Anna&Justin- Cinta Di Musim Panas

Anna&Justin- Cinta Di Musim Panas
Kembalinya Jason Wilderman


Marrissa membuka matanya pelan. Ia meringis merasakan sakit yang luar biasa di tubuhnya. Samar-samar dilihatnya wajah Anna yang melihatnya penuh dengan kekhawatiran.


" Akhirnya kau sadar juga " Anna berkata lega.


" Di..dimana aku ? " tanya Marrissa bingung. Ia menahan nyeri di kepala yang tiba-tiba menyerangnya. Sebuah bayangan peristiwa berkelebat di kepala Marrissa. Ia ingat, saat itu ia sedang dalam perjalanan pulang dari Rumah Sakit bersama Jonathan, suaminya. Mereka sedang membahas tentang keluarganya, dan tentang perasaan mereka masing-masing. Kemudian mobil yang dikendarai Jonathan keluar jalur dan dari arah berlawanan muncul sebuah truk tronton dengan kecepatan tinggi. Jonathan berusaha mengerem mobilnya. Tetapi tabrakan tidak dapat dihindarkan. Mobil itu terbanting ke kanan sebelum akhirnya ringsek tertabrak truk. Ia masih bisa mendengarkan suara jeritannya dan juga suara teriakan suaminya. Marrissa tersadar. Mereka berdua baru saja mengalami kecelakaan yang hebat.


" Ini di Rumah Sakit " jawab Anna sambil memegang tangan kakaknya. Air matanya menggenang. Ia tidak tega untuk menyampaikan kabar duka yang pasti akan ditanyakan Marrissa sebentar lagi.


" Jonathan, dimana Jonathan? " tanya Marrissa dengan cemas. Sungguh ia merasa sangat khawatir pada kondisi suaminya. Anna terdiam. Lidahnya terasa kelu.


" Dimana suamiku, Anna? Katakan dimana dia? Apa dia baik-baik saja?" Marrissa memberondongnya dengan pertanyaan yang hanya bisa ia jawab dengan butiran air mata yang meleleh di pipinya. Marrissa mulai merasa ada sesuatu yang tidak beres.


" Katakan kalau suamiku baik-baik saja, Anna " Marrissa mulai menangis. Anna memeluknya.


" Tuan Wilderman meninggal dalam kecelakaan itu " Anna menjawab sambil menangis.


" Tidakkk !!! " Marrissa berteriak histeris.


" Kau bohong, Anna!! Jonathan baik-baik saja. Suamiku baik-baik saja " Marrissa menangis histeris dalam pelukan Anna. Ia sangat berharap apa yang dikatakan Anna tadi hanyalah sebuah kebohongan. Apa jadinya hidupnya tanpa kehadiran Jonathan, suami yang sangat dicintainya. Seorang lelaki yang mencintai dirinya dengan tulus tanpa mempermasalahkan keadaan keluarganya.


Marrissa masih menangis tersedu di pelukan Anna. Ia merasa hidup sangat tidak adil padanya. Disaat ia belum lama merasakan kebahagiaan, tapi takdir sudah merenggut semuanya dari dirinya.


" Aku ingin mengunjungi makam suamiku " kata Marrissa setelah tangisannya mulai reda. Ia melepaskan diri dari pelukan Anna.


" Nanti aku akan mengantarmu kesana. Setelah dokter mengijinkan "


" Tidak bisa sekarang, Kak "


" Kalau kau tidak mau mengantarku sekarang. Aku akan kesana sendiri " Marrissa bersikeras. Ia membuka selimutnya dan berusaha menggerakkan kedua kakinya. Tapi, hei, apa lagi ini? Mengapa ia tidak mampu menggerakkan kedua kakinya? Bahkan rasa-rasanya ia tidak mampu merasakan kedua kakinya.


" Anna, ada apa denganku ? kenapa aku tidak bisa menggerakkan kedua kakiku ? " tanya Marrissa panik. Anna tidak menjawab. Ada rasa nyeri di hatinya. Ia sangat kasihan dengan kondisi Marrissa saat ini. Ia tak mampu membayangkan kepedihan yang dialami saudarinya itu. Marrissa memang selamat dalam kecelakaan itu. Tetapi kedua kakinya lumpuh.


" Anna jawab aku " Marrissa memandangnya penuh harap. Anna menelan ludah. Sakit rasanya untuk mengatakan hal ini.


" Kata dokter, kedua kakimu lumpuh " kata Anna dengan suara parau. Marrissa kembali berteriak histeris.


" Tidak!! Tidakk !!! "


****


Seorang pria turun dari sebuah mobil mewah yang berhenti di halaman kediaman Wilderman. Ia melepas kacamata hitamnya untuk memandang rumah besar itu dengan lebih jelas. Terbayang masa kecilnya yang pernah ia jalani di rumah itu. Tentang Ibunya yang pura-pura mengejarnya saat ia berlari kecil setelah ia berhasil merusak tanaman hiasnya. Tentang Ayahnya, tempat ia mengadu saat Ibunya memarahinya karena ia mengacaukan dapur, tempat kekuasaan Ibunya. Dan seperti biasanya, Ayahnya akan selalu membela setiap kekacauan yang ia buat. Ia memang sangat nakal saat itu. Ia tersenyum mengingat betapa indahnya saat itu. Dulu keluarganya sangat bahagia. Ibunya akan selalu menemaninya kemanapun ia berada. Ayahnya pun selalu menjadi tempat ternyaman baginya. Tapi itu dulu, saat sebelum Olivia masuk kedalam kehidupan keluarganya. Setelah perempuan itu memasuki kehidupan Ayahnya, segala sesuatunya pun berubah. Ibunya tidak lagi ceria seperti biasanya. Meski Ibunya selalu tersenyum di depannya, tetapi ia bisa melihat mata Ibunya yang seolah menyembunyikan kesedihan darinya. Mata itu sering terlihat sembab. Perlahan Ibunya pun mulai menarik diri. Lalu peristiwa itu terjadi.


Pria itu menghela nafas. Sekarang ia kembali ke rumah masa kecilnya. Ada rasa rindu, dan sekaligus rasa benci dihatinya saat ia menginjakkan kaki di halaman rumah ini.


Noah, asistennya sekaligus orang kepercayaannya, memencet bel pintu rumah untuknya. Tidak lama, pintu itupun terbuka, menampilkan sosok lelaki berusia sekitar lima atau enam tahun lebih muda darinya. Tidak salah lagi, itu pasti Justin Wilderman, adik tirinya. Ia memang sudah sangat lama tidak bertemu dengan Olivia dan anak-anaknya. Ia memang sengaja menutup pintu untuk mereka. Melihat Olivia, selalu mengingatkannya pada kematian Ibunya. Karena itu, ia menolak bertemu mereka dalam setiap kesempatan.


" Halo, Justin. Mengapa kau tidak memberikan salam untuk kakak tirimu ini ? "