
"Hahaha gue tau ini pasti berhasil!"
Saat Kamila tengah menangis lirih dia mendengar suara seseorang dia lalu bangkit. Kamila bersembunyi di balik tembok mendengar siapa yang mengatakan itu.
"Erik!" gumam Kamila.
"Gue seneng banget liat cowo itu gak berdaya. Selama ini gue udah nahan semuanya, gue berharap dia mampus aja sekalian!"
"Haha kalo dia masih hidup kita buat dia mati aja sekalian gak berguna juga dia hidup!"
Ternyata yang bicara itu Erik dia sangat senang karena Arkan koma, Kamila yang mendengar itu semua sangat marah dia mengepalkan tangannya.
Erik pergi dari sana, Kamila mengusap air matanya kasar.
"Gue bakalan bales semua rasa sakit lo Arkan!" ujar Kamila dengan tatapan penuh dendam.
"Gue gak akan diem aja liat lo sakit gara gara si bajingan itu! Gue janji Arkan!"
Saat pulang sekolah Kamila sudah berada di rumah sakit tanpa mengganti seragamnya.
Ternyata Marvin dan yang lainnya tengah membahas soal Erik, benar ini semua ulahnya dia sangat membenci Arkan karena Arkan yang menjadi tim basket, Arkan juga disegani karena keberaniannya dia iri.
"Jadi bener semua ini ulah Erik? Tadi Mila sempat dengar Erik ngomong sama orang katanya dia seneng liat Arkan koma," kata Kamila.
"Kita harus bales semua ini," kata Kean.
"Nggak usah! Ayah nggak mau salah satu dari kalian jadi korban lagi.Udah cukup Arkan yang tidur terbaring lemah di situ. Ayah nggak mau Kean atau Sean ikut-ikutan. Semua bukti sudah terkumpul dan Ayah juga udah bawa kasus ini ke polisi. Pelakunya segera ditangkap, jadi kalian nggak usah main hakim sendiri!" Kata Marvin dengan tegas.
"lya, Ayah bener. Kalian jangan ada yang melakukan tindakan apapun. Bunda tau kalian sayang sama Arkan dan kalian nggak mau pelakunya bebas berkeliaran di luar sana. Tapi percayalah Ayah sama Bunda udah nyerahin kasus ini ke polisi. Dalam waktu dekat Erik juga bakalan ditahan," kata Alisha.
"Ini berlaku untuk kamu juga Kamila, lebih baik hindari Erik dan teman-temannya. Ayah nggak mau mereka nanti nekat, kita tunggu sampai polisi bertindak. Sedikit lagi, kita hanya perlu bersabar," kata Marvin.
"Ayah gak mau kamu bertindak gegabah kayak Arkan!" Kamila hanya mengangguk mengiyakan perkataan Marvin.
Sore itu, Kamila terpaksa meninggalkan Arkan kembali karena ada alat-alat tulis yang harus ia beli untuk ujian besok.
Karena merasa haus dan lapar, Kamila pun memutuskan untuk pergi ke cafe yang ada di seberang toko buku. la ingin membeli sepotong cake dan juga coffee latte.
Tetapi saat ia masuk ke dalam cafe matanya tertuju ke sudut ruangan. Ternyata di sana ada Erik dan kawan-kawannya.
Mereka tengah tertawa terbahak-bahak dan sangat gembira entah apa yang sedang mereka bicarakan.
Kamila melihat ke arah Erik dengan tajam dan datar, Kamila mengepalkan tangannya.
"'Arkan lagi berjuang antara hidup dan mati, si brengsek itu malah seneng-seneng!" gumam Kamila lirih penuh kebencian.
"Tunggu balesan dari gue sialan! Gue gak akan diem aja karena lo udah nyakitin orang yang gue Sayang!"
...****************...
Malam hari Kamila berada di rumah dia sedang belajar sebelum ujian besok. Meski pikirannya sedang terbagi, Kamila tidak mau nilainya jelek dan membuat Marvin serta Alisha sedih dan kecewa karena nilainya jelek.
Saat Kamila sedang belajar dia iseng membuka ponselnya tapi dia tiba-tiba melihat sosial medianya, Erik mengunggah foto dengan senyum bahagianya.
Prakh...
Kamila meremas ponselnya dia lalu menutup bukunya kasar.
"Sialan! Si brengsek itu kayaknya emang harus di kasih pelajaran!" gumam Kamila.
Kamila tiba-tiba saja menyeringai, Kamila bangkit dia pergi ke kamar Arkan lewat balkon.
Kamila membuka pintunya, wangi Arkan yang khas membuat Kamila semakin merindukannya, rasa rindu dan sakit bercampur menjadi satu.
Kamila berjalan ke arah lemari Arkan dia membuka lemarinya lalu membuka loker yang berada di dalamnya, mata Kamila melihat ke arah pisau dan pistol yang bersebelahan.
"Kayaknya Arkan juga gak akan keberatan kalo gue bales rasa sakitnya pake dua senjata kesayangannya ini!" ujar Kamila.
Kamila tersenyum dengan smirknya dia memasukan dua benda itu ke sakunya.
Setelah itu, Kamila bergegas ke rumah sakit dia ingin bertemu dengan Arkan. Kamila ke rumah sakit menggunakan taxi.
Saat sampai di rumah sakit Kamila langsung menuju ruangan Arkan.
Ceklek...
Kamila membuka pintunya, Kamila melihat Arkan sendirian di kamarnya.
"Arkan!"
Kamila mendekati Arkan yang masih menutup matanya dengan tenang, Kamila menggenggam tangan Arkan dengan air mata menetes di pipinya.
"Lo kapan bangun, gue kangen!"
Kamila menundukan kepalanya dengan air mata yang terus mengalir.
"Gue kangen lo peluk Arkan, bangun dong jangan manja! Masa sekarang gue terus yang meluk lo!" kata Kamila dengan suara seraknya.
Kamila mengangkat kepalanya dia melihat ada air mata yang mengalir di pipi Arkan.
"Arkan lo nangis? Lo pasti kangen gue juga kan? Ayo bangun Arkan! Abis lo bangun lo boleh nangis di depan gue. Gue janji gak akan ngeledek lo lagi kalo lo nangis!" ujar Kamila sambil mengusap pipi Arkan.
Kamila menggenggam tangan Arkan, "Lo pasti ngerasa sakit banget yah?" tanya Kamila.
Kamila mengusap tangan Arkan, " Gue pinjem senjata lo Arkan. Gue janji bakalan bales rasa sakit lo secepatnya. Gue gak akan biarin manusia bajingan itu hidup dan lolos dengan tenang," kata Kamila dengan wajah penuh dendam.
Kamila terus saja mengobrol dengan Arkan dia bercerita setiap kesehariannya terkadang Kamila dengan gemas tertawa sambil mencubit pipi Arkan.
Jika ada yang melihat mungkin akan mengatakan jika Kamila sudah gila, tapi Kamila tidak peduli dia hanya ingin bercerita pada Arkan, Kamila yakin Arkan pasti mendengar segala apa yang Kamila katakan.
Krukkk...
Tiba-tiba saja perut Kamila berbunyi dia terkekeh sendiri.
"Gue belum makan Ar, laper banget! Semenjak gak ada lo gue jarang makan. Gak enak makan gak ada lo!" ujarnya.
"Ayo dong bangun gue kangen lo yang suka marah kalo gue gak mau makan!" kata Kamila sambil menggenggam tangan kekasihnya itu.
"Makan bakso di depan rumah sakit itu enak deh, gue ke sana dulu yah sebentar. Laper, nunggu di marahin sama lo nanti gue ikut sakit, masa lo sembuh gue yang sakit!"
Kamila terkekeh lagi, dia bangkit dari kursinya.
Cup...
Kamila Mencium kening Arkan dia akan pergi sebentar, saat Kamila hendak melangkah tiba-tiba saja tangannya ada yang menyentuhnya.
Kamila melihatnya ternyata Arkan.
"Arkan! Lo sadar?!"
Kamila mendekati Arkan ternyata dia masih belum sadar dia ingat dengan perkataan dokter juga itu normal, Kamila kembali meletakan tangan Arkan di sampingnya.
"Sebentar yah ganteng... Mila-nya Arkan gak akan lama kok, cuman beli bakso aja! Nanti balik lagi!" kata Kamila.
Kamila keluar dari kamar Arkan dia akan pergi ke tempat penjual bakso, sepertinya enak makan bakso setelah menangis.