Badboy Yang Menyebalkan

Badboy Yang Menyebalkan
168. Salah Paham


Malam ini Kamila merasa sangat resah, jadian tadi siang di sekolah membuat Kamila berpikir yang bukan-bukan.


Bukan sekali Arkan mencelakakan orang hanya karena dirinya. Bagi Kamila sendiri tidak masalah jika ia dijahati oleh orang lain. Tetapi, Arkan tidak sama dengannya. Arkan bukanlah pemuda yang bisa pasrah menerima keadaan. Tetapi ia bisa melakukan apa saja jika ada yang berani mengganggu Kamila.


Kamila hanya takut jika Arkan melakukan sesuatu yang Di luar batas. Apalagi Raka terlihat sangat menyebalkan dan juga perkataannya itu tidak bisa direm.


Perlahan Kamila menggerakkan kursi rodanya menuju ke kamar Arkan. la memutuskan untuk bicara kepada Arkan.


TOK!TOK!TOK!


"Arkan, ini gue masuk!" kata Kamila.


"IYAH SAYANG MASUK AJA NGGAK


DIKUNCI!"


Kamila masuk, ternyata Arkan baru saja selesai mandi dia seperti biasa hanya mengenakan handuk saja. Wajah Kamila memerah, karena malu. Arkan terkekeh.


"Ada apa Sayang?"


Kamila menggelengkan kepalanya, "Enggak!"


"Yaudah bentar yah, gue pake baju dulu. Atau lo mau ngobrol gini aja? Gue gak usah pake baju."


"Mesum aja kerjaannya cepetan pake baju," protes Kamila.


Arkan memakai bajunya. Setelah Arkan selesai dia duduk di pinggir kasur, Kamila mendekatinya.


"Ada apa, Sayang? Butuh sesuatu?" tanya Arkan.


"Enggak, gue cuman mau nanya, nanti malem lo mau ke mana?"


Kamila memang tau jika malam ini Arkan akan keluar makanya ia sengaja menanyakan tujuan Arkan malam ini.


Kamila takut jika Arkan akan mendatangi Raka kemudian mencelakai pemuda itu.


Raka memang kurang ajar tapi bukan berarti Kamila rela jika Arkan menjadi seorang kriminal.


"Paling ke basecamp sih bentar. Kan udah lama juga gak ke sana."


"Gue ikut yah!" pinta Kamila.


"Hah? Gak usah Sayang, mau ngapain? Malem-malem di sana banyak cowo, di rumah aja yah lagian angin malem gak baik buat kesehatan kaki lo!"


"Gue bosen Arkan pengen main, gue ikut yah," pinta Kamila lagi.


"Gak usah Sayang. Lo diem aja di rumah kan bisa main sama Kayla sama Bunda, kalo mau jalan besok aja yah pagi, kita ijin. Lo lagi sakit jangan maksain gitu!" kata Arkan masih dengan nada lemah lembutnya.


"Pokoknya gue ikut titik!" tegas Kamila.


"Gue nggak kemana-mana Kamila cuman ke basecamp. Mau ngapain sih ikut?" Nada bicara Arkan mulai meninggi dia bingung, ada apa dengan Kamila tidak biasanya gadis itu akan memaksa begitu.


"Gue mau ikut Arkan, lo kenapa sih kan gue cuman mau ikut lo. Oh... Atau jangan jangan lo sekarang malu punya cewe cacat kayak gue, terus lo juga punya cewe lagi di basecamp jadi gue gak boleh ikut, iyah Arkan gue tau gue Ca."


"KAMILA?!" bentak Arkan membuat Kamila terjengkit kaget.


"Lo kenapa sih hari ini aneh banget, gue gak suka lo ngerendahin diri lo kayak gitu, gue gak selingkuh Kamila?!" kata Arkan kesal.


"Ya kalo gak ada apa-apa kenapa lo ngelarang gue buat ikut!"


"Angin malem gak baik buat lo Kamila! Asal lo tau aja gue gak pernah selingkuh, lo aneh hari ini ada apa? Lo mancing-mancing emosi gue biar apa?! Lo mau putus sama gue, yaudah put-"


"GUE CUMAN TAKUT KALO LO BAKALAN DATENGIN SI RAKA TERUS LO NYIKSA DIA," teriak Kamila membuat Arkan terdiam.


Arkan sangat terkejut mendengar teriakan Kamila.


"Lo takut gue nyakitin Raka kan? Lo suka sama dia kan? Oke fine gue gak akan ngelarang lo buat sama dia!"Arkan salah paham dia berpikir Kamila menyukai Raka.


Arkan lepas kendali dia tidak sengaja, dia cemburu saat Kamila memperhatikan pemuda lain.


"Arkan bukan gitu dengerin gue dulu! Lo salah paham!" Kamila memegang tangan Arkan.


Arkan menyentak tangan Kamila, " Lepasin gue! Lo pergi aja sama si Rak sepatu!" kata Arkan ketus.


Setelah itu Arkan menyambar jaket dan kunci motornya dia meninggalkan Kamila sendirian di kamarnya. Air mata Kamila tiba-tiba saja mengalir.


"Arkan maaf!" Kamila menundukan kepalanya dengan air mata yang mengalir.


***


"Ke mana ya tuh anak? Kalian beneran udah janjian sama dia?" tanya Alisha.


