Anna&Justin- Cinta Di Musim Panas

Anna&Justin- Cinta Di Musim Panas
Belanja bersama


" Apa terjadi masalah? " tanya Morgan pada Marrissa yang duduk di kursi penumpang di sebelahnya.Ia menanyakan itu karena semenjak keluar dari rumah itu, Marrissa tampak gusar. Ia bahkan tidak berbicara sama sekali sepanjang perjalanan.


" Tidak ada. Semua baik-baik saja " sahut Marrissa.


" Kau yakin? "


" Aku yakin. Semuanya baik saja "


" Jadi, pada akhirnya, dia mau bertanggung jawab? "


Marrissa mengangguk.


" Lalu mengapa kau terlihat gusar. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, bukan? "


" Aku hanya mengkhawatirkan Anna kedepannya. Pasti sangat sulit baginya melalui semua ini. Menikah dan punya anak di usia yang masih sangat muda. Gadis seusia dia seharusnya masih bermain dengan teman sekolahnya. Menghabiskan waktu dengan berbelanja di mall, menonton bioskop, menggosip tentang senior yang tampan, dan Anna? dia sudah harus mengganti popok bayinya.. " kata Marrissa sambil terisak.


" Dan bagian terburuknya adalah,.. aku.. sebagai satu-satunya saudaranya bahkan tidak bisa membantunya. Aku sendiri tidak berdaya.. " Marrissa masih terisak. Ia merasa gagal sebagai seorang kakak.


" Sst.. jangan menangis. Kau sudah melakukan yang terbaik baginya. Kau sudah membuat ba****** itu mau bertanggung jawab " Morgan berusaha menenangkan Marrissa. Marrissa masih menangis. Kali ini, dia tidak hanya menangisi adiknya, tetapi juga kesepakatan yang sudah ia sepakati bersama Jason. Ya, Marrissa setuju untuk meninggalkan Morgan. Hati kecilnya seakan memberontak saat ia menyetujui kesepakatan itu, karena diam-diam, Marrissa sudah mulai menyukai Morgan. Tapi apapun akan ia lakukan demi masa depan adiknya, termasuk dengan membunuh rasa cinta yang perlahan mulai tumbuh di hatinya.


****


Anna melahap sepiring penuh potongan mangga di dapur.


" Apakah enak? " suara Justin mengagetkannya.


" Kau mau? " tawar Anna. Justin menggeleng pelan. Ia bisa membayangkan betapa asamnya mangga itu.


" Perutmu tidak sakit? sepagi ini makan buah? " tanya Justin sambil duduk di depan Anna. Ia menuangkan air putih ke dalam gelas dan meminumnya. Anna menggeleng.


" Kuharap tidak " katanya pelan. Justin tertawa kecil.


" Kalian sudah selesai sarapan ? aku akan membereskannya kalau begitu " kata Anna sambil beranjak dari duduknya.


" Nanti saja " Justin menahannya. Anna duduk kembali.


" Apa kau ada waktu siang ini? aku ingin mengajakmu jalan - jalan " tanya Justin dengan ragu-ragu.


" Aku tidak tahu. Hari ini aku harus berbelanja "


" Kalau begitu bolehkah aku menemanimu berbelanja ? " pinta Justin.


" Kalau tidak merepotkanmu " sahut Anna. Ada rasa bahagia yang menyeruak di dalam hatinya saat Justin menawarkan untuk menemaninya berbelanja. Justin hampir saja melonjak kegirangan mendengar jawaban Anna. Ia sangat senang karena akhirnya ia bisa pergi berdua dengan Anna, meski hanya menemaninya berbelanja.


****


Justin celingukan mencari Anna. Siang ini mereka akan berbelanja bersama, tetapi ia tidak menemukan Anna dimanapun, apa gadis itu menghindarinya?


Hoek. Hoek. Terdengar suara seseorang dari arah kamar mandi pembantu. Justin segera mendekati asal suara.


" Kau tidak apa-apa? " tanyanya saat melihat Anna yang sepertinya habis muntah.


" Tidak. Aku tidak apa-apa " bantah Anna. Ia lalu membasuh wajahnya dengan air kran dan mengelapnya dengan handuk kecil.


" Kau yakin? Kalau kau sakit, lebih baik kita tunda dulu acara belanjanya " saran Justin. Anna menggeleng.


" Tapi kalau kau sedang tidak enak badan, lebih baik aku saja yang pergi. Kau hanya perlu membekaliku dengan catatan belanjamu "


" Aku ragu kau bisa melakukannya " kata Anna sambil tertawa kecil.


