Anna&Justin- Cinta Di Musim Panas

Anna&Justin- Cinta Di Musim Panas
Justin pergi


Plak! Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Anna. Anna tercengang. Ia sama sekali tidak menyangka akan mendapatkannya, terlebih tamparan itu berasal dari temannya, Drew yang kini tengah berdiri di depannya dengan wajah merah padam. Tak diragukan lagi, wanita itu sangat marah pada Anna.


" Kenapa kau begitu egois ? Semua ini karena salahmu !! Kau penyebab Justin kecelakaan. " berkali-kali Drew berteriak memarahinya dengan mata berlinang.


Anna bahkan tidak bisa berkata apapun untuk membela dirinya.


" Aku tidak akan pernah memaafkanmu kalau terjadi sesuatu pada Justin ! "


****


" Bagaimana dokter ? " Drew terlihat sangat khawatir. Ia langsung berbicara pada dokter dan sedikit membawanya menjauh, seolah melupakan kehadiran Anna di rumah sakit. Anna menarik nafas dalam. Ia menatap Justin dari balik kaca. Ada rasa sesal di dalam hatinya. Mungkin Drew benar. Secara tidak langsung, ia adalah penyebab kecelakaan yang menimpa Justin. Andai saja mereka tidak berjanji untuk bertemu sore itu, mungkin kecelakaan tidak akan menimpa Justin.


Anna menatap selang-selang kecil yang tertempel di tubuh Justin. Pasti sangat menyakitkan. Justin yang malang.


****


" Nyonya Olivia ? " Anna berseru kaget. Saat ini, ia baru saja tiba untuk menjenguk Justin. Ya, hanya menjenguk, karena Drew bersikeras untuk tidak mengizinkannya menjaga Justin. Sebenarnya Anna sedikit kesal, karena menurutnya Drew tidak berhak melarangnya. Drew tidak mempunyai hubungan selain sebagai teman kerja, tidak seperti dirinya yang adalah kakak ipar Justin. Tapi apa boleh buat, Drew seakan berjaga 24 jam disisi Justin. Anna tidak menemukan celah sedikitpun untuk menyelinap menemui Justin. Ia hanya bisa menatapnya dari luar kaca, seperti waktu pertama kali ia mendatangi rumah sakit ini saat Justin kecelakaan.


" Oh, Anna. Apa kabar ? " Nyonya Olivia terdengar canggung, tidak seramah biasanya. Mungkin karena Drew ada disampingnya, pikir Anna.


Anna melirik Drew yang terlihat tidak suka dengan kedatangannya. Nyonya Olivia sepertinya memahami situasinya.


" Masuklah dulu, Drew. Ada yang harus aku bicarakan dengan Anna. " perintahnya halus. Drew terpaksa menurutinya meski Anna bisa melihat dengan jelas kalau temannya itu terpaksa melakukannya.


" Nyonya kapan datang ? Apakah Josh juga ikut bersama Anda ? " Anna mencoba mengakrabkan diri, seperti sebelumnya.


" Aku datang semalam dan Josh tidak ikut bersamaku. " jawab Nyonya Olivia singkat dan dingin. Terlihat jelas kalau dirinya tidak ingin berbasa-basi dengan Anna. Anna menjadi kikuk. Pasti Drew bicara yang tidak-tidak tentang dirinya sehingga Nyonya Olivia terkesan mengacuhkannya, tidak seperti dulu yang begitu hangat padanya. Begitu pikirnya.


" Anna, aku harus bicara serius denganmu "


" Baik, Nyonya. Apa kita harus ke suatu tempat. Ke kantin misalnya ? " Anna menawarkan.


" Tidak. Disini saja. " jawabnya singkat.


" Kalau begitu, mari kita duduk di... "


" Tidak perlu. Aku tidak akan lama. " tolak Nyonya Olivia. Anna menelan ludah. Sepertinya Nyonya Olivia bukan hanya sekedar canggung karena Drew, tapi sudah benar-benar marah kepadanya.


" Baiklah. "


" Anna, aku ingin kau menjauhi Justin. Jangan berteman dengannya. Jangan mengikutinya dan bahkan kalau perlu kau tidak usah lagi berbicara padanya. "


" T-tapi kenapa, Nyonya ?. "


" Apa kau tidak sadar siapa dirimu sekarang ?. "


" Kau adalah istri Jason, kakak Justin. Seharusnya kau paham bahwa seorang wanita yang telah bersuami tidak bisa bergaul sembarangan dengan lelaki lain." Nyonya Olivia menambahkan.


