Badboy Yang Menyebalkan

Badboy Yang Menyebalkan
130. Seperti Istri


"Kamu mau mendekam di penjara terus buat Bunda kamu sedih? Setau Tante Bunda kamu itu segalanya buat kamu, kamu tega?"


Arkan menggelengkan kepalanya ia sendiri tidak tahu kenapa jika ia marah emosinya selalu tidak bisa ia kontrol dengan baik.


Arkan akui jika saat marah yang menjadi fokusnya adalah pelaku. Apalagi jika korbannya adalah orang-orang yang ia sayangi maka akan hanya berpikir untuk membalas saat itu juga.


Karena dalam hati Arkan tidak bisa membiarkan orang yang ia cintai tersakiti siapapun itu tidak boleh ada yang menyentuh orang-orang yang Arkan sayangi.


"Kalau kamu terus begini Bang. Kamu bisa-bisa dibawa ke rumah sakit jiwa."


Arkan mengangkat kepalnya sambil menatap Rara.


"Aku gak sakit jiwa Tante, aku cuman sering lepas kontrol aja waktu marah," bantah Arkan.


"Itu kejiwaan kamu bermasalah Arkan, semua orang bisa aja takut sama kamu. Kamu liat di jalanan ada banyak orang gila berkeliaran mereka kadang marah banget waktu ada yang ngusik mereka, mereka gak bisa ngendaliin diri! Jadi apa bedanya sama kamu? Kamu marah juga kayak gitu kan?"


"Maksud Tante, Tante bilang aku gila sama kayak mereka?" tanya Arkan sakras.


"Tante gak bilang gitu, itu kamu sendiri yang bilang." jawab Rara enteng.


Arkan memutar bola matanya malas, "Terus apa aku harus biarin orang lain nyakitin keluarga aku?" katanya.


Rara menggelengkan kepalanya lalu berkata dengan lembut, "Gak ada yang mau keluarganya disakitin Bang, coba ditahan dulu sebelum meledak, pikirin cara baik-baik, gak selamanya otot bakal nyelesain masalah kamu Arkan! Kamu anak yang pintar sama kayak Ayah kamu, kamu juga telaten sama kayak Bunda! Belajar meredam emosi, kamu penerus Ayah kamu, kan gak mungkin kamu bakalan terus bunuh orang dalam dunia bisnis!" kata Rara.


Arkan terdiam dia bersandar di kepala ranjang rumah sakit.


"Tante pernah denger dari Bunda katanya kamu mau nikah sama Kamila? Kamu mau nikah muda sama Kamil? Ngikutin jejak Ayah Bunda?"


Arkan menganggukan kepalanya," Mau Tante, tapi Ayah gak mau kasih restu, katanya aku sama Kamila masih terlalu muda!"


Rara menghela nafasnya, "Gimana Ayah kamu mau kasi restu kalo kamu masih suka begini? Kamu ga kasian sama Kamila. Kalo kamu cinta sama dia, kamu bakalan denger omongan dia, walaupun kamu lagi marah."


"Nikah muda itu gak seenak yang kamu liat Arkan, masalah itu ada di mana-mana," lanjut Rara.


"Tapi Ayah sama Bunda buktinya langgeng aja tuh walaupun nikah muda!" kata Arkan menjwab perkataan Rara.


"ltu karena Ayah kamu lebih sabar dari kamu, Ayah kamu itu sabarnya melebihi batas kalo sama Bunda, dia bisa ngontrol emosi gak kayak kamu!" ujar Rara.


"Aku juga sabar Tante kalo ngadepin Kamila aku gak akan nyakitin Kamila walaupun seemosi apa pun aku!" ucap Arkan.


"Siapa yang tau Arkan? Orang kalo udah lepas kendali gak akan inget siapa-siapa, kamu mau nyakitin Kamila tanpa kamu sadari?"


Arkan ikut menghela nafas dia menggelengkan kepalanya, "Jadi aku harus gimana Tante?" tanya Arkan.


"Belajar tahan emosi kamu, kendaliin diri kamu. Kamu bilang semua keluarga Kamila itu sakit jiwa, kamu juga sama!" kata Rara sambil mendelik.


"Aku gak sakit jiwa Tante!" tegas Arkan.


"Makanya kalo gak mau dibilang sakit jiwa kamu harus berubah, perbaiki diri kamu. Kalo kamu berhasil nanti Tante bantu ngomong sama Ayah Bunda biar kasih restu kamu sama Kamila nikah muda!"


