Anna&Justin- Cinta Di Musim Panas

Anna&Justin- Cinta Di Musim Panas
Tidak peduli


" Justin, bolehkah aku menumpang mobilmu ? Aku kesulitan mendapatkan taksi dari tadi. " tanya Drew pada Justin yang sedang melangkah menuju mobilnya yang terparkir di halaman parkir Whinfrey&Co. Justin menoleh padanya.


" Sure. Naiklah " jawabnya ramah. Drew bergegas menuju ke arahnya dengan mata berbinar. Ya, kapan lagi ia bisa semobil dengan pangeran impiannya.


*****


" Rumahmu di gang X kan? " tanya Justin sambil tetap memandang lurus ke depan. Bukan tanpa alasan ia bersikap acuh pada Drew yang duduk disampingnya. Selain karena lalu lintas yang sangat ramai, ia sebenarnya juga ingin sedikit menjauh dari perempuan disampingnya ini. Sebenarnya tadi ia ingin menolak permintaan Drew, tapi ia merasa kasihan padanya karena memang sedari tadi ia melihat Drew menunggu taksi. Apalagi beberapa kali ia melihat Drew menghentakkan kakinya yang pegal karena menunggu taksi. Ia hanya berdoa semoga saja Drew tidak menyalah artikan kebaikannya.


" Ya. Kau tahu rumahku ? " tanya Drew antusias.


" Tentu. Anna pernah mengatakannya padaku. " Justin keceplosan.


" Oh " Drew kecewa. Meski awalnya ia gembira karena Justin memperhatikan hal kecil tentang dirinya, tetapi saat ia mengetahui kalau Anna adalah penyebab semuanya, tak urung membuat hatinya merasa kesal dan kecewa.


" Oke, kita sudah sampai. " kata Justin sambil menghentikan mobilnya tepat di depan rumah Drew. Drew menatapnya dengan kaget. Bahkan Justin bisa mengingat detail rumahnya ?. Haruskah ia merasa senang karena Justin mengingatnya ? Atau haruskah ia merasa kesal karena Justin mengingat semua perkataan Anna ?.


" Oh, Anna menceritakan rumahmu dengan detail. Ia bilang, rumahmu ada di sebelah kanan jalan arah masuk gang, satu-satunya rumah dengan ayunan warna pink di depannya. Untunglah warna ayunannya tidak berubah. " kata Justin demi melihat keterkejutan Drew.


Drew mencoba tersenyum, meski batinnya merasa kesal. Benar dugaannya, kata-kata Anna masih diingat dengan baik oleh Justin. Karena Anna yang mengatakannya. Dan bukan orang lain.


" Well, terimakasih untuk tumpangannya. " Drew memasang tampang manis dan membuka pintu mobil.


Begitu mobil sport Justin berlalu dari tempat itu, Drew mendadak seperti orang gila. Ia mengumpat marah. Marah pada bekas " sahabat " nya, Anna.


***


Tin.Tin!!. Justin memberi klakson pada sesosok wanita yang sedang berjalan di trotoar. Bahkan hanya melihat punggungnya saja, ia sudah tahu kalau wanita itu adalah Anna. Dan benar saja, dia memang Anna. Justin lalu menepikan mobilnya.


" Butuh tumpangan ?. " tanyanya sambil memasang muka menggoda. Anna menghampirinya.


" Tapi sayangnya, uangku tidak cukup banyak untuk membayar tumpangan mobil mewah ini. " jawab Anna dengan mimik sedih.


" Jangan khawatir. Saya tetap akan mengantar Anda sampai ke tempat tujuan, bahkan meski Anda tidak membayarnya. " balasnya.


" Baiklah kalau Anda memaksa, tapi tolong jangan menculik saya "


" Bagaimana bisa ? Bukankah Anda tadi berkata tidak punya cukup uang ? Lantas untuk apa saya menculik Anda ?. "


Anna tersenyum. Ia lalu naik ke mobil Justin.


" Keluyuran ? "


" Maksudmu aku ? Memangnya aku memiliki tampang tukang keluyuran ? " Anna balik bertanya. Justin tersenyum mendengarnya.


" Lantas untuk apa kau keluar di jam begini ? "


" Bekerja "


" Kau ? Serius ? "


" Tentu saja. "


" Untuk apa ? Bukankah kau ini Nyonya Jason Wilderman yang bergelimangan harta ? Apa jatah uang bulananmu berkurang ? Atau suamimu tidak lagi memberimu uang ? Atau kau tidak puas dengan semuanya ? " sindir Justin.


Anna menghela nafas. Ia lalu memiringkan tubuhnya menghadap Justin.


