
Pada malam harinya setelah semua pertandingan selesai Lia benar-benar pergi menjauhi hotel.
Dia takut dengan Arkan, Arkan terlihat menyeramkan, tatapan tajamnya berbeda dengan tatapan hangatnya.
Awalnya, Lia pikir dia dengan mudah dapat merebut Arkan dari Kamila.
Tetapi memang ternyata Arkan berbeda dari laki-laki yang lain yang pernah ia kenal.
Sementara itu, Kamila sudah sampai di Bali. Tetapi mereka belum memberitahu Arkan, niatnya mereka akan memberitahu Arkan besok pagi.
Saat ini Kamila, Alisha, Marvin dan Kayla berada di dalam mobil mereka memutuskan untuk makan malam di sebuah resto yang terkenal.
"Ayah, ini yakin kita gak ngasih tau Arkan dulu kalo kita ada di sini? Nanti kalo dia tau duluan gimana, nanti ngambek itu anak?" tanya Alisha kepada Marvin.
"Biarin aja lah Bund, lagian ini udah malem. Ayah juga udah booking hotel di hotel yang sama di tempat mereka nginep. Jadi besok pagi kita bisa langsung ke kamar Arkan bikin kejutan. Sekarang kita makan aja dulu, Ayah udah laper nih," kata Marvin kepada Alisha.
Sementara itu Alisha dan Marvin saling bergandengan tangan, Kayla dan Kamila juga bergandengan tangan. Kayla memang sangat dekat dengan Kamila sehingga dia tidak mau melepaskan tangan Kamila sedikitpun.
"Aku senang banget udah sampai di Bali, besok kita main ke pantai ya Kak?" kata Kayla dengan riang.
"lya boleh kok. Besok kita ke pantai ya, Kakak pasti temenin Kay," jawab Kamila dengan senyum mengembang.
Mereka sudah sampai di sebuah resto, Kamila turun dari mobil. Dan saat Kamila melihat ke sekeliling dia terkejut karena melihat seseorang menyebrang dengan tatapan kosong.
Kamila melepas pegangannya pada Kayla, Kamila berlari dia mendorong orang itu agar menjauh.
"Awaaaaaaas!" teriak Kamila.
BRAKH!
"KAMILAAA?!"
Alisha berteriak histeris dia berlari ke arah Kamila yang tertabrak karena menyelamatkan orang.
Alisha panik dia pun segera berlari, Marvin menggendong Kayla yang sudah menangis.
"Kamila, sayang bangun Nak! Kamila!" kata Alisha dia menepuk-nepuk pipi Kamila.
Alisha membawa Kamila ke pangkuannya.
Kamila membuka matanya, "Bunda, Mila gak papa!" kata Kamila sambil tersenyum.
Darah terus mengalir di kepala dan tangan Kamila membuat tangan Alisha bersimbah darah.
"Ayah!!! Telpon ambulan cepet, kita harus bawa Kamila ke rumah sakit!" teriak Alisha histeris saat Kamila kembali menutup matanya.
Marvin yang melihat hal itu segera menelpon ambulance sambil berusaha
menenangkan Alisha dan juga Kayla yang menangis karena melihat Kamila yang pingsan.
"Maafkan saya Om, Tante, semua ini karena anak Om dan Tante mau menyelamatkan saya. Saya tadi sedang
bingung. Jadi saya tidak memperhatikan jalan ini semua salah saya."
Dengan tatapan tajam Alisha menatap gadis di hadapannya.
"Kamu itu udah gede kan? Kamu tau kalau nyeberang jalan sembarangan itu bisa bahaya untuk diri kamu sendiri. Dan sekarang anak saya yang jadi korban gara-gara kelalaian kamu!" Kata Alisha dengan emosi.
Marvin langsung menarik tangan Alisha, istrinya itu jika sudah marah sama seperti Arkan.
"Bund udah, ambulan bentar lagi dateng Bunda tenang yah!" kata Marvin dia mengusap pundak istrinya.
"Kamu juga nanti harus ikut ke rumah sakit sebagai bentuk tanggung jawab kamu, anak saya sampai celaka begini!" kata Marvin kepada gadis itu.
"Say-saya!"
"Saya gak peduli?! Kamu tetap harus ikut!" kata Marvin mutlak.
Marvin juga sebenarnya emosi tapi dia harus bisa meredamnya anak istrinya sedang menangis.
Mendengar nama Kamila dan Arkan disebut Gadis itu bertambah pucat. Ya, gadis yang diselamatkan oleh Kamila tidak lain adalah Lia.
Awalnya Lia berjalan tidak tentu arah dan juga sangat ketakutan karena melihat kemarahan Arkan yang luar biasa dari sorot matanya.
Sehingga ketika pertandingan usai dia pun langsung pergi menghindari Arkan dan yang lain. Tetapi, sialnya dia justru menyebabkan Kamila celaka. Dia sangat yakin kali ini dia tidak bisa selamat lagi.
Habislah Lia, nasibnya sekarang berada di ujung tanduk. Tidak bertemu dengan Arkan tapi dia akan semakin membuat Arkan marah.
"Anak ini ke mana sih?!" gerutu Marvin.
Pada akhirnya Marvin menelpon Daren karena ponsel Arkan tidak bisa dihubungi. la harus memberitahukan kejadian ini kepada putranya.
"Halo, ada apa Om?" tanya Daren saat menjawab telpon Marvin.
"Arkan ke mana?"
"Arkan ada tapi-"
"Om, Tante, Kamila sama Kayla ada di Bali sekarang. Kamila kecelakaan, sekarang lagi di bawa ke rumah sakit, Arkan gak bisa dihubungi. Kamu tolong bilangin sama Arkan buat nyusul ke rumah sakit! Nanti Om kasih tau alamat rumah sakitnya lewat chat."
Marvin pun segera memutuskan sambungan telepon.
"Kenapa Ren?" tanya Kean.
"Kamila kecelakaan dia ada di Bali, kita cari Arkan!" kata Daren.
Sontak Kean, Sean dan Bastian terkejut mereka mengikuti Daren mencari Arkan.
Sedangkan Lia semakin bergetar takut saat mendengar Marvin menelpon Daren.
Daren tidak tau Arkan ada di mana, dia tadi hanya mengatakan ingin keluar, Daren yakin Arkan sedang mencari Lia.
Daren menemukan Arkan disebuah tempat, dia tengah memukuli samsak, dia ternyata datang ke tempat ring tinju untuk melampiaskan emosinya.
"Anjir lo kita cariin ke mana-mana!" seru Bastian merasa lega saat menemukan Arkan.
"Gue gak nemuin Lia si cewe kampungan itu, dia kabur sialan?!" seru Arkan penuh emosi.
"Gak usah di pikirin Ar sekarang ada yang lebih penting!" kata Daren berusaha menghentikan Arkan.
Arkan menggelengkan kepalanya,Buat sekarang gak ada yang lebih penting dari ngasih tuh cewe cupu pelajaran!"
"Gak usah bego Arkan, lo berenti dulu!" seru Daren kepada Arkan.
Tetapi Arkan tetap menggelengkan kepala sambil terus memukuli samsak di hadapannya.
BUGH...
Merasa kesal diabaikan oleh Arkan Darren pun langsung melayangkan tinjunya ke wajah Arkan sambil berteriak, "Kamila lagi di rumah sakit bego, dia kecelakaan! Dia sama kedua orang tua lo ada di Bali!"
Bagai disambar petir di malam hari Arkan membeku dia langsung menghentikan kegiatannya. Arkan menarik kerah baju Daren,
" Lo bohong kan, lo pasti lagi main-main kan gak lucu sumpah!" seru Arkan.
"Gue gak pernah main-main anjir, sekarang ke rumah sakit! Kamila butuh lo di sana!"
Arkan pun langsung menarik tangan Daren untuk pergi ke rumah sakit. Arkan panik dia terus menggumamkan kata-kata senmoga
Kamila selamat. Saat sampai di rumah sakit dia berlari ke arah ibunya yang sedang menunggu di depan ruang ICU.
"Bunda, Kamila gimana?" tanya Arkan dengan wajah penuh keringat.
Dia tadi sibuk dengan samsak di tambah
harus berlarian.