"Bener kok Tante. Tadi bilangnya mau belajar bareng. Eh pas ke sini anaknya malah nggak ada," kata Daren.


"Mila! Arkan ada ijin sama kamu kalo mau keluar?"


"Hah eng-enggak Bunda!" kata Kamila dengan tergagap.


"Duh kok perasaan Bunda jadi gak enak ya. Kalian bisa nggak cari dia di mana? Hp nya juga mati nggak bisa dihubungin dari tadi," kata Alisha sedikit cemas.


Masalahnya sudah lama Arkan tidak bersikap seperti ini. Dan sejak pulang dari Bali Arkan juga tidak pernah keluar. Sehingga kepergian Arkan yang tidak ada kabar seperti ini membuat Alisha sangat merasa cemas.


"Biar aku sama Daren yang cari Tante," kata Bastian.


"Nggak usah Gue aja sendiri kalian di sini aja. Kayaknya gue tau Arkan ke mana," kata Daren. Pemuda itu pun segera berlalu.


Sementara itu Arkan dudu sendirian di bar, dia ingin sekali mabuk tapi nanti Kamila pasti semakin marah. Arkan duduk saja sambil minum soda. Asap rokok bertebangan ke mana-mana. Arkan tidak sengaja membentak Kamila, dia kelepasan, dia tidak suka Kamila peduli pada laki-laki lain.


Saat Arkan tengah melamun, seseorang menepuk pundaknya, Arkan melihat ternyata Daren.


"Ketemu juga!" katanya.


"Tau dari mana lo kalo gue di sini?" tanya Arkan.


"Lu nggak ada di basecamp, nggak ada kabar, jadi satu-satunya tempat ya ke sini. Cuman di sini kan lo bisa sendirian sambil ngumpet dari dunia luar. Gue udah hafal bener gaya lo," jawab Daren.


"Gue lagi males di rumah."


"Nyokap lo khawatir gara-gara lo gak bisa dihubungin. Tadi gue sama Bastian ke rumah lo, katanya lo yang ngajak belajar bareng eh malah lo yang kabur."


Arkan membuka ponselnya, ponselnya mati, baterainya habis. Arkan menghela nafasnya.


"Gue ribut sama Kamila, gue gak sengaja ngebentak dia, dia belain si Raka terus dia takut gue nyakitin dia!" kata Arkan, dia terus menceritakan detailnya pada Daren.


Daren dengan setia mendengarkannya, Arkan saat ini hanya butuh teman untuk bercerita.


"Lo lagi baper Ar. Gue tau banget Kamila kayak gimana dia cuman takut kalo lo ngelakuin sesuatu yang lebih parah dari yang lalu, udah banyak kejadian yang buat dia syok dia takut lo kenapa-kenapa Arkan. Lo tau sendiri mentanya Kamila gimana, lo udah sering ngamuk kayak orang kesurupan, itu yang buat Kamila khawatir. Dia khawatir lo terlibat hukum gara-gara


nyiksa orang apalagi karena dia. Dia bukan khawatir sama Raka, dia khawatir sama lo Arkan!" kata Daren panjang lebar.


"Gue kesel sama tuh cowo, kenapa harus Kamila?!"


"Iya tapi gue kesel aja ngeliat tuh cowok."


Daren menghela nafasnya, "Lo kalo lagi cemburu bego yah, kan yang penting Kamila nya enggak. Lo gak usah bikin pikiran lo ribet deh, ayo sekarang balik udah malem juga, gue tau lo dari siang di sini Bastian pasti udah balik duluan!" ujar Daren.


Arkan menghela nafas panjang kemudian la pun langsung menyambar jaketnya dan membayar minuman yang sudah ia pesan.


Daren dan Arkan pun beriringan mengendarai motor. Tentu saja Daren


mengiringi Arkan sampai dia yakin jika


Arkan pulang ke rumah dan tidak mampir kemana-mana lagi. Pemuda itu langsung pulang ketika melihat Arkan masuk ke dalam.


Ceklek..


Arkan membuka pintu dia terkejut melihat Ayahnya berdiri di depan pintu.


"Ayah!" gumam Arkan.


BUGH...


Tiba-tiba saja Marvin meninju Arkan membuat putranya itu tersungkur.


"Ayah pikir kamu udah berubah Bang. Kebiasaan bikin Bunda kamu panik bikin Kamila nangis! Kayak gini yang dibilang mau jadi laki-laki bertanggung jawab?!"


"BANGUN?!"


Arkan mengusap sudut bibirnya dia memegang pipinya. Dia lalu bangkit berdiri tegak di depan Ayanya. Marvin memang selalu tegas pada putranya dan ini sudah Marvin terapkan semenjak Arkan smp.


"Dari mana kamu seharian ini?"


"Maaf, Ayah. Aku cuman butuh waktu buat sendiri tadi. Hp aku kehabisan baterai. Jadi, emang nggak bisa dihubungin," jawab Arkan.


Marvin menghela napasnya, Marvin memeluk Arkan, ia mengerti jika putranya itu memiliki cara sendiri untuk mengatasi masalahnya. Hanya saja ia sebagai seorang ayah juga khawatir jika Arkan akan melakukan hal yang aneh-aneh.


"Ayah cuman pengen kamu bersikap lebih dewasa Bang. Kasian Kamila dari tadi siang dia lebih banyak diem, kamu berantem sama dia?" tanya Marvin.