
"Kamila di dalem Bang hiks... Kamila tadi mau nyelamatin dia, dia mau nyebrang gak liat-liat, tapi malah Kamila yang ke tabrak! Abang maafin Bunda gak bisa jaga Kamila!" kata Alisha sambil melirik sinis ke arah Lia.
Arkan melihat siapa yang ditunjuk ibunya dia terkejut saat mengetahui Lia penyebabnya.
Lia menunduk takut dia takut pada Arkan benar yang Daren bilang Arkan sangat menyeramkan.
Arkan menyekal tangan Lia, ia mencengkram pipi Lia membuat gadis itu menangis.
"Bangsat! Dasar cewe cupu gak tau diri, belum puas lo bikin hubungan gue sama Kamila rusak, sekarang lo mau bunuh Kamila juga! Di mana otak lo sialan!" bentak Arkan dengan suara kerasnya.
"Lo pikir lo siapa hah, berani masuk ke hidup gue, lo harusnya mikir lo gak ada apa-apanya sama Kamila. Lo yang benalu dasar perempuan gakpunya malu! Gak punya harga diri kampungan! Cupu!" teriak Arkan emosi.
"Enggak Arkan, Aku gak salah!?" ujar Lia dengan air mata yang mengalir.
"Air mata lo gak akan bisa buat gue luluh ******!" seru Arkan lagi.
Sekarang tangannya terangkat untuk menampar Lia.
"Arkan udah!"
Alisha berusaha memisahkan Arkan, tapi Arkan menepis tangan sang ibu.
"Enggak Bunda! Gara-gara dia hubungan aku sama Kamila hampir berantakan, dia yang ngehasut Kamila buat berpikir yang aneh-aneh tentang aku!" ujar Arkan kepada ibunya.
"Lo harus di kasih pelajaran!" Arkan menarik tangan Lia membuat gadis itu memekik.
"Enggak Arkan! Ampun jangan sakitin gue?!" kata Lia memohon.
"Gue mau lo mati Lia!" bentak Arkan.
"Arkan ampun!" pinta Lia.
Arkan terlihat sangat menyeramkan.
"Bangsat, mulut lo ngoceh mulu!"
Ceklek...
Terilihat Marvin keluar dari ruang ICU, Arkan langsung mendorong Lia membuat gadis itu terhempas.
"Ayah Kamila gimana?" tanya Arkan.
"Arkan! Kamila baik-baik aja. Ayah mindahin Kamila ke ruang VIP," kata. Marvin.
Arkan bernafas lega, tapi emosinya pada Lia belum hilang.
"Jangan biarin tuh cewe kabur, sampe gue mati juga gue gak akan rela!" kata Arkan penuh penekanan.
Bastian dan Kean langsung memegang tangan Lia agar dia tidak kabur dan membawanya masuk ke ruangan Kamila.
Setelah dipindahkan, semuanya masuk ke dalam. Arkan mendekati Kamila yang masih memejamkan matanya.
"Mil!" Arkan memegang tangan Kamila.
"Maaf!"
"Gue minta maaf Mil! Gue yang salah! Semuanya salah gue!" kata Arkan sambil menciumi tangan Kamila berulang-ulang.
Terlihat Kamila perlahan membuka matanya dia mengalihkan wajahnya saat melihat Arkan, tetapi Arkan langsung memegang wajahnya.
"Mil lo udah sadar, liat gue Mil! Gue minta maaf! Lo harus percaya kalo gue gak pernah selingkuh dari lo! Dia yang udah ngadu domba kita Mil! Lia si cewe cupu itu," tunjuk Arkan pada Lia.
Kamila melihat siapa yang Arkan tunjuk, Kamila melihat Lia.
"Dia cuman cewe cupu! Dia bukan siapa-siapa Sayang!" ujar Arkan.
Kamila diam saja sedangkan Lia sudah terkejut betapa cantik dan anggunnya Kamila.
Arkan berjalan mendekati Lia dia menarik tangan Lia kencang. Dia membawa Lia mendekat kepada Kamila.
"Arkan sakit!" lirih Lia.
Arkan mencengkram pipi Lia, "Dia gak ada apa-apanya dibanding lo Mil! Gue mohon percaya sama gue!"
"Arkan ampun! Sakit!" Lia merasakan kuku Arkan menembus ke pipinya.
Di saat seperti ini tidak ada yang bisa meredam emosi Arkan.
"Arkan!" lirih Kamila.
"lyah Sayang!" jawabnya.
BRUKH!
Arkan mendorong Lia hingga jatuh saat Kamila menangis dia mendekati Kamila lalu memeluknya.
"Gue takut Arkan! Gue takut lo ninggalin gue, gue gak tau gimana kalo lo ninggalin gue, lo yang selalu jadi sandaran gue. Gue gak mau jadi benalu buat lo!" kata Kamila sambil terisak.
Arkan menggelengkan kepalanya," Enggak Sayang, enggak! Lo bukan benalu lo berharga buat gue! Bunda sama Ayah juga sayang sama lo apalagi Kay! Lo berharga buat hidup gue Mil! Jangan pernah berpikir kalo lo beban atau benalu!" kata Arkan sambil mengelus pipi Kamila.
"Lo ga berpikir kalo gue benalu kan? Lo ga berpikir kalo gue."
"Ga! Lo adalah perempuan terbaik dalam hidup gue," kata Arkan.
Kamila memeluk Arkan dia menangis dia tidak bisa marah kepada Arkan lama-lama. Arkan itu hanya miliknya dan akan selalu seperti itu. Tetapi tiba-tiba saja Kamila
melepas pelukannya dari Arkan. Tentu saja hal itu membuat Arkan terkejut.
"Lo kenapa Mila?"
"'Kaki gue! Kaki gue ga bisa digerakin!" ujar Kamila membuat Arkan terkejut.
Kamila membuka selimutnya, dua kakinya masih utuh.
"Panggil dokter!" seru Arkan.
Sean dengan sigap memanggil dokter, dokter datang dengan terburu-buru.
"Dok gimana keadaan Kamila?" tanya Arkan tidak sabaran.
Dokter itu menggelengkan kepalanya, "Sepertinya benturan itu terlalu keras, membuat sarafnya kena. Jadi Kamila bisa dipastikan lumpuh!"
"Lumpuh?" tanya Alisha memastikan.
"Dokter jangan kurang ajar yah!" Arkan menarik kerah baju dokter itu dengan kencang.
"Kamila gak mungkin lumpuh kan!" bentak Arkan.
"Ar santai Ar!" Daren berusaha memisahkan Arkan.
"Arkan lepas! Jangan begini!" Tangis Kamila sudah pecah dia merasa sangat sedih.
Arkan terduduk di lantai dia menatap kosong ke depan, Arkan menoleh kepada Kamila lalu bangkit.
"'Sayang! Maaf!" lirih Arkan dia mengusap air mata yang mengalir di mata Kamila.
"Enggak, ini bukan salah lo Arkan!" Kamila memeluk Arkan sambil menangis.
"Semua salah gue Mil, kenapa harus selalu lo yang sakit, kenapa bukan gue? Gue minta maaf!" Arkan mengusap rambut Kamila.
Arkan melepas pelukannya, dia mengusap air mata di wajah kekasihnya itu, Arkan memegang tangan Kamila erat.
"Gue janji, gue bakalan bales semua rasa sakit lo!" ujar Arkan.
Lia tampak menegang, aura di dalam kamar terasa sangat sesak.
"Enggak Arkan, jangan ngelakuin hal gila, gue mohon!" pinta Kamila dengan air matanya.
Arkan kembali mengusap air mata Kamila dengan lembut.
Cup..