
Anna membolak balikkan catatannya. Beberapa hari lalu, ia sudah mencari rumah sewa, dan ada beberapa yang menarik perhatiannya. Anna berpikir sejenak, mencoba menghitung jumlah uang yang ia butuhkan untuk menyewa rumah.
" Kurasa yang ini jauh lebih baik, meski rumahnya kecil, setidaknya jaraknya tidak cukup jauh dengan rumah penitipan dan tempat kerjaku " gumamnya.
Setelah meyakinkan dirinya sendiri. Ia lalu merapikan tasnya. Hari belum terlalu sore, masih ada waktu untuk bertemu si pemilik rumah dan melakukan negosiasi harga.
Setahun telah berlalu semenjak ia memutuskan untuk bekerja. Dan Anna bersyukur ia bisa bekerja di butik ini. Sembari melayani pelanggan, Anna dapat mengembangkan bakatnya dalam merancang busana. Awalnya ia membuat sketsanya secara sembunyi-sembunyi, sampai pada suatu waktu, Nyonya Teresha tidak sengaja melihatnya. Bukannya marah, majikannya itu justru mendukungnya untuk mengembangkan bakatnya. Dan ternyata banyak pelanggan yang memuji desainnya. Akibatnya bisa ditebak, perlahan posisinya sebagai pelayan bergeser menjadi seorang perancang, meski begitu, Anna tidak merasa sungkan untuk melayani pelanggan langsung. Sikapnya yang ramah, membuat para pelanggan menyukainya. Butik Nyonya Teresha pun berkembang pesat berkatnya.
Anna melangkahkan kakinya ke rumah kecil di jalan Lily, begitu melihatnya, pikiran Anna seakan terbawa pada rumah lamanya. Rumah itu benar-benar mungil, persis seperti rumah lamanya yang entah sekarang dimiliki oleh siapa. Marissa telah menjualnya beberapa saat sebelum ia pergi keluar negeri.
" Nyonya Rose ? " tanya seorang lelaki berperawakan kurus tinggi padanya.
Anna mengangguk.
" Syukurlah, kupikir kau tidak akan datang. Mari, saya perlihatkan rumah ini pada Anda. "
****
" Apa ? Kau menjualnya? Bagaimana mungkin ? Bukankah kemarin kita sudah sepakat dengan harganya. Bagaimana kau bisa melakukannya ? " Anna berteriak marah di telepon, sampai Joanna menghentikan aktifitas bermainnya dan terdiam menatapnya.
" Maafkan saya Nyonya, tapi ada orang lain yang menginginkan rumah itu dengan harga yang jauh lebih tinggi. Dan saya sendiri juga sedang membutuhkan banyak uang. Maaf, Nyonya. "
Klik. Telepon dimatikan sepihak, membuat Anna mengumpat karena emosinya.
" Ada masalah ? " tanya Jason dengan wajah yang melongok dari pintu. Sepertinya ia mendengar umpatan Anna. Anna langsung merubah sikapnya, ia pura-pura tenang di depan Jason.
" No, nothing " jawabnya sambil tersenyum. Sebuah senyuman yang dipaksakan.
" Good. Aku kemari karena sarapan pagi belum tersedia. Apa kau melupakannya ? " sindir Jason.
" Oh, ya.. Aku akan segera menyiapkannya. "
" Tidak perlu. Aku akan sarapan di tempat Ashley saja "
" Ya, silakan " jawab Anna. Jason menutup pintu kamar Anna. Dan segera Anna mengacak rambutnya hingga berantakan.
" Tidak apa. It's okay. Aku hanya sedang tidak beruntung. Masih ada rumah sewa yang lain. Aku pasti mendapatkannya dan segera pergi dari rumah ini " Anna menyemangati dirinya sendiri.
*****
" Apa? Rumah ini tidak kau sewakan ? Bukankah jelas-jelas kau memasang iklan dikoran untuk menyewakannya ? "
" Maaf Nyonya, tapi kami berubah pikiran, kami ingin lebih lama tinggal dirumah ini. "
Klik. Panggilan terputus. Anna memegangi dahinya. Sudah sepuluh nomor telepon yang ia hubungi. Nomor telepon yang dipasang di iklan penyewaan rumah. Tetapi jawaban mereka semua sama. Rumah tidak disewakan. Beberapa dikarenakan rumahnya terjual, ada pula yang berubah pikiran dan tidak jadi menyewakan rumahnya, sama seperti si penjawab nomor telepon terakhir yang ia hubungi.
Anna memijit dahinya. Kenapa semua begitu kebetulan? Kebetulan mereka semua beruntung dalam hal persewaan rumah, tidak seperti dirinya.
Anna memandangi berkas dalam map coklat ditangannya. Berkas itu berisi dokumen pengurusan perceraian. Ia sudah menyiapkan semuanya. Rencananya, begitu ia mendapatkan rumah, berkas yang sudah ia tanda tangani itu akan ia bawa ke kantor catatan sipil. Ia akan mengajukan perceraian. Tetapi tampaknya ia harus menunggu sedikit lebih lama lagi. Anna memasukkan map coklat itu ke dalam laci meja kamarnya.
Anna menuruni anak tangga dengan malas. Terdengar suara Ashley yang sedang tertawa dengan manja. Entah sejak kapan wanita itu disini, mungkin sejak tadi malam, atau mungkin pagi-pagi sekali ia sudah bertandang ke rumah ini.
