
Arkan terkekeh dia pun milai memasukkan nasi kotak sebagjan ke dalam mobil Daren dan sebagian ke dalam mobilnya.
Sementara Alisha, Marvin dan Kayla pergi ke panti di mobil yang berbeda.
"Jadi, Daren sama Bastian, Arkan sama Kamila. Nanti kita semua ketemu di panti, begitu kan Om?" tanya Daren kepada Marvin.
"lya. Om sama Tante tunggu kalian di panti. Kalian nyebar aja dua mobil di rute yang berbeda buat bagi-bagiin makanan itu biar semua kebagian."
"Siap Om," kata Bastian dengan semangat.
Arkan dan Kamila pun tampak sangat bersemangat. Setelah semua selesai Mereka pun langsung berangkat dengan mobil masing-masing.
Kamila dan Arkan membagi-bagikan makanan ke semua pengemis, pedagang makanan, penjual asongan, pengamen, pemulung dan juga badut-badut yang ada di pinggir jalan.
Tidak ada yang mereka lewatkan semuanya kebagian. Setelah semuanya selesai Mereka pun langsung menuju ke panti asuhan.
Saat mereka tiba di panti asuhan, Daren dan Bastian ternyata sudah tiba di sana lebih dulu. Sementara itu Marvin dan Alisha tampak sedang mengobrol dengan ibu panti.
Arkan pun langsung menurunkan sembako dan bahan kebutuhan pokok lainnya.
"Sudah lama juga nak Arkan nggak ke sini," kata lbu Panti.
"Arkan kan sekolah Bu, Dia sekarang jarang banget bolos," kata Alisha.
"lya biasanya dia ke sini di jam sekolah. Kalau saya tanya dia bilang dia sengaja bolos dari sekolah karena males belajar."
"Sekarang Arkan udah nggak pernah bolos lagi Bu. Anak-anak yang lain juga nggak pernah bolos, nanti ada yang ngambek Bu kalo Arkan bolos." kata Arkan kepada ibu panti yang langsung disambut gelak tawa.
"Berani bolos nanti calon istrinya ngambek tujuh hari tujuh malem Bu!" kata Marvin membuat Alisha dan yang lainnya tertawa.
"Calonnya Arkan cantik sekali, mukanya teduh! Mirip sama Bu Alisha!" kata lbu panti.
Alisha merangkul Kamila, "Kan dia anak saya juga Bu jadi harus mirip sama saya!" Kamila terkekeh dia memeluk Alisha dari samping.
Tidak hanya sembako dan nasi yang dibagikan oleh keluarga Arkan. Tetapi, mereka juga memberikan uang tunai kepada panti itu.
Tidak hanya Arkan dan Kamila yang merasa senang di sana. Tetapi, Daren, Bastian, Kean dan Sean juga. Mereka asik bercanda dengan anak-anak yang ada di panti.
Sudah sangat lama mereka tidak merasakan suasana hangat seperti ini.
***
Setelah semua selesai, Marvin mengajak mereka semua untuk makan siang bersama. Lelaki itu sudah memesan tempat di restoran langganannya.
"Ayah yang bayar kan? Udah lama juga ya kita nggak makan bareng kayak gini. Terakhir kita makan-makan kan waktu di Bali ya?" Kata Alisha.
"lya Bund, Bunda tenang aja Ayah yang bayar, makanya Ayah ajak kalian semua ke sini. AyO semua pesan aja makanan yang kalian suka. Tapi, nggak ada masakan Padang di sini," kata Marvin sambil melirik ke arah Bastian.
Daren dan yang lain pun tertawa terbahak-bahak mendengar perkataan Marvin.
"Saya nggak nyari nasi padang kok, Om," jawab Bastian.
"Ya kan biasanya kamu nyarinya nasi padang," kata Marvin.
"Tapi, di sini ada gulai kambing yang enak loh," kata Alisha.
"Nah itu baru mantap, Tante," kata Bastian senang.
