
Anna tertunduk lemas setelah membaca isi surat itu. Entah apa lagi yang dapat ia lakukan. Belum usai masalah tagihan rumah sakit, kini muncul surat peringatan dari Bank. Buliran air mata mulai menetes dari pelupuk matanya. Anna menangis.
****
Anna melangkah dengan lesu menuju kamar rawat inap Ibunya. Kelelahan setelah bekerja ditambah dengan masalah keuangan, membuatnya merasa lemah. Semakin banyak beban yang ada dalam pikirannya.
Anna membuka pintu kamar rawat inap Ibunya. Tidak dilihatnya sosok Marrissa disana. Tempat tidurnya tampak kosong. Hanya Ibunya yang sedang tertidur lelap di ranjangnya sendiri. Memang, setelah Ibunya sadar, Marrissa meminta agar kamar rawat mereka dijadikan satu agar ia bisa menjaga Ibunya. Dan pihak rumah sakit tampaknya tidak mempermasalahkan hal itu.
Annapun duduk meluruskan kakinya di kursi tunggu. Ia harus menunggu Marrissa datang untuk membicarakan tentang surat peringatan dari bank yang ia terima pagi ini. Tetapi rasa kantuk kemudian menderanya, Pelan-pelan matanya pun mulai terpejam.
***
Marrissa ternyata masih terjaga. Ia tampak melamun di sebuah sudut rumah sakit. Terbayang olehnya saat Jason menemuinya pagi ini di rumah sakit.
Pagi itu,seperti biasanya Marrissa duduk disamping ranjang Ibunya sambil bercerita. Dan saat itu ia menceritakan tentang kehidupannya setelah melarikan diri dari rumah. Tentang pekerjaan pertamanya, tempat tinggalnya yang sempit, dan juga pertemuannya dengan Jason serta Jonathan, suaminya.
" Saat pertama kali melihatnya, aku begitu terkesan dengan sikap ramahnya. Sungguh, dulu Jason begitu hangat dan ramah. Jauh berbeda dengan penampilannya yang dingin. Saat pertama kali bertemu dia, mungkin orang lain akan tertipu. Dan dia juga sangat tampan. Bagaimana mungkin dia tidak tampan kalau Ayahnya saja begitu mempesona? " Marrissa berbicara sendiri dengan antusias, sedangkan Ibunya hanya diam memandangnya sambil sesekali menarik bibirnya, tersenyum, jika sekiranya ada hal lucu yang Marrissa katakan.
" Aku kadang heran padanya. Dengan semua kelebihan yang ia miliki, ia bahkan tidak punya pacar. Kadang terbersit di pikiranku, apa dia penyuka sesama jenis? Kalau ia, sayang sekali. Dengan wajah setampan itu dan kekayaan yang dimilikinya, seharusnya ia sudah puluhan kali berkencan dengan gadis cantik. Tapi nyatanya, ia bahkan tidak melirik wanita. Satu -satunya orang yang dekat dengannya hanyalah Noah, asistennya "
" Aku kadang kasihan padanya, tetapi sekarang tidak lagi. Aku sekarang paham mengapa tidak ada seorang wanita pun yang dekat dengannya. Ibu tahu? kemarin kami bertemu di kantor Williams&co, dan aku sangat kaget karena Jason cepat sekali berubah. Dia yang dulu hangat dan ramah. Kini begitu dingin, sedingin penampilannya. Kata-katanya yang dulu manis, kini berubah kejam dan culas. Mungkin itu sebabnya para wanita enggan mendekat padanya. "
" Aku tidak tahu mengapa sikapnya begitu cepat berubah. Aku terlalu sibuk dengan Jonathan. Ibu tahu? Aku begitu tergila-gila padanya. Dan, siapa bilang kalau buah jatuh tidak jauh dari pohonnya? Nyatanya, Jonathan begitu berbeda dengan Jason. Mereka memang sama-sama tampan. Tapi tentunya Jonathan-ku jauh lebih tampan. Jonathan juga pria yang sangat perhatian. Ibu tahu, hampir setiap hari ia menelponku untuk mengajakku makan, keluar, jalan-jalan. Ia juga akan selalu mendengarkan ceritaku. Mengomentari setiap penampilanku. Bahkan disela-sela kesibukannya, ia membuatkan ku sarapan. Meski awalnya rasanya berantakan. Tapi aku menghargai setiap usahanya. Dia benar-benar luar biasa... "
Belum selesai Marrissa melanjutkan ceritanya, sebuah ketukan pintu menghentikannya.
