Anna&Justin- Cinta Di Musim Panas

Anna&Justin- Cinta Di Musim Panas
( Bukan ) Suami Siaga


" Hei, hati-hati. Kau tidak bisa membawa barang seberat itu. Biarkan aku membantumu " tawar Justin pada Anna yang sedang berusaha mengangkat keranjang berisi pakaian kotor. Anna mengangguk setuju. Ia membiarkan Justin mengangkat keranjang itu. Mereka berdua lalu berjalan beriringan menuju tempat cucian.


" Seharusnya kau segera meminta cuti. Pekerjaan yang berat tidak baik untukmu. Sebentar lagi kau akan melahirkan " Justin mencoba menasehati. Anna tidak menjawab. Ia mengelus perutnya yang besar. Sudah tujuh bulan berlalu. Saat ini usia kandungannya sudah menginjak delapan bulan lebih. Dan selama itu pula tidak ada perhatian lebih yang ia dapatkan dari Jason selain uang bulanan yang rutin ia berikan. Justru Justin yang selalu ada disampingnya. Justin selalu menemaninya memeriksakan kandungan. Bahkan bulan kemarin ia dengan semangat mengantarkan Anna berbelanja untuk keperluan kelahiran anaknya nanti. Diam - diam, Anna melirik Justin yang berjalan disampingnya. Dalam hati ia mambayangkan andai Justin yang menjadi ayah bayinya. Andai saja itu terjadi, tentu ia akan sangat bahagia. Mereka akan menjadi keluarga kecil yang bahagia. Anna tersenyum membayangkannya.


" Kenapa kau tersenyum ? " tanya Justin. Rupanya ia memperhatikan perubahan wajah Anna. Anna gelagapan,


" Aku.. aku hanya membayangkan bagaimana jadinya nanti jika menjadi seorang ibu.. pasti repot, panik... "


" Jangan membayangkan bagian susahnya saja, kau seharusnya juga membayangkan seorang bayi mungil yang lucu, menggemaskan " potong Justin.


" Pasti akan sangat menyenangkan bisa merawat bayi seperti itu. Dulu, saat Josh lahir, aku juga membantu Ibuku merawatnya. Aku belajar menggendongnya. Aku bermain dengannya sepulang sekolah. Josh sangat menggemaskan dengan pipi bayinya yang gembul "


" Sepertinya kau merindukan adikmu "


" Tentu saja. Aku merindukannya. Banyak yang bilang kalau kami mirip sekali dengan Ayah. Tapi menurutku, Josh lebih mirip dengan Mommy nya " Justin menghentikan perkataannya. Ia merasa, perkataannya mungkin telah melukai perasaan Anna karena membuatnya teringat pada lelaki breng*** itu.


" Maaf " Justin cepat-cepat meminta maaf.


" Tidak perlu. Yang kau katakan itu benar. Semua anak pasti mirip kedua orangtuanya. Anakku juga pastinya begitu " Anna mengelus perutnya dengan sayang.


" Dia pasti cantik sepertimu "


Anna mengulum senyum.


" Apa semuanya langsung di masukkan ke mesin cuci? " tanya Justin begitu mereka sampai di ruang cucian.


" Jangan. Aku akan memilihnya sebentar, kalau- kalau ada pakaian yang mudah luntur. Tuan Jason Wilderman bisa marah nanti " jawab Anna. Justin tertawa mendengar cara Anna menyebutkan nama kakak tirinya.


" Kalau pakaiannya rusak, kau bisa langsung membuangnya saja, tidak perlu takut, karena Tuan Jason Wilderman tidak akan berada di rumah dalam jangka waktu yang lama " sanggah Justin. Jason memang luar biasa sibuk dalam beberapa bulan ini. Minggu lalu ia keluar kota selama beberapa hari. Dan pagi ini, ia sudah berangkat ke luar negeri, tepatnya ke Singapura. Bahkan ia sudah mengatakan kalau ia akan berada di sana cukup lama, sekitar satu sampai dua bulan untuk mengawasi anak perusahaan disana. Anna menghela nafas. Seharusnya Jason menjadi suami siaga saat ini. Tapi apa boleh buat? Sebagai istri yang tidak diinginkan, ia pun tidak boleh mengharapkan hal seperti itu.


" Kenapa kau diam ? "


" Eh, aku ? aku hanya sedang memikirkan kata-katamu barusan " Anna berkilah.


" Syukurlah. Aku pikir kau merindukannya "


" Siapa ? "


" Tuan Jason Wilderman "


" Haha. Kau bercanda. Mana mungkin aku merindukannya. Aku rasa rumah ini jauh lebih tenang dan damai saat ia tidak ada "


" Aku rasa juga begitu. Akan lebih menyenangkan kalau dia tidak kembali "


*****


Hari - hari berikutnya, Justin semakin perhatian pada kehamilan Anna. Ia bahkan rela tidak ikut latihan basket, atau tidak ikut hangout bersama teman-temannya agar bisa menemani Anna.


