
"Ada-ada aja, bentar yah!"
Kamila bangkit dari lantai dia berjalan ke arah lemari bajunya. Arkan yang melihat itu
mengerutkan dahinya bingung, Kamila kembali mendekat kepada Arkan dan kembali duduk di lantai.
"Ini!"
Kamila memberikan kunci kepada Arkan.
"Apa ini Yang?" tanya Arkan.
"Kunci duplikat pintu balkon, kalo pake kawat nanti Papah curiga pintunya ada yang bobol, gue percaya kok sama lo. Lo gak akan ngelakuin hal yang nantinya buat lo atau gue nyesel!" kata Kamila memberikan kunci itu kepada Arkan.
"Lo kalo mu dateng ya dateng aja, nanti mulai sekarang tiap malem gue kunci pintu kamar biar gak ada yang masuk!"
Senyum Arkan mengembang dia senang sekali karena Kamila mempercayainya.
"Gue ambil yah, gue suka kangen tiba-tiba!" ujar Arkan.
"Iyah ambil aja jangan sampe ilang!" kata Kamila.
Krukkk.... Kruk..
Kamila terdiam begitu juga Arkan saat mendengar suara perut berbunyi. Kamila menutup mulutnya menahan tawa ini pertama kalinya Kamila mendengar suara perut Arkan.
"Laper Yang!" keluh Arkan.
"Hahah, sampe bunyi gitu. Belum makan?" tanya Kamila.
Arkan menggelengkan kepalanya.
"Belum!"
"Di dapur udah gak ada apa-apa, mau makan mie?" tawar Kamila.
Arkan menggelengkan kepalanya.
"Gue makan mie mulu, nanti keriting usus gue!"
"Emang usus bisa keriting?" tanya Kamila sambil tertawa kecil takut ada yang mendengar nya.
"Bisa kalo dicatok!" kata Arkan membuat Kamila semakin tertawa terpingkal-pingkal.
Arkan juga ikut tersenyum.
"Yang keluar yu cari makan," ajak Arkan.
Kamila menghentikan tawa nya dia melihat ke arah jam dinding.
"Udah mau jam satu, emang masih ada yang buka?" tanya Kamila.
"Banyak Sayang, itu sih jarang keluar malem. Ayo cari makan!" kata Arkan bangkit dari sofa.
"Lewat mana? Depan? Yang bener aja nanti ketauan Papah!"
Arkan terdiam dia sedikit berpikir.
"Lewat ballkon ayo!" ujar Arkan.
"Enggak! Gue gak bisa manjat Ar"
"Ada gue Mil, tenang aja!" Arkan mengajak Kamila keluar.
Arkan turun dari balkon duluan. sedangkan Kamila berusaha turun juga, Arkan menangkap Kamila. Tatapan keduanya terkunci, Arkan menatap mata Kamila. Arkan sedikit memajukan wajahnya. Kamila
sedikit menjauhkan wajahnya, jarak bibir Arkan dan Kamila hanya tinggal beberapa centi lagi.
Tapi Arkan dengan cepat merubah arah dia mencium pipi Kamila singkat sambil terkekeh.
"Gue takut kecanduan, kalo disitu!" bisik Arkan.
Arkan lalu menarik tangan Kamila keluar dari rumahnya, Arkan mengambil motornya. Kamila baru pertama kali keluar
malam seperti ini, rasanya sangat aneh. Arkan menghentikan motornya dia melepas jaketnya.
"Pake Yang, dingin!" Arkan memberikan jaketnya kepada Kamila.
"Tapi lo juga dingin cuman pake kaos gini," kata Kamila.
"Gue udah biasa!"
Arkan tetap menyuruh Kamila memakai jaketnya. Setelah memakai jaket Kamila
memeluk Arkan di motor.
"Enggak dingin kan kalo dipeluk gini?"
Arkan tertawa melihat kelakuan Kamila, dia mengusap tangan Kamila. Mereka kembali melanjutkan perjalanannya.
"Sayang makan nasi goreng atau pecel lele?" tanya Arkan.
"Lo mau apa?" tanya Kamila.
