
" Sayang? kamu disini ? " tanya Marrissa dengan wajahnya yang mulai pucat.
" Katakan padaku, alasan apa yang bisa membuatku keberatan untuk merawat Ibu mertuaku ? " tanya Jonathan tanpa menggubris pertanyaan Marrissa. Ia bahkan memberikan penekanan pada kata " Ibu " sambil melirik Marrissa tajam. Baik Marrissa maupun Anna menjadi salah tingkah karenanya.
" Sayang, aku bisa jelaskan.. "
" Tentu saja kau harus menjelaskannya padaku, Sayang. Tapi saat ini yang terpenting adalah kesehatan Ibumu " kata Jonathan sambil melihat ke arah Kattie.
" Selamat siang, Nyonya.." Jonathan melirik ke arah Marrissa, mengharapkan bantuan sang istri karena ia tidak mengetahui nama mertuanya ini.
" Kattie, Kattie Rose " dengan gugup Marrissa menyambung kalimat suaminya.
" Nyonya Kattie, perkenalkan, nama saya Jonathan Wilderman. Saya suami putri anda yang cantik, Marrissa. Kita belum pernah bertemu, tapi saya rasa kita akan sering berbincang saat anda sembuh nanti " Jonathan memperkenalkan dirinya dengan sopan. Anna dan Marrissa tersenyum lega. Terlebih Marrissa, pipinya bersemu merah saat Jonathan menyebut dirinya cantik. Sementara Kattie menatapnya sambil sesekali berkedip, mungkin ia senang sekaligus tidak percaya bahwa putrinya sudah menikah dengan lelaki yang seumuran dengan ayahnya.
" Bagaimana keadaannya... " kini Jonathan bertanya sambil melihat ke arah Anna. Ia merasa gadis itu tidak asing baginya. Ia merasa pernah melihatnya namun entah dimana. Mungkin disalah satu perjalanan bisnisnya.
" Anna. Nama saya Anna, Tuan " jawab Anna dengan sopan.
" Anna, bagaimana keadaan Ibu kalian ?"
" Cukup baik. Ibu baru tersadar dari koma. Saya harap keadaannya semakin membaik sehingga saya bisa membawanya pulang ke rumah "
" Kau tidak perlu khawatir. Ini rumah sakit terbaik di kota ini. Ibumu akan pulih dengan cepat. Aku juga akan mengirimkan perawat terbaik untuk merawat Ibumu dirumah sehingga kau bisa sekolah dengan tenang. Ngomong-ngomong kau bersekolah dimana ? " tanya Jonathan pada Anna.
Anna menyebutkan nama sekolahnya. Kening Jonathan berkerut.
" SMU itu ya? putraku juga bersekolah disana. Namanya Justin. Kau mengenalnya?" tanya Jonathan. Tidak salah lagi, ia pasti pernah bertemu dengan Anna di sekolah Justin.
Anna mengangguk.
" Putra Anda cukup populer di sekolah. Banyak siswi yang mengidolakannya "
Jonathan tertawa mendengarnya.
****
Marrissa menghela nafas panjang.
" Maafkan aku, Sayang. Aku takut kau akan meninggalkanku setelah mengetahui semuanya "
" Kenapa aku harus meninggalkanmu? Kau tahu, aku sangat mencintaimu, Sayang "
" Tapi keluargaku,... Jonathan, aku dan keluargaku hanyalah orang rendahan. Itu semua bisa merusak reputasimu. Aku tidak ingin hal semacam itu mengganggumu "
" Marrissa sayang, dengarkan aku. Aku sangat mencintaimu dan aku tidak peduli seperti apa keluargamu. Kau tahu apa yang aku pikirkan saat kau diam-diam sering pergi sendirian ?"
Marrissa terhenyak. Ternyata selama ini Jonathan mengetahui dan mencurigai kepergiannya yang seorang diri.
" Aku ini lelaki bodoh yang sangat pencemburu, Marrissa. Aku selalu dihantui perasaan curiga setiap kali kau tidak ada di dekatku. Aku takut kau berpaling pada lelaki lain "
" Aku tidak mungkin melakukan hal sebodoh itu, Jonathan "
" Ya, akhirnya akupun menyadarinya, tapi..Well, kau tahu, diusiaku yang setua ini ,aku memiliki seorang istri yang sangat cantik jelita. Dimana kecantikannya selalu berhasil membuat semua pria meliriknya. Dan bagian terbaiknya, usiamu sangat muda. Kau seusia Jason, dan aku.. "
" Sst " Marrissa menempelkan telunjuknya di bibir Jonathan.
" Jangan membicarakan usia, Sayang. Cinta tidak mempermasalahkan hal itu. Berapapun usiamu, kau akan selalu terlihat muda dimataku "
Jonathan tersenyum.
" Aku selalu mencemburuimu " aku Jonathan.
" Teruslah mencemburuiku. Dengan begitu, aku akan selalu merasa dicintai olehmu "
" Aku selalu mencintaimu Sayang, dengan segenap hatiku "
" Aku juga mencintaimu Sayang, selamanya, seumur hidupku, sampai maut memisahkan kita " sembari berkata demikian Marrissa mengecup pipi Jonathan.
Jonathan yang merasa terpancing mulai berusaha membalas ciuman Marrissa. Akibatnya mobil yang mereka kendarai berjalan keluar dari jalurnya. Dan dari arah berlawanan, seorang pengemudi truk tronton yang sedang melajukan kendaraannya dengan cepat sangat kaget ketika mobil Jonathan tiba-tiba berada di jalur truknya. Ia berusaha mengerem truknya. Tetapi karena kecepatan yang terlalu tinggi dan jarak yang terlalu dekat, tabrakanpun tidak dapat terhindarkan.