" Masuk " kata Marrissa tanpa melihat ke arah pintu.
" Selamat pagi, Marrissa "
Marrissa langsung mengangkat wajahnya begitu mendengar suara itu. Suara Jason.
" Mau apa kau kemari? " tanya Marrissa galak. Ia masih merasa kesal dengan sikap Jason saat pembacaan warisan kemarin.
" Aku dengar kau kesulitan membayar biaya rumah sakit? "
Marrissa membuang muka, " Apa pedulimu? "
" Aku mencoba untuk tidak peduli. Tapi sialnya, kau ini istri mendiang Ayahku. Apa kata orang nanti jika tahu bahwa istri mendiang Wilderman tidak bisa keluar dari rumah sakit karena tidak bisa membayar tagihan ? Akan sangat memalukan bukan? "
Marrissa tidak menjawab.
Marrissa mendengus kesal. Setelah sikap kasarnya di kantor Williams kemarin, kini Jason melunak? kenapa secepat ini? adakah alasan lain?
" Bagaimana? kau setuju dengan ide ku? "
" Aku akan memikirkannya dahulu " kata Marrissa pada akhirnya.
" Astaga. Apa lagi yang harus dipertimbangkan? Kau tidak kasihan dengan adikmu yang harus banting tulang demi dirimu? Ck,ck,ck, kau begitu angkuh, Marrissa. Lihatlah dirimu. Saat ini kau lumpuh, tidak bisa melakukan apapun. Saat ini kau hanya sebuah beban. Beban untuk adikmu. Semakin lama kalian berada di sini, semakin banyak uang yang harus dicari adikmu. Bisa-bisa dia jual diri karenanya " ucapan Jason terus mengintimidasi Marrissa.
" Aku bilang, aku akan memikirkannya dahulu " kata Marrissa dengan marah.
" Baiklah. Tapi perlu kau ingat. Penawaranku hanya sekali. Di kemudian hari, semua ini tidaklah gratis. Ada bayaran untuk setiap pertolongan yang kau minta dariku "
*****
Marrissa berterimakasih pada seorang perawat yang membukakan pintu rawat inap untuknya. Ia lalu mendorong kursi rodanya pelan-pelan saat dilihatnya Anna sedang tidur lelap di kursi. Ia lalu mengambil selimutnya di ranjang dan memakainya. Ia tidak akan tidur di ranjangnya malam ini. Ia tidak tega membangunkan Anna untuk membantunya naik ke tempat tidur. Jason benar, ia hanyalah sebuah beban. Airmata mulai menetes di wajah cantiknya.
******
" Hoaahmm " Anna menguap panjang. Ia baru saja bangun dari tidurnya.
" Astaga, sudah pagi. Marrissa? " Anna terkejut melihat Marrissa yang tidur di kursi rodanya. Dalam hati ia menyesal karena ketiduran, sehingga tidak bisa membantu Marrissa naik ke atas tempat tidurnya.
" Seharusnya aku tidak tertidur secepat itu " sesal Anna. Anna pun bangkit dari tidurnya dan menghampiri kakaknya. Dilihatnya Marrissa yang tertidur lelap di kursi roda. Annapun berusaha mengangkat kakaknya, memindahkannya ke tempat tidur.
" Tidak perlu, Anna. Sudah pagi " ternyata Marrissa terbangun juga.
" Tapi nanti tubuhmu sakit kalau terlalu lama duduk " Anna memaksa. Ia pun lalu mengangkat tubuh kakaknya. Walaupun agak kesusahan, tapi ia mampu melakukannya.
" Terimakasih, Anna " kata Marrissa lirih. Airmatanya hampir tumpah. Sekali lagi ia teringat perkataan Jason. Ia hanyalah sebuah beban bagi adiknya.
" Tidurlah lagi. Sekarang masih jam setengah lima pagi. Aku akan pulang ke rumah. "
" Sepagi ini ? "
" Aku akan membersihkan rumah. Aku khawatir ada banyak sarang laba-laba karena sudah lama tidak ditempati " kata Anna. Ia memang ingin membersihkan rumah. Mencari barang-barang yang sekiranya harus diselamatkan kalau pihak bank benar-benar menyita rumahnya. Ia memang memikirkan kemungkinan terburuk. Karena akan sulit baginya untuk membayar dua tagihan.
" Baiklah. Hati-hati dijalan "
Anna mengangguk. Saat Anna meninggalkan ruangan itu, tangis Marrissa pecah.