" Tapi Nyonya, saya dan Justin tidak ada hubungan apapun selain sebagai saudara ipar. " Anna mencoba membantah.


Nyonya Olivia menghembuskan nafas panjang.


" Mungkin menurutmu begitu. Tapi bagaimana dengan orang lain ? Aku rasa diluar sana jauh lebih banyak pendapat yang berbeda denganmu. Lagipula apa kau tidak memikirkan perasaan Jason ? ... "


" Aku dan Jason.. " Anna hampir saja mengatakan kebenarannya, tetapi Nyonya Olivia memotongnya.


" Anna, aku tahu kau wanita yang baik. Aku juga tahu seperti apa putra-putraku. Bagaimana sifat Justin demikian juga dengan Jason. Aku tahu Jason mampu berbuat apapun saat dirinya marah... "


" Ma-maksud Nyonya ? "


Nyonya Olivia mengangguk, seperti mengiyakan apa yang ada di benak Anna.


" Aku tidak ingin kedua anakku saling menyakiti. Mengertilah. Ini yang terbaik bagi kita semua. " Nyonya Olivia mengakhiri kalimatnya dan berbalik , masuk ke kamar rawat inap Justin, meninggalkan Anna sendirian.


****


Anna pulang kerumah dengan perasaan tidak menentu. Ia masih mencerna perkataan Nyonya Olivia tadi. Apa benar dugaannya kalau semua ini perbuatan Jason ? Apa dia setega itu pada adik tirinya ? Lalu untuk apa dia melakukannya ? Bukankah Jason tidak peduli padanya ?


***


Sebuah taksi berhenti di halaman kediaman Wilderman. Anna mengurungkan niatnya untuk keluar dari taksi tatkala melihat Jason sedang membukakan pintu mobil untuk seorang wanita. Siapa lagi kalau bukan Ashley. Bahkan disaat adiknya sedang terkapar di rumah sakit, Jason tetap tidak berhenti main gila dengan wanita itu.


" Apa Anda berubah pikiran, Nona ? " tanya sopir taksi itu.


" Tidak. Bisakah Anda menunggu sebentar ? Aku akan turun sebentar lagi. " jawab Anna. Sopir taksi itu mengangguk. Sepertinya ia memahami situasinya. Anna menunggu hingga mobil Ashley melintas melewatinya.


" Kukira kau akan bermalam di taksi tadi ? " sindir Jason begitu Anna masuk rumah. Rupanya ia tahu Anna berada dalam taksi dan sengaja menunggu istrinya itu masuk rumah.


" Kurasa kau terlalu mengkhawatirkanku " Anna balik menyindir. Jason mendengus.


" Aku khawatir kau takut turun karena ada Ashley. Jangan takut, dia tidak menginap disini malam ini. "


" Hmm, bahasamu kasar sekali, Anna. "


" Oya ? Lalu apa kata yang tepat untuk itu ? Atau aku harus bilang kalau setiap hari kalian berc**** di rumah ini ? "


" Kau mulai keterlaluan. "


" Kau yang keterlaluan. Kau bahkan tidak peduli adikmu berada di rumah sakit. "


" Ralat, adik tiri. "


" Terserah. Tetap saja dia adikmu. Seharusnya kau menengoknya. "


" Untuk apa ? Dia toh akan pulang kerumah ini. Kami bisa bertemu setiap hari. " jawab Jason tak acuh.


" Rupanya aku salah. Hatimu bahkan tidak tersentuh sedikitpun dengan peristiwa yang menimpa Justin. Apa benar dugaanku ? Itu semua perbuatanmu ? "


" Maksudmu ? Kau menuduhku ? "


" Kau pernah mengatakan kalau kau akan memberikan pelajaran dengan tanganmu sendiri. Apa itu maksudnya ? "


" Kau ?.. Ah, sudahlah, kau tidak akan percaya semua perkataanku. " kata Jason pada akhirnya.