Anna duduk dimeja makan, mengambil sepotong roti dan mengoleskan selai nanas.
" Sudah kubilang, kau tidak cocok bekerja. Lebih baik kau mengurus rumah. Itu lebih pantas untukmu " sindir Jason.
Jason memang sudah mengetahui kalau istrinya bekerja sebagai pelayan di sebuah butik. Awalnya ia marah besar, namun pada akhirnya ia mengalah karena yakin kalau Anna pasti tidak tahan dengan pekerjaannya dan memutuskan untuk resign.
" Aku ? Aku bisa melakukan keduanya. Kau bisa lihat, makanan di meja ini adalah hasil karyaku, bukan ? " jawab Anna dengan sarkas.
" Kau mengatakan dirimu seolah-olah yang terhebat. Padahal yang kulihat hari ini kau bahkan tidak punya tenaga untuk sekedar mengoleskan selai. Kurasa pekerjaanmu terlalu berat di butik. "
" Setidaknya aku menghasilkan uang dari hasil keringatku sendiri, bukan dengan menjual tubuh pada suami orang. " balas Anna dengan pedas.
" Heyy... " Ashley merasa tersindir.
" Lebih baik aku segera berangkat. Percakapan ini hanya menyia-nyiakan energiku. " tukas Anna dan segera bangkit dari duduknya.
" Dia terlalu berani sekarang. Kau harus menghukumnya, sayang " rajuk Ashley.
" Akan kupikirkan nanti. Dia hanya sedang kesal. "
***
" Apa? Rumah ini sudah terjual ? " pekik Anna tidak percaya pada sesosok pria tua dihadapannya.
" Iya, maaf, Nona, sesaat setelah kami menerima telepon darimu, ada seseorang yang datang dan menawar rumah kami dengan harga yang cukup tinggi. Sekali lagi, maaf " pria itu menjelaskan. Ada guratan penyesalan di wajahnya.
Anna mendengus kesal. Ia benar-benar kesal sekarang. Ini sudah rumah kesekian kali yang ia datangi. Dan hasilnya selalu nihil. Ia merasa sangat menyedihkan sekarang.
" Aku tidak percaya semua ini terjadi padaku. " kata Anna pelan.
" Bersabarlah, Nona. Kau hanya tidak beruntung saja. Mungkin rumah ini tidak berjodoh denganmu. Mungkin ada rumah yang jauh lebih bagus di luar sana untukmu. " wanita disebelah pria itu menasehati. Anna mengangguk pelan.
" Aku tahu. Mungkin itu sebabnya semua rumah yang aku datangi selalu saja terjual. " katanya.
" Bersemangatlah. Andai saja kita lebih dulu bertemu, aku pasti akan mempertimbangkanmu. Pria yang membeli rumah ini sepertinya juga hanya asal membeli saja, ia tidak terlihat membutuhkannya. Ia hanya bilang, bos nya menginginkan rumah ini. Entah mengapa. Orang kaya memang begitu. Tuan Wilderman sepertinya hanya ingin mengurangi sedikit uang di dompetnya.. "
" Tunggu, kau bilang tadi siapa ? Tuan Wilderman ? "
" Iya, Tuan Wilderman, salah satu orang kaya di kota ini.... "
Anna sudah tidak mendengar lagi kelanjutan perkataan wanita itu. Ia merasa marah sekali.
****
" Teganya kau melakukan itu ! " kata Anna dengan marah begitu memasuki ruang kerja Jason. Setelah kejadian tadi sore, ia langsung menghubungi Roberta, menanyakan perihal Jason yang ternyata seharian ini berada di rumah bersama Ashley.
" Hei, kau, sopanlah sedikit " Ashley merasa terganggu karena kemesraannya dengan Jason harus terganggu akan kedatangan Anna yang tiba-tiba saja masuk ruangan tanpa permisi. Ia segera merapikan pakaiannya.
" Mengapa kau menyuruh anak buahmu membeli rumah itu ? Kau tahu aku akan menyewanya 'kan ? " tuduh Anna tanpa menghiraukan Ashley.
" Rumah mana yang kau maksud ? Terkadang aku lupa barang atau istri mana yang kubeli " jawab Jason tenang, ia bahkan menekankan kata "istri ".
Anna berdecak, marah.
" Rumah di gang lily, di ocean hills, dan beberapa lagi rumah yang seharusnya sudah aku sewa tapi semuanya ternyata sudah kau beli.. "
" Oh, maaf, aku mungkin terlalu gegabah dalam membeli rumah. Aku bahkan tidak memperhitungkan kalau kau juga menginginkannya. Kenapa kau tidak memohon saja padaku ? Mungkin aku akan berbaik hati memberikan satu padamu dan kau tidak perlu menyewa lagi. "
Anna membuang pandangannya ke arah lain.
" Ngomong-ngomong, kenapa kau ingin menyewa rumah. Apa rumahku tidak cukup besar untukmu ? "
" Bukan urusanmu! "
" Akan jadi urusanku kalau ada hubungannya dengan ini " Jason melemparkan map coklat. Anna terkejut. Ia mengenali dengan jelas map coklat itu. Berkas perceraian. Bagaimana mungkin ada di tangan Jason ? Seingatnya, berkas itu tersimpan rapi di laci meja kamarnya.
" Kau akan berakhir di jalanan kalau perceraian ini benar-benar terjadi. Tanpa uang, tanpa pekerjaan dan tentunya tanpa joanna. " ancam Jason.