Badboy Yang Menyebalkan

Badboy Yang Menyebalkan
111. Wanita Seperti Ulat Bulu


"Lo Kenapa Ren?" tanya Naya saat melihat Rena mondar-mandir tidak karuan.


Sebenarnya, tanpa Rena memberitahu pun Naya sudah tahu kalau Rena saat ini sedang mencari keberadaan Arkan dan Kamila. Tetapi, ia ingin memastikan jika dugaannya memang benar.


Bastian dan Darren sudah menceritakan kepada Naya apa yang terjadi kepada kakek dan nenek Kamila. Tetapi bagi Naya tidak ada untungnya la menceritakan hal itu kepada Rena.


Selain menceritakan musibah yang menimpa Kamila, Daren dan Arkan juga sudah menceritakan siapa Rena kepada


Naya. Dan jujur saja rasa simpati Naya berkurang kepada gadis itu.


"Nggak apa-apa kok gue cuman ... sebenarnya si Kamila ke mana sih?" tanya Rena pada akhirnya.


Naya menggelengkan kepalanya, " Ya ... Gue nggak tahu. Gue kan bukan baby sitter-nya, masa dia nggak masuk kudu laporan sama gue?" jawab Naya asal.


"Lo kok jawabnya ketus amat, gue kan nanyanya baik-baik," kata Rena.


"Dih ngaco, lo aja yang baper, gue juga dari tadi jawabnya baik-baik. Lagian emang bener kan gue bukan baby sitternya si Kamila! Jadi ngapain lo tanya ke gue harusnya lo tanya sama cowonya, si Arkan!" ujar Naya.


Rena menggelengkan kepalanya, "Kayaknya di Arkan juga gak masuk deh, atau jangan-jangan mereka lagi bulan madu lagi, soalnya kan gak masuk sekolah barengan," celetuk Rena.


Sontak saja tawa Naya pecah dia tertawa terpingkal-pingkal.


"Hahaha, mana ada bulan madu, lo suka ngarang deh. Lagian mana boleh nikah masih sekolah kayak gini, lo kalo ngomong suka asal aja, Kamila sama Arkan itu emang pacaran tapi mereka kayaknya belum nikah!"


"Mereka udah tinggal seruma, mana mungkin boleh serumah kalo belum nikah," bantah Rena.


"Lo kalo gak tahu ya udah mendingan diem aja, ya anggaplah mereka udah nikahlah. Kalo pun belum urusannya sama lo apa? Ngapain kepo sama hubungan orang, mendingan Lo ngurusin urusan lo sendiri. Tuh nilai ulangan lo kemarin jeblok hari ini lu harus remedial, kan?" kata Naya.


"Ish!" Rena berdecak sinis.


Brakh!


Rena membanting bukunya dengan kesal kemudian gadis itu pun beranjak pergi meninggalkan Naya.


Sementara Naya hanya mencibir. la ikut merasa sebel kepada Rena. Bagaimana mungkin seorang gadis tidak mempunyai harga diri mengejar-ngejar laki-laki yang tidak mau dengan dirinya.


Setelah Rena pergi Naya pun beranjak keluar, ia merasa lapar dan memutuskan untuk pergi ke kantin. Pada saat ia tiba di kantin, ternyata ada Daren, Bastian dan


kawan-kawannya.


Melihat Naya yang duduk sendirian, Bastian pun langsung menghampiri Naya.


"Eh, ngapain lo duduk di sini?" kata Naya.


"Yeee, di sini mah bebas kali. Gue kasihan aja lihat lo makan sendiri. Jadi karena gue ngerasa kasian, gue duduk di sini nemenin lo," kata Bastian sambil mengedipkan matanya.


"Sejak kapan lo jadi orang baik? Brandalan model Arkan mah gak ada baik-baiknya," kata Naya.


Bastian tertawa terbahak-bahak, sudah bukan menjadi rahasia umum sebenarnya di antara anak-anak Gravendal, kalau Bastian itu menyukai Naya. Hanya saja Naya selalu bersikap ketus kepada pemuda itu.


"Pepet teros!" seru Kean meledek.


Bastian pun mendelik, kemudian la pun menoleh ke arah Naya dan tersenyum.


"Lo kayaknya laper banget, makannya lahap," kata Bastian.


"Kalau gue nggak laper, gue nggak mungkin juga datang ke kantin. Lo ni kadang-kadang pinter tapi kadang-kadang bego juga, ya," ujar Naya gemas.


"Tapi lo mah kebanyakan begonya sih," lanjutnya.


Bastian terkikik geli mendengar perkataan Naya.


"Tawa lo, Eh ngomong-ngomong gue mau nanya, si Kamila sama Arkan kapan balik sih? Kayaknya mereka udah seminggu deh di sana."


"Kok lo nanya kita, emang lo gak nanya ke Kamila, nelpon gitu?" tanya Bastian.


Naya menggelengkan kepalanya.