" Hei, kau meremehkanku? "


" Tentu saja. Aku berani bertaruh, seumur hidupmu kau belum pernah sekalipun belanja bahan makanan untuk rumah ini "


Justin tersenyum, ucapan Anna ada benarnya juga. Ia bahkan tidak ingat kapan terakhir kalinya ia pergi ke supermarket untuk berbelanja.


Anna mengambil jaketnya dan juga uang belanja yang diberikan Jason di atas meja dapur. Setiap hari Senin, Jason selalu menaruh uang di atas meja untuk berbelanja. Jumlahnya selalu lebih dari cukup.


****


" Masih kurang apa lagi? " tanya Justin. Siang itu mereka tengah berada di supermarket. Anna sibuk memilih barang yang akan dibelinya. Sementara Justin dibelakang mengikutinya sambil mendorong kereta belanja.


" Sebentar ." Anna tampak meneliti catatan belanjanya kemudian beralih pada kereta belanjanya. Ia tampak mencocokkannya dengan catatannya. Kepalanya mengangguk-angguk.


" Aku pikir sudah semuanya " gumamnya pelan. Justin menghela nafas lega. Baguslah kalau begitu, kakinya terasa pegal karena Anna mengajaknya berputar-putar di seluruh penjuru supermarket ini. Apakah seperti ini rasanya jika suatu saat nanti ia menemani istrinya berbelanja? Pantas saja, banyak suami yang enggan mengantar istrinya berbelanja.


" Oya, aku ingin membeli beberapa buah " kata Anna dengan semangat. Ia lalu melangkah ke gerai buah. Justin mengikuti di belakangnya sambil tertunduk lemas. Sepertinya akan bertambah lama, pikirnya.


" Kau yakin akan membelinya sebanyak itu? Baru saja, tadi pagi kau muntah karenanya " tegur Justin saat Anna sibuk memilih mangga dan memasukkannya ke dalam kereta belanja. Bukan hanya mangga saja, tetapi ia juga memasukkan stroberi, pisang dan juga alpukat. Anna tidak menjawab. Ia hanya tersenyum, hingga pandangannya tertuju pada seseorang yang menghampiri mereka. Senyumannya lalu menghilang.


" Whoa, lihat siapa yang sedang berbelanja ini? "


Justin langsung menoleh ke arah suara. Ternyata Ashley Runner, mantan pacarnya beserta dengan teman-temannya.


" Mantan pacarku dan pacar barunya. Tak kusangka akhirnya kau berhasil merebut Justin dariku, rupanya aku terlalu meremehkanmu " ejek Ashley pada keduanya.


" Cukup, Ash. Jangan mengganggunya " titah Justin. Ashley meliriknya galak.


" Kau membelanya ? Aku jadi penasaran, seberapa jauh hubungan kalian hingga berbelanja bersama. Apa kalian tinggal bersama juga ? " Ashley menatap kereta belanja didepan Justin, seakan menelisik benda apa saja yang dibeli keduanya. Justin menghela nafas. Selama ini ia memang tidak pernah menceritakan kalau Anna tinggal di rumahnya pada siapapun. Hanya Max,satu-satunya temannya yang mengetahui hal itu.


" Jadi kalian memang tinggal bersama " Ashley bergumam saat mengetahui isi belanjaan mereka. Bagaimana tidak? Anna memang belanja kebutuhan rumah tangga selama seminggu.


" Aku bekerja di rumahnya " kata Anna tiba-tiba. Ia merasa tidak enak jika Justin harus menerima tuduhan konyol seperti itu.


" Oya? benarkah? " Ashley bertanya sambil menatap lekat Justin.


" Ya. Dia bekerja dirumahku " Justin membenarkan.


" Jadi karena itu dia bekerja di rumahmu? agar dia bisa leluasa menggodamu setiap detiknya. Dan kaupun terpengaruh hingga hubungan kita berakhir? " cecar Ashley.


" Cukup, Ash. Hubungan kita telah berakhir. Dan itu bukan karena Anna. Aku sendiri yang merasa harus segera mengakhirinya, karena aku tidak bisa menyakitimu lebih jauh lagi. Aku tidak mencintaimu "


" Tidak mencintaiku? kau bilang tidak mencintaiku? setelah apa yang kita lalui bersama? Kau bohong, Justin "


" Aku memang tidak mencintaimu. Itulah kebenarannya. Dan aku meminta maaf untuk itu "


Ashley meneteskan airmatanya. Teman-temannya berusaha menengahi. Anna hanya bisa terdiam melihat pertengkaran keduanya. Ashley menatap keduanya dengan galak.


" Kalian berdua benar-benar be***** sin****! Dan kau, jangan merasa menang saat ini. Karena suatu saat nanti aku akan membalasnya "