Badboy Yang Menyebalkan

Badboy Yang Menyebalkan
58. Termakan Omongan


"Hamil lo mual? Wah masa iyah baru juga semalem nginep di rumah gue lo udah hamil, padahal gue gak ngapa-ngapain loh. Jangan-jangan lewat mimpi aja bisa?" goda Arkan membuat Kamila mendelik sinis.


"Sinis amat Neng!"


Arkan mencolek dagu Kamila sambil terkekeh. Membuat Kamila langsung melotot kesal.


Plak...


Kamila memukul lengan Arkan.


" Lo ya isi otaknya begitu terus, kalo ada yang denger bisa jadi fitnah. Sembarangan aja kalo ngomong!" kata Kamila kesal.


"Alah Mil, paling juga di kawinin beneran. Gue ikhlas Mil punya bini kayak lo," jawab Arkan makin usil.


"Gak mau gue punya suami berndalan kayak lo," kata Kamila.


"So iye lo, waktu itu juga bilang. Lo gak mau punya pacar brandalan kayak gue, sekarang? Jilat ludah sendiri kan lo!" Jiwa-jiwa julid Arkan mulai mode on.


Diam-diam Arkan memperhatikan wajah Kamila. Ternyata sangat mirip dengan wanita yang datang ke dalam mimpinya tadi. Apakah ini suatu pertanda jika


memang ada yang hendak membuat


mereka berdua celaka?


"Iyah juga, tapi gue tetep gak mau punya suami modelan lo," ujar Kamila lagi.


"Yaudah gue mau cari cewe yang mau diajak nikah! Tapi tenang Mil nanti kita tetanggaan aja biar bisa selingkuh oke."


Arkan mengedipkan matanya menggoda Kamila.


"Gak tau ah pusing gue."


Kamila kembali menelungkupkan kepalanya ke meja. Arkan terkekeh dia kembali mengelus kepala Kamila.


"Oke, serius yah! Sekarang mau pulang aja atau gimana? Kalo mau pulang ayo gue anter. Kayaknya mag lo kambuh gara-gara minum," kata Arkan.


"Gue nggak tau, tapi kepala gue pusing banget. Apa bener yah ini efek semalem gua minum itu?" tanya Kamila.


"Bisa jadi, ya udah sekarang kita ke guru piket deh. Lo gue anterin pulang daripada ntar lo pingsan di sekolah. Terus nanti bokap lu nyalahin gue lagi," kata Arkan.


Tetapi, Kamila menggelengkan kepalanya dengan cepat.


"Gue ada ulangan abis ini, gue gak bisa pulang nanti ketinggalan," jawab Kamila.


"Ulangan lo nanti gue aja yang ngerjain, aman kok!"


Kamila dengan cepat langsung menggelengkan kepalanya.


"Ngawur, yang ada nanti nilai gue lima puluh. Ogah! Lo kan males belajar." Arkan


tertawa saja mendengar perkataan Kamila.


"Kalo gue males belajar lulus sekolah gue gak akan jadi pemilik perusahaan Mil!"


"Itu kan punya bokap lo," sungut Kamila.


"Ayah gak akan nyuruh gue tanpa seleksi Mil, lo liat deh rapot gue nilainya," usul Arkan.


"Nilainya gimana?" tanya Kamila.


"Merah semua!" Arkan sudah tertawa terpingkal-pingkal melihat wajah sinis Kamila.


Kamila memutar bola matanya malas,


"Gelo. Udah sana sekarang beliin obat, gue minta tolong. Bisa kan?"


Masih dengan tawanya Arkan pun mengganggukkan kepalanya.


" Iyah Sayang, sebentar yah!"


Arkan pun segera bergegas melangkah ke kantin. Di kantin sekolah memang menyediakan obat-obatan juga untuk para


siswa-siswinya. Jadi, jika ada yang sakit mereka bisa membeli obat di sekolah.


Arkan pun segera membeli obat maag juga obat masuk angin untuk Kamila. Arkan sangat yakin jika ini adalah efek dari mabuknya Kamila semalam.


Setelah membeli obat, tak lupa juga Arkan membelikan Siomay dan juga jus buah untuk Kamila. Saat melewati kelasnya


teman-temannya tertawa melihat Arkan yang membawa kresek.


"Nurut pawang ya Bang," saut Sean.