" Dengarkan aku baik-baik Tuan Justin Wilderman, aku akan menjawab semua pertanyaanmu yang konyol itu !"


" Hei kau tidak sedang marah kan ? " tak urung Justin merasa takut dengan tingkah Anna.


" Pertama, stop menyindirku dengan kata-katamu itu. Nyonya Wilderman dan lain sebagainya " Anna tidak menghiraukan perkataan Justin.


" Kedua, seperti kau yang aku katakan tadi, aku bekerja. Aku bekerja karena aku membutuhkan uang. Ketiga, aku memang Nyonya Jason Wilderman. Secara tertulis memang seperti itu. Meski kenyataannya aku bukan seperti itu. Kami memiliki kehidupan masing-masing. Keempat, uang bulananku tidak berkurang dari yang seharusnya. Kelima, Jason Wilderman, a.k.a suamiku tidak pernah lalai memberiku uang. Dan yang terakhir, aku memang tidak puas dengan semuanya, tapi jangan berpikir aku serakah. Aku tidak seperti itu. Aku hanya ingin bekerja agar aku dan Joanna memiliki kehidupan baru. " Anna menerangkan panjang lebar.


Justin menghembuskan nafasnya.


" Penjelasanmu panjang sekali " komentarnya.


" Anna, apa yang kau maksud dengan memiliki kehidupan baru bersama Joanna ? ".


Anna terdiam. Sepertinya tadi ia terbawa emosi sehingga keceplosan berbicara. Tampaknya ia harus jujur pada Justin. Lagipula, sepertinya Justin bisa tutup mulut. Bukankah selama ini ia selalu bisa diandalkan ?.


" Aku.. Aku ingin bercerai dengan Jason. "


Ciit. Justin mengerem mobilnya mendadak.


" Astaga, Justin, kau mau membunuhku ?. "


" Kau serius dengan perkataanmu tadi, Anna ? Kau akan bercerai dengan Jason ? . "


Anna mengangguk.


" Tidak ada gunanya melanjutkan pernikahan ini. Aku dan Joanna berhak untuk bahagia. Tapi aku tidak bisa lepas begitu saja. Aku harus memastikan aku bisa memberikan kehidupan yang layak untuk Joanna. Karena itu aku harus bekerja. Dengan begitu aku tidak perlu khawatir dengan kehidupan kami berdua nantinya. "


" Apa kau sudah memikirkan semuanya baik-baik ?. "


" Tentu saja. "


" Apa kau yakin dia mau menceraikanmu ?. "


" Kami tidak pernah saling mencintai. Jadi untuk apa dia mempertahankanku ?. "


" Kalian ? "


" Kami menikah karena terpaksa. Dan sekarangpun pernikahan ini bertahan karena terpaksa. Sekarang sudah saatnya bagi kami mengakhiri semuanya. Demi kehidupan yang lebih baik. "


****


" Hei, Anna, antarkan makan malam untukku dan Ashley ke halaman. " perintah Jason begitu melihat Anna dan Justin yang tengah memasuki rumah.


" Kenapa kau tidak mengambilnya sendiri ? " jawab Justin dengan kesal.


" Aku berbicara pada Anna, bukan denganmu. " balas Jason ketus.


" Sure. Aku akan mengantarkannya " jawab Anna santai. Jason tersenyum mengejek.


****


" Kenapa kau mau diperlakukan seperti pembantu olehnya ? " tanya Justin dengan kesal pada Anna yang sedang menyiapkan makanan.


" Karena dia benar. Aku hanya pembantu disini. "


" Ayolah, Anna, kau harusnya mempertahankan harga dirimu "


" Sudahlah, Justin. Aku tidak ingin berdebat. "


" Tapi disana ada Ashley, dan aku yakin ia akan merendahkanmu. Aku cukup mengenal karakternya. "


" Percayalah, aku terlalu tinggi untuk dia rendahkan. "


****


" Hei, Anna, kau masih tinggal disini rupanya. Mengagetkan karena sedari tadi aku sama sekali tidak melihatmu. " sindir Ashley sambil duduk dipangkuan Jason. Anna mengangkat alisnya.


" Ya, mengagetkan bukan ? Tapi aku sama sekali tidak kaget melihatmu berkeliaran disini. " balas Anna.


" Whooa.. Dia bilang aku berkeliaran, babe . " kata Ashley sambil menatap Jason.


" Ashley bebas di rumah ini, Anna. " tegas Jason.


" Silakan saja, aku sama sekali tidak peduli " jawab Anna acuh, lalu meninggalkan tempat itu. Jason menatap kepergiannya.