Badboy Yang Menyebalkan

Badboy Yang Menyebalkan
39. Mengantar Pulang


"Kumat! Mau apa?" tanya Kamila sinis.


Arkan menunjuk pipinya membuat Kamila bergidig ngeri.


"Ogah! Noh minta cium sana sama lumba-lumba di danau!" kata Kamila ketus.


"Gak sekalian hiu Mil!"


"Emang ada?" tanya Kamila penasaran.


Arkan menganggukan kepalanya membuat Kamila terkejut.


"Kok lo gak bilang sih, tadi kalo gue lompat beneran mati dong di makan hiu!"


Pletak..


Dia menyentil dahi Kamila pelan.


"Lemot otak lo ya Mil, mana ada hiu di danau! Lagian kalo mau mati ya gak harus dimakan hiu lo lompat aja udah mati. Lo gak liat tuh arusnya!" kata Arkan.


"Oh gitu ya! Yaudah gue mau lompat aja, mau ketemu Mamah!" kata Kamila membalikan tubuhnya.


Arkan menarik tangan Kamila membuat gadis itu menabrak dadanya.


"Gue geprek yah lo Mil!"


"Tadi katanya kalo mau mati tinggal lompat aja!" ujar Kamila.


"Gak gitu Jubaedah!"


"Pacaran trosss, yang jomblo minggir dulu!" teriak Sean dari atas bukit.


Arkan merangkul Kamila.


"Iri kan lo!" saut Arkan.


"Gak usah pegang-pegang! Gue bukan cewe lo!" sinis Kamila.


"Lo sekarang cewe gue Kamila! Gue gak minta pendapat lo!" ujar Arkan serius.


"Pemaksaan!" kata Kamila lalu meninggalkan Arkan.


Arkan tertawa terbahak-bahak. Entah mengapa ia merasa sangat senang sekali jika melihat Kamila marah-marah. Apalagi jika dia sudah melotot marah dan mengerucutkan bibirnya.


Menggoda untuk dikasi ciuman, ah memang dasar, Arkan benar-benar termakan ucapannya sendiri.


"Kejar gue Arkan! Kalo gue lo menang lo boleh pukul gue begitu juga sebaliknya!" teriak Kamila yang sudah jauh.


Arkan tertawa lalu berlari mengejar Kamila yang naik ke atas bukit, tentu saja Kamila yang kalah, Arkan sudah sampai di atas duluan.


"Gila lo! Lo manusia apa bukan, cepet banget lo lari!" kata Kamila yang masih ada di bawah.


Arkan tertawa saja dia menarik tangan Kamila agar naik ke atas, nafas gadis itu tersenggal-senggal.


"Hahaha, kalah kan lo!" Kamila tidak sanggup.


Dia salah jika berharap Arkan kalah darinya.


"Nih!" Kamila mengulurkan Tangannya.


"Buat apa?" tanya Arkan bingung.


"Pukul gue!"


Arkan terkekeh, dia mengacak rambut Kamila lalu mencubit pelan pipi gadis itu.


"Udah!"


Kamila mengulum senyumnya Arkan itu sedari tadi terus membuat jantungnya tidak aman.


"Mil gue serius, ini udah ma sore. Lo mau balik ke mana? Kalo lo gak yakin buat pulang. Nanti gue bisa cerita ke Bunda masalah lo, lo nginep aja di rumah kan lo bisa tidur sama Kay dia pasti seneng banget deh! Kalo di basecamp gue gak akan ngijinin lo!" ujar Arkan serius.


Namun, Kamila menggelengkan kepalanya dengan lemah.


"Gak bisa gue harus tetep pulang ke rumah itu. Itu rumah almarhum Mamah, gue gak ikhlas kalo Nenek gerandong sama Nenek sihir itu nguasain rumah gue," kata Kamila.


"Hah? Nenek gerandong sama Nenek sihir! Hahaha sa ae lo. Tapi emang bener sih gue juga geli kalo si Livia deketin gue, meresahkan. Tapi mau gimana lagi kegantengan gue emang gak ada yang bisa nolak Mil!"


Kamila hanya mencibir


"Asem lo emang, narsis banget jadi orang," kata Kamila.


"Haha, yaudah ayo gue anter balik udah sore. Gak baik juga buat lo!" ajak Arkan menarik tangan Kamila.


"Gue anter Nyonya dulu yah, nanti gue balik ke rumah, malem baru ke base camp!" seru Arkan.


"Makasih yah semuanya!" kata Kamila sambil tersenyum.


"Hati-hati Bos!"


"Hahah cieee antar ibu negara," goda Kean.


"Jangan nginep ye, Arkan. Tar bunda lo ngamuk!"


"Inget balik lo, ntar lo dikawinin!"


Arkan hanya tertawa mendengar sahutan dạn cuitan dari teman-teman mereka itu. Kemudian, Arkan pun berjalan beriringan bersama dengan Kamila ke parkiran.


Kamila naik ke atas motor Arkan lalu keduanya pergi dari sana.


Kamila tertawa kecil.


"Selama ini gue bisa ngadepin mereka sendiri, kenapa lo takut?" tanya Kamila.


"Sekarang lo punya gue Kamila, gue gak akan rela liat lo dipukulin sama mereka lagi!" kata Arkan dengan tegas.


"Yang waktu itu lo nolongin gue dari preman itu suruhannya mereka!"


Cittt......


Arkan ngerem mendadak membuat Kamila memeluknya.


"Arkan bahaya tau!" ujar Kamila terkejut.


"Sorry-sorry! Lo serius Mil? Segitunya mereka mau nyingkirin lo?"


Kamila menganggukan kepalanya.


"Lo bahaya Mil tinggal di rumah itu, lo pergi aja lah sama gue ribet amat!"


"Ya masa mau kabur? Papah gue pasti ngamuk, dari mana gue hidup? Gue masih bergantung sama orang tua gue," kata Kamila.


Arkan menghela nafasnya dia tau Kamila pasti tidak akan mau.


"Kalo ada apa-apa kasih tau gue yah Mil!" kata Arkan.


"Aman!"


Arkan kembali mengemudikan motornya, dia melihat ada deretan street food. Dia melihat Kamila dari spion gadis itu tengah menelisik.


"Mau jajan?" tanya Arkan.


"Gak mau, nanti kayak waktu itu gue yang suruh bayar padahal kan lo yang ngajak gue pulang bareng!" ketus Kamila.


"Hahaha masih inget, aja! Yaudah ayo jajan gue ganti uang lo!"


"Beneran?" tanya Kamila dengan serius.


"Iyah Kamila!"


Arkan langsung memarkirkan motornya.


Mereka turun dari motor.


"Mau beli apa Mil?" tanya Arkan.


"Mmm... Topokki deh, enak!"


Kamila menggandeng tangan Arkan tanpa sadar sedangkan pemuda itu hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Mau berapa?" tanya Arkan kepada Kamila.


"Tiga porsi tapi jadi satu aja Mas, bisa kan?" kata Kamila.


"Banyak amat Mil?" tanya Arkan terkejut.


"Udah deh diem aja, katanya tadi mau bayarin!" seru Kamila.


"Iyah nyonya! Mas buatin aja tiga jadi satu ikut kata Ibu negara!"


"Heheh pacarnya yah Mas?" tanya si penjual.


"Iyah Mas !"


"Bukan kok," saut Kamila.


"Gak usah di dengerin Mas, biasa cewe kalo ngambek emang suka rese!"


Si penjual hanya tertawa saja, Arkan mengeluarkan uang dari dompetnya lalu membayar topokki pesanan Kamila.


"Ambil aja Mas kembaliannya!"


Arkan kemudian pergi dari sana dengan Kamila.


"Mau apa lagi?" tanya Arkan.


Kamila mengedarkan pandangannya, sambil memakan topokkinya.


"Gue mau semua tapi udah kenyang, nanti ke sini lagi boleh gak pas gue belum makan!" kata Kamila sedih dengan nada


menggemaskannya.


"Kapan pun, Kamila. Gue bakalan nganter lo ke mana aja!" jawab Arkan.


Senyum Kamila mengembang.


"Tengkyuuu!" ujarnya senang.


"Ayo pulang! Hari ini cukup seratus ribu aja gue porotin seorang Arkan!"


Akan tertawa, dia mengacak rambut Kamila. Kamila naik ke motor Arkan, dia


di atas motor sambil memakan topokki.


"Mau?" tawar Kamila kepada Arkan.


"Gampang, makan aja Mil. Gue kan bawa motor!" kata Arkan.