Anna&Justin- Cinta Di Musim Panas

Anna&Justin- Cinta Di Musim Panas
Pertemuan


" Kau tidak ingin memberi salam padaku? adik tiri? " tanya Jason dengan senyum mengejek. Justin tertegun melihat orang di depannya saat ini. Seorang lelaki tampan dengan perawakan yang atletis. Sorot matanya tajam dan dingin. Ia mengenakan setelan jas hitam. Sangat pas dengan sikapnya yang angkuh dan dingin itu.


" Kau terlihat kaget dengan kedatanganku. Tidak suka ? " tuduhnya pada Justin dengan gaya yang angkuh. Jason melewati Justin yang berdiri di depan pintu begitu saja. Ia lalu duduk di sofa ruang tamu.


" Tidak banyak yang berubah dari rumah ini " gumamnya.


" Siapa tamu yang datang Justin? " teriak Nyonya Olivia dari lantai atas. Sepertinya Ibunya tengah menunggu seseorang datang, karena tidak biasanya ia berteriak dari lantai atas hanya untuk menanyakan perihal tamu yang datang. Justin tidak menjawab. Ia sibuk memastikan pada pikirannya bahwa yang datang saat ini adalah Jason Wilderman, kakak tirinya. Tapi untuk apa kakak tirinya itu datang ke rumah ini ? Setahu dia, Jason sangat membenci penghuni rumah ini.


Nyonya Olivia yang tidak sabar menunggu jawaban Justin segera turun dari lantai atas.


" J- Jasonn?? " pekiknya tidak percaya saat melihat putra tirinya sudah duduk dengan manis di sofa ruang tamunya.


" Halo, Olivia. Lama tidak berjumpa " sapa Jason pada Ibu tirinya. Ia memang tidak pernah memanggil Olivia dengan sebutan 'Ibu' ataupun 'Tante'. Baginya, panggilan 'Olivia' sudah jauh lebih sopan daripada memanggilnya pelakor.


Olivia tampak canggung mendapati putra tirinya yang angkuh itu. Ingin rasanya ia memeluk Jason dengan hangat, tetapi sikap dingin Jason membuatnya mengurungkan hal tersebut.


" Ya. Sudah lama sekali. Kapan kau datang? " tanyanya sembari duduk di depan Jason. Sekarang posisi mereka saling berhadapan. Olivia menatap lekat pada Jason, berharap kefua bola mata mereka bisa saling bertemu. Justin ikut duduk di samping Ibunya. Ia sangat ingin tahu pembicaraan Ibunya dengan kakak tirinya.


" Begitu mendengar kabar itu aku langsung menuju kemari, tapi kau tahu sendiri, jarak antara Roma dan kota ini sangat jauh. Karena itu aku tidak bisa menghadiri pemakaman kemarin. Tapi aku percaya kau bisa mengurus semuanya dengan baik "


" Kau tidak perlu mengkhawatirkan hal itu. Aku sudah mengurusnya dengan baik. Oya, kau pasti lelah sekali, aku akan menyuruh Olga menyiapkan kamar untukmu"


" Tidak perlu. Aku rasa aku tidak akan bisa memejamkan mata disini dan kau tahu sendiri alasannya " katanya sambil membuang muka.


Ucapan Jason membuat Olivia meradang. Ia tahu, Jason masih sangat membencinya. Bahkan saat mereka duduk berhadapanpun, Jason tidak menatapnya. Ia selalu menatap ke arah lain.


" Jadi, apa rencanamu ? "


" Aku menginap di hotel " jawab Jason sambil menyilangkan kedua tangannya, lagi-lagi tanpa memandang Olivia sedikitpun.


" Kalau kau ingin pergi ke pemakaman, Justin pasti bersedia mengantarmu " kata Olivia sambil melirik Justin yang duduk disampingnya. Justin mengernyit. Mengantar Jason? Kalaupun itu terjadi, sudah pasti itu diluar kemauannya. Ia tidak mau bila harus berada di mobil yang sama dengan pria angkuh ini.


"Tidak perlu. Aku bisa kesana sendiri. Aku kesini hanya mampir saja sekalian mengecek adakah perubahan pada rumahku "


" Tidak perlu khawatir. Tidak ada perubahan berarti disini. Aku tidak merenovasi rumah ini. Semuanya sama seperti saat kau masih berada disini "


" Syukurlah kalian tahu diri. Ini bukan rumah kalian. Kalian bisa dituntut kalau melakukan perubahan tanpa ijin " kata Jason dengan angkuh. Justin hampir saja terbawa emosi. Olivia memegang tangan anaknya, berusaha menenangkan Justin.


