Anna&Justin- Cinta Di Musim Panas

Anna&Justin- Cinta Di Musim Panas
Sebuah janji


Anna mengusap peluh yang menetes di dahinya. Siang ini matahari bersinar cukup terik. Setelah menyeka peluhnya, Anna kembali melanjutkan aktifitasnya merapikan tanaman di taman kecil belakang rumah keluarga Wilderman. Anna menghela nafas. Dulu, kegiatan seperti ini selalu ia lakukan sambil bercanda bersama Adam. Tapi saat ini, tidak ada seorangpun yang membantunya. Bahkan disaat ia sedang hamil pun, ia harus melakukan semua pekerjaannya sendirian.


" Kau bisa istirahat sebentar kalau kelelahan " seseorang berseru dibelakangnya. Anna tidak mengindahkannya. Ia masih terus memotong ranting ranting kecil yang tumbuh tidak beraturan. Ucapan Jason barusan bagaikan angin lalu ditelinganya. Bukannya membantu, malah hanya menyuruhnya beristirahat sebentar. Apa dia tidak peduli padanya? setidaknya pada anak yang saat ini dalam kandungannya, batin Anna.


" Terserah kalau kau tidak mau beristirahat. Toh kau juga tetap harus menyelesaikannya. Lagipula semakin cepat selesai semakin baik " Jason terus saja menceramahinya. Anna tidak ambil pusing. Ia tetap pada pekerjaannya semula. Lebih cepat selesai memang akan lebih baik. Setidaknya ia bisa membaringkan tubuhnya dan beristirahat lebih lama. Jujur saja, sinar matahari yang panas ini membuatnya tidak nyaman. Ia merasa sedikit pusing setiap kali berdiri setelah berjongkok atau menunduk untuk merapikan ranting-ranting kecil yang tumbuh tidak beraturan itu. Krrrkkk. Bunyi perutnya yang lapar menambah rasa tidak nyamannya. Ia memang belum memakan apapun dari tadi pagi. Anna mengusap perutnya lembut.


" Sabar ya sayang. Sebentar lagi pekerjaan kita selesai. Dan kita bisa makan dan beristirahat " katanya pelan. Anak dalam kandungannya ini sepertinya anak yang kuat. Sampai detik ini, Anna sama sekali tidak mempunyai keluhan atas kandungannya, kecuali mual dan muntah di awal kehamilannya dulu.


Anna melirik Jason sekilas. Majikan sekaligus suaminya yang dingin dan kejam itu rupanya mulai bosan menceramahinya. Dari sudut matanya, Anna bisa melihat Jason yang meninggalkannya dengan raut wajah yang kesal.


" Sedikit lagi selesai " kata Anna menyemangati dirinya sendiri. Panas matahari semakin terik. Anna menelan ludah. Baru saja terbayang di wajahnya, segelas limun dingin. Ia ingin segera menyelesaikan pekerjaannya dan meminum segelas limun dingin hingga tandas.


Anna mempercepat potongannya pada ranting ranting kecil itu. Sambil sesekali mengusap keringatnya. Semuanya harus segera selesai. Tapi tiba-tiba saja pandangannya terasa kabur, hingga akhirnya semuanya gelap.


*****


Anna membuka matanya. Kepalanya terasa pening sekali. Samar-sama dilihatnya seseorang tengah menungguinya. Anna berusaha memperjelas pandangannya. Ternyata Jason yang tengah menungguinya. Pria itu tampak lega saat Anna membuka matanya, tapi dalam hitungan detik, wajahnya kembali berubah menjadi masam.


" Sudah aku bilang, kalau kau lelah, beristirahatlah. Dasar keras kepala. Kalau kau seperti ini, aku juga kerepotan. Harus menggendongmu kemari. Kau pikir badanmu tidak berat? Huh! " omelnya. Anna hanya diam.


Jason hendak meraih segelas air putih yang terletak di meja kecil di samping tempat tidur Anna, ketika tiba-tiba..


" Anna!! Kau tidak apa-apa ? " Justin berteriak panik dan segera menghampiri mereka berdua. Jason mengurungkan niatnya mengambilkan minum untuk Anna.


" Astaga. Apa yang terjadi denganmu ? Kau sakit? " tanya Justin dengan cemas. Ia lalu duduk disamping Anna, menggeser tempat Jason. Jason terlihat kesal. Akhirnya ia bangkit berdiri.


" Jangan lupa. Kau harus tetap menyelesaikan pekerjaanmu " katanya dingin sambil melangkah pergi.


