Badboy Yang Menyebalkan

Badboy Yang Menyebalkan
38. Keluarga Baru


"Bunda pikir kamu keluyuran gak jelas, abis makan pulang gak usah ngeluyur sana-sini! Kalo mau main nanti lagi pulang dulu biar Bunda bisa liat keadaan kamu!" ujar Alisha dari sebrang.


"Siap Bunda, aku gak akan ngeluyur atau tawuran, di sini juga ada Kamila Bund masa iya aku mau ngajak dia tawuran!"


Arkan pun segera memberikan ponselnya kepada Kamila sehingga gadis itu bisa menyapa Alisa.


"Sore, Tante," sapa Kamila.


"Ih ganti dong jangan Tante, Bunda aja biar sama kayak Arkan!"


Kamila melihat ke arah Arkan, pemuda itu hanya terkikik geli.


"Udah dapet restu tuh," saut Kean.


Kamila mengulum senyumnya, dia tersenyum kepada Alisha.


"Iya Bu-Bunda!" kata Kamila masih sedikit kaku.


"Mila beneran lagi ikut makan-makan sama temen-temennya Arkan?" tanya Alisha.


Kamila menganggukan kepalanya


"Iyah Tan, eh.. Bunda!" Arkan sudah tertawa


terpingkal-pingkal melihat wajah Kamila yang memerah bak kepiting rebus.


"Bunda titip Arkan yah kalo dia nakal atau berantem kamu keplak aja kepala nya suruh Bunda gitu, nanti kalo marah Kamila kasih tau Bunda!"


Kamila hanya terkikik sambil menganggukkan kepala nya.


"Iyah Bunda siap, Arkan gak nakal kok ini lagi makan-makan aja!" ujar Kamila lagi.


"Tuh Bunda mah gak percaya sama anak nya sendiri malah percaya sama Kamila!" saut Arkan tidak terima.


"Diem kamu Arkan! Kamu itu gak bisa dipercaya sekarang Bunda punya Kamila yang ngasih tau Bunda!" jawab Alisha ketus dari sebrang sana.


"Halo Kakak Mila, Kay punya mainan baru loh kemarin Kay beli pake uang Abang," ujar Kayla yang tiba-tiba saja muncul di layar ponsel Arkan.


"Halo Kayla," sapa Kamila sambil tersenyum.


"Kakak kapan ke rumah? Kay mau main sama Kakak! Temen-temen Abang nyebelin semua, gak mau main sama Kay. Maunya main PS aja. kalo Kakak yang ke sini kan main sama Kay, sama Bunda juga," lanjutnya dengan suara cemprengnya.


Kamila hanya tertawa geli mendengar ucapan Kayla yang polos itu.


"Iyah Kay, nanti Kakak main ke sana yah kalo lagi gak sibuk!"


"Oke Kak Mila, Kay mau makan dulu yah sama Bunda, dadah Kakak Mila!"


Kamila melambaikan tangannya kepada Kayla, padahal baru sekali bertemu itu pun sebentar tapi anak kecil itu sudah menyukai Kamila.


Setelah panggilan Video berakhir, mereka semua makan bersama. Kamila memberikan ponsel nya kepada Arkan, Arkan menerima nya lalu memasukan nya ke saku jaketnya.


Kamila senang dia seperti memiliki teman baru, semua teman Arkan sangat asik. Arkan yang melihat Kamila bahagia lantas


tersenyum.


"Ini kenapa gak di makan?" tanya Arkan saat melihat kerang ada di piring Kamila tersisihkan.


"Gue gak suka kerang, padahal seafood lain gue bisa makan kok!" jawab Kamila.


Arkan mengambil nya dia memakan kerang yang ada di piring Kamila.


"Arkan itu bekas gue makan bumbu nya," ujar Kamila.


Arkan membuka kerang itu lalu mencelupkan ke bumbu yang ada di piring nya.


"Gampang kan?"


Kamila menundukan kepalanya, pipinya


sekarang sudah seperti kepiting rebus.


Arkan terkekeh melihat itu, saat ini Kamila memang duduk tepat di samping Arkan.


"Lo happy?" tanya Arkan.


Kamila mengangkat kepalanya lalu mengangguk.