30 menit kemudian meja itu pun sudah terisi dengan macam-macam hidangan. Ada gulai kambing, gurame asam manis, capcay, pindang patin, ayam goreng lengkuas, sayur asem, tempe tahu, dan juga lalapan.
Tidak lupa ada buah-buahan segar. Dan juga aneka minuman.
yang aku sayang hampir celaka, aku bisa jalan lagi."
"Aku juga mau bilang makasih sama Arkan. Selama ini, Arkan udah mau sabar ngadepin aku yang kadang-kadang suka baper. Makasih juga buat Darren, Bastian, Kean dan Sean yang selalu mau bantu aku dan Arkan," kata Kamila panjang lebar.
Arkan tersenyum dia menganggukan kepalanya lalu memberikan kiss jarak jauh membuat wajah Kamila memerah.
"Sekali lagi terima kasih Ayah Bunda!" ujar Kamila.
"Sama-sama Sayang, semua itu kita lakuin karena kita sayang sama kamu, Kamila, jangan pernah kamu ngerasa sendirian," kata Alisha yang duduk di samping Kamila.
Wanita cantik itu membelai rambut Kamila dengan lembut sambil tersenyum.
"Ya sudah sekarang kita makan dulu, kasihan makanannya cuman diliatin," kata Marvin.
"Iya ni, gulai kambingnya udah manggil manggil," kata Bastian sambil tertawa.
Mereka pun tertawa gembira. Saat Arkan tengah makan ada seseorang yang menepuk bahunya.
"Arkan! Long time no see!" Arkan sedikit terkejut dan dia langsung memeluk orang itu.
......................
Arkan bangkit memeluk seseorang itu ternyata itu adalah Om nya. Rio.
"Apa kabar ponakan Om ini!" kata Rio sambil memeluk Arkan.
Arkan memang sangat dekat dengan Rio, Rio adalah sepupu dari.Alisha, memang semenjak menikah dia pindah ke Bali dan menetap di sana.
"Kok bisa lo di sini? Kenapa nggak ke rumah?" Tanya Alisa kepada sepupunya itu.
"Iyah Sha, gue baru aja sampe rencananya emang mau ke rumah tapi mau makan dulu, eh malah kebetulan ketemu di sini, lo sama Marvin juga katanya ke Bali, kenapa gak ke rumah?" tanya Rio.
"Kemarin ada beberapa kejadian yang bikin kita nggak bisa mampir ke rumah Om," jawab Arkan.
Rio langsung mendelik ke arah keponakannya itu kemudian ia tertawa kecil sambil berkata, "Pasti kamu yang bikin masalah, Bang."
"Ya siapa lagi kalau bukan keponakan lo yang bandelnya naudzubillah ini," kata Alish.
"Is bunda mah suka sembarangan. Aku kan nggak bandel, Bun," bantah Arkan.
"Kalau nggak bandel apa namanya? Kamu kan dari dulu suka banget cari masalah," kata Alisha.
"Aku nggak pernah cari masalah Bunda. Tapi emang masalah yang seneng banget nyari-nyariin aku," bantah Arkan.
"Tuh kan, lihat nih anak kamu Ayah. Paling hobi kalau bantah bundanya. Apalagi kalau lihat aku udah sewot dia makin seneng godain. Anak sama Bapak emang sama aja," kata Alisha.
"Tapi Bunda sayang kan?"
"Males!" Jawab Alisha.
Rio hanya tertawa mendengar perdebatan ibu dan anak itu. la sudah biasa melihat Arkan dan Alisha saling berbeda pendapat kemudian bertengkar seperti Tom and Jerry.
"Oiya yang namanya Kean sama Sean mana, kemaren lo udah cerita Sha?" kata Rio.
"Tuh yang mukanya mirip itu namanya Sean sama Kean."
Rio melihat keduanya sambil tersenyum, "Kalian baik-baik yah tinggal sama Arkan, kalian udah jadi bagian dari keluarga kita!" ujar Rio ramah.
Keduanya menyalami tangan Rio, mereka tidak menyangka jika Omnya Arkan sangat baik.