Anna&Justin- Cinta Di Musim Panas

Anna&Justin- Cinta Di Musim Panas
Penolong baru?


" Aduh!! " Anna menjerit. Tumpukan buku yang ia bawa berjatuhan semua. Anna segera menunduk mengambil satu persatu bukunya yang berjatuhan. Secara reflek matanya mencari sosok yang baru saja menabrak dia dari belakang. Justin dan Ashley melenggang dengan santai melewatinya yang tengah memungut buku. Justin tidak menengok padanya sama sekali. Ia juga tidak meminta maaf. Anna hanya bisa menahan rasa kesalnya. Beberapa hari belakangan ini Justin kembali membullynya. Ralat, hampir semua siswi di sekolah ini membully nya kembali. Mungkin karena Roger tidak lagi ada, sehingga mereka tidak merasa takut lagi untuk membully Anna. Dalam hal ini, Anna mengakui ia berhutang pada Roger. Tapi tentu saja ia tidak mengharapkan Roger kembali.


" Ini " Max menyerahkan beberapa buku yang ia pungut. Anna menatap Max dengan heran.


" Tidak perlu menatapku seperti itu,aku bukan dia " kata Max sambil tetap mengulurkan buku itu pada Anna. Anna menerimanya.


" Maafkan dia, akhir-akhir ini harinya berat "


Anna mengangguk.


" Aku dengar masa kerjamu di keluarga Wilderman berakhir ?"


" Ya, aku hanya bekerja saat pengasuhnya cuti dan kini dia sudah kembali " Anna menjelaskan.


" O,begitu. Jadi pasti kau belum mengetahui perceraian orangtua Justin "


" Aku... "


" Sudahlah. Tak apa. Tapi, alangkah baiknya jika kamu menghindari Justin sementara waktu. Dia agak sensitif sekarang ""


Anna mengangguk.


" Terimakasih " ucapnya setelah buku-buku itu terkumpul. Max tersenyum.


" Kembali " jawabnya lalu pergi meninggalkan Anna.


******


Anna berjalan keluar dari kelasnya. Pelajaran telah usai dan sekarang saatnya pulang. Anna berjalan sedikit tertatih karena selain menggendong tas ransel yang penuh dengan buku pinjaman, ia juga membawa tas kain yang penuh dengan buku. Hari itu ia memang meminjam banyak buku dari perpustakaan sekolah. Ia berniat membaca dan terus membaca untuk melupakan Justin. Ia memang punya banyak waktu senggang sekarang karena ia tidak lagi bekerja sampingan di hari biasa. Adam memintanya untuk fokus sekolah dulu karena beberapa hari lagi ujian sekolah akan dimulai. Ia berjanji akan memberikan Anna hadiah jika adiknya itu mampu melewati ujian dengan baik. Dan Anna pun menyanggupinya.


" Awass!! " sebuah teriakan terdengar, tapi tidak bagi Anna. Ia terus saja berjalan sambil membayangkan wajah lucu Tuan Clark yang heran karena jumlah buku yang dipinjam Anna cukup banyak.


Masih terbayang percakapannya dengan pustakawan tua itu tadi.


" Kau yakin akan membaca semuanya?" Tuan Clark menatapnya penuh keraguan saat Anna menumpuk lima belas buah buku di meja pinjaman perpustakaan.


" Sebenarnya masih banyak yang aku inginkan, tetapi aku rasa aku harus membaginya dengan yang lain " jawab Anna dengan manis. Tuan Clark menggeleng-gelengkan kepalanya.


" Semoga saja kau menjadi lebih pintar setelah membaca semua ini " katanya setengah menyindir.


Anna tersenyum,kali ini jauh lebih manis


" Terimakasih doanya Tuan Clark "


Setelah berpamitan pada Tuan Clark, ia lalu memasukkan sebagian buku ke dalam tasnya dan sebagian lagi ia bawa dengan kedua tangannya, saat kemudian Justin menyenggolnya entah sengaja atau tidak.


Dugg !! Sebuah bola mengenai kepalanya. Saat itu ia memang tengah berjalan melewati lapangan bola di sisi kiri sekolah. Ia pikir itu adalah jalan pintas tercepat dari gedung perpustakaan ke gerbang sekolah.


" Eh,bukankah dia Anna Rose? " samar-samar didengarnya sebuah suara.


" Anna Rose? Si gadis buruh itu?"


" Yang punya kakak mantan narapidana "


" Aku dengar pekerjaan ibunya tidak jelas "


" O, dia. Baguslah, aku pikir orang lain " sahut suara yang lain. Anna merasa kesal saat mendengarnya. Ia pun sengaja memejamkan matanya. Orang-orang yang mengerumuninya tadi pun segera bubar tanpa dikomando dan tanpa memberikan sedikitpun pertolongan padanya.


" Apa kau baik-baik saja " sebuah suara kembali di dengarnya. Anna membuka matanya perlahan,mencoba mengetahui siapakah gerangan sesosok manusia yang masih memiliki rasa peduli padanya. Samar-samar dilihatnya seorang lelaki dengan rambut mohawknya, Max!! Lelaki itu tampak tersenyum.


Max membantunya duduk.


" Kau mau minum?" Max menawarkan sebotol air padanya.


" Tidak. Terimakasih,Max " tolak Anna.


" Hei, kau belum membuka kedua matamu, tapi kau bisa mengenaliku?" Max merasa heran.


" Kau pikir di sekolah ini ada berapa siswa yang berambut mohawk ?"


Max meringis. " Jadi karena rambutku ya?"


Anna tidak menjawab. Ia masih memegangi kepalanya yang terasa pening.


" Astaga. Kau baru saja merampok perpustakaan?" Max terheran-heran melihat isi tas ransel Anna yang terbuka.


" Ya. Dan kau sudah menolongku membawanya keluar dari gedung sekolah. Dengan kata lain kau ikut terlibat " sahut Anna sekenanya. Max terkekeh geli. Ia memang sudah dua kali menolong Anna hari ini.


" Jadi sekarang kita sekutu? "


" Terserah. Aku mau pulang. Kepalaku terasa sakit "


" Kau mau aku mengantarmu pulang?" tawar Max


"Tidak perlu. Aku bisa sendiri " Dengan susah payah Anna mencoba bangkit. Ia hampir saja terjatuh, Max segera menolongnya.


" Jangan menghalangi niat baikku,Nona. Walaupun penampilanku begini, aku juga ingin masuk surga. Ayo, aku akan mengantarmu "


****


Justin melemparkan tas ranselnya ke tempat tidur. Hari ini ia merasa sangat kesal. Dua kali. Sudah dua kali Max bertindak layaknya pahlawan di depan Anna. Pertama, ia menolongnya memunguti buku-buku saat Justin dengan sengaja menyenggol Anna sehingga buku-bukunya terjatuh, dan yang kedua, Max menolong Anna saat gadis itu terkena bola yang sengaja ia tendang ke arahnya. Padahal sebagai sahabat, Max tahu benar kalau dirinya membenci Anna. Tapi entah mengapa sahabatnya itu justru menjadi penolong Anna. Apa mungkin Max menyukai Anna? Apa Max sengaja memanfaatkan keadaan untuk mendekati Anna? Justin mengepalkan tangannya erat. Tidak! Ia tidak bisa membiarkan sahabatnya itu terjebak pada pesona gadis palsu itu.