"Loh kok balik nanya, pecel lele aja yu!" ajak Arkan.
"Boleh, gue mau soto yang ada di pecel lele, itu enak banget biasanya."
Arkan mengerutkan dahinya.
"Ih di tempat jual pecel lele dia juga jualan soto Arkan," seru Kamila gemas.
"Oh gitu.." Arkan mengangguk-anggukan kepala nya mengerti.
Arkan mencari orang yang menjual pecel lele, Kamila dan Arkan turun dari motor saat Arkan sudah memarkirkan motor nya.
"Mas sotonya ada?" tanya Arkan.
"Ada Mas, mau berapa?" tanya si penjual.
"Berapa Yang? Mau pake nasi?" tanya Arkan pada Kamila.
"Satu aja Mas, gak usah pake nasi!" ujar Kamila.
"Kok gak pake nasi?" tanya Arkan.
"Tadi udah makan Ar!"
Arkan mengangguk-anggukan kepalanya.
"Yaudah, Mas soto satu lelenya pake nasi satu yah!"
"Baik, Mas sama Mbak nya bisa duduk dulu!"
Arkan dan Kamila memilih tempat duduk lesehan yang berada di dekat babhu jalan.
Kamila melihat ke sekeliling suasana malam tidak terlalu menyeramkan masih ada banyak kendaraan berlalu lalang.
Tidak lama kemudian pesanan kedua nya datang, Kamila memakan soto dan Arkan pecel lele nya.
"Mau?" tawar Arkan pada Kamila.
Kamila membuka mulut nya, Arkan menyuapi Kamila dengan tangan tanpa sendok.
"Enak, pake soto lebih enak. Coba deh!"
"Lo makan dulu nasi sama lele nya, nanti baru soto nya," titah Kamila.
Arkan melakukan apa yang dikatakan oleh Kamila, Kamila menyuapi soto nya ke dalam mulut Arkan.
"Enak kan?" tanya Kamila.
Arkan menganggukan kepala nya.
"Enak rasa nya mau nambah lagi!" bisik Arkan sambil tertawa.
"Hahaha, dasar.. Mau lagi!" pinta Kamila.
Arkan dengan senang hati menyuapi Kamila, begitu juga sebalik nya jadilah mereka saling suap-suapan bertukar makanan.
Tidak terasa sudah dua piring tandas, tadi nya Arkan hanya memesan satu tapi Kamila malah suka dan ikut makan jadi pesan lagi.
"Dua piring Yang, tadi kata nya gak laper," goda Arkan.
"Makanan nya jadi enak, kayak nya disuapin sama lo jadi the best!"
Arkan tertawa dia mengusap kepala Kamila dengan lembut.
"Lo seneng keluar malem gini?" Kamila menganggukan kepalanya.
"Seneng banget, rasanya damai gitu tenang kena angin malem!"
Arkan merapikan rambut kekasih nya itu.
"Nanti kita gini lagi kalo lo suka."
"Kapan?" tanya Kamila dengan mata berbinar.
"Kapan pun Sayang nya Arkan mau!"
Senyum Kamila mengembang dia sangat senang sekali.
"Aaa terima kasih!" ujar Kamila dengan riang.
"Tapi-"
"Tapi apa?" tanya Kamila.
"Tapi lo jangan pernah keluar malem kayak gini sendirian, janji!"
Kamila menganggukan kepalanya sambil tersenyum.
"Janji! Gue kalo mau keluar tengah malem gini pasti bilang sama Ayang!"
Arkan terkekeh dia mencubit kecil pipi Kamila.
"Good girl!" kata Arkan sambil menepuk puncak kepala Kamila pelan.
"Lo bahagia sama gue Mil?" tanya Arkan.
"Bahagia dong, lo itu sempurna emang kadang rese aja!" jawab Kamila.
"Hahaha, biar gak garing Mil!"
"Iyah tau, gue juga tau kalo lo sayang sama gue," kata Kamila.
"Itu pasti Mil, gue bisa ngelakuin apa aja asal selalu bisa sama-sama bareng lo terus! Bahkan gue bisa ngelakuin hal yang gak pernah lo pikirin sebelumnya!"