkan kepalanya,
"Enggak ah, cuman kayak sepi aja, gue udah cape nangis. Gue kangen nonton draka korea," jawab Kamila sambil terkekeh.
Arkan tertawa geli mendengar jawaban kekasihnya itu. Kamila sudah menanyakan tentang drama Korea, artinya kondisi Gadis itu sudah lebih baik dari kemarin-kemarin.
"Emang Ayah sama Bunda sekarang ke mana?" tanya Kamila.
"Ayah sama Bunda lagi ke kantor kakek. Kemaren orang kepercayaan kakek sama nenek ngehubungin Ayah. Katanya sih buat ngasih surat-surat kepemilikan perusahaan dan lain-lain. Semuanya udah atas nama lo. Tapi, Ayah rencananya mau taro semua itu di safety box di bank. Jadi, semuanya aman. Nanti kalo lo udah cukup umur lo bisa pegang semua itu. Untuk sementara semuanya dikelola sama orang-orang kepercayaan Kakek lo dibawah pengawasan Ayah."
Kamila tersenyum, ia merasa sangat bersyukur karena keluarga Arkan begitu baik dan memperhatikan dirinya. Bahkan mereka pun dengan ikhlas menerima amanah yang begitu besar dari kakeknya.
"Gara-gara ini Ayah sama Bunda jadi repot, maafin gue ya," kata Kamila.
Arkan tersenyum, "Enggak ngerepotin kok, kata Bunda. Mila itu calon mantu jadi udah kayak anak sendiri," ata Arkan menenangkan Kamila.
Kamila memeluk Arkan sekilas lalu melepas pelukannya lagi.
"Ar gue bosen di kamar, keluar yu main ngapain gitu," ucap Kamila sambil menatap Arkan.
"Boleh, mau ke mana?" tanya Arkan.
"Di sini ada kebun strawberry sama Mangga punya Kakek, dulu gue sama Kakek suka main ke sana. Kayaknya sekarang juga lagi panen deh, ke sana yu," ajak Kamila antusias.
"Ayo, sebentar gue minta kunci mobil ke si Mbok dulu yah, terus ke sana " kata Arkan.
Akan tetapi, Arkan langsung menggelengkan kepalanya.
"Enggak Sayang, kita ke sana pake mobil. Gue bisa kena amuk Ayah sama Bunda kalau bawa Lo jalan kaki dengan kondisi lo yang baru sehat gini," kata Arkan.
Kamila pun hanya menganggukan kepalanya. la membiarkan Arkan meminta kunci mobil kepada Mbok Darmi. Kemudian dengan menggunakan mobil milik nenek Kamila, mereka pun pergi ke kebun strawberry yang tidak terlalu jauh dari rumah kakek dan nenek Kamila.
Ternyata benar kebun strawberrynya sedang berbuah. Kamila merasa sangat senang sekali. Beberapa petani menyapa mereka berdua. Tentu saja, para petani itu mengenali Kamila sebagai pemilik baru perkebunan itu setelah kakek Frans meninggal dunia.
"Eh, ini Mbak Kamila ya?"
Kamila menganggukan kepalanya, " Iyah Pakde!" jawabnya.
"Mas Arkan calonnya Mbak Kamila?"
Arkan terkekeh dia ikut menganggukan
kepalanya.
"lyah Pak saya Arkan!" Arkan mengulurkan tangannya.
Pakde Jali membalas uluran tangan Arkan, "Ganteng calonnya Mbak Kamila, asli Jakarta Mas?"
"Iyah Pak, ketemu Kamila juga di Jakarta!" jawab Arkan.
"Oiya Mbak, Mas, itu strawberrynya baru matang loh. Kalo Mbak sama Masnya mau metik ini saya kasih keranjangnya," kata Pakde Jali petani kepercayaan kakek dan neneknya Kamila.
"Iya pakde saya pengen petik strawberry, emangnya lagi panen ya?"
"Iya, kebetulan banyak yang sudah matang mangganya. Tuh, sudah ada yang kami panen. Kalau Mas mau metik sendiri ada di sebelah sana yang belum dipetik. Tapi, kalau males tinggal ambil aja di gudang sudah ada yang dipetik siap dijual."
"Kami petik yang baru aja Pakde, saya maunya langsung petik terus makan," kata Kamila.
"Iyah Mbak silahkan!"
Pakde Jali yang bertugas untuk mengawasi perkebunan itu pun langsung memberikan keranjang kepada Kamila.
"Terima kasih Pakde," ujar Arkan lalu pergi bersama Kamila.
Keduanya pun asik memetik buah strawberry dan mangga yang memang sudah matang itu. Kamila terlihat senang sekali dan Arkan pun ikut senang melihat kekasihnya itu kembali tersenyum.
"Wah, strawberrynya segar-seger banget ini. Bisa dibikin jus. Terus kalo dibikin pancake strawberry kayaknya enak deh," kata Kamila.
"Ya udah, bawa sebanyak-banyaknya. Terus nanti di rumah kita bikin pancake strawberry dan jus yang lo mau," kata Arkan.
"Gue juga mau bikin puding mangga. Kayaknya enak banget. Mbok Darmi itu paling bisa bikin kue-kue, bikin puding juga. Apa lagi hari lagi panas. Pasti enak banget. Terus, mangga sama strawberrynya kita bawa pulang ke Jakarta."
"Ya ampun, Kamila. Emang di Jakarta nggak ada mangga sama strawbery?" kata Arkan sambil menggelengkan kepalanya.
"Beda dong, ini kan dari kebun sendiri," kata Kamila.
Arkan mengacak rambut Kamila, " lya deh, yang penting lo seneng. Lo boleh bawa sebanyak yang lo mau, bawa kebunnya juga gak papa," kata Arkan.
Kamila menatap Arkan lalu ikut tersenyum, "Emang boleh?"
Arkan menganggukan kepalanya,' Apa pun buat lo Kamila, lo minta dunia gue juga pasti gue kasih!"
"Aduh baper say!" jawab Kamila sambil memegangi dadanya berlagak ingin pingsan.
Tak...
Arkan menyentil kening Kamila, "Sa ae lo Bambang!"
Kamila merengut sebal, "Sakit tau!" ujar Kamila sambil mengusap dahinya.
Cup....
Arkan mencium dahi Kamila, "Udah sembuh kan? Sakitnya udah di bawa kodok!"
Sekarang tolong bawa Kamila pulang! Oksigen di dada Kamila terasa mau habis?!