"Arkan mode kucing!" timpal Bastian.


Arkan mengangkat jari tengahnya membuat teman-temannya semakin tertawa. Kemudian Arkan membawa semua itu ke dalam kelas Kamila.


"Kamila!" panggil Arkan.


Kamila tersenyum kepada Arkan, Arkan duduk di sampingnya.


"Nih minum dulu jusnya, abis itu makan siomay baru minum obat. Perut jangan kosong yah," kata Arkan.


"Mual Arkan, gimana mau makan siomay coba?" tanya Kamila.


"Ya udah obat maag-nya diminum dulu kalau gitu."


Kamila pun menurut, ia langsung meminum obat sakit maag dan juga obat masuk angin yang dibelikan oleh Arkan.


"Weh mas Bro, lagi apa nih?"


Salah satu anak kelas Kamila datang


lalu mendekati Arkan. Mereka bertos ria


"Biasa ngepelin ibu negara!"


"Ngapel!" kata laki-laki itu.


"Sama aja," jawab Arkan.


"Kenapa lo Mil, lagi pengen di manja Ayang yah," ledeknya.


"Mulut lo yah Geri, gue lakban lo !" sungut Kamila.


Laki-laki yang bernama Geri itu tertawa begitu juga Arkan.


"Gue ke bangku yah, bini lo kayak singa!" kata Geri membuat Kamila mendelik sebal.


"Iyah galak, gue juga takut!"


"Auwww.. Sakit Mil!" Kamila mencubit lengan Arkan.


"Lagian!"


Geri tertawa lalu kembali ke bangkunya, setelah beberapa menit Kamila merasa perutnya sedikit lega.


"Udah enakan?" tanya Arkan.


Kamila menganggukan kepalanya. Kemudian Arkan pun langsung menyodorkan jus alpukat kepadanya.


"Nih minum dulu terus makan, ntar makin sakit kalo perutnya gak diisi!"


Kamila meminum jusnya dengan pelan sedangkan Arkan memperhatikannya.


"Lain kali kalo ada apa-apa bilang jangan bohong terus, kalo udah gini kan repot semuanya. Lo gak biasa minum Mil, gue gak bisa bayangin kalo semalem gue gak ada di sana," kata Arkan dia berusaha menasehati Kamila dengan pelan.


"Abisin makanannya, kalo sampe pulang sekolah masih mual ke dokter yah, biar di kasih obat dokter!"


Kamila menganggukan kepalanya, dia tidak berani mendebat Arkan untuk kali ini. Kamila sadar jika semalam ia sudah melakukan kesalahan, jadi ia terpaksa menelan bulat-bulat semua omelan Arkan


kepadanya.


Setelah minum jus beberapa teguk, ia pun mulai memakan siomay yang sudah dibelikan oleh Arkan. Setelah ini dia ada ulangan, sehingga Kamila tidak mau jika sampai dia ketinggalan ulangan dan harus


mengulang lagi.


Setelah melihat kondisi Kamila sudah mulai membaik Arkan pun langsung mengusap rambut gadis itu perlahan.


"Udah enakan kan? Gue ke kelas yah. Atau lo mau gue belajar di sini?" tanya Arkan.


Kamila menggelengkan kepalanya.


"Gak usah, ke kelas aja. Nanti kalo ada apa-apa gue kabarin!"


Arkan bangkit dari duduknya, dia mengacak rambut Kamila.


"Yaudah gue ke kelas yah, kalo gak kuat jangan dipaksa nanti gue yang dimarahin Bunda lagi," ujar Arkan.


"Iyah Arkan!"


Arkan mencubit pelan pipi Kamila lalu pergi dari sana. Naya yang melihat interaksi


Kamila dan Arkan lantas kembali ke tempat duduknya yaitu di samping Kamila.


"Anjir itu si Arkan, kenapa manis banget, biasanya juga ngeselin!" kata Naya.


Kamila tersenyum menatap punggung pemuda itu yang semakin menjauh.


"Gue juga baru tau!" jawab Kamila.


"Kalian beneran pacaran?" tanya Naya lagi.


Kamila hanya tersenyum dan itu membuat Naya menggeleng-menggelengkan


kepalanya.


"Kemakan omongan sendiri kan lo, makanya lain kali jangan sosoan!"


Kamila terkekeh.


"Gue gak bisa nahan perasaan gue Nay!"