Anna&Justin- Cinta Di Musim Panas

Anna&Justin- Cinta Di Musim Panas
Provokasi Ashley


Dengan tergesa-gesa, Anna memasuki rumah. Ia bahkan tidak mempedulikan sapaan Justin yang membukakan pintu untuknya. Di kepalanya hanya ada satu hal, Joanna. Saat di sekolah tadi, Roberta menghubunginya, memberitahunya kalau Joanna demam. Detik itu juga Anna tidak bisa berkonsentrasi. Ia mengerjakan ujiannya dengan asal- asalan. Ia hanya ingin cepat pulang dan bertemu putri kecilnya itu.


" Demamnya mulai turun. Ia baru saja minum obat. Untung saja Tuan Justin segera pulang. Ia langsung menghubungi dokter " Roberta segera menjelaskan setelah Anna memasuki kamarnya.


Anna duduk di tepian tempat tidur. Ia meraba dahi Joanna, masih panas.


" Maaf mengganggu ujianmu, Anna " Roberta menyatakan penyesalannya.


" Tidak apa, Roberta. Aku justru bersyukur karena kau cepat menghubungiku. Joanna lebih penting dari segalanya "


Anna mengelus pipi putri kecilnya.


" Maafkan Mama, sayang. Mama tidak berada di sampingmu saat kau membutuhkan Mama "


****


" Terimakasih sudah memanggilkan dokter untuk Joanna "


" Tidak perlu berterimakasih. Itu sudah seharusnya. Bagaimanapun, Joanna adalah keponakanku "


Ada rasa tercekat di hati Justin saat mengatakan hal itu. Walaupun dia sangat menyayangi Joanna, tapi rasanya sangat sulit untuk menerima kenyataan bahwa Joanna adalah keponakannya, anak dari wanita yang ia cintai dan kakaknya sendiri.


Anna mengangguk. Perkataan Justin seakan menamparnya. Justin memang paman Joanna. Wajarkah jika ia masih menyimpan rasa untuk Justin di hatinya?


" Apa demamnya sudah turun ? "


" Ya "


" Syukurlah. Kau tidak tahu betapa paniknya aku dan Roberta tadi. Aku bahkan tidak ingat kalau kami memiliki dokter keluarga. Aku bingung antara harus menjemputmu atau mengantarkan Jojo ke rumah sakit "


Anna tersenyum, " Tapi kau sudah mengatasinya . Sekali lagi terimakasih. Tanpa kau dan juga Roberta aku tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi "


" Ngomong - ngomong, bagaimana dengan ujianmu ? Apa kau bisa mengatasinya ? "


" Kurasa tidak begitu buruk. Aku baru mengerjakan setengahnya saat guru memberitahuku ada telepon penting untukku. Setelahnya, aku menjadi panik, menyerahkan lembar ujianku dan pulang. Joanna lebih penting "


Justin mengangguk. Percakapan mereka terhenti saat sebuah mobil hitam memasuki halaman kediaman Wilderman.


" Kenapa dia pulang siang ini ? Apa kau menghubunginya? "


Anna menggeleng. Rasa panik bahkan membuatnya lupa kalau Joanna memiliki seorang Ayah.


" Mungkin ada barang yang tertinggal " jawabnya pelan.


" Atau mungkin nalurinya sebagai ayah mulai muncul ? Baguslah " tebak Justin. Namun detik kemudian, pujiannya terhadap kakak tirinya langsung berubah menjadi umpatan, tatkala melihat seseorang yang ikut keluar dari dalam mobil Jason.


" Ashley ? What a f*** "


Anna pun tidak dapat menyembunyikan kekagetannya. Ashley Runner keluar dari mobil Jason sambil tersenyum pongah. Ia menggandeng mesra tangan Jason.


" Bolos sekolah ? " sindir Jason saat melihat istrinya berada di rumah. Anna tidak menjawab.


" Dia sekolah lagi ? Huhh, cukup keras kepala juga rupanya " sindir Ashley. Tatapannya lalu berpindah pada Justin.


" Halo Justin. Apa kau juga bolos kuliah seperti dia? Hmm, sepertinya kalian berdua cocok, sama- sama tidak punya masa depan. Beruntung sekali aku sudah menemukan yang jauh lebih baik darimu " sindir Ashley. Justin hampir saja tersulut amarahnya kalau tidak segera ditahan Anna. Sementara Jason tampak sedikit terkejut saat mendengar perkataan Ashley.


*****


" Jadi, kau dan Justin pernah berpacaran ? "


" Ya. Kami bersekolah di tempat yang sama"


" Simpan cemburumu, sayang. Sudah lama aku tidak menganggap dia ada "


Ashley mencium Jason.Tak lama kemudian mereka sudah saling melahap satu sama lain.


