
"wow,pantas saja kau meninggalkan rumah? ternyata rumah barumu nyaman sekali" puji Anna begitu memasuki rumah Adam. Pagi itu juga mereka mengantarkan Adam pulang ke rumah karena Adam terus menerus memaksa pulang ke rumah.
" tentu saja,harga sewanya juga mahal" jawab Adam kemudian melemparkan tubuhnya di sofa coklat.
" tunggu aku mau lihat kamar tidurnya" kata Anna kegirangan kemudian memeriksa kamar Adam.
Adam tersenyum melihat tingkah adiknya.
" dia memang selalu begitu, sedikit norak,maafkan " katanya pada Justin. Justin hanya tersenyum, kemudian duduk di depan Adam.
" jadi..,sudah seberapa jauh hubungan kalian?" tanya Adam tiba-tiba,
" eh,kami..kami..." Justin terbata-bata kebingungan.
" haha,aku hanya bercanda " seru Adam. Justin tersenyum lega.
" tapi kau memang menyukainya kan?" tanyanya sekali lagi. Justin terdiam. Ia melirik ke arah pintu,khawatir kalau-kalau Anna datang.
Adam tersenyum.
" kalau memang menyukainya, katakan, kalau tidak,tinggalkan. Aku tidak ingin melihatnya menangisi laki-laki pengecut" Adam mulai serius. Justin mengangguk,
" hei, Adam, apa kau tidak tahu fungsi almari?pakaianmu berantakan di tempat tidur" teriak Anna begitu keluar dari kamar Adam. Ia lalu duduk di dekat Adam.
" aku sibuk, tidak sempat membereskannya" sahut Adam cuek. Anna membuka tutup spidol merah yang ia temukan di kamar Adam lalu mulai menulisi gips di tangan kiri Adam.
"hei..hei..stop..jorok " Adam berusaha menghindar. Anna justru semakin bersemangat mengerjai kakaknya.
" jangan bergerak,atau tulisannya akan buruk" perintah Anna. Tak urung Adam diam juga.
" Justin,kau harus menulis disini juga" ajak Anna. Justin melihat dengan takut. Sementara Adam memelototinya.
" jangan berani coba-coba " ancamnya.
" tidak perlu takut. kalau dia menghindar,kita patahkan saja tangan kanannya" goda Anna sambil tertawa.
*****
"apakah tidak mengapa kalau aku pulang?" tanya Anna,ia masih khawatir dengan keadaan Adam.
"aku akan baik-baik saja, lagipula selama ini aku juga selalu sendirian,bukan?" Adam menenagkannya.
"tapi kau sekarang sedang sakit"
"aku baik-baik saja, bahkan kalau aku mau, aku bisa menghajar anak ini" katanya sambil menatap Justin. Justin tertawa kecil.
" bagaimana kalau kau butuh sesuatu?"
" aku akan meminta tolong Morgan"
"kalau Morgan tidak bisa?"
"aku akan minta tolong pada tetangga"
"memang tetanggamu ada dirumah seharian? aku lihat kamar sebelah sepi,tidak ada tanda-tanda kehidupan disana"
" baiklah,kalau begitu aku akan menelpon polisi"
"hah?polisi?"
" ya, agar kau puas, pertanyaanmu tidak ada habisnya" jawab Adam kesal.
Anna tersenyum
"itu karena aku mengkhawatirkanmu"
"terimakasih,adikku sayang. Yakinlah,aku akan baik saja,kalau butuh sesuatu,aku bisa minta tolong Morgan,lagipula kau akan sering mengunjungiku kan?"
"entahlah,aku rasa aku bekerja" Anna balik menolak
" hei kau,beri dia libur agar kalian bisa sama-sama kemari" perintah Adam pada Justin. Anna dan Justin berpandangan.
"aku bekerja pada ibunya, bukan padanya" jelas Anna.
"sama saja"
"baiklah,aku pergi dulu"
"jaga dia baik-baik,Justin" kata Adam pada Justin.
"pasti"
" dan ingat kata-kataku tadi" kata Adam sambil menepuk lengan Justin.
"memangnya apa yang kalian bicarakan?" Anna ingin tahu.
" ini pembicaraan sesama pria" jawab Adam sambil mengedipkan matanya. Justin mengangguk.
******
" terimakasih sudah menemaniku sedari kemarin " ucap Anna tulus pada Justin yang tengah menyetir mobil. Saat itu mereka berdua sedang dalam perjalanan pulang dari rumah Adam.
" aku memang baik hati "
" dasar sombong"
Justin terkekeh.
" tapi kalau dipikir,kamu memang baik, sangat berbeda dari yang aku bayangkan selama ini " kata Anna sembari melihat pemandangan dari kaca mobil yang melaju.
" memangnya selama ini apa yang kau pikirkan tentang aku?"
"selama ini aku pikir cowok populer seperti kamu hanya tahu bersenang-senang, bodoh dan sombong ...."
"dan ternyata kamu salah,salah besar, aku tidak seperti itu,kecuali di bagian populer, aku memang populer kan?" potong Justin.
Anna menyebikkan mulut.
" hei, memang benar kan?" Justin tidak terima.
"akui saja,aku ini populer karena aku tampan, cerdas dan atletis "
" haha,kau terlalu melebih-lebihkan, Justin "
Mereka berduapun tertawa bersama.
" sorry.." ucap Anna pelan.
" untuk apa?"
" untuk selalu berprasangka buruk padamu, aku minta maaf,Justin "
"hm, aku juga minta maaf.."
" ya,kau harus, kamu termasuk para pembully ku .." potong Anna.
" tidak, aku tidak pernah ... maksudku, aku tidak separah mereka " Justin membela diri.
" tapi tetap saja kau ikut "
" baiklah, aku salah,dan aku minta maaf karena ikut membully mu dan juga berprasangka buruk padamu "
" kau dimaafkan "
"jadi?"
"jadi apa?"
"bagaimana kalau kita memulai segalanya dari awal, seperti aku tidak mengenalmu dan kaupun tidak mengenalku,kita mulai dari nol,tanpa bully an, tanpa kebohongan,prasangka buruk.."
" oke, siapa takut?"
"ehm,oke.."
" Hai,namaku Marrie-Ann Rose, biasa dipanggil Anna, aku siswi kelas sebelas, ibuku pekerja sampingan, mendiang ayahku meninggal karena ikut merampok, kakak laki-lakiku mantan narapidana dan kakak perempuanku entah dimana " Anna dengan lancar memperkenalkan diri hingga membuat Justin melongo. Anna tersenyum.
" bukankah kita belum mengenal? sekarang giliranmu.. "
Justin tertawa kecil,lalu
" Hai,aku Justin, Justin Wilderman...