
" Jadi, saya diterima bekerja disini Tuan Smith? " tanya Anna dengan mata berbinar. Lelaki tua itu mengangguk. Anna tersenyum bahagia. Ia terus bersyukur dan berterimakasih pada Tuan Smith yang menerimanya kembali bekerja di kedai makan miliknya. Anna memang langsung menemuinya begitu mendapatkan izin bekerja dari kakaknya. Firasatnya mengatakan kalau ia harus melamar pekerjaan ke kedai Tuan Smith, karena bagaimanapun ia sangat familiar dengan pekerjaan ini. Lagipula, tempat manalagi yang dengan cepat menerima seorang yang drop out dari sekolah seperti dia? Dan ternyata, firasatnya tidak salah, Tuan Smith mau menerimanya kembali, meski hanya bekerja di hari Senin hingga Jumat. Tapi tak apalah, untuk hari Sabtu dan Minggu, ia akan mencari pekerjaan sampingan lain. Yang penting, ia mendapatkan pekerjaan. Anna sangat bersyukur akan hal ini.
" Terimakasih Tuan " ucapnya berkali-kali. Tuan Smith sampai tidak enak hati mendengarnya.
" Saya akan bekerja dengan giat, Tuan "
Tuan Smith mengangguk.
" Kalau begitu, saya pamit, Tuan " Anna pun undur diri.
" Sampaikan salamku untuk Ibumu. Semoga Ibumu cepat sembuh, Anna "
" Akan saya sampaikan, Tuan. Terimakasih doanya "
Selepas kepergian Anna, Tuan Smith terbayang kembali pada pertemuannya dengan Adam di malam naas itu. Andai saja saat itu ia bisa menahan Adam untuk tidak pergi atau andai saja saat itu ia membiarkan saja lelaki itu tertidur di halte bus, mungkin keadaannya akan lain sekarang.
Saat itu,
" Bukan kah ini Adam? anak Kattie Rose? " tanya Tuan Smith saat berjalan melewati sebuah halte. Malam itu ia baru saja pulang dari rumah temannya. Ia telah membuat janji dengan Megan, anaknya untuk menjemputnya di halte bus terdekat. Saat tiba di halte itu, ia melihat seseorang yang mirip dengan anak Kattie, tetangganya yang tinggal dua blok dari rumahnya.
" Benar, ini Adam. Astaga, kenapa bocah ini tidur disini? Apa Kattie benar-benar tidak mau menerima anak ini kembali? Keterlaluan!! Bagaimanapun juga anak ini adalah darah dagingnya. Sudah tugasnya untuk membimbing kembali ke jalan yang benar, agar tidak mengulangi lagi kesalahannya kembali. Bukan malah mengusirnya dari rumah. Kasihan, sungguh kasihan anak ini " Tuan Smith terus menggerutu sembari menggoyangkan tubuh Adam agar terbangun.
Adam mengeliat. Kemudian kedua matanya mengerjap. Ia pun terbangun. Kaget karena ada Tuan Smith didepannya.
" Tuan? " Adam lalu bangkit dan duduk di kursi halte.
" Kenapa kau tidur disini? Apa orangtuamu mengusirmu? Tidak menerimamu kembali? " hardiknya.
" Bukan begitu, Tuan. Saya hanya ketiduran disini "
" Jangan bohong. Seluruh kompleks juga sudah mengetahui bagaimana perlakuan Kattie padamu "
Adam tertunduk. Ia merasa malu. Memang tetangganya sudah mengetahui hal itu. Tentang perlakuan Kattie yang meng-anak tirikan Adam semenjak keluar dari penjara.
" Apa yang kau butuhkan agar Kattie menerimamu? Pekerjaan? Aku akan memberimu pekerjaan kalau itu permasalahannya "
" Tidak perlu,Tuan. Saya sudah bekerja disebuah bengkel " tolak Adam dengan halus.
" Kau yakin? aku bisa memberimu upah yang tinggi. Lagipula pekerjaanku ringan " tawar Tuan Smith.