Mata Arkan langsung berbinar, " Beneran Tante?"


Rara menganggukan kepalanya, " lyah beneran!"


"Aku janji bakalan berubah jadi lebih baik, aku belajar buat selalu nahan emosi aku!"


Rara tersenyum dia menepuk pucuk kepala Arkan, "Good Boy! Tante tunggu perubahan kamu!"


"Sekarang Tante keluar dulu kamu pasti mau ngebucin sama Kamila!" Rara bangkit dari kursinya.


Rara melihat Arkan yang sedang berpikir sambil tersenyum, "Semoga ini berhasil!"


Hari ini. Akhirnya setelah lama berada di rumah sakit, Arkan sudah boleh pulang. Pemuda itu senang bukan main karena ia memang sudah sangat bosan berada di rumah sakit.


Arkan berjalan bersama dengan Kamila mereka sangat menempel seperti perangko.


"Nempel terus, beneran Bunda nikahin kalian ini," komentar Alisha menggoda.


Kamila hanya menunduk malu, sementara Arkan yang urat malunya sudah putus berusaha tida peduli.


Biar saja toh Kamila kekasihnya, memang hanya Bunda saja yang bisa berduaan sama Ayah, begitu pikirnya. Arkan terus berjalan menuju ke mobil sambil menggandeng tangan Kamila.


"Kelakuan anakmu itu, Bund. Bucin," kata Marvin.


Alisha langsung mengibaskan tangannya sambil mencebik.


"Nggak usah ngeledekin anak sendiri. Kamu sendiri juga begitu, Ayah," kata Alisha.


"Ya kalo Ayah kan beda, Bund," bantah Marvin.


Kamila dan Marvin tertawa melihat perdebatan itu, mereka memutuskan untuk segera pulang ke rumah.


Sampai di rumah, Kayla menyambut Arkan dan Kamila dengan gembira. Gadis kecil itu langsung memeluk kedua kakaknya sambil


menangis.


"Hey girl, are you oke?" tanya Arkan.


"Kok Abang pulang malah nangis? Siapa yang bikin Kay nangis?" tanya Arkan dengan khawatir.


Arkan masih ingat ketika Kayla disandera oleh Risa sehingga pemuda itu pun merasa sangat marah. la tidak mau sesuatu yang buruk terjadi menimpa adik kesayangannya itu.


"Kay nangis karena Kay takut Kalo Abang sama Kakak kenapa-kenapa. Waktu Kemarin Abang masuk rumah sakit terus banyak darah Kayla takut," jawab gadis kecil itu dengan polosnya.


Melihat hal itu Marvin langsung memeluk Putri bungsunya itu. Kemudian la pun menggendong Kayla menuju ke kamarnya.


"Abang nggak apa-apa. Sekarang Kay istirahat di kamar aja, Ayah sama Bunda juga ada di sini. Kak Mila juga ada di sini, nggak ada lagi orang jahat yang bakalan culik Kayla," kata Marvin menenangkan.


"Orang jahatnya udah pergi ya?" tanya Kayla dengan polos.


Marvin menganggukkan kepalanya lalu mengelus rambut Putri bungsunya itu dengan lembut.


"Orang jahatnya udah masuk penjara dibawa sama Pak polisi, jadi nggak akan ada lagi yang bakal jahatin Kayla sama Abang. Sekarang kan udah jam tidur siang gimana kalau Kayla tidur siang sama Ayah? Ayah ngantuk nih!" kata Marvin menawarkan diri.


Kayla pun menganggukkan kepalanya, kemudian Marvin pun langsung menidurkan Kayla di kamarnya. Sementara itu Arkan dipapah oleh Alisha dan Kamila menuju ke kamarnya.


Kamila dengan telaten mengurusi Arkan, mereka sudah cocok terlihat seperti suami istri sungguhan di mata Alisha sehingga membuat wanita itu hanya bisa menggelengkan kepalanya.


"Ya udah Bunda tinggal ya, Mila tolong urusin Arkan. Bunda mau urusin Kayla sama Ayah dulu," kata Alisha kepada Kamila.


"lyah Bunda, gak papa!"


Karena masih dalam pengaruh obat Arkan pun Langsung tertidur dengan lelap di kamarnya.


Sementara itu Kamila sendiri beristirahat sampai tiba waktunya makan malam.


Setelah makan malam selesai Kamila kembali menemani Arkan di kamarnya.


"Gue ke kamar yah udah malem ngantuk nih!" ujar Kamila.