******


Anna tidak berangkat sekolah hari ini. Dia merasa cukup bersalah telah meninggalkan Joanna saat anak itu mengalami demam kemarin. Hari ini ia ingin menggantinya dengan tetap di samping Joanna, merawat putri kecilnya sampai benar- benar sembuh.


" Anna, kenapa piringnya hanya ada tiga ? Apa kau lupa, Ashley bersama dengan kita hari ini ? " tanya Jason saat ia dan Ashley berada di ruang makan untuk sarapan.


" Oh, masih ada orang rupanya. Maaf, kukira tidak ada orang lain selain kami, mengingat kalian berdua bahkan tidak keluar kamar seharian kemarin " balas Anna.


Ashley tersenyum sinis. Ia duduk disamping Jason, mengambil roti dan mengolesinya dengan selai lalu memakannya dengan lahap.


" Sayang, kau benar-benar membuatku kelelahan sekaligus kelaparan " ucapnya manja sambil menatap Jason. Ia menyibakkan rambutnya dan terlihatlah leher jenjangnya yang penuh dengan tanda, memperlihatkan betapa panasnya mereka berc****. Jason berdehem.


" Anna, sebentar lagi Justin akan turun sarapan, jadi ambillah piring lagi kalau kau mau makan bersama kami " perintahnya.


" Tidak perlu, aku sudah makan "


*****


" Jadi, kau disini sebagai istri atau pembantu ? Kurasa pembantu jauh lebih cocok untukmu. Aku bisa lihat tadi,Jason menyuruhmu melakukan ini dan itu. Astaga Anna, kau berharap menikahi orang kaya bisa merubah statusmu, tapi ternyata jauh lebih buruk. Kau benar - benar menyedihkan " Ashley mencoba memprovokasi Anna yang sedang mencuci piring. Anna hanya diam saja. Ia mencoba untuk tidak mendengarkan kata-kata Ashley.


" Oya, Anna, sihir apa yang kau gunakan agar Jason menikahimu? Ternyata, kau ini sangat rendahan, menggunakan cara-cara kotor untuk menarik perhatian seorang pria kaya. Tapi kurasa, sekarang kau harus mulai berhati-hati, sihirmu mulai luntur. Jason hanya tertarik padaku. Kau tidak lihat betapa banyak tanda cinta yang dia buat di leherku, belum di bagian yang lain. Dia benar-benar liar . Bagaimana denganmu ? Aku penasaran apa dia bisa menyentuhmu mengingat kau memiliki wajah dan postur yang biasa saja, bisa dikatakan dibawah standar " ejek Ashley.


Anna menghentikan aktifitasnya. Ia menarik nafas panjang.


" Apa pantas kau menanyakan hal seperti itu pada wanita yang telah melahirkan seorang anak untuknya ? "


Ashley terperangah. Ia tidak menduga sama sekali kalau Jason dan Anna telah memiliki seorang anak. Bagaimana bisa? Rumah ini tampaknya sepi. Tidak terdengar sekalipun, suara rengekan atau tangisan seorang anak kecil.


" Oya, aku lupa, kalian terlalu sibuk di dalam kamar hingga tidak menyadari bahwa di rumah ini ada seorang gadis kecil, anak kami. Sekarang sudah terjawab bukan, pertanyaanmu " kata Anna galak, dan segera pergi meninggalkan Ashley.


*****


Bel pintu berbunyi beberapa kali


" Wait a minute " teriak Justin sambil menuruni tangga. Saat sampai diruang depan, dilihatnya Ashley yang sedang duduk sambil memegang gawainya. Rasa kesal segera menyelimuti dadanya.


" Kenapa kau tidak membuka pintunya ? " tanyanya dengan kesal.


" Aku? Hei,aku hanya tamu disini. Lagipula aku tidak tertarik untuk mengetahui urusan kalian " balas Ashley dengan malas.


" Baguslah kalau kau sadar ini bukan rumahmu. Tapi kenapa kau tidak segera pulang ? " sindir Justin yang dibalas dengan cibiran oleh Ashley.


Segera Justin membuka pintu rumah begitu mencapainya.


" Hai, eh, hallo Justin " sapa Maya dan Karen, hampir serempak.


" Hai, kalian.. " Justin mengernyitkan dahinya, segera ia sadar, kekacauan akan segera terjadi.


" Aku Maya, dan ini Karen, kami teman sekolah Anna " jawab Maya dengan gugup. Begitu mendengar nama Anna disebut, Ashley langsung bangkit dan menghampiri mereka.


" Ya, aku tahu kalian "


" Hai, Kalian teman sekolah Anna? Senang bertemu kalian. Anna sungguh seorang ibu yang beruntung, memiliki seorang anak tapi masih bisa sekolah dengan tenang dan mempunyai teman seperti kalian " cerocos Ashley tanpa diminta.


" M- Maksud Anda? "