Anna&Justin- Cinta Di Musim Panas

Anna&Justin- Cinta Di Musim Panas
Aku akan berusaha


" Apa kau hamil? "


Pertanyaan Roberta bagai sebuah petir menggelegar. Anna terkesiap. Ia bingung harus menjawab apa.


" Aku..aku hanya sedang tidak enak badan " dengan terbata Anna menjawabnya. Roberta memandangi tubuhnya dari atas ke bawah sampai Anna merasa kikuk. Anna lalu bergegas ke kamarnya tanpa menghiraukan tatapan aneh Roberta.


Di kamarnya, Anna menangis. Pertanyaan Roberta tadi menyadarkannya akan suatu hal. Ia memang belum datang bulan, bulan ini. Tetapi, bukankah terlalu dini untuk mengatakan kalau dia hamil. Bisa saja ia hanya terlalu lelah bekerja, atau mungkin masuk angin, karena terkadang kepalanya terasa begitu pening. Tapi bagaimana jika ia benar hamil? Apa yang harus ia lakukan?


Sebuah ketukan di pintu kamar tidak didengarnya sama sekali. Ternyata Roberta yang mengetuk. Karena tidak ada jawaban, ia memutuskan untuk langsung masuk ke dalam kamar Anna. Dengan hati-hati ia duduk di tempat tidur,di samping Anna.


" Waktu aku seusiamu. Aku juga pernah melakukan kesalahan. Aku juga sama sepertimu. Takut menghadapi kenyataan. Tapi cepat atau lambat. Siap atau tidak siap. Kita harus menghadapinya. Jadi, jangan takut. Jangan pernah takut. Apapun yang terjadi, kau harus menghadapinya. Mungkin saat ini kau merasa sendiri. Tapi percayalah, disana, akan ada banyak orang yang membantumu. Hanya jika kau mengijinkannya " katanya dengan lembut. Anna yang menangis lalu memeluk Roberta erat. Wanita itu membelai rambut Anna.


" Jangan takut. Tenangkan hatimu "


Roberta menengadahkan wajah Anna padanya.


" Setelah mereka pergi, aku akan mengantarmu ke dokter "


Anna mengangguk, lalu kembali memeluk Roberta dengan erat.


****


Anna meremas kertas hasil pemeriksaan di tangannya. Dunianya terasa runtuh. Beberapa menit yang lalu, dokter yang memeriksanya memberikan kabar yang mengejutkan. Ia dinyatakan positif hamil empat minggu.


" Apa kau sudah memberitahunya? Ayah anak itu? "


Anna menggeleng. Bagaimana mungkin ia memberitahu pria itu? ia masih merasa takut saat berhadapan dengannya.


" Beritahu dia. Bagaimanapun ini adalah darah dagingnya juga. Dia harus bertanggungjawab " Roberta menasehatinya. Anna menarik nafas lalu membuangnya dengan kasar. Merasa sangsi, apakah pria itu akan bertanggungjawab setelah ia mengandung anaknya? Bahkan setelah kejadian itu, ia malah mengancam Anna.


" Bicarakan masalah ini dengan keluargamu. Mereka akan membantumu menemukan jalan keluarnya. Yang penting, jangan gegabah. Jangan mengambil keputusan sendiri, apalagi disaat hatimu sedang tidak menentu. Pikirkan masak-masak. Kau harus tenang. Dan ingat, Tuhan menghadirkan anak ini padamu, bukan sebagai bentuk hukuman bagimu, melainkan sebagai anugrah, agar kau bisa merasakan peran seorang Ibu. Jadi, apapun yang terjadi, rawatlah ia, besarkan dia dengan baik " kata Roberta sambil mengelus punggung Anna lembut. Anna mengangguk.


****


Dengan menggunakan taksi, Roberta mengantarnya sampai di depan halaman kediaman Wilderman. Sebelum turun dari taksi, Roberta memegang tangan Anna dan sekali lagi berpesan pada Anna.


" Jika kau merasa kesulitan, jangan sungkan memberitahuku. Aku akan membantumu sekuat tenagaku "


Anna mengangguk. Lalu turun dari taksi. Dengan langkah berat, ia menuju kediaman Wilderman.


" Dari mana saja kau? Aku menunggumu sedari tadi " Justin menyambutnya di depan pintu.


" Kau? menungguku? " Anna berusaha bersikap biasa saja untuk menyembunyikan kesedihannya.


" Ya, lebih tepatnya perutku yang menunggumu. Aku merasa lapar sekali " kata Justin sambil menepuk perutnya.


" Astaga. Maaf. Aku akan segera menyiapkan makan siang " Anna bergegas menuju ke dalam rumah. Karena terlalu lama di Rumah Sakit, ia hampir saja melewatkan tugasnya menyiapkan makan siang untuk majikannya.


****


" Bisakah kau menemaniku makan siang? " pinta Justin saat Anna hendak beranjak pergi usai menyiapkan makan siang untuk majikannya itu.


" Tapi aku... "


" Hanya sebentar. Lagipula si bre***** itu tidak akan pulang siang ini " potong Justin.


" Ini " Justin mengambilkannya sebuah piring dan mengisinya dengan lauk pauk.


" Kau harus makan siang denganku " pintanya tegas. Mau tidak mau, Anna menurutinya.


" Sudah lama sekali kurasa, kita tidak makan siang bersama " Justin membuka percakapan.


" Tapi bukankah kita memang tidak pernah makan siang bersama? " bantah Anna.