"Tiga hari yang lalu gue sempet nelpon Kamila tapi yang ngangkat Bundanya Arkan," kata Tante Alisha.


Naya.


Bastian menghela nafas panjang kemudian mengembuskannya perlahan.


"lya, lo bener. Kemarin gue sama anak-anak baru telepon Arkan. Arkan bilang, Kamila terpukul banget. Dia nggak mau keluar kamar, makan juga harus dipaksa dulu sama Tante Alisha. Lo maklumlah, ya nyokap dia kan udah nggak ada, terus bokapnya modelan kayak begitu. Sekarang kakek neneknya juga pergi panteslah kalau dia ngerasa terpukul banget," kata Bastian panjang lebar.


Naya menarik nafas panjang, kemudian memasukkan suapan terakhir ke mulutnya. Setelah itu ia menyesap jus alpukatnya sampai habis. Kemudian gadis itu kembali menghela nafas seperti orang yang kelelahan.


"Narik nafas mulu kayak mau mati lo," kata Bastian.


"Sialan lo! Gue kan lagi makan ya wajar kali. Eh, tapi gue mikir kasihan banget ya si Kamila nasibnya. Kayaknya itu anak apes bener deh punya bokap kayak gitu. Terus ibu tirinya juga nyebelin, saudara tirinya nyebelin. Untung aja mereka udah di penjara, nasib dia tuh kayaknya emang nggak beruntung banget."


"Tapi satu keberuntungan buat si Kamila, dia ketemu sama cowo modelan Arkan yang bucinnya setengah modar. Padahal udah pada tau kalo dia nakalnya gila-gilaan, tapi kalo sama si Kamila. Arkan itu nurut kayak anak kucing," kata Naya.


Teman-temannya Arkan tertawa semua mendengar ucapan Naya.


"Hahah emang, lo tau kan bucinnya Arkan. Udah deh sana ke kelas, sebentar lagi bel bunyi. Gue sama yang lain mau balik," kata Bastian.


"Bolos lo? Udah kelas tiga masih bolos aja!"


Bastian tertawa dia bangkit dari duduknya, "Mager gak ada Arkan, tidur aja lah gue, nanti kalo ada info apa-apa kabarin gue yah!" kata Bastian sambil mengedipkan sebelah matanya.


Naya mendelik sinis, kemudian Bastian pun melangkah pergi meninggalkan Naya yang sedang makan. Mereka memang tidak suka belajar dan akhirnya mereka memutuskan untuk pulang ke rumah Arkan. Lebih baik di rumah Arkan, mereka bisa bermain PS sambil menjaga rumah daripada di sekolah belajar pun tidak bisa konsentrasi.


***


Tok.. Tok..


"Den di luar ada ramu teriak-teriak Pada saat sedang asyik bermain PS,"


tiba-tiba saja asisten rumah tangga Arkan mengetuk pintu kamar Kean dan mengatakan jika di luar ada tamu yang berteriak-teriak. Daren membuka pintu lalu melihatnya.


"Siapa mbok?" tanya Daren.


"Nggak tau, dia katanya nyari Den Arkan. Mbok udah bilang den Arkan nggak ada masih juga ngotot," katanya.


"Oke Bi, makasih yah! Nanti saya ke bawah," ucap Daren.


Asisten rumah tangga itu lalu pergi kembali ke dapur. Daren kembali menutup pintu," Gue kayaknya tau deh siapa yang dateng," seru Bastian.


"Siapa emang?" tanya Kean.


"Ulat bulu alias si Rena. Gue yakin banget. Itu anak penasaran ke mana si Arkan sama Kamila. Jadi dia nyari sampe ke sini," kata Bastian.


"Ya udah lo temuin sana," kata Daren.


"Dih ogah, lo aja sana, males banget ketemu sama ulet bulu gatel!" jawab Bastian.


"Si Sean aja yang keluar," kata Kean.


"Dih Abang laknat lo," ketus Sean.


"Ah kalian lama, nyebelin banget sih. Ketimbang ngusir ulat bulu aja kagak bisa," kata Daren.


Pemuda itu pun akhirnya beranjak dan melangkah pergi meninggalkan kawan kawannya menuju ke teras depan.


Dan benar saja dugaan Mereka ternyata yang di luar adalah Rena.


"Ngapain lo?" tanya Daren ketus saat membuka pintu.


"Lo ngapain di sini? Ini kan bukan rumah lo?" kata Rena.


"Yang bilang ini rumah gue siapa? Gue di suruh jagain nih rumah, udah sana lo balik ngapain di sini ganggu aja? " kata Daren.


"Gue nyari Arkan sama Kamila lah."


"Nggak usah cari gara-gara deh, daripada ntar Si Arkan tahu terus ntar kejadiannya lo bukan cuman dilempar. Tapi, lo dimutilasi, trus mayat lo diumpetin biar nggak ada yang tau," kata Daren menakuti Rena.