Jason berdiri dan merapikan pakaiannya.


" Aku akan kembali ke hotel " katanya.


Olivia mengangguk dan tersenyum. Ia lalu mengantarkan Jason sampai depan pintu.


" Dasar pria sombong! angkuh! Breng***! " Justin mengumpat ketika mobil Jason meninggalkan rumahnya.


" Tidak. Sebenarnya Jason justru patut dikasihani "


" Jason masih sangat terluka dengan semua yang Ibu lakukan di masa lalu. Dia sengaja menutupinya dengan bersikap dingin dan angkuh. Kasihan "


" Tapi tidak sepatutnya ia bertingkah seperti itu. Lagipula kenapa ia datang kemari kalau ia membenci kita? "


"Apa kau belum juga bisa menyimpulkan pembicaraannya tadi? "


Justin menggeleng.


"Apalagi kalau bukan demi rumah ini. Ibu rasa dia menginginkannya. Astaga, Ibu lupa, hari ini Ibu harus bertemu dengan pengacara. Ibu harus memastikan kau dan Josh mendapatkan hak kalian "


Justin terbelalak. Rumah? Pengacara? Hak waris? Hm, tampaknya segala sesuatunya akan rumit.


******


" Mengapa kau meninggalkan aku, Jonathan? Bukankah kita sudah berjanji untuk selalu bersama ? " Marrissa menangis di pusara suaminya. Anna hanya bisa diam. Ia berdiri di samping kursi roda kakaknya.


Marrissa mengambil buket bunga mawar putih yang ada di pangkuannya. Anna meraihnya, menolong Marrissa meletakkan buket bunga itu di nisan Jonathan.


" Bahkan untuk memberikan bunga pada suamiku pun aku membutuhkan bantuan orang lain " gumamnya dengan sedih.


" Kau akan sembuh,Marrissa, percayalah. Setelah sembuh, kau bisa meletakkan bunga di sini. Bahkan kau akan bisa membersihkan pusara suamimu. Kau harus kuat. Kau harus bisa bertahan. Aku yakin Tuan Wilderman sangat menginginkan hal itu. Jadi berusahalah. " Anna menyemangati kakaknya. Marrissa mengangguk. Ia harus sembuh. Ia harus kuat. Ia harus kembali seperti Marrissa yang dulu lagi.


" Maafkan aku, Anna " kata Marrissa lirih.


" Untuk apa?"


" Aku sudah berbuat jahat padamu. Aku menyembunyikan status kalian sebagai keluargaku. Aku jahat "


" Tidak perlu dipikirkan. Kau melakukan semuanya demi cintamu pada Tuan Wilderman. Aku rasa suamimu itu bangga mengetahui betapa kau sangat mencintainya "


" Terimakasih, Anna. "


" Ayo kita kembali ke Rumah Sakit. Ibu pasti sudah bosan menunggu kita " ajak Anna yang dibalas dengan anggukan kepala oleh Marrissa. Anna pun segera mendorong kursi roda kakaknya.


****


" Anda tidak turun, Tuan? " tanya Noah dari balik kursi kemudi pada Jason, tuannya.


" Setelah wanita itu pergi " kata Jason dingin. Matanya terus menatap pada Marrissa dan seorang perempuan muda yang mendorong kursi rodanya. Ada perasaan berdesir di dalam dadanya. Walaupun menggunakan kursi roda, tetapi janda Ayahnya itu masih tetap cantik, sama seperti saat pertama kali ia bertemu dengannya. Kecantikannya itulah yang membuat ia jatuh hati padanya. Sayang sekali, Marrissa justru menjatuhkan pilihan pada Jonathan, Ayahnya. Padahal saat itu, dia begitu yakin, Marrissa juga mencintainya. Tetapi yang terjadi justru menghancurkan hatinya. Marrissa ternyata sama seperti Olivia, perempuan yang suka merebut milik orang lain. Dan ia tidak bisa memaafkan hal itu.


Jason melihat pada perempuan yang mendorong kursi roda Marrissa. Siapa perempuan itu? Dilihat dari wajahnya, ia sedikit mirip dengan Marrissa, tapi tentu saja Marrissa jauh lebih cantik. Apa dia saudarinya?


" Noah, cari informasi tentang Marrissa dan perempuan itu " perintahnya pada asistennya.