" Tapi kau selalu menunggu kami makan. Akhir-akhir ini kau tidak pernah melakukannya lagi " keluh Justin. Anna termangu. Sebelumnya, ia memang selalu menunggu majikannya makan dengan mengerjakan tugas lain di dapur dan akhir-akhir ini, semenjak peristiwa itu, ia selalu berdiam diri di dalam kamar setelah selesai menyiapkan makan.


" Masakanmu selalu enak, Anna " puji Justin.


" Terimakasih. Adam yang mengajariku memasak "


" Mendiang kakakmu? "


" Ya. Dia juru masak yang hebat di rumah kami "


" Kau merindukannya ya? "


Anna mengangguk.


" Tidak apa. Aku baik-baik saja " Anna menyendok sup dan memasukkannya ke dalam mulutnya.


" Benarkah? Aku senang mendengarnya. Kuharap hari ini adalah hari terakhir aku melihat matamu sembab karena menangis merindukan kakakmu "


Anna salah tingkah. Jadi, selama ini Justin memperhatikannya?. Andai Justin tahu, kalau kakak tirinya lah yang telah membuat dirinya seperti ini, Anna membatin.


" Oya, aku ingin membicarakan sesuatu denganmu "


" Apa? "


" Aku.. putus dengan Ashley " kata Justin cepat.


Anna mendelik. Apa? Putus? Bukankah minggu lalu, ia baru saja melihat mereka berdua berjalan bersama?


" Aku rasa itu yang terbaik. Ia gadis yang hebat. Semua orang berpikir kalau kami adalah pasangan yang serasi. Tapi tetap saja aku tidak bisa benar-benar mencintainya " Justin menjelaskan pada Anna yang terlihat keheranan dengan ucapannya tadi.


" Kalau kau tidak mencintainya? mengapa kau bersamanya? Maksudku, bukankah terdengar jahat sekali perbuatanmu itu? "


" Kau membelanya? " tanya Justin kesal. Ia pikir Anna akan menyukai kabar yang ia katakan. Tapi ternyata Anna sama sekali tidak menyukainya.


" Aku tidak membelanya. Hanya saja, aku tidak menyukai pria yang suka mempermainkan perasaan seorang wanita. Apa kalian pikir kami ini hanya mainan yang bisa dibuang kapan saja kalian merasa bosan? Kami juga punya perasaan .. " Anna menjelaskan dengan berapi-api.


" Tapi aku menyukai gadis lain " potong Justin.


" Aku sudah lama menyukainya. Aku selalu berharap untuk bisa dekat dengannya. Dan Tuhan telah mengabulkan doa ku. Aku semakin dekat dengannya. Hanya saja, sikapnya sering membuatku bingung. Jadi aku harus memastikan sekali lagi kalau perasaannya sama denganku "


" Bagaimana kalau dia tidak menyukaimu? "


" Aku harap itu tidak terjadi. Karena aku akan berusaha sekuat tenagaku agar dia juga menyukaiku. Tapi kalau memang tidak juga, apa boleh buat? yang penting, aku sudah berusaha "


Anna mengangguk.


" Jadi apa rencanamu sekarang? "


" Aku akan membuat dia menyukaiku "


" Oh.. bagus. Aku rasa itu bagus. Semoga berhasil "


"Ya, semoga aku berhasil. Oya, kamu tidak ingin tahu siapa dia? " tanya Justin.


Anna gelagapan. Andai keadaannya tidak seperti sekarang ini, maka dia akan sangat berharap bahwa dialah gadis yang disukai Justin. Tapi keadaannya sekarang lain. Jadi dia tidak berhak berharap. Dia hanya akan berdoa semoga patah hatinya tidak berlangsung lama.


" Aku..aku rasa tidak. Biar saja itu menjadi rahasiamu " bantah Anna. Justin mendesah pelan. Sikap Anna barusan membuatnya mengurungkan niatnya untuk memberitahunya tentang gadis yang ia sukai. Apa Anna memang tidak menyukainya?


" Kalau tidak ada lagi yang dibicarakan, aku akan membereskan dapur dahulu " kata Anna sambil mengangkat piringnya. Ia merasa canggung duduk berdua saja dengan Justin.


" Mmm..Anna? " panggil Justin. Anna menengok padanya.


" Ya? "


" Seperti apa pria yang kau sukai? "


" Aku? "


" Ya, mungkin aku bisa belajar darimu untuk menakhlukkan gadis ku" kata Justin penuh harap.


" Aku.. aku tidak punya kriteria khusus. Cinta itu datang tanpa bisa diduga. Jadi, walaupun kita membuat kriteria yang tinggi ataupun yang rendah, itu akan percuma saja. Lagipula saat ini aku tidak memikirkan hal itu "


" Hal itu? "


" Ya, aku tidak seperti dirimu, maksudku, aku tidak sedang mencari seseorang "


" Maksudmu, saat ini kau tidak sedang menyukai siapapun? "


" Begitulah " kata Anna dengan sedih. Lalu beranjak meninggalkan Justin. Dalam hati, Anna ingin sekali berkata bahwa ia menyukai Justin sedari dulu tapi bagaimana mungkin ia berharap menjadi kekasihnya ? Ia sedang hamil. Mana mungkin Justin mau menerimanya?


Justin memainkan sendoknya. Perkataan Anna membuatnya bertanya-tanya. Mungkinkah perasaan gadis itu telah berubah? Padahal sebelumnya ia yakin, Anna menyukainya. Paling tidak ada sedikit perasaan untuknya. Tetapi sekarang gadis itu berkata seolah-olah tidak ada sedikitpun ruang untuknya di dalam hatinya.


" Aku akan membuat perasaanmu kembali lagi seperti dulu, Anna "