Perhatian Justin membuat Anna tersanjung. Ia semakin nyaman bersama Justin. Perasaan cintanya pada Justin semakin dalam. Meski ia tahu, hal itu adalah sebuah kesalahan.


" Apa kau tidak merasa capai ? " tanya Justin pada Anna yang sedari tadi berjalan memutar halaman rumahnya.


" Tapi kau sudah terlalu lama berjalan. Berhentilah. Aku membuatkanmu jus jambu yang enak " seru Justin sambil menunjukkan dua gelas jus pada nampan yang dipegangnya. Anna menghentikan kegiatannya dan menghampiri Justin. Ia lalu duduk di samping Justin.


" Minumlah " Justin mengulurkan segelas jus padanya.


" Terimakasih "


Anna menenggaknya sampai separuh gelas. Justin menatapnya tanpa berkedip.


" Kenapa melihatku seperti itu ? "


" Kau terlihat semakin cantik " pujinya. Anna tersipu malu. Tiba-tiba, Anna memegangi perutnya. Wajahnya tampak kesakitan.


" Hei, kau kenapa? apa sudah waktunya melahirkan? " tanya Justin cemas.


" Entahlah. Kurasa ini belum waktunya, tetapi perutku tiba-tiba saja mulas " jawab Anna sambil memegangi perutnya.


" Kita ke rumah sakit sekarang "


*****


Bak suami siaga, Justin secepat kilat lalu membawa Anna ke rumah sakit. Sesampainya disana, Anna lalu dibawa ke ruang penanganan. Dokter mengatakan bahwa saat ini tiba waktunya bagi Anna untuk melahirkan.


" Justin " Marrissa yang datang bersama Morgan menghampirinya. Keduanya langsung datang saat Justin menghubunginya.


" Anna sudah di dalam. Dia akan melahirkan sekarang " jelas Justin.


" Dimana Jason ? " tanya Marrissa. Matanya mencari-cari sosok Jason.


" Pagi ini dia berangkat ke Singapura " jawab Justin pendek.


" Apa? Dia bahkan pergi disaat Anna sudah akan melahirkan ? Cepat hubungi dia, Justin. Dia harus segera datang kemari " kata Marrissa dengan marah. Dia tidak habis pikir dengan Jason yang lebih mementingkan bisnisnya daripada kehamilan Anna, istrinya.


Justin menatapnya tidak mengerti. Mengapa Jason harus hadir di sini? Bukankah ia hanya majikan Anna ? Ataukah sebagai kakak yang bertanggungjawab, Marrissa ingin anak tirinya, Jason berada di sini, ikut menunggui kelahiran bayi Anna ? Tapi bukankah ia juga sudah berada disini? Ia anak tiri Marrissa juga kan ?


" Cepat hubungi dia, Justin. Dasar ba*****n itu.. bisa-bisanya dia kabur begitu saja ! " Marrissa terus mengomel tidak karuan. Morgan mengelus bahunya, berusaha menenangkan Marrissa.


" Haruskah dia berada disini ? Bukankah aku sudah cukup mewakili status anak tirimu ? " tanya Justin sengit. Ia merasa keberadaannya sebagai anak tiri tidak dianggap oleh Marrissa. Di titik ini, ia merasakan kecemburuan pada Jason yang seolah-olah lebih diutamakan statusnya oleh Marrissa.


" Dia harus berada di sini. Untuk menemani istrinya melahirkan ! " jawab Marrissa dengan emosi.


" Ap - Apa?? "


Justin tercengang tidak percaya. Anna istri Jason? Jadi anak itu anak Jason ? Tiba-tiba saja kepalanya terasa berat. Rasanya seperti sebuah batu besar menghantam kepalanya. Kenyataan seperti ini sungguh diluar dugaannya. Bagaimana bisa mereka menikah dan tidak memberitahukan hal sepenting itu padanya ? Mengapa Anna tidak jujur padanya ?


Justin terduduk lesu di kursi rumah sakit yang dingin. Rasa sesak memenuhi dada Justin. Andai saja ia tidak berada di rumah sakit, mungkin saat ini ia akan berteriak. Mengamuk. Ia merasa telah dibodohi oleh Anna dan juga Jason, kakak tirinya. Ia merasa sangat malu karena sudah begitu perhatian pada Anna sebagai wujud kepedulian, atau mungkin wujud rasa cintanya pada Anna yang ternyata adalah istri kakaknya.


" Berikan gawaimu kalau kau tidak bisa menghubunginya " perintah Marrissa, seakan tidak menghiraukan wajah Justin yang pucat karena shock. Justin mengulurkan gawainya lalu beranjak pergi dari tempat itu. Tidak dihiraukannya pertanyaan Morgan yang menanyakan kepergiannya. Tidak dihiraukannya lagi kecemasan Marrissa yang berulang kali mengumpat karena Jason tidak kunjung menjawab teleponnya. Ia hanya ingin meninggalkan tempat itu. Ia merasa kecewa. Sangat kecewa.