
"Iya, bawel banget lo. Udah kayak Bunda aja cerewet," kata Arkan.
"Lah gue kayak gini karena sayang sama Lo. Lo kan sahabat gue," kata Daren.
"Anjir gue geli Lo bilang sayang," kata Arkan. Keduanya pun tertawa geli
"Eh, itu si Mila udah molor?" tanya Daren.
"Udah. Kenapa?"
"Yang kemarin kudu gue balikin gak? Pan rugi juga kalo ilang," kata Daren.
Arkan tampak berpikir sejenak kemudian menggelengkan kepalanya perlahan.
"Belum saatnya. Nanti gue kasih tau kapan Lo harus balikin semua datanya," jawab Arkan.
"Mil!" panggil Arkan tapi tidak ada sautan.
"Dia tidur, gak denger! Udah gih sono lu balik, gue mau tidur sama bini gue!" ujar Arkan.
"Nikahin lol, kebablasan tau rasa lo," jawab Daren sambil tertawa.
"Yakali, gue gak akan ngerusak Kamila, mau senakal apa pun gue Kamila itu berlian dia punya mahkot yang harus dijaga, gue gak boleh ngehancurin dia apalagi buat dia kotor! Gue harus ngejaga mahkota yang dia punya!"
"Awas yah Arkan kalo abis ini ada kejadian gak enak lagi, jangan bandel lagi, jangan berantem terus. Gue gak mau lo masuk rumah sakit lagi gara-gara gue," kata Kamila kepada Arkan sambil membereskan baju-baju Arkan ke dalam tas.
"Selama lo ada di deket gue, gue gak akan macem-macem Mil. Tapi kalo ada yang nyakitin lo ya urusannya sama gue, gue bukan malaikat kayak lo! Darah dibales darah!" kata Arkan ngeyel.
Kamila langsung menmelototkan matanya, anak ini memang tengil susah dikasih tahu. Kamila berkacak pinggang.
"Awas yah kalo gitu lagi, gue bakalan ikut Kakek sama Nenek pulang biarin aja lo nyari-nyari gue," kata Kamila dengan kesal.
Arkan pun langsung memegang tangan Kamila kemudian memeluk Gadis itu dari belakang, "Jangan dong Yang, nanti gue gak tau mau ke mana. Masa lo tega ninggalin cowo seganteng gue sih, nanti gue di ambil Tante-Tante lo jomblo deh!" kata Arkan sambil mengedipkan matanya menggoda Kamila.
Kamila langsung mendorong tubuh Arkan menjauh. Arkan memang terkadang membuatnya merasa kesal luar biasa. Tetapi, ia sayang kepada pemuda bandel itu.
"Nyebelin deh, awas aja kalo kejadian gini keulang lagi, gue sunat lagi biar abis!" kata Kamila gemas.
"Sadis lo Mil, nanti gak bisa berkembang biak sama lo?!" jawab Arkan.
Plak...
"Otak lo yah Ar!" Kamila memukul lengan Arkan.
"lya... iya, gue nggak akan berantem lagi." kata Arkan sambil memegang tangan Kamila.
"Janji kontrol emosi juga?"
"lya, janji Kamila Sayang," jawab Arkan.
Cup...
Kemudian Arkan pun mengecup pipi Kamila hingga wajah Gadis itu memerah karena malu.
Tiba-tiba, pintu ruangan terbuka, Alisha dan Marvin pun masuk bersama nenek Marina dan kakek Frans.
"Kamu apain itu mantu Bunda kenapa mukanya merah banget?" tanya Alisha.
Arkan melihat wajah Kamila benar saja warnanya sudah sangat merah.
"Aku baperin, biar terbang sampe ke langit ke tujuh!" jawab Arkan sedangkan Kamila menunduk ke bawah menyembunyikan wajahnya.
"Kalo Arkan jail pukul aja Mil!" kata.Marvin ikut menimpali.
"Ayah mah gitu, anak Ayah juga aku tuh!" kata Arkan.
Hal itu tentu saja membuat Arkan mengerutkan dahinya. la merasa takut jika kakek dan nenek Kamila akan membawa cucunya.
"Loh Nenek sama Kakek kok udah rapi banget. Emangnya Nenek sama Kakek mau ke mana?" tanya Arkan.
"Kakek sama Nenek harus pulang, kita gak bisa lama-lama di Jakarta karena rumah kami yang di sana bisa terbengkalai!"
Arkan terkejut genggaman tangannya pada Kamila semakin erat," Kamila gimana?" tanya Arkan khawatir.
"Kamila akan tetap di sini, dia lebih memilih bersama dengan kamu!"
Senyum Arkan langsung mengembang dia tidak takut lagi Kamila pergi dari sisinya.
"Arkan seneng Kamila gak pergi dari Arkan!" ucap pemuda itu.
