
Saat sampai di perusahaan Arkan bertemu dengan Ayah nya ternyata Ayahnya tengah meeting berdua dengan Bundanya.
Alisha hendak pergi saat melihat Arkan. Tetapi Arkan langsung menarik tangan bundanya perlahan, "Sebentar Bund dengerin aku dulu!" Alisha terdiam dia menatap putranya itu.
"Aku punya sesuatu buat Ayah sama Bunda, dan sesuatu ini yang bakalan jadi bukti kalo aku sama sekali gak salah. Daren udah nyelidikn semua nya!"
Mendengar hal itu Alisha menatap Arkan dengan tajam, kemudian la pun kembali duduk di samping Marvin.
"Bunda harap kamu gak bohong Arkan, Bunda gak mau denger kebohongan lagi dari mulut kamu. Jujur Bunda malu Bunda gagal jadi ibu yang baik," kata Alisha dengan dingin.
Sebenarnya dalam hati kecil Alisha dia sama sekali tidak mempercayai apa yang terjadi seperti foto itu.
Arkan selama ini selalu mengikuti apa perkataan Alisha meskipun ia sedikit bandel dan juga sering tawuran dan berantem tetapi Alisha tidak pernah melihat Arkan melakukan hal yang aneh.
Tetapi foto yang kemarin ia terima menunjukkan hal sebalik nya Bahkan ia melihat bahwa foto itu bukan lah editan hati ibu yang mana yang tidak sakit melihat hal seperti itu. Saat ini itulah yang dirasakan oleh Alyssa. la merasa sedang dikhianati oleh anak nya sendiri dan rasa nya sakit.
Arkan menghela nafas panjang dan mengembuskannya perlahan. la menepuk pundak Daren perlahan.
"Keluarin buktinya sekarang, Ren. Biar Ayah sama Bunda lihat kalo gue sama sekali gak salah," kata Arkan kepada Darren.
Daren mengeluarkan semua bukti itu, dan foto asli itu, Marvin dan Alisha terkejut.
"Maaf kalau aku udah lancang copy data dari laptop Ayah. Tapi dari sini aku tau kalo perusahaan banyak kehilangan Dana, Farm corporation melakukan penggelepan dana. Aku udah periksa semuanya, Ayah bisa periksa ulang!" kata Arkan.
Marvin menerima berkas yang diberikan oleh Marvin dia membaca nya dan benar saja ini bukan kerugian yang sedikit.
"Terus sekarang apa yang mau kamu lakuin Arkan?" tanya Marvin.
"Malem ini Farm Corporation mau ngadain pesta. Aku mau dateng sama Daren," ucap Arkan.
Marvin dan Alisha saling berpandangan kemudian Marvin menata putra nya lalu menggelengkan kepala bersamaan.
"Ayah nggak bisa biarin kamu datang ke pesta itu sendiri dan bikin rusuh. Kamu pikir Ayah nggak tahu kalau kamu bakalan nyari ribut. Ayah tahu ini adalah hal yang paling menjjikan yang pernah terjadi. Tapi
dengan bukti-bukti ini kita bisa laporin Farm Corporation ke ranah hukum. Ayah punya cara sendiri untuk membereskan
masalah ini," kata Marvin.
"Aku percaya Ayah bisa mengatasi hal ini tetapi sebagai anak dan sebagai calon pewaris perusahaan, aku mau ikut berkontribusi dalam hal ini jadi Ayah sama Bunda nggak bakalan bisa ngehalangin niat aku. Apa lagi ini posisi nya aku yang difitnah, harga diri aku dipertruhkan," kata Arkan dengan tegas.
"Kamu itu ya sekali-kali nurut dikatain orang tua kenapa sih Bang? Kalau Ayah kamu bilang bisa mengatasi ya pasti bisa!" kata Alisha dengan ketus.
Dalam hati wanita itu sudah merasa lega karena ternyata putra nya tidak bersalah.
Tetapi gengsi Alisha masih terlalu tinggi untuk mengakui jika dia sudah salah paham kepada sang anak. Oleh karena itu ia masih berkata-kata dengan ketus terhadap Arkan.
