Anna&Justin- Cinta Di Musim Panas

Anna&Justin- Cinta Di Musim Panas
Dia papa ku.


Justin meletakkan tas ranselnya di kursi. Ia lantas berbaring di tempat tidur. Lelah. Rasanya lelah sekali. Ia baru saja tiba dari Malaysia. Mengunjungi ibu dan adiknya di sana sekalian mengurus bisnis keluarga. Justin berulangkali memejamkan matanya. Mencoba untuk tidur. Tapi walaupun badannya terasa lelah, ia tidak bisa memejamkan matanya.


Rasanya sunyi. Terlalu sunyi. Biasanya dia akan mendengar celotehan Joanna atau suara Roberta yang meneriaki gadis kecil itu. Tapi beberapa waktu lalu, Anna telah memasukkan gadis kecilnya itu di sekolah. Dan Roberta, sepertinya dia telah pulang setelah menyelesaikan pekerjaannya. Dan Justin merasa kesepian sekarang.


Padahal seharusnya perasaan kesepian itu tidak pernah ada. Seharusnya ia sudah terbiasa dengan keadaan sunyi. Karena sejak dahulu, ayah dan ibunya telah menerapkan peraturan tidak ada asisten rumah tangga full time di rumah ini, dan juga tidak ada penjaga. Untuk rumah sebesar ini, dan orang sekaya mereka, sudah pasti itu hal yang aneh. Tapi tidak bagi keluarga Wilderman. Olivia Wilderman sangat menyukai perannya sebagai ibu rumah tangga. Dia mengurus rumahnya dengan baik. Ah, Justin jadi rindu dengan mommy -nya. Padahal baru kemarin mereka bertemu.


Justin mengambil gawainya lalu mencari nomor Anna, kemudian,


" Halo "


" Anna ? "


" Justin ? Kau sudah pulang ? "


" Ya, aku sudah pulang. Anna, aku menelponmu untuk meminta izin menjemput Joanna, aku sangat rindu padanya. "


" Kau tidak lelah ? Lebih baik kau beristirahat dahulu, kau baru saja mengalami perjalanan panjang. "


" Aku sudah mencoba tidur berkali-kali tapi tetap tidak bisa, sepertinya karena aku belum bertemu Joanna. "


" Manis sekali. Kau membuatku luluh. Oke, kau bisa menjemputnya jam empat nanti. "


" Baiklah, terimakasih. Oya, aku akan menjemputmu juga setelah menjemput Joanna. "


" Kau tidak perlu repot-repot. "


" Jangan menolak. "


****


Justin memarkirkan mobilnya di sekolah. Setelah menemui guru dan menjelaskan siapa dirinya, dang guru pun memanggilkan Joanna. Joanna langsung menghambur memeluk dirinya, sepertinya gadis kecil itu juga sangat merindukan pamannya. Seorang anak lain tampak ikut keluar saat mereka berpamitan.


" Siapa yang menjemputmu, Jojo.? Bukankah Nyonya Jenny melarang kita bersama orang asing ? " tanya anak perempuan itu. Sepertinya ia khawatir temannya diculik. Justin tersenyum mendengarnya.


" Dia bukan orang asing, Lea. Dia papaku " jawab Joanna tegas sambil memandang Justin dengan bangga. Justin menatap Joanna. Ada perasaan aneh yang muncul dalam dirinya ketika Joanna mengenalkan dirinya sebagai papanya.


****


" Mommy " Joanna berseru riang saat mobil Justin berhenti di butik Ny. Teresha untuk menjemput Ibunya. Anna tersenyum sembari melambaikan tangan pada putri kecilnya tang duduk di deoan bersama Justin. Ia lalu membuka pintu mobil dan duduk di kursi penumpang.


" Bagaimana kabarmu hari ini, sweetheart ? " Anna langsung menyapa anaknya begitu menghempaskan tubuhnya di kursi penumpang.


" Great. Hari ini sangat bagus mommy. Uncle menjemputku. Lea sepertinya iri saat aku bilang Uncle adalah papaku. Dia sangaat iri. " gadis kecil itu menjawab dengan gayanya yang khas.


" Kau bilang Uncle ini papamu ? " tanya Anna.


" Ya, dia mengatakannya di depan temannya. " Justin mengiyakan.


" Lea, nama nya Lea " terang Joanna.


" Oke, namanya Lea. " kata Justin.


" Sayang, kenapa kau berkata seperti itu. Mommy tidak pernah mengajarimu berbohong, bukan ? Apa yang akan terjadi kalau Lea akhirnya tahu ? Dan paman Justin .. "


" Tidak apa, Anna, aku tidak mempermasalahkannya. Anak-anak memang suka begitu. Biarkan saja. "


" Aku sungguh tidak enak hati padamu, Justin. "


Anna menyatakan penyesalannya.


" Kau bisa menebusnya dengan makan bersama, kebetulan saat ini aku sedang lapar. Kau juga lapar Jojo ? "


" Yeayy. Makan diluar bersama Uncle Justin ! " Joanna terdengar gembira dengan ajakan Justin.


Anna melirik putri kecilnya. Joanna terlihat sangat bersemangat jadi sepertinya ia harus mengikuti perkataan Justin.


****


Di dalam foto yang pertama, Marrissa berpakaian layaknya pekerja. Ia terlihat sedang memanen anggur di sebuah kebun yang luas. Sesaat Jason gembira melihat foto itu. Ia tersenyum akhirnya dapat melihat cintanya, meski hanya dalam sebuah foto. Ia akan terus memantau keadaan Marrissa secara diam-diam tanpa sepengetahuan wanita itu.