****


" Jadi pasien sudah dipindahkan ? " tanya Anna pada bagian administrasi rumah sakit. Hari itu, ia tidak kuasa menahan rindunya untuk bertemu Justin hingga akhirnya ia nekad datang ke rumah sakit meski Nyonya Olivia sudah melarangnya.


" Kondisi pasien sangat baik dan orangtuanya menginginkan untuk membawanya pulang. " perawat itu menjelaskan.


Setelah mengucapkan terimakasih pada perawat itu, Anna segera mengambil ponselnya untuk menghuhungi Roberta. Tapi hasilnya nihil. Roberta mengatakan tidak ada siapapun yang berkunjung ke rumah hari ini. Anna tertegun. Kemana Nyonya Olivia membawa Justin ?.


*****


Anna mondar-mandir di halaman rumah sakit. Ia ingin mengetahui keberadaan Justin. Tetapi ia tidak tahu harus bertanya pada siapa. Tidak mungkin ia bertanya pada Jason, mengingat pria itu bahkan tidak peduli akan keadaan adik tirinya. Menghubungi Nyonya Olivia lebih tidak mungkin lagi. Ibu Justin itu tidak pernah mau mengangkat telepon darinya semenjak pembicaraan terakhir mereka di rumah sakit. Hanya Drew yang mungkin tahu keberadaan Justin. Pada pertemuan mereka dulu, Drew terlihat akrab dengan Nyonya Olivia. Jadi kemungkinan besar, Drew tahu keberadaan Justin. Tetapi apa Drew mau mengatakan hal itu padanya ? Bukankah ia begitu marah saat tahu Justin kecelakaan, dan bahkan ia menuduh Anna sebagai penyebabnya ?


Anna menarik nafas dalam kemudian menghembuskannya. Saat ini, hanya Drew harapannya. Ia harus menemuinya.


***


" Ada apa ? " tanya Drew ketus pada Anna yang sedari tadi mengikutinya saat ia keluar dari gedung kantornya. Sedari tadi ia mencoba menghindari Anna, tetapi pada akhirnya ia tidak memiliki pilihan lain selain menghadapinya.


" Justin. Dimana dia ? " tanya Anna.


Drew mencibir sinis.


" Aku tidak tahu. "


" Benarkah? Drew, kumohon, jujurlah. " Anna memohon.


" Aku sudah mengatakannya. Kapan kau akan sadar ? Kau begitu egois, Anna. Kau sudah memiliki keluarga sendiri. Kenapa kau masih mengusik Justin ? Kau adalah penyebab semua ini. Kalau kau memang wanita baik-baik, jauhi Justin !. "


" Drew, aku menanyakan keberadaannya bukan untuk menemuinya. Aku hanya ingin tahu kalau dia baik-baik saja. "


" Pertama kau hanya ingin tahu. Setelah itu kau akan mencoba menemuinya. Kau akan mengusiknya. Dan semua akan terulang kembali. Ini seperti mata rantai. Tidak bisa berhenti kecuali kau memutuskannya sendiri ! "


" Kumohon, Drew, aku janji, aku tidak akan menemuinya. Aku berjanji padamu. Kau bisa memegang kata-kataku. "


" Cih !! Aku bahkan tidak sudi bersentuhan dengan kata-katamu itu. "


" Drew, kumohon... "


" Pergilah. Atau aku panggil petugas untuk mengusirmu. ! "


****


Anna turun dari taksi dengan lesu. Tepat seperti dugaannya. Drew tidak memberitahunya. Entah karena dia memang tidak tahu, atau karena dia tidak ingin memberitahu keberadaan Justin pada Anna.


" Dia tidak memberitahumu ? " sebuah suara familiar menyapanya. Anna mendongakkan wajahnya. Jason berada di teras rumah. Pria itu mungkin menunggu kepulangannya. Tapi apa yang ia katakan barusan ?.


" Sayang sekali. Padahal dia ikut mengantar. Mungkin kau harus berlutut di depan temanmu itu agar ia memberitahumu. " suara Jason terdengar mengejek.


" Apa maksudmu ? "


" Kau ingin tahu keberadaan Justin kan ? Seharusnya kau bersikap baik agar temanmu mau memberitahukannya padamu. "


" Kau bilang Drew ikut mengantar Justin ? "


" Ya. " jawab Jason pendek. Anna tersenyum.


" Berarti kau juga tahu dimana dia berada. "