"Happy, gue seneng banget temen-temen lo semuanya baik. Gue kayak dapet keluarga baru," jawab Kamila.


"Gue seneng kalo lo seneng, nanti gue sama anak-anak buat acara gini lagi di basecamp aja. Bakaran ikan atau sate gas aja," kata Arkan sambil menatap Kamila dengan intens.


Tatapan Arkan membuat jantung Kamila berdetak kencang.


"Kamila," panggil Arkan.


"Apa harus gue bales perlakuan mereka sama lo?" tanya Arkan.


"Iyah Mil, perlu kita kasih pelajaran tuh Nenek sihir?" kata Kean ikut menimpali.


"Gedeg banget gue sama si Livia, tampang doang polos hatinya kayak bawang merah! Pedes?!" sungut Bastin berapi-api.


"Kalo lo butuh bantuan kita pasti bantu kok Mil!" ujar Daren juga.


Kamila melihat ke arah Arkan yang tengah menatapnya dia menggelengkan kepalanya.


"Makasih buat semuanya tapi untuk sekarang gak usah dulu, gue takut kalo nantinya ada apa-apa sama Papah!" jawab Kamila sambil tersenyum.


"Tapi Mil--"


"Gue baik-baik aja, gue udah punya kalian kan, jadi sekarang gue gak ngerasa kesepian lagi!" potong Kamila.


Arkan menatap wajah Kamila sendu, baru kali ini Kamila terlihat sangat sedih.


"Kalo ada apa-apa bilang ke gue Mil!" kata Arkan.


"Pasti!"


"Gue gak akan diem aja Mil kalo liat apalagi sampe denger lo kenapa-kenapa dapet dua orang itu!"


Kamila terkekeh.


"Ish muka lo tuh gak pantes buat serius Arkan!" kata Kamila.


Arkan langsung mendelik sebal.


"Gue serius Kamila"


"Gue juga!"


Kamila mengedip-ngedipkan matanya di


depan wajah Arkan sambil tersenyum.


"Jangan begitu Kamila! Bisa gila gue?! Lo bikin gemes!"


"Auww sakit Arkan?!"


Kamila memukul tangan Arkan saat pemuda itu mencubit pipinya.


"Ya lagian lo mancing gue aja!"


Semua teman Arkan hanya tertawa saja, Kamila itu memang menggemaskan.


"Tapi kan lo mulu yang selalu ganggu gue! Gak adil dong masa gue gak boleh gangguin lo!"


"Kucing cengeng kayak lo gak usah so soan gangguin singa modelan Arkan deh Mil! Ngeri lo di ngap doang," celetuk Kean membuat semuanya tertawa.


Kamila menatap Arkan dengan tatapan sengit, Arkan yang mnelihat itu hanya terkekeh saja.


Arkan tiba-tiba saja memajukan wajahnya ke wajah Kamila membuat gadis itu menahan nafasnya.


"Gak usah gitu Mil mukanya. Bukannya


serem tapi imut, gak enak gue mau


nyiumnya banyak temen-temen gue!"


Plak..


"Sialan! Siapa juga yang mau dicium sama lo!"


Setelah selesai makan, mereka semua merapikan sampahnya. Bahkan mereka mengumpulkan sampah botol yang bisa dijual yang nantinya akan mereka berikan pada pemulung. Kamila juga membantu


merapikan semuanya.


Arkan membantu Kamila dia mengumpulkan sampah, Arkan memberikan cium jarak jauh sambil mengedipkan sebelah matanya. Dan itu membuat Kamila berdecak kesal.


Ketika semua sudah selesai mereka semua bertos ria begitu juga Kamila. Gadis itu benar-benar merasa sangat senang dengan kegiatan mereka hari itu. Kamila berdiri di samping Arkan sambil tersenyum, Arkan melihat rambut Kamila yang berantakan, dia merapikannya lalu memegang semua


rambut Kamila dengan tangannya lalu meniup-niup wajah gadis itu.


"Adem kan?" tanya Arkan.


Kamila menganggukan kepalanya.


"Makasih ya Arkan, lo udah bikin gue seneng dan bisa lupain sejenak apa yang gue alamin!" kata Kamila,.


"Enggak gratis lo Mil," ujar Arkan mulai iseng.


Kamila memicingkan matanya dengan kesal.