" Hei. Ada apa denganmu? Kau tidak bisa melihat, dia sedang sakit " Justin memprotes ucapan kakaknya.


" Apa peduli ku? " jawab Jason santai dan pergi meninggalkan mereka berdua. Justin menghembuskan nafasnya dengan kasar.


" Dasar bre*****!! Tidak punya perasaan " umpatnya. Ia lalu mengalihkan pandangannya pada Anna yang terlihat pucat.


" Kau tidak terlihat sehat. Bagaimana kalau aku mengantarmu ke dokter? "


Anna menggeleng.


" Kalau begitu, minumlah dulu " kata Justin sambil mengambil segelas air dari meja kecil itu dan membantu Anna meminumnya. Anna pun meminumnya. Dalam hati ia merasa aneh, kenapa bisa ada segelas air di meja kecilnya? Apa Jason yang mengambilkannya? mengingat Justin baru saja tiba.


Justin menatap Anna dengan iba. Ia merasa bersalah. Andai saja ia tidak begitu egois meninggalkan Anna yang sedang terpuruk, maka tentu Anna akan baik-baik saja bersamanya.


" Maafkan aku " katanya lirih saat Anna selesai meminum minumannya.


" Untuk apa? " Anna menatapnya keheranan.


" Maafkan keegoisanku selama ini. Aku meninggalkanmu. Aku hanya mementingkan diriku sendiri. Aku tidak memikirkanmu. Seharusnya aku tahu bahwa semua ini juga sulit untuk kau hadapi sendirian. Maafkan aku "


" Tidak perlu meminta maaf Justin. Kau tidak bersalah. Semua yang terjadi tidak ada hubungannya denganmu " kata Anna sambil menyunggingkan senyumnya. Justin menatapnya lekat.


" Mulai saat ini. Aku berjanji. Aku akan selalu berada disampingmu saat kau membutuhkanku. Aku akan menjadi yang terdepan untuk membelamu. Bahkan, kalau kau mengijinkannya, aku akan membantumu merawat anak itu. Kau tidak perlu merengek pada laki-laki bre***** yang telah meninggalkanmu itu. Dia tidak lebih hanya seorang pengecut " kata Justin berapi-api.


Anna tertegun. Justin sama sekali belum tahu bahwa Jasonlah laki-laki itu. Dan kenyataan itu membuat hatinya gamang. Haruskah ia berterus terang pada Justin tentang hal itu? Bagaimana jika nantinya terjadi keributan antara Justin dan Jason karena dirinya? Apakah nanti Jason akan memarahinya kalau ia mengatakan hal yang sebenarnya pada Justin? Bagaimana nanti hubungan kedua bersaudara itu? Dan yang terpenting, apakah Jason akan tetap mengakui anak ini sebagai anaknya jika dia marah dan dirinya dianggap lancang ? Apa pula yang akan terjadi pada keluarganya jika sampai Jason marah besar padanya?


" Kau kenapa? apa kau tidak menyukai perkataanku tadi ? "


" eh, tidak, aku.. aku hanya ... " Anna berusaha mencari alasan yang tepat untuk menjawab pertanyaan Justin.


" Maaf kalau yang aku katakan tadi tidak berkenan di hatimu " Justin mengungkapkan penyesalannya. Dalam hati ia berpikir kalau ia terlambat mengatakan hal itu pada Anna sehingga Anna terlanjur menutup pintu hatinya untuknya.


Anna menggelengkan kepalanya.


" Tidak, Justin. Justru aku sangat berterimakasih. Apa yang kau katakan tadi sudah membuatku tenang. Aku merasa tidak sendiri lagi. Terimakasih. Tapi kumohon jangan berjanji padaku, karena aku tidak ingin kita saling membebani "


" Aku tidak akan pernah merasa terbebani olehmu " Justin mengusap kepala Anna lembut. Hati Anna menjadi berdebar. Astaga. Ini tidak boleh terjadi, jerit hati Anna.


" Justin, tentang pria itu.. "


Justin menggeleng.


" Jangan bicarakan tentang dia kalau itu hanya akan menyakiti hatimu. Lagipula aku tidak ingin mengetahuinya. Berjanjilah padaku, kau takkan mengemis pengakuannya. Aku tidak ingin melihatmu terhina. Menangis. Menderita. Cukup kemarin saja kau menderita. Mulai hari ini dan hari-hari berikutnya, kau harus bahagia. Tertawa. Makan makanan yang sehat. Apa saja. Demi anakmu "