Anna&Justin- Cinta Di Musim Panas

Anna&Justin- Cinta Di Musim Panas
Pertemuan Marrissa dan Morgan


" Apa yang sedang kau lakukan? " tanya Anna begitu masuk kamar rawat inap pada Marrissa saat melihat kakaknya itu sedang bersusah payah memasukkan pakaian ke dalam tas.


" Seperti yang kau lihat, aku sedang berkemas-kemas "


Marrissa menjawabnya dengan senyuman yang mengembang di wajah cantiknya.


" Untuk apa? " tanya Anna penasaran. Ia melemparkan tubuhnya di kursi tunggu. Melepaskan penatnya setelah bekerja seharian.


" Pulang. Besok pagi kita boleh pulang. Dokter bilang Ibu sudah bisa rawat jalan " Marrissa menjelaskan sambil tangannya sibuk melipat pakaian untuk kemudian dimasukkan ke dalam tas.


" Tapi... " Anna masih bingung. Marrissa menyadarinya. Ia menghentikan kegiatannya dan menatap Anna.


" Jason yang membayarkan seluruh biaya rumah sakit. Kita tidak perlu khawatir lagi " jelas Marrissa. Anna menarik nafas lega.


" Thanks God " Anna mengucap syukur. Ternyata Jason Wilderman tidak sedingin penampilannya. Ia masih punya hati juga.


" Dia bilang ini sebagai bentuk tanggungjawabnya kepadaku sebagai janda mendiang Ayahnya " Marrissa menambahi.


" Memang seharusnya begitu " Anna menimpali.


" Anna, tentang rumah kita.. "


" Jangan khawatir, kita pasti bisa membayarnya. Aku akan bekerja lebih keras lagi.Hmm, kalau sedari awal dia bersedia membayarnya, kita tidak perlu menggunakan uang Morgan untuk mencicil biaya rumah sakit dan uang itu bisa kita gunakan untuk membayar tunggakan angsuran bank " kata Anna sedikit menyesal.


" Maafkan aku yang terlambat mengambil keputusan " sesal Marrissa. Anna bangkit lalu berjalan mendekati kakaknya.


" Bukan salahmu. Tapi salah si dingin Jason itu yang terlambat datang " katanya sambil mengerling nakal. Mereka berdua pun tertawa.


" Anna, sebenarnya aku... " Marrissa tidak melanjutkan kalimatnya. Ia masih ragu untuk mengatakan perihal pinjaman dari Jason.


" Kenapa? " tanya Anna sambil duduk di ranjang Ibunya.


" Aku meminta Jason membantu kita melunasi hutang bank.... " kata Marrissa pada akhirnya.


" Apa? Lalu apa jawabannya? " potong Anna. Ia menduga kalau Jason pasti menolak permintaan kakaknya.


" Dia setuju " kata Marrissa pendek. Anna tidak percaya mendengarnya.


" Really ? " tanyanya seakan tidak percaya.


Marrissa mengangguk.


" Wow. Dia mau membayarnya? Ini benar-benar luar biasa. Ternyata dia tidak sejahat dugaanku. Waktu pertama kali bertemu dengannya, kupikir dia hanya orang kaya yang sombong. Ternyata aku salah " Anna memuji Jason. Marrissa hanya diam. Ia belum memberitahu Anna kalau Jason meminta imbalan untuk semua bantuannya.


" Kenapa kau diam? Apakah kau tidak suka kalau kita kembali ke ... " Anna tidak melanjutkan kata-katanya. Ia ingat, Marrissa pernah mengatakan bahwa ia tidak ingin tinggal di rumah kecil itu lagi. Kembali ke rumah itu pasti bagai memakan buah simalakama bagi kakaknya itu. Tapi mereka memang tidak mempunyai pilihan lain. Hanya rumah kecil itu yang mereka miliki.


" Aku suka. Aku pasti akan menyukainya " jawab Marrissa cepat.


Anna turun lagi dari ranjang Ibunya mendekati kursi roda kakaknya. Ia lalu meraih tangan kakaknya dan menatap kakaknya lekat.


" Maaf, Marrissa. Tapi kita tidak punya pilihan lain selain kembali ke rumah. Tidak ada tempat lain lagi bagi kita. Lagipula, walaupun kecil, rumah kita rapi dan bersih. Ada kebun bunga kecil yang aku buat bersama Adam di halaman. Para tetangga kita juga sangat ramah. Kau akan menyukainya " Anna mencoba meyakinkan kakaknya.