" Baiklah kalau kau tetap menolak,tapi suatu saat nanti jika kaù membutuhkan pekerjaan, datanglah padaku, aku akan dengan senang hati menerimamu bekerja ditempatku " kata Tuan Smith. Adam mengangguk dan tersenyum, ia bisa melihat ketulusan yang terpancar dari wajah lelaki tua itu.
Tuan Smith menghela nafas. Itu adalah pertemuan sekaligus pembicaraan terakhirnya dengan mendiang Adam. Setelah peristiwa itu, ia merasa bersalah pada keluarga Anna dan bertekad untuk membantu Anna dan keluarganya. Sebenarnya, saat ini kedai makannya tidak membutuhkan karyawan lagi, tetapi melihat Anna yang datang mencari pekerjaan, ia langsung menerimanya. Ia ingin membantu keluarga itu.
*****
Anna membuka pintu kamar rawat inap Ibunya sambil tersenyum bahagia. Marrissa yang duduk di kursi roda disamping tempat tidur Ibunya langsung menerka,
" Biar kutebak, kau sudah berhasil mendapatkan pekerjaan. Benar begitu, bukan? "
Anna mengangguk.
" Kau sangat beruntung, Anna. Baru saja memutuskan berhenti sekolah, langsung mendapatkan pekerjaan "
" Ya. Aku sangat berterimakasih pada Tuan Smith. Dia menerimaku bekerja kembali " sahut Anna dengan raut wajah bahagia. Marrissa mengernyit.
" Tuan Smith? kau akan bekerja di kedai makanannya? bukankah upahnya hanya sedikit? "
" Memang tidak banyak, tetapi setidaknya bisa menghidupi kita bertiga sehari-hari. Lagipula, tempat mana yang mau menerima seseorang yang tidak punya ijazah sepertiku? Selain itu, aku berencana mencari pekerjaan sampingan lain jadi kita bisa mencicil biaya Rumah Sakit " kata Anna setelah duduk di kursi.
" Jangan bekerja telalu keras. Nanti kau sakit karenanya "
" Terimakasih perhatiannya. Tapi jangan khawatir, dari dulu, aku dan Ibu sudah terbiasa dengan berbagai macam pekerjaan sampingan. Benarkan Bu ? " tanya Anna sambil mendekati Ibunya yang berbaring. Kattie hanya bisa membalasnya dengan kedipan mata, seolah-olah membenarkan perkataan putrinya. Marrissa menunduk. Ia benar-benar merasa bersalah.
****
Sementara itu di suatu tempat,
" Senang bekerjasama dengan Anda, Tuan Williams . "
" Sama-sama Tuan Jason. Saya berharap kedepannya Anda tetap berpegang pada perjanjian kita hari ini "
" Jangan khawatir Tuan, saya akan menyerahkan rumah itu padanya setelah saya bisa mendapatkan bukti bahwa ia tidak terlibat pada kecelakaan itu "
" Satu tahun, Tuan. Hanya satu tahun. Jika Anda tetap tidak bisa mendapatkan bukti keterlibatannya, maka rumah beserta isinya harus Anda serahkan pada Nyonya Marrissa "
Jason mengangguk. Ia lalu keluar dari kantor Tuan Williams, Pengacara keluarganya. Sebuah senyuman terlukis di wajahnya. Satu rencananya sudah berhasil. Ia memang sengaja mendatangi pengacara itu untuk menjalin kerjasama terkait surat warisan Ayahnya. Ia berusaha meyakinkan pengacara itu bahwa kecelakaan itu adalah sebuah kesengajaan, dan Marrissa terlibat didalamnya. Dan pada akhirnya Tuan Williams setuju untuk menangguhkan hak Marrissa atas rumah itu. Sekarang tinggal rencana kedua. Jason tersenyum smirk. Ia akan membuat Marrissa menderita. Wanita itu harus merasakan penderitaan dan juga sakit hati, sama seperti yang ia rasakan saat Marrissa menikahi Ayahnya.