"Ya sudah kalo begitu kamu boleh ikut nanti malem kita pergi sama-sama saja biar adil," kata Marvin memutuskan.
Malamnya Arkan sudah siap dia juga mengajak Kamila, Alisha dan Marvin, nanti Daren dan teman-teman Arkan yang lain akan menyusul.
Daren sudah membuat undangan palsu yang sama percis dengan undangan perusahaan Farm corporation.
Saat masuk ke dalam tempat pesta Kamila tidak boleh lepas sedikit pun dari Arkan. Dia menggandeng Kamila dengan sangat mesra.
Dan pada saat mereka tiba seorang wanita berusia 35 tahun mendekati mereka.
"Betul Bu Risa, ini anak saya yang paling besar, Arkan. Ah, rupanya lbu sudah mengenalnya," kata Marvin.
"Lalu yang bersama Arkan ini siapa adiknya Arkan?" tanya Risa lagi.
"Anak kami yang perempuan masih kecil namanya Kayla. Ini calon menantu saya namanya Kamila," jawab Marvin kepada Risa.
Wanita itu tampak tidak suka saat melihat Kamila. la merasa bingung kenapa hubungan mereka baik-baik saja setelah ia mengirimkan foto-foto syuur kemarin.
Dan Arkan bisa melihat ada kebencian di dalam tatapan mata Risa kepada Kamila.
Kamila berjabat tangan dengan Kamila dia sedikit meremas tangan Kamila.
"Sshhh..." Kamila meringis kecil dan itu membuat Arkan yang mendengarnya geram dia menarik tangan Kamila lalu bergantian menjabat tangan Risa kencang membalas perbuatannya pada Kamila.
Wanita itu menatap Arkan tajam, dan Arkan lebih tajam lagi menatap wanita itu.
"Ar!" tegur Kamila pelan.
Kamila tau Arkan tengah membalas perbuatan wanita itu.
"Silahkan dinikmati hidangannya untuk Marvin sekeluarga!"
Marvin menganggukan kepalanya, " Terima kasih Bu Risa!"
Setelah itu Marvin pamit ke tempat duduk yang sudah disediakan, saat Arkan berada di samping wanita itu Arkan terdiam, Arkan itu tinggi bahkan Kamila saja hanya sabatas pundaknya.
Arkan menyeringai, dan berbisik, " Selamat datang di permainan yang sesungguhnya Nyonya Risa yang terhormat"
***
Arkan sedang memandang kolam renang dengan gelas yang ada di tangannya kebetulan pestanya ada di dalam.
Sementara Kamila dan yang lainnya sedang asik dengan pestanya. Entah mengapa saat ini Arkan merasa khawatir
Feelingnya mengatakan jika akan terjadi sesuatu malam ini. Entah apa itu, tetapi Arkan akan berhati-hati.
Tiba-tiba saja seseorang menepuk bahu Arkan membuat Arkan tersadar dari lamunannya. la melihat Daren sedang bersama dengan seseorang, tetapi ia tidak tau siapa pemuda yang bersama dengan Daren.
"Ngapain lo? Udah kek anak ilang. Jangan ngelamun mulu Ar kesambet mampus lo!" ledek Daren.
"'Setannya takut sama gue, dia gak akan nempel tenang aja!"
Daren tertawa mendengar jawaban Arkan temannya itu bisa saja.
"Ada apa?" tanya Arkan, atensinya
berpindah pada sosok pemuda di samping Daren yang tingginya tidak jauh dari Daren.
"Oiya, kenalan dulu gih. Lo kemaren nanya kan dari mana gue dapet bukti soal tuh foto. Nah ini pelakunya, dia temen gue, dia gak tau kalo gue deket sama lo!" terang Daren.
Pemuda yang datang bersama Daren langsung mengulurkan tangannya kepada Arkan.
"Gue Heri, gue tau siapa lo, ya walaupun lo gak tau gue siapa... Gue anaknya Pak Danu sama Bu Risa, gue Kakak kandung Rena."