Marrissa tersenyum mengetahui adiknya telah salah paham terhadapnya. Ia tidak lagi mempermasalahkan rumah itu, tetapi ia sedang memikirkan imbalan apa yang diinginkan Jason karena ia tahu dengan pasti bahwa uang bukanlah masalah untuk pria itu. Pasti ada hal lain yang diinginkannya. Tapi ketika melihat keceriaan di wajah adiknya tadi, membuat Marrissa mengurungkan keinginannya untuk memberitahu Anna tentang masalah ini.


" Ayo kita lanjutkan berkemas. Ibu pasti juga sudah tidak sabar untuk pulang. Benar kan Bu? " ajak Anna dengan semangat sambil menatap Ibunya. Seperti biasanya, Kattie hanya membalas dengan kedipan mata sebagai tanda bahwa ia setuju.


Keesokan paginya. Anna bangun pagi-pagi sekali. Tampaknya ia benar-benar tidak sabar untuk segera pulang ke rumah. Ya, siapa pula yang tidak merindukan untuk tidur di ranjang yang hangat setelah hampir satu bulan tidur di kursi rumah sakit yang dingin? Semua orang pasti menginginkan hal itu bukan? Setelah mandi, Anna kembali mengecek barang-barang yang telah dikemasnya untuk memastikan tidak ada satupun barang yang tertinggal. Ia juga sudah meminta izin pada Tuan Smith untuk tidak berangkat kerja hari ini. Hari ini hatinya benar-benar gembira. Bahkan ia bernyanyi riang saat membantu Marrissa merapikan rambutnya. Marrissa hanya bisa tersenyum melihat tingkah laku adiknya.


Tok. Tok. Sebuah ketukan di pintu ruang rawat inap mereka.


" Masuk " kata Anna dan Marrissa serempak. Lalu muncullah seorang pria dengan rambut sebahunya dari balik pintu.


" Morgan!! " Anna berseru senang. Ia lalu bergegas ke arah pintu dan memeluk Morgan.


" Sudah lama sekali kau tidak datang. Aku merindukanmu " kata Anna senang.


" Aku juga merindukanmu, adik kecil " balas Morgan. Ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling dan mendapati seorang wanita cantik dengan kursi rodanya di sana. Marrissa melihatnya sambil tersenyum manis. Ia sudah pernah melihat Morgan di pemakaman Adam beberapa waktu lalu. Selain itu, Anna sudah pernah bercerita tentang pria itu padanya. Jadi, ia sedikit tahu mengenai Morgan, pria di depannya saat ini.


" Siapa dia? " tanya Morgan sambil melepaskan pelukannya pada Anna. Ia sedikit salah tingkah rupanya.


" Oh, itu kakak perempuanku, namanya Marrissa. Kalian berdua saling menyapalah satu sama lain " titah Anna.


" Aku tidak tahu kau punya kakak lain selain Adam " gerutu Morgan. Tapi ia menghampiri Marrissa juga.


" Aku memang tidak pernah ada di rumah. Maaf " kata Marrissa. Morgan mengulurkan tangannya.


" Morgan. Morgan Knight "


Marrissa menyambut uluran tangannya.


" Senang berkenalan dengan Anda, Tuan Knight " jawab Marrissa ramah.


" Morgan, panggil aku Morgan saja "


" Ehem " Anna pura-pura batuk karena melihat Morgan yang menjabat tangan Marrissa begitu lama. Sepertinya ia begitu terpesona dengan kecantikan Marrissa. Morgan melepaskan tangannya. Ia sangat salah tingkah sekarang.


" Bagaimana keadaan Ibumu, Anna ? " tanyanya untuk mengalihkan perhatian. Ia lalu mendekati Kattie yang masih tertidur lelap.


" Ibu sudah sadar. Ia semakin membaik sekarang " jawab Anna.


" Oh, syukurlah kalau begitu. Aku senang mendengarnya "


" Morgan, apa kau membawa mobil? " tanya Anna.


" Ya. Kenapa ? "


" Apa mobilmu baik-baik saja? "


" Sepanjang perjalananku kemari, aku tidak bermasalah dengan mobilku "


" Syukurlah. Jadi kami tidak perlu memesan taksi " kata Anna senang. Morgan mengernyit.


" Kami akan pulang ke rumah hari ini. Kau harus mengantarkan kami pulang dengan selamat " perintah Anna seenaknya.


" Anna, tidak sopan berbicara begitu " Marrissa menyela.


" Biarkan saja. Dia memang seperti itu padaku " kata Morgan memelas. Marrissa memandang Morgan hingga Morgan semakin salah tingkah. Anna terkikik geli melihatnya.