Jason terus memandangi satu persatu foto dalam amplop coklat itu. Hingga sebuah foto menyadarkannya. Foto Marrissa yang tengah duduk dengan pandangan menatap pada seorang pria yang sedang mengikat jerami. Pria itu sangat ia kenali. Walaupun rambutnya telah dipangkas rapi dan kulitnya berubah menjadi kecoklatan, tetapi wajah kony**nya itu tidak bisa menipunya. Cepat-cepat Jason mengulang setiap foto Marrissa yang ada di tangannya. Dan benar saja, pria itu selalu berada bersamanya.


Jason meremas foto itu dengan marah. Morgan. Ternyata selama ini, Marrissa bersama lelaki itu. Terbayang laporan anak buahnya sebulan setelah kepergian Marrissa dan Ibunya tanpa jejak. Anak buahnya melaporkan kalau Morgan masih betaktifitas sama seperti biasanya. Ia bahkan tidak keluar kota. Sebulan, dua bulan berikutnya masih sama. Karena itu ia memutuskan agar anak buahnya berhenti mengawasi Morgan dan lebih memprioritaskan mengawasi Anna termasuk menyadap telepon genggamnya, kalau-kalau kakaknya menghubungi. Tak disangka, langkah itu semacam blunder bagi dirinya. Ia bahkan tidak mengetahui kalau Morgan sudah bersama Marrissa, entah sejak kapan.


Suara mobil yang berhenti di depan rumahnya, membuat Jason mendongak, melihat siapa gerangan tamu yang datang. Ia tidak merasa mengundang siapapun kerumah ini, termasuk Ashley. Meski kedatangan Ashley tampaknya akan cukup berguna juga malam ini. Ia butuh pelampiasan untuk meluapkan emosinya karena foto itu.


Tapi harapannya salah karena yang datang ternyata adik tirinya, Justin bersama Anna dan juga Joanna. Hei, sejak kapan mereka pergi bertiga ? Dan Justin ? Kapan dia pulang ? Kenapa mereka bisa seakrab itu ?


Mendadak rasa tidak nyaman menyelimuti dirinya. Apalagi saat Joanna terlihat nyaman bersama Justin. Gadis kecil itu terlihat sangat bahagia. Jason memang tidak dekat dengan Joanna, tetapi saat melihat orang lain begitu dekat dengan putrinya, ia merasa seakan terabaikan. Ia cemburu. Apalagi orang itu adalah Justin, adik tirinya, musuh dalam selimutnya.


Ia cepat-cepat keluar dari kamarnya, bersiap " menyambut " mereka.


" Darimana saja kalian ? " tanya Jason begitu mereka memasuki rumah.


" Aku menjemput mereka dan kami makan bersama. " jawab Justin acuh.


" Apa kau lupa, gadis kecil itu masih harus bersekolah besok ? Kenapa kalian membawanya hingga larut malam hanya untuk kepentingan kalian ? " Jason sedikit berteriak sambil menunjuk Joanna, gadis itupun terlihat mulai ketakutan.


" Jason, sudahlah. Kau menakuti Joanna. " perintah Anna. Cepat-cepat ia menggandeng Joanna ke kamar mereka, diikuti oleh Justin yang berjalan ke kamarnya. Keduanya seakan bersikap tidak mempedulikan keberadaan Jason.


****


" Mommy, kenapa daddy marah ? " tanya Joanna pada Ibunya saat Ibunya sedang menyisir rambut putri kecilnya itu.


" Tidak. Daddy tidak marah. Dia hanya mengkhawatirkanmu, sayang. *D*addy tidak ingin putrinya terlambat masuk sekolah karena bangun kesiangan. "


" Aku tidak akan bangun kesiangan. Aku akan bangun pagi-pagi sekali. " ucap Joanna meyakinkan.


Jason tersenyum mendengarnya. Saat ini ia berada di balik pintu kamar Anna. Ia berniat menyapa gadis kecilnya setelah tadi bersikap kasar. Bagaimanapun, ada bagian dalam dirinya yang enggan menyakiti hati Joanna. Tapi niat itu ia urungkan, ia ingin mendengar percakapan gadis kecilnya.


" Really ? Apa kau yakin bisa melakukannya ? " goda Anna.


" Tentu saja. Mommy tahu kenapa ? Karena hari ini aku bahagia sekali. Aku bersama dua orang yang paling aku sayangi di dunia ini. Mommy tahu siapa ? "


" Siapa ? " Anna pura-pura tidak mengerti.


" Tentu saja Mommy dan Uncle Justin ! "


" Mommy juga menyayangimu, sayang. Sekarang mari kita tidur. Hari sudah malam. " ajak Anna. Joanna naik ke atas ranjang. Anna menyelimutinya.


" Mommy tidak tidur ? "


" Sebentar lagi mommy tidur. Ada pekerjaan yang harus mommy selesaikan dahulu "


" Bagaimana kalau mommy kesiangan ? " tanya Joanna khawatir.


" Tidak. Mommy tidak akan bangun kesiangan. "


" Apa karena mommy juga bahagia hari ini ? "


Anna mengangguk.


" Ya. Mommy sangat bahagia. Sekarang tidurlah. Oke ? "


" Mommy, aku sungguh-sungguh. "


" Mommy juga, sayang. Percayalah setelah mommy menyelesaikan ini semua, mommy akan langsung tidur. "


" Bukan tentang itu. "


" Lalu ? Apa lagi yang kau pikirkan, gadis kecil ? "


" Maksudku, aku sungguh-sungguh saat bilang Uncle Justin adalah papaku. Aku ingin Uncle yang jadi papaku, bukan daddy. "