Kakek Frans menghampiri Arkan kemudian membawa pemuda itu ke dalam pelukannya.
"Kamila lebih betah bersama kamu Nak Arkan. Kakek sama Nenek titip Kamila pada kalian yah, tolong jaga Kamila. Sekarang dia sudah gak punya siapa-siapa. Kalian sudah tau bagaimana orang tua Kamila, Kakek dan Nenek harap Kamila akan baik-baik saja, Kakek dan Nenek sudah tua," kata Frans.
Arkan mengganggukan kepalanya sambil tersenyum, "Nenek sama Kakek gak usah khawatir, aku, Ayah sama Bunda pasti bakalan selalu sayang sama Kamila dan akan selalu menjaga Kamila, Arkan janj," kata Arkan dengan tegas.
"'Syukurlah, Kakek dan Nenek sangat senang mendengarnya."
Kakek Frans dan Nenek Marina pun bergantian memeluk Arkan, Alisha serta
Marvin.
"Nak Alisha, Nak Marvin. Om dan Tante menitipkan Kamila pada kalian yah. Tolong jaga cucu kami baik-baik. Kami tau permintaan kami sangat banyak dan mungkin merepotkan kalian, tapi kami sudah tidak punya orang yang bisa kami percaya lagi untuk menjaga Kamila, Kamila juga terlihat sangat mencintai Arkan, kami tidak tega untuk memisahkan keduanya!" kata nenek Marina kepada Alisha.
"Om dan Tante gak usah khawatir, sejak pertama kali Arkan membawa Kamila ke rumah, saya sudah jatuh cinta. Kamila anak yang baik diajuga banyak merubah Arkan menjadi lebih baik. Semenjak bersama Kamila saya tenang Arkan jarang sekali membuat kerusuhan. Kamila sudah saya anggap seperti anak kami sendiri, Om dan Tante gak perlu khawatir!" kata Alisha.
Mendengar perkataan Alisha sudut hati Kamila yang terdalam sangat terharu. Ila merasa bahagia sekali mendengar perkataan ibunda Arkan itu.
Selama ini Kamila kehilangan kasih sayang seorang ibu, tetapi melalui Alisha ia bisa kembali merasakan belaian lembut dan pelukan hangat dari seorang ibu.
"Mila kamu baik-baik ya belajar yang rajin. Nanti kalau sudah selesai sekolah kamu bisa kuliah. Masalah biaya kamu bisa telepon kakek dan nenek kami masih sanggup mentransfer uang untuk kamu sekolah nanti. Kamu harus belajar yang rajin supaya kelak kamu bisa mengelola perusahaan peninggalan Mamah kmu,"kata kakek Frans kepada Kamila.
"Kakek dan nenek tenang saja ya Kamila di sini akan baik-baik saja. Kakek dan nenek juga harus jaga kesehatan terus sering-sering tengokin Mila di sini ya," kata Kamila.
Suasana pun mendadak sedikit mellow. Kamila bergantian memeluk kakek dan neneknya begitu pula dengan Arkan.
"Sekarang kita antarkan kakek dan nenek Kamila ke bandara dulu baru kita pulang ya," kata Marvin kepada Arkan.
Kamila dan Arkan pun setuju. Mereka pun langsung menuju ke tempat parkir dan setelah itu Marvin mengemudikan mobil langsung ke bandara untuk mengantarkan kakek Frans dan nenek Marina.
Tiba di bandara, kakek Frans dan menek Marina langsung masuk ke ruang check in. Kemudian mereka pun berpamitan kepada Kamila dan Arkan sekeluarga.
Saat tengah berjalan menuju ke parkiran, tiba-tiba ada yang menabrak bahu Arkan. Pria itu menyeringai kepada Arkan dan itu membuat Arkan mengepalkan tangannya.
"****... Dia balik lagi!"
Tetapi, karena sedang bersama Kamila dan kedua orang tuanya, Arkan terpaksa menahan emosinya.
Kamila yang merasa aura Arkan berubah lantas memegang tangannya,"Lo kenapa? Baik-baik aja?" tanya Kamila melihat wajah Arkan yang mendadak tegang.
Mendengar pertanyaan Kamila, Arkan langsung tersenyum sambil mengusap rambut gadis itu perlahan.
"Gue gak papa selama lo ada di deket gue!"
"Gue serius Arkan!" kata Kamila.
"Iyah Sayang, gue juga serius, jangan jauh-jauh dari gue Mil! Kalo ada apa-apa langsung bilang sama gue."
Arkan melihat ke arah di mana tadi orang itu pergi setelah menabraknya. Arkan mengepalkan tangannya," Kalo target sasarannya Kamila lagi, gue gak akan pernah tinggal diem. Gue harus nikahin Kamila sebelum lulus?!"