Badboy Yang Menyebalkan

Badboy Yang Menyebalkan
123. Risa?


Sepulang sekolah Arkan sudah ke parkiran bersama Kamila. Mereka akan pulang bersama.


Daren menepuk bahu Arkan sambil berkata, "Gue tunggu di basecamp, ada yang mau gue omongin!" kata Daren.


Arkan menoleh kepada Daren, "Oke, gue nganter Nyonya dulu!" jawab Arkan.


Darren pun mengangguk perlahan dan segera beranjak pergi. la langsung menuju ke basecamp.


Sementara Kamila dan Arkan langsung menuju ke rumah. Mereka tidak mampir ke sana-sini bahkan selama di perjalanan pun Kamila dan Arkan hanya diam.


"Ada apa sih kok tumben kayaknya Daren serius amat? Ada masalah apa?" tanya Kamila kepada Arkan dengan bingung.


"Gak tau Yang, kayaknya emang ada yang pengen di omongin, gue tau lo gak nyaman di basecamp gara-gara banyak cowo. Jadi mending gue anter lo dulu!" jawab Arkan.


Kamila menghela nafas panjang, entah mengapa ia merasa khawatir sekali dan juga Kamila merasa jika ini ada hubungannya dengan foto-foto yang dikirimkan kemarin itu.


Kamila tahu jika Daren adalah orang yang paling bisa diandalkan oleh Arkan dalam masalah seperti ini.


Daren juga jarang bicara banyak, jika ia sudah mengatakan sesuatu artinya ada hal yang penting apa lagi tadi Kamila melihat wajahnya terlihat begitu serius.


"Gue gak mau yah lo berantem-berantem. Gue gak mau liat lp bonyok bekas ribut. Bosen gue liat lo berantem pengen gue mutilasi aja sekalian," ujar Kamila.


Arkan tertawa lalu berkata, "Siapa yang mau berantem Sayang, jangan suudzon gitu deh, emangnya kalo ke basecamp itu pasti berentem, kan enggak Mil," kata Arkan geli.


"Ya gue kan gak tau, lo kadang-kadang suka bikin khawatir ama kelakuan lo itu, jangan-jangan lo emang mau berantem jadi lo anterin gue pulang dulu biar gue gak liat lo berantem."


Arkan mengenal nafas panjang, sebenarnya apa yang dikatakan Kamila itu hampir benar. la tidak mau jika Kamila melihat sisi terburuk dari dirinya.


Termasuk jika ia mengamuk dan marah marah. Biar Kamila hanya melihat sisi baik dari seorang Arkan saja tapi sisi buruknya tidak perlu dilihat. Arkan tidak mau melihat Kamila ketakutan seperti kemarin.


"Lo percaya aja sama gue Mil, gue ngelakuin buat semuanya. Apa pun yang gue lakuin itu pasti yang terbaik buat lo, gue nggak mau lo ikut artinya gue pengen jaga perasaan lo, itu aja kok," kata Arkan.


"Gue percaya sama lo tapi apa pun yang terjadi gue cuman pesen satu hal. Jangan ngelakuin sesuatu yang ngerugiin diri lo sendiru. Apa lagi sampe bunuh orang, lo punya Ayah, Bunda, Kayla sama gue. Kalo lo sampe kenapa-kenapa semuanya bakalan sedih," kata Kamila.


Arkan mengusap rambut Kamila, dia merapikannya.


Cup!


Kemudian mengecup pipi gadis itu perlahan


"lyah Sayang, yaudah sana masuk, jagain Kay yah. Kayaknya Bunda masih di kantor, gue pergi dulu nggak lama kok," kata Arkan.


Kamila menganggukkan, "Ya udah hati-hati ya."


Gadis itu pun menutup pintu rumah setelah Arkan berlalu dari pandangan matanya.


Setelah berpamitan dengan Kamila Arkan pergi base camp, di sana sudah ada Daren.


"Lama amat sih lo dari mana dulu?" protes Daren, karena ia merasa sudah terlalu lama menunggu Arkan.


"Lebay mata lo, sini! Ada sesuatu yah harus lo liat," kata Daren.


Daren membuka laptop dan menunjukkan foto asli dari editan itu Daren juga memutar rekaman suara seseorang yang membuat Arkan kaget.


"Yang ngedit ini orang profesional, bayarannya gak murah. Hasilnya juga emang memuaskan. Ada harga ada kualitas, buktinya banyak yang ngira ini asli kan? Dia emang jago banget. Dia gak mau kerja buat sembarang orang."


"Dari mana lo bisa dapetin semua ini? Gak mungkin dong sehari doang!" ujar Arkan.


"Gak ada yang gak mungkin Ar, koneksi gue sama tim IT di mana-mana, udah gak usah nanya mulu. Yang jelas buat satu foto ini orang itu harus bayar sepuluh juta. Orang yang ngejebak lo namanya Risa dari perusahaan Farm Corporation," kata Darren menjelaskan Arkan mengerutkan dahinya, ia seperti pernah mengenal nama perusahaan itu.


Lalu Arkan mengeluarkan sesuatu dari sakunya. Daren terkejut saat melihat Arkan membawa pisau dan pistol.


"Anjir tuh piso sama pistol ngapa bisa balik ke lo lagi? Setau gue tuh benda disita sama Tante Alisha sama Om Marvin juga, terus lo dapet dari mana? Gila lo!" komentar Daren.


Dia terkejut benda kesayangan Arkan sudah berada di tangan Arkan lagi. Daren memang sudah tidak aneh jika melihat Arkan mengantongi pisau dan pistol ke mana pun ia pergi hal itu memang untuk menjaga diri, entah bagaimana cara Arkan mendapatkannya kembali.


"Haha, piso sama pistol ini punya Tuan. Mau gimana juga bakalan balik ke Tuannya lagi!" kata Arkan sambil terkekeh.


Daren menggeleng-gelengkan kepalanya, "Selama lo bisa ngontrol diri itu gak masalah Ar. Lo punya keluarga lo juga punya Kamila, jangan selalu ngikutin emosi sesaat," kata Daren berusaha memberi nasihat.


Arkan memutar bola matanya malas, "Lo makin hari makin mirip Kamila cerewetnya. Tadi sebelum gue ke sini gue dapet siraman rohani dari Kamila," kata Arkan.


Darren tertawa mendengar ucapan Arkan, "Dia sayang sama lo Ar. Kalo gak sayang gak mungkin dia mau bawel sama lo sampe segitunya." Arkan menganggukan kepalanya.


"Yayaya, gue tau makanya gue gak ngebantah sama apa yang Kamila bilang."


Arkan mengeluarkan flashdisk berisi data perusahaan, Arkan membuka laptopnya yang berada di base camp. Ternyata memang benar perusahaan itu bekerja sama dengan perusahaan Ayahnya. Dari data yang Arkan liat sepertinya ada banyak dana yang mereka ambil.


"'Ada yang salah, Ar? Muka lo sampe sepet gitu?" tanya Daren saat melihat Arkan mengerutkan dahinya.


"Kayaknya gue punya tugas lagi, tadi pagi Ayah sama Bunda pergi ke kantor pagi-pagi banget, kata Kamila mereka nggak sempet sarapan juga. Semalem kalo gak salah denger Ayah bilang dana perusahaan banyak yang ilang. Tadi, gue sempet copy data perusahaan ke flashdisk ini. Coba lo


perhatin deh ada dana yang hilang dari


grafiknya dan itu dari hasil laporan Farm corporation."


"Gue rasa perusahaan itu lagu korupsi dana besar-besaran. Itu kenapa Ayah sama Bunda ngurus hal ini sampai ke kantor," kata Arkan menjelaskan.


"Kalo gitu bisa jadi perempuan ini emang sengaja kirim foto-foto itu biar hubungan lo sama orang tua lo renggang, mereka tau lo pewarisnya. Bisa jadi foto-foto itu juga buat meres orang tua lo. Mereka pakai cara licik


kayak gini."


Arkan terdiam dia menatap lurus ke depan, "Kayaknya gue emang harus mulai turun tangan buat ambil alih perusahaan Ayah!"


***


Keeaokan Hari nya Arkan dan Daren datang ke perusahaan Arkan mereka ijin tidak sekolah biasanya juga mereka akan bolos.