
"Kamila! Kamila?! Sadar Kamila!" Arkan mencengkram bahu Kamila setiap hari nya! Gue gak berani bilang ke siapa- siapa karena mereka ngancem gue, kalo mereka bakal celakain Papah! Tapi Papah sendiri
gak percaya kalo gue disiksa! Buat apa
gue hidup Arkan! Gue gak ada tujuan
lagi selain ikut Mamah!" kata Kamila mencurah kan segala isi hati nya yang selama ini dia pendam.
Arkan memeluk Kamila dengan erat sambil membelai rambut gadis itu. Sementara sahabat-sahabat Arkan yang baru sampai di tempat itu memilih untuk membiarkan Arkan dan Kamila berdua saja.
"Sttt... nangis aja kalo itu bikin lo, tapi jangan berpikir gue bakalan biarin lo buat bunuh diri," kata Arkan.
"Gue pengen mati Arkan, rasanya gue gak punya siapa-siapa lagi!" lirih Kamila.
"Lo punya gue Mil, lo juga punya anak-anak GRAVENDAL yang bakalan selalu ada buat lo!"
Seragam Arkan sudah basah dengan air mata Kamila. Beberapa menit kemudian hanya isak tangis Kamila yang terdengar.
Baru setelah gadis itu tenang ia mendorong tubuh Arkan menjauh.
"Udah puas nangis nya?" tanya Arkan.
"Kenapa lo ada di sini?" tanya Kamila alih-alih menjawab pertanyaan Arkan.
"Gue nanya lo malah balik nanya !" jawab Arkan
"Lo ngikutin gue yah," tuduh Kamila.
"Pede lo, mana ada ngikutin lo! Kita emang udah di takdirin Mil. lo terus yang ngelak!" kata Arkan.
"Bacot!"
Arkan terkekeh saja.
"Lo kenapa Mil? Sadar! Lo tadi mau nyemplung ke danau. Hari gini masih musim bunuh diri! Yang sayang sama lo
banyak Mil, ngapain bunuh diri!"
"Bokap gue enggak! Bukti nya dia nikah lagi, lo juga ngapain sih nolongin gue! Biarin aja gue mati. Gue mau ketemu Mamah," kata Kamila masih dengan jejak tangis nya.
Arkan menghela napas panjang.
'Bunuh diri itu dosa Mil! Lagian kalo lo mati nanti siapa yang mau gue godain? Gue gak mau godain si Livia dia mah gatel kayak virus!" kata Arkan mencoba mencairkan suasana.
Di luar dugaaAn, Kamila malah kembali menangis sambil memukul dada Arkan.
"Ini semua gara-gara lo Arkan! Kenapa Livia harus suka sama lo! Gara-gara dia cemburu gue kena pukul lagi," kata Kamila.
Arkan membiarkan Kamila melampiaskan emosinya. Setelah Kamila sedikit tenang.
"Ssttt..." Arkan kembali memeluk Kamila menenangkan gadis itu dia mengusap kepala Kamila.
"Gue minta maaf, kalo gue jadi bikin lo berantem sama Livia. Tapi, gue nggak suka sama dia gimana dong?"
"Tapi dia suka sama lo Arkan!" jawab Kamila sambil sesenggukan, dia merasa nyaman dalam pelukan Arkan.
"Bukan urusan gue lah!" javwab Arkan enteng.
Kamila terdiam, sekarang ia merasa bingung ke mana ia akan pulang. Ibu tirinya itu pasti akan kembali menyiksanya.
Arkan melepas pelukannya, dia mengusap sisa-sisa air mata di pipi dan di mata Kamila.
"Kenapa diem? Kesambet mau bunuh diri lagi?" tanya Arkan sambil terkekeh.
Kamila menggelengkan kepalanya.
"Gue cuman bingung gimana gue pulang. Kalo gue pulang ke rumah mereka pasti cari gara-gara lagi."
"Jangan cupu Mil! Jangan mau ditindas lo punya hak buat ngelawan, lo sama gue aja berani ngegas-ngegas. Giliran sama mereka aja lo kicep! Cupu!" ledek Arkan.
Kamila menatap Arkan sendu membuat Arkan terkekeh.
"Kenapa lagi? Gak mau pulang? Terus mau ke mana? Yu gue anter mau ke ujung dunia juga gue anter tapi gue ijin Bunda dulu!" ujar Arkan lalu tertawa.
Kamila menggelengkan kepalanya.
Arkan ikut menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tertawa.
"Enggak-enggak terus jadi mau nya apa Kamila?" kata Arkan tangannya terulur untuk merapikan rambut Kamila.
"Gak tau!"
Arkan menghela nafasnya
" Dasar cewe! Sekarang pilihannya cuman dua, lo pulang ke rumah atau-"
"Atau?"
"Nikah sama gue terus tinggal di rumah gue," kata Arkan mulai usil mencolek pipi chuby Kamila.
"Arkaan sialaaaan!"
"Hahahah! Lagian lo Maemunah mau balik aja ribet! Atau lo mau gue yang lawan mereka!" kata Arkan sambil tertawa.
"Emang berani?" tanya Kamila.
"Alah timbang Livia doang mah disogok pake lipstik geh langsung sujud!" ujar Arkan dengan bangganya.
Kamila terkekeh mendengar ujaran Arkan, Arkan tersenyum dia menangkup wajah Kamila.
"Jangan nangis terus Mil, mata loudah kayak panda tuh. Jangan pernah ngerasa sendiri. Lo punya gue buat berbagi keluh kesah, gue kan udahbilang gue bakalan jadi orang yang paling depan maju kalo ada yang nyakitin lo!"
"Makasih!" kata Kamila, kali ini senyum tulus dari Kamila untuk Arkan. Benar-benar tulus.
"Lo juga punya mereka yang bisa lo ajak ngobrol, mereka juga bakalan selalu belain lo!" kata Arkan lagi.
Kamila melihat ke belakang Arkan, ada banyak sekali teman-teman nya Arkan entah ada berapa orang. Ada Daren, Bastian.
Kean dan Sean juga mereka tersenyum kepada Kamila. Kamila membalikan tubuh nya dia menutupi wajah nya dengan
tangan, hal itu membuat Arkan
mengerutkan dahinya.
"Kenapa?" tanya Arkan.
"Malu! Gue jelek banget abis nangis!" kata Kamila.
Arkan tertawa lalu kembali memeluk Kamila.
"Lo abis nangis juga tetep cantik Mil!" bisik Arkan.
Kamila mendongakan kepalanya menatap Arkan.
"Beneran?"
"Kalo di liat dari lobang sedotan!" jawab Arkan sambil tertawa puas.
Plak...
Kamila memukul pundak Arkan.
" Kebiasaan!" sungut Kamila.
"Haa bercanda Kamila!" Arkan membawa Kamila ke dalam pelukan nya lagi, Kamila tidak menolak toh dia merasa sangat aman
berada di pelukan Arkan.
"Lo cantik!" Pipi Kamila bersemu merah ini pertama kali nya Arkan memuji Kamila cantik tanpa tingkah tengil nya.
"Cie baper."
Arkan mencolek pipi Kamila. Dan dugaan Kamila salah, Arkan tetaplah Arkan dengan segala tingkah tengil nya.
"Ih lo mah ngerusak